Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
S2-Tiga Puluh Empat


__ADS_3

Hari Minggu yang terik. Silaunya cahaya matahari masuk melalu celah-celah jendela dari balkon ruang tengah hingga membuat Chia agak menyipitkan mata dan bergeser mencari tempat teduh. Namun, bukan hal itu yang membuat perempuan berambut panjang sepunggung itu terpecah konsentrasi menulisnya.


"Ayo dong Chia," rengek Sun untuk ke sekian kali.


Chia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tetap berusaha fokus pada layar laptopnya. Siang itu, Sun yang ditinggal oleh Jun sendirian di apartemennya merasa bosan. Katanya Jun sedang lembur. Akhirnya lelaki itu mampir di apartemen milik Chia lalu merengek tanpa henti untuk mengajak perempuan itu pergi keluar.


"Gue cuma pengen jalan-jalan ke mall. Sebentar aja. Ada yang mau gue beli. Mau yah." Sejak satu jam yang lalu, kata-kata itulah yang didengar Chia dari mulut Sun.


Chia sampai hapal betul karena Sun terus mengucapkannya berulang-ulang. "Emangnya Kak Sun gak ada kerjaan yah? Apa Kak Sun gak pengen pulang ke rumah? Kak Sun libur sampai kapan?" heran Chia dengan menghujani Sun pertanyaan, karena Chia melihat lelaki itu masih saja bersantai di apartemen milik Jun.


Setiap hari yang dilakukan lelaki itu hanyalah makan, berbaring, menonton, bermain game, atau mengganggu Chia seperti saat ini. "Tega amat gue diusir." Sun berpura-pura menangis. Hal itu tentu saja membuat Chia memijat pelipisnya.


"Gue libur 3 hari lagi. Gue pulang ke rumah besok. Kata Riga, kondisi udah aman. Setelah itu gue harus mulai syuting buat iklan. Terus waktu gue sama lo kapan, kalau hari ini lo gak mau gue ajak jalan?" rajuk Sun dengan punggung yang melorot pada sandaran sofa.


Bibirnya terlihat maju beberapa sentimeter. Sesekali dia menghentakkan kaki, persis seperti anak kecil. Tidak heran jika terkadang Riga jengah dengan sikap dan kelakuan kakaknya, karena sikap keduanya bagai gunung es dan gunung berapi yang dipertemukan. Bertolak belakang. Pikir Chia.


Jari jemari Chia berhenti. Tidak lagi menari-nari di atas keyboard. Dia menoleh ke arah Sun yang masih merajuk. Chia tampak berpikir. "Kak Sun yakin gak akan ketahuan kayak waktu itu?"


Chia mencoba memastikan. Percayalah, Chia sungguh merasa khawatir pada lelaki itu. Sedikit kasihan juga. Karena setiap kali Sun ingin menghabiskan waktu liburnya, selalu saja berakhir dengan dikejar-kejar fans, atau adanya skandal baru akibat 'paparazi' yang terlalu cepat menyimpulkan.


"Enggak. Kali ini aman. Kalau pun ketahuan lagi kayak kemaren, ya udah ... kita tinggal lari." Sun tertawa renyah seperti tanpa beban saat mengatakan hal itu.


"Ya udah. Ayo." Chia akhirnya mengalah. Menolak pun, Sun yang berada di dalam mode keras kepala seperti saat ini, hanya akan mengganggu Chia dan membuyarkan konsentrasinya saja. "Chia ganti baju dan ambil tas dulu."


"Siap, Komandan." Sun berseru sambil memberi hormat pada Chia yang telah berdiri. Kemudian menghilang di balik pintu kamar perempuan itu.


∆ ∆ ∆


Sun membawa Chia ke salah satu mall di Jakarta. Tentu saja Sun tetap menggunakan mode penyamaran. Menjadi lelaki single seperti Sun, akan terlalu sulit berjalan berdua saja dengan perempuan. Gosip dan skandal akan terus menghantui lelaki itu.


Hari ini Sun tetap menggunakan masker dan kacamata. Juga topi berwarna hitam yang dikenakannya. Warna pakaian Sun hari itu terlihat kalem, hampir senada dengan baju yang Chia pakai. Sun yakin dirinya tidak akan mencolok di mata orang lain dan membuatnya ketahuan. Bahkan mungkin orang akan berpikir kalau mereka hanya sepasang kekasih yang sedang menghabiskan waktu berdua.


Dibandingkan Chia, Sun terlihat sangat bersemangat. Dia menarik Chia keluar masuk toko dengan begitu antusias. Dari satu toko ke toko lainnya. Hampir semua Sun kunjungi. Sementara Chia hanya bisa pasrah mengekor langkah lelaki itu.


"Chia, foto yuk!" ajak Sun tiba-tiba ketika melihat sebuah foto box di depan area untuk bermain game.


Chia menggeleng kuat. "Gue gak biasa difoto. Pasti aneh nanti jadinya."


Sun berdecak. "Lo gak akan tahu hasilnya sebelum dicoba. Ayo buruan."

__ADS_1


Sun menarik tangan Chia hingga membuat langkah perempuan itu terhuyung dan terpaksa masuk ke dalam box foto yang sangat sempit itu. Sun menekan beberapa tombol. Setelahnya dia memutar badan Chia agar menghadap kamera.


"Chia gak bisa Kak Sun," rengek Chia. Perempuan itu sungguh ingin kabur dan menghilang detik itu juga. Namun, Sun yang berdiri di belakang Chia dengan kedua tangannya yang berada di atas bahu perempuan itu, seolah memang berfungsi untuk mengunci pergerakan tubuh Chia.


"Ayo senyum. Cuma sepuluh kali jepretan kok," seru Sun antusias. "Ayo, ayo. Senyum Chi ...."


Jepret!


Foto pertama mereka gagal. Pose Chia yang kaku dan Sun yang tak sempat bergaya, membuat hasilnya terlihat aneh. "Yaaah ...," sesal Sun. Kali ini dia lebih bersiap. "Ayo senyum, Chia."


Jepret!


Jepret!


Jepret!


Sampai jepretan ke sepuluh, Chia masih dalam pose yang sama, tersenyum kaku. Sementara Sun berganti-ganti gaya dengan cepat. Dari pose 'kece' hingga pose 'kocak'. Semua tertangkap kamera begitu Chia dan Sun mencetak hasilnya. Keduanya tertawa bersama ketika mereka melihat dan saling mengomentari gaya masing-masing di setiap foto.


Chia akui, meski Sun berpose sejelek mungkin, namun aura ketampanannya masih dapat terpancar. Berbeda dengan Chia yang terlihat payah di dalam foto itu. Sangat berbeda jauh bagaikan langit dan bumi. Rasanya Chia mendadak ciut berada di dalam satu frame dengan sang idola itu.


"Yang ini gue simpen yah." Sun mengangkat sebuah foto dengan tinggi-tinggi. Sengaja agar Chia tak dapat mengambilnya.


"Eh, jangan dong. Hasil fotonya gak ada yang bagus. Mending dibuang."


Chia berdecak. Mulutnya hendak terbuka untuk melakukan protes. Namun, Sun lebih cepat bersuara. "Gak boleh protes. Pokoknya semua foto ini gue yang simpen."


Sun terkekeh. Sementara Chia hanya bisa mengembuskan napas pasrah.


"Kak Sunshine?"


Mendengar namanya dipanggil, Sun seraya menoleh ke arah belakang Chia. Sementara Cia memutar badan, mengikuti arah mata Sun melihat.


∆ ∆ ∆


"Bosen, bosen, bosen."


Mara mendengus. Sudah lelah mendengar keluhan tamu tak diundang yang sejak tadi mengomel dan membuat gaduh seisi apartemennya. Mara yang sedang berbaring di atas sofa sambil menonton drama Korea kesayangannya itu, mendadak bangun. Dia duduk. Kemudian tangannya meraih sebuah buku dari atas meja kaca. Lalu diacungkan di udara.


"Berisik deh Fachri. Gak usah bawel. Lo mau gue timpuk pake ini apa supaya lo diem?" kesal Mara dengan bola mata yang nyaris melompat keluar. "Inget yah. Gue masih bete sama lo. Gue bisa kapan aja lempar buku ini dan tendang lo dari kamar gue. Jadi diem."

__ADS_1


"Ah elah, Mara gak asik." Fachri yang dengan amat sangat terpaksa duduk di sofa lain sambil ikut menonton itu hanya bisa mendengus pasrah. "Tapi gue bosen. Masa hari Minggu dihabisin buat nonton drama menye-menye. Sebel!"


"Ya udah, pulang sana ke kamar lo. Gak ada yang nyuruh lo ke sini juga."


Fachri mendengus. "Ish! Jutek amat. Gue 'kan udah minta maaf."


Mara berpura-pura tidak mendengar. Dia kembali asyik menonton drama di layar televisinya, yang tadi sempat dia pause karena gangguan dari sahabatnya itu.


Sejak pagi, Mara memang sengaja mengabaikan lelaki itu. Ajakan dari Fachri untuk joging, jalan-jalan, bahkan makan es krim pun tak ada yang diindahkan Mara. Mara masih kesal dengan lelaki itu. Dengan kelakuannya beberapa hari ini yang tiba-tiba saja berubah dari 'calon bodyguard' menjadi 'biro jodoh pemaksa'. Menyebalkan.


"Pokoknya gue gak bakalan maafin dan tetep mogok ngomong sama lo, kalau lo masih jodoh-jodohin gue," seru Mara. Tangannya terlipat di depan dada.


Fachri terkikik geli melihat bibir Mara yang maju beberapa sentimeter ke depan itu. Tak ingin berlama-lama di dalam mode bertengkar, Fachri kemudian pindah duduk ke sofa tempat perempuan yang masih mengenakan piyama hingga siang hari begini itu. "Udah dong jangan ngambek-ngambek. Nanti makin jelek. Gue janji gak akan jodohin lo lagi. Gue kembali ke jalan yang bener deh. Suer."


Mara melirik tajam ke arah Fachri yang nyengir kuda sambil mengacungkan jari membentuk huruf 'V'. Dia mendengus sebal melihat Fachri yang tak merasa bersalah sama sekali.


"Apa jaminan buat gue, kalau gue maafin lo?"


Fachri terdiam. Tampak berpikir. Kemudian senyumnya terbit secerah cahaya matahari di siang hari itu. "Gue traktir makan es krim sepuasnya?"


"Gak cukup!" tolak Mara sambil menyilangkan tangannya. Matanya melihat ke langit-langit. "Lo harus gue hukum dulu. Sampai gue merasa puas, baru gue maafin lo."


Fachri melihat Mara bangkit. Perempuan itu bergegas berlari ke dalam kamarnya. Entah apa yang sedang dilakukan Mara. Namun, begitu Mara keluar dari kamar, Fachri tampak terkejut. Mara telah berganti baju dan membuat kening Fachri mengerut.


"Mau kemana lo?" tanya Fachri penasaran.


Senyum jahat terbit di wajah Mara. Saat di dalam kamarnya tadi, sebenarnya dia belum memikirkan apapun untuk menghukum sahabatnya itu. Hingga sebuah ide muncul begitu saja di kepalanya. Maka, buru-buru Mara berganti pakaian untuk mengajak Fachri pergi ke suatu tempat, sebelum lelaki itu berubah pikiran.


"Gue mau kemana? Gue mau ngehukum lo." Mars berseru tanpa melepas senyumnya di wajah dan membuat Fachri merasakan perasaan tak enak. "Ayo cepetan! Katanya bosen di rumah. Katanya mau dapetin maaf dari gue. Katanya mau ngasih gue jaminan."


"I-iya. Tapi lihat lo yang tiba-tiba berubah gini, gue jadi horor sendiri. Lo mau kemana sebenernya?" tanya Fachri yang masih tampak ragu-ragu.


"Udah buruan ikut. Nanti juga lo bakalan tahu."


Setelahnya, Mara menyeret langkah Fachri untuk mengikutinya. Yang ditarik hanya bisa pasrah sambil merapalkan doa. Masalahnya, Mara yang berekspresi seperti itu, menandakan bahwa kejadian buruk tak mengenakan akan segera terjadi, dan Fachri tak sanggup membayangkan hal itu. Tidak.


"Gue emang nyesel, Mar. Tapi jangan hukum gue yang sadis-sadis," rengek Fachri begitu telah duduk di dalam mobil milik Mara.


Mara tertawa di balik kemudi. "Lo udah terlambat. Gak ada jalan untuk kembali." Setelahnya Mara melajukan mobil tersebut menembus jalanan ibukota.

__ADS_1


∆ ∆ ∆


nah loh Fachri mau dibawa kemana? 🤧🤧


__ADS_2