
Chia berjalan dengan enggan. Langkahnya terasa berat untuk berjalan menuju lapangan basket yang ada di belakang sekolah. Sembari membawa beberapa handuk dan air mineral, diseretnya langkah dengan ragu.
Kenapa gue gak berhenti aja? Lagian udah gak ada yang maksa gue buat lakuin hal ini.
Chia menghela napas. Sebenarnya pemikiran itu selalu terbesit dibenaknya sejak pertama kali ia menjadi pengurus klub basket. Dulu, ia tak berani untuk berhenti karena seseorang terus memaksanya untuk tetap berada di klub basket. Sekarang, saat si 'pemaksa' itu sudah tak ada, rasanya Chia ragu setiap melihat wajah memelas Pak Dedi.
Apanya yang mirip dari gue sama anaknya? Ya, Pak Dedi selalu mengatakan bahwa anak perempuannya yang bersekolah di luar kota itu, memiliki tinggi badan dan rambut yang sama panjangnya seperti Chia. Jadi cukup jelas alasan Pak Dedi menahan Chia untuk tidak keluar dari klub basket. Menyebalkan!
Chia telah sampai di lapangan. Beberapa anggota sudah berada di pinggir lapangan. Ada yang duduk, berbaring dan bercanda gurau untuk melepas lelah. Sebagian lagi masih berlatih di lapangan. Karena mereka tim utama, mereka harus berlatih lebih ekstra untuk pertandingan yang sebentar lagi akan diadakan.
Chia berjalan menghampiri anggota klub basket. Ia membagikan satu demi satu handuk dan air mineral. Suara peluit pelatih berbunyi tepat saat Chia memberikan handuk dan air mineral pada anggota terakhir dari barisan.
"Gue seneng banget lihat lo ada di sini lagi."
Chia terkejut ketika seseorang merebut sebuah handuk dan botol mineral di tangannya. Laki-laki itu tersenyum ke arahnya sebelum menenggak air mineralnya.
"Ah lo Ri! Lo jangan kebanyakan modus Ri!" Fajar baru tiba dan berdiri di antara Chia dan laki-laki bernama Fachri itu.
Chia hanya diam saja ketika Fajar tersenyum jahil ke arahnya dan Fachri. Bahkan Chia tak berkata apapun ketika Fachri tersedak saat tangan Fajar menyenggolnya.
"Tau nih Fachri. Gak inget tuh sama yang di belakang!" Rezky, yang baru saja datang ikut berkomentar sambil melirik ke arah lapangan.
Ah, lapangan. Chia melirik sebentar ke sana. Seseorang yang masih berdiri di lapangan belum mengambil handuk dan botol yang tinggal tersisa satu di tangan Chia. Ia hanya terdiam sambil mengamati laki-laki yang berjalan cepat meninggalkan lapangan itu.
● ● ●
Riga tengah berada di belakang ruang klub basket. Tempat yang sejuk dengan empat pancuran air saling berjajar rapi yang terbuat dari bambu berada di pusatnya. Tak jauh dari pancuran itu terdapat sebuah kursi panjang dua buah. Tepat di belakang kursi itu terdapat sebuah taman bunga mawar yang berwarna-warni. Lumayan! Kesan Riga saat pertama kali menginjakkan kaki di sana.
Riga berdiri dan menatap salah satu pancuran air. Lalu membungkukkan badannya. Ia membiarkan aliran air membasahi kepalanya yang kepanasan. Riga termenung.
Ah, ia teringat pertemuannya dengan seorang gadis di lapangan tadi. Riga mengarahkan tangannya tepat ke dada sebelah kiri. Kenapa jantung gue selalu berdetak gak karuan gini setiap lihat cewek itu?
Riga kembali dari lamunannya. Ia menatap tetesan air yang jatuh dari kepalanya. Ia teringat suatu hal. Ia menggapai-gapai di atas bambu mencari sesuatu. Namun tiba-tiba sebuah handuk terulur ke arahnya.
Riga mengangkat kepalanya sambil menatap handuk itu. Ia berdiri dengan rambut yang basah sambil menatap seorang gadis yang mengasongkan sebuah handuk padanya. Gadis yang bahkan tak menatapnya sama sekali.
Kenapa cewek ini tau gue ada di sini?
Dengan ragu Riga meraih handuk di tangan gadis bernama Chia itu. Ia tak segera memakai handuk itu. Matanya masih tertuju pada gadis yang berjalan meninggalkannya, lalu menyimpan sebotol air mineral di sebuah kursi yang paling dekat dengan pancuran air. Lalu Chia berlalu begitu saja meninggalkan Riga tanpa berkata apapun.
Riga tertegun. Lihat? Tingkah laku gadis itu benar-benar membuat Riga tak menyukainya. Riga menatap handuk di tangannya. Ia menggantungkan handuk itu di atas bambu, lalu menenggelamkan kepalanya pada aliran air lagi.
__ADS_1
● ● ●
Chia menatap layar komputer yang baru saja dimatikannya. Ia beralih pada jam di dinding. Pukul 17.30. Ia sudah cukup lama berada di ruang klub sastra, bergelut dengan mading dan majalah sekolah yang sebentar lagi harus diterbitkan.
Chia menghela napas. Ia meraih tas ransel yang ia taruh di samping kirinya. Lalu berdiri sambil mengenakan tas ransel berwarna abu-abu, warna yang serupa dengan rok yang dipakainya. Ia berjalan menuju pintu ruang klub sastra. Chia memutar gagangnya lalu tertegun.
Seseorang tengah berdiri memunggungi Chia. Seseorang yang cukup ia kenal. Perawakan yang tinggi dan baju basket yang sedang dikenakannya membuat orang itu semakin jelas dikenali. Rambutnya yang berwarna coklat yang sudah menjadi ciri khasnya, membuat laki-laki itu mudah teridentifikasi.
Laki-laki itu berbalik dan menatap Chia dengan dingin. Ia menyodorkan sebuah map dengan beberapa lembar kertas di dalamnya.
"Nih ambil!" ujar Riga datar. "Gue belum sempet ngerjain buat majalah sama mading sekolah kita. Gue harus fokus sama latihan basket gue."
Chia mengerutkan dahinya sambil menatap map berwarna merah itu. Gak salah nih? Ia termenung cukup lama. Lalu beralih menatap Riga yang berdiri di depannya. Lalu kembali menatap map di tangan laki-laki itu. Begitu seterusnya. Ia bergantian menatap map dan laki-laki yang masih berdiri sambil menatapnya.
"Kenapa?" tanya Riga masih tanpa ekspresi. "Lo bilang lo asisten pribadi gue kan? Gue berhak ngasih kerjaan gue ke lo."
Riga habis ketimpa apa tadi? Chia mengambil map itu dengan ragu. Ketika map itu sudah berpindah tangan, laki-laki itu langsung pergi meninggalkannya tanpa bicara sepatah katapun.
● ● ●
"Kenapa gue selalu ngelihat lo sendirian?"
Suara itu? Jangan-jangan ... Mara menoleh ke belakang. Tuh kan bener! Gumamnya saat mendapati seorang lelaki tengah berdiri di depan pintu beranda lantai tiga.
"Lo gak punya temen?" tanya laki-laki itu lagi dengan tenang, ketika ia telah berdiri di samping Mara.
Bisa gak sih gak bikin gue jantungan, Riga?! Lo berdiri sepuluh meter aja, nih jantung udah mau lepas dari tempatnya. Sekarang lo dengan santai berdiri di samping gue? Bagus! Kalo gue mati karena jantungan, gue gentayangin lo!
Mara mengalihkan pandangannya. Malas rasanya menatap Riga terlalu lama. Ia tak ingin mati sekarang. Belum saatnya. Ia ingin merasakan sejenak 'kedekatannya' dengan laki-laki itu.
Gue udah gak ngelihatin Riga, malah lihatin hal yang bikin bete! Sebel! Mara merengut saat mendapati beberapa gadis di tengah lapang sedang tertawa bersama sambil bersenda gurau. Ia iri.
"Seperti yang lo lihat," jawab Mara dengan lesu.
Mengingat kenyataan bahwa ia tak memiliki seorang teman, Mara mulai frustrasi kembali. Ingatan tentang Fachri yang meninggalkannya masih membayanginya. Ia menghela napas pasrah. Menatap sayu ke bawah sana. Tepat ke lapangan.
"Mereka semua ninggalin gue. Mereka semua ngejauhin gue." Mara menelan ludah.
"Gara-gara orang itu?" Riga bertanya lagi.
"Hah?"
__ADS_1
Mara mengernyitkan alisnya sambil menoleh dan menatap laki-laki yang masih berdiri di sampingnya. Nih orang cari tahu tentang gue? Mara menghela napas pelan.
"Jadi, semua orang ngejauhin lo karena dia?"
Tanpa sadar Mara menganggukkan kepalanya. Seolah kepalanya sudah mengerti pikirannya saat ini. Namun anggukan itu tak berlangsung lama. Buru-buru Mara kembali dari alam bawah sadarnya. Ia terdiam. Berharap Riga tak melihat anggukan tak sengajanya itu.
"Hah? Si-si-apa?" Mara terkejut, berpura-pura tak tahu apapun.
"Semesta Udaraja! Pacar lo!" jawab Riga datar.
Mara terdiam. Ia tak tahu harus berkata apalagi untuk menyangkal pertanyaan lelaki itu, karena sesungguhnya semua itu memang benar.
● ● ●
"Gue rasa udah lama kita gak ngobrol bareng."
Chia yang sedang merapikan lokernya itu terdiam. Ia segera menutup pintu lokernya, lalu berbalik badan. Ia mendapati beberapa siswi mengerumuninya.
Renata dan temen-temennya dari klub balet? Chia menatap wajah gadis-gadis itu satu persatu dengan datar. Ya, bukan suatu hal yang aneh jika siswi penguasa sekolah mendatanginya seperti saat ini. Menjadi seseorang yang paling dibenci satu sekolah, membuat Chia terbiasa dikerumuni seperti itu. Paling-paling mau ngerjain gue lagi. Gumamnya dengan santai.
"Oh! Lo masih ngaku-ngaku kalau loker itu punya lo?" Renata, gadis yang berdiri tepat di depannya itu tersenyum sinis sambil menatap loker yang dipunggungi Chia.
"lo boleh ambil kok kalo lo mau," ucap Chia dengan tenang.
"Gak perlu." Gadis itu mencondongkan wajahnya ke arah Chia sambil tersenyum, membuat jarak antara wajahnya dengan Chia semakin dekat.
"Sebentar lagi permainan bakal dimulai, Chia! Cepat atau lambat lo bakal ditinggalin semuanya. Siapin diri lo!"
Gadis itu melemparkan senyum dari matanya. Senyuman penuh ejekan.
Chia melirik bahunya. Renata sedang menepuk-nepuknya sambil tersenyum tipis. Seolah-olah ia sedang membersihkan debu yang menempel di baju Chia.
"Oh iya! Hampir aja gue lupa!" Buru-buru gadis bernama Renata itu memberikan Chia beberapa kotak hadiah yang sejak tadi dipegangnya.
Diulurkannya tangan Chia dengan paksa. Lalu ditaruhnya kotak-kotak itu di tangannya. Chia menatap kotak-kotak itu dengan datar.
"Lo tau kan apa yang harus lo lakuin sama hadiah itu semua?" Renata menarik ujung bibirnya. Ia menyeringai. Lalu ia mundur beberapa langkah dan membuka jalan untuk Chia.
"Gue bakal ngawasin lo. Kalo sampe lo macem-macem. Saat itu juga gue pastiin lo bakal angkat kaki dari sini. Ngerti lo?!"
"Gitu yah?" ucap Chia dengan santai.
__ADS_1
Ia masih menatap gadis itu datar sambil tersenyum. Dilihatnya gadis penguasa sekolah itu memberi perintah pada temannya untuk memberi jalan padanya. Chia menggenggam erat kotak-kotak di tangannya agar tak terjatuh. Lalu ia melangkahkan kaki tanpa berbicara apapun.
● ● ●