
Tengah malam sudah terlewati, dan Mara masih berada di klub pusat kota tempat salah satu teman Tirta merayakan ulang tahun. Mara sebenarnya sudah jengah dari tadi. Dia berusaha untuk keluar dan pulang. Namun, genggaman tangan Tirta terlalu erat. Mara sampai kesulitan untuk bergerak.
"Tir, sampai kapan nih acaranya? Aku pengen pulang," tanya Mara nyaris berteriak di telinga kekasih barunya itu. Musik yang menggema benar-benar memenuhi ruangan. Kalau Mara bicara dengan mode biasa, Tirta pasti tak akan bisa mendengarnya.
"Sebentar lagi, Sayang. Belum sampai ke acara puncak," sahut Tirta ikut mengeraskan suaranya.
Astaga! Sebentar lagi? Yakin? Dari 3 jam yang lalu, Mara terus menanyakan hal yang sama. Jawaban yang diberikan Tirta pun tidak berubah. Acara puncak? Memangnya acara puncak seperti apa yang ditunggu-tunggu Tirta hingga tak mau mengantarkan Mara pulang? Mara benar-benar kesal setengah mati.
"Aku pulang sendiri deh!" seru Mara sambil bangkit berdiri. Namun, dia lupa jika jari jemarinya masih bertaut dengan milik Tirta. Lelaki itu menarik Mara yang hendak berjalan keluar bar. "Aku pengen pulang,Tir. Udah terlalu malem. Aku cape. Please?"
Mara sungguh merasa lelah. Dia sudah mengantuk dan ingin segera berisitirahat di rumah. Dia pikir, acara kencan pertamanya akan berakhir sebentar. Dia pikir, kencannya akan dilewati dengan hal-hal biasa. Entah makan malam, menonton film, atau sekedar berjalan-jalan melepas penat. Namun nyatanya, acara kencan pertama dengan Tirta justru berakhir di bar. Astaga! Mara hampir lupa dengan siapa saat ini dirinya berkencan.
Melihat wajah Mara yang memang sudah kelelahan, dan cara perempuan itu merajuk ingin pulang, akhirnya Tirta mengangguk mengiyakan. Dia ikut berjalan bersama Mara keluar dari bar setelah berpamitan pada sang empunya acara.
Sepanjang perjalanan, mata Mara terasa berat. Dia tertidur tanpa sadar. Mara membuka matanya ketika merasa mobil yang ditumpanginya diam. Tidak lagi berjalan. Mara berusaha mengerjap, dia mengucek matanya sambil bergumam pelan, "Kok berhenti mobilnya? Kita udah sampai yah, Tir?"
"Bisa iya, bisa juga enggak," jawab lelaki yang mengemudikan mobil itu dengan santai.
Mendengar jawaban Tirta, sontak mata Mara terbuka sepenuhnya detik itu juga. Dia mengamati sekeliling. Benar saja! Seperti yang dikatakan Tirta, mobil itu memang membawanya pulang. Namun, bukan rumah Mara yang menjadi tempat pelabuhan mobil itu. Melainkan sebuah gedung apartemen yang cukup ternama di Bandung.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Mara.
"Kamu bilang pengen pulang, ya kita udah pulang sekarang."
__ADS_1
Astaga! Mara menepuk jidatnya pelan. "Pulang ke rumah aku Tirta. Bukan ke apartemen lo." Saking kesalnya, Mara sampai melupakan cara panggilannya pada Tirta. Dia keceplosan memanggil lelaki itu dengan sebutan 'lo'. Ah masa bodoh. Mara sudah tak peduli lagi soal panggilan.
Wajah Tirta berubah menjadi sendu. "Kok kamu panggilnya gitu? Kamu masa tega ninggalin aku, Sayang? Ini hari pertama kita nge-date loh. Waktunya belum selesai. Aku masih kangen sama kamu."
Mara melemparkan tatapan 'ka-mu-gi-la-yah?' pada lelaki di sampingnya itu. Mara sudah mengepalkan tangan. Namun, dia berusaha menahan diri agar emosinya tidak meledak keluar. Apalagi sekarang pukul ... tiga pagi? Jerit Mara di dalam hati begitu menengok jam di tangannya.
******! Bisa-bisa setelah sampai ke rumah nanti, Mara disidang habis-habisan oleh orang tuanya. Satu kali, dua kali, Mara bisa lolos. Masalahnya, ini sudah kali keempat Mara pulang selarut ini. Alasan apalagi yang harus dikatakannya. Astaga! Mara sudah lelah berbohong.
"Anterin aku pulang ke rumah sekarang, Tirta!" pinta Mara setengah emosi.
"Kamu mau istirahat 'kan, Sayang? Ya udah, kamu tidur di apartemenku aja. Aku bakal jagain kamu kok."
Wait! Dia pikir, Mara tidak tahu saat ini dirinya berhadapan dengan lelaki seperti apa? Mara sudah gila apabila dia menyetujui perkataan Tirta barusan. Tirta adalah seorang lelaki yang bahkan bisa tidur sekalipun dengan wanita yang tidak dikenalnya, dan lelaki itu berharap Mara akan mengiyakannya? Cih! Jangan harap.
Mara ingin mengumpat. Entah kenapa di saat begini, ponselnya justru tidak bersahabat? Ah! Menyebalkan. Mara menatap jalanan yang sepi dengan diterangi lampu kota. Dia berharap, siapapun melewati jalan itu. Atau barangkali, satu ... saja sebuah mobil melintas. Mara butuh bantuan agar dirinya terbebas dari situasi menakutkan itu.
Namun, harapannya hanya sebatas angan-angan. Tangan Mara telah ditarik dan tubuhnya diputar hingga menghadapkan wajah ke arah Tirta. Dalam tatapan menyalak galak, ada rasa takut sedang menggerogoti jiwanya. Namun, dia tidak bisa menunjukkan rasa itu sekarang. Atau, lelaki di depannya itu akan merasa berhasil telah mengintimidasinya.
"Kamu mau kemana? Ini udah larut, Mar," tanya Tirta lembut.
Meski begitu, Mara tidak akan menurunkan kadar kewaspadaannya. Dia tetap harus hati-hati. "Aku ... mau ... pulang ... Tirta. Ini udah terlalu malem buat aku. Ayah sama Bunda aku pasti lagi nunggu di rumah. Kalo kamu gak mau nganterin aku, aku akan pulang sendiri."
Tirta berdecak mendengar alasan Mara. "Sayang, justru karena udah malem makanya aku minta kamu tidur di apartemenku aja. Susah loh cari kendaraan umum jam segini. Belum tentu juga kamu bakalan aman di jalan. Udah deh jangan nolak. Aku tuh sayang sama kamu. Aku gak mau kenapa-napa."
__ADS_1
"Justru aku bakal kenapa-napa kalo ngikutin kamu! Kalo kamu sayang aku, harusnya kamu anterin aku pulang. Bukannya kamu bawa ke sini." Mara melotot. Langkahnya perlahan mundur ketika Tirta sedikit demi sedikit mendekatinya.
"Kencan kita 'kan belum selesai, Sayang. Padahal aku nunggu-nunggu buat nyium kamu di depan semua orang saat acara puncak di bar tadi. Tapi, kamu gak sabaran." Tirta mulai memperlihatkan aslinya.
Tatapan Tirta tidak selembut tadi. Lebih terlihat seperti pemburu yang sudah tak sabar lagi untuk memakan mangsanya. Seringaian di wajah lelaki itu semakin membuat Mara bergidik ngeri. Jantung Mara mulai berdegup tak karuan. Untung saja, Tirta tidak melihat ke bawah. Kalau tidak, lelaki itu akan mendapati kaki Mara yang bergetar hebat.
"Jangan macem-macem lo sama gue. Dasar lo psikopat gila!" seru Mara.
Deg!
Psikopat gila? Lucu! Dulu julukan itu hanya menjadi milik seseorang. Milik Semesta Udaraja. Meski begitu, Mara tidak pernah serius menganggap Asta seorang psikopat. Berbeda dengan pria menakutkan di hadapannya saat ini. Tirta sungguh terlihat seperti psikopat sungguhan.
Ah sial! Dalam diam, Mara menutup matanya yang berkaca-kaca ketika dia sungguh terpojok. Dia merutuki kebodohannya karena telah membiarkan diri terjebak dengan Tirta. Menyesal karena setuju dengan ajakan lelaki itu. Kecewa pada diri sendiri yang malah memilih berdiri di trotoar. Kesal setengah mati saat Tirta memiliki kesempatan untuk membawanya menjauh dari pengawasan para satpam yang bertugas malam di apartemen itu.
Satpam? Harusnya tadi Mara berteriak saja di depan mereka. Sekarang, semua sudah terlambat. Mulut Mara disekap. Telapak tangan Tirta yang besar membungkamnya agar tidak bisa mengeluarkan kata. Dalam keadaan mata yang masih terpejam, air mata Mara lolos meluncur di sudut matanya.
Ini salah lo Asta. Seandainya lo gak menghilang. Seandainya lo gak pergi gitu aja. Seandainya lo gak ninggalin gue sendiri. Gue gak akan kayak sekarang. Gue gak akan jatuh ke dalam jurang keputus-asaan. Dimana lo sekarang. Lo gak mau lindungin gue, hah? Apa lo bakal membiarkan gue dalam situasi ini. Asta! Jawab gue, jawab!
Sudut bibir Mara terangkat satu ke atas. Meski sulit karena tangan Tirta yang masih membekapnya. Pengecut lo Asta! Lo emang pengecut!
∆ ∆ ∆
Asta ... semoga kamu segera diberi hidayah 😅😅🤧🤧🤧
__ADS_1
cepet pulang dari pengelanaan ke luar angkasa. mara membutuhkanmu 🤧🤧