Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
S2-Empat Puluh Satu


__ADS_3

Tik tok tik tok


Kalau saja tidak ada suara detik jarum jam di dinding yang berdetak konstan, sejak tadi Chia akan merasa bahwa dirinya berada di dalam dimensi lain. Dimensi berbeda dengan kedua orang yang tengah duduk saling berhadap-hadapan, sambil mengeluarkan aura dingin yang membuat Chia merinding sendiri.


Kedua orang itu mengunci mulut mereka rapat-rapat. Satu orang memandang kertas dengan dahi berkerut. Satunya lagi menatap orang yang sedang membaca kertas itu.


Chia sungguh tidak tahan berada di dalam atmosfer dengan penuh ketegangan seperti itu. Dia ingin kabur, tapi tidak bisa. Tatapan menusuk Asta meminta Chia untuk duduk manis menemaninya. Seperti janji Chia waktu itu, yang mengatakan bahwa dirinya akan membantu Asta. Astaga!


Kalau tau bakalan jadi tegang gini, gue mending jadi orang yang gak tau apa-apa, keluh Chia.


Namun, selama menunggu dalam kebekuan suasana hampir 1 jam, Chia juga sebenarnya sedang berharap-harap cemas. Sama seperti Asta. Chia menanti jawaban dari Jun. Menunggu keputusan lelaki itu.


"Lo ingin tahu apa yang terjadi sama perusahaan gue 'kan?" tanya Asta tiba-tiba sambil menyodorkan sebuah surat kabar pada Chia. "Baca."


Chia yang saat itu masih bertugas menjaga Asta, sengaja melakukan pekerjaan menulisnya di apartemen Jun. Saat dia sedang mengetik di atas keyboard laptopnya, Asta tiba-tiba keluar dari kamar. Lelaki itu membawa sebuah surat kabar dan memberikannya pada Chia.


Chia menerima surat kabar itu. Matanya mengamati seorang pria paruh baya yang sedang tersenyum di dalam cover majalah. Chia tidak tahu siapa pria itu. Chia lebih tertarik dengan tulisan di pojok kiri atas. Ada sebuah tanggal yang tertera. Ah ... surat kabar itu baru. Edisi minggu ini dan tepat terbit hari itu.


Chia segera mengikuti permintaan Asta. Dia membukanya. Memindai satu persatu halaman di dalam surat kabar itu. Namun, Chia tak menemukan apa pun yang berhubungan dengan perusahaan keluarga Asta. Kecuali, sebuah nama di halaman ke 4 yang membuat mata Chia terpaku.


"Darmawan Adyaksa," gumam Chia pelan ketika menyebut nama yang tak asing itu.


Nama yang pernah disebut Asta dalam tidurnya. Nama yang kini menjadi higlight berita baik di televisi maupun surat kabar. Astaga, kenapa Chia baru sadar dengan nama itu. Pantas Chia merasa tak asing.

__ADS_1


"Jadi, ada hubungannya dengan Darmawan Adhyaksa?" tanya Chia.


Asta membanting tubuhnya di atas kursi sofa. Tangannya direntangkan di sandaran. Kepalanya sengaja mendongak ke atas. Dengan napas berat Asta mengiyakan.


"Darmawan Adhyaksa. Dia adalah orang yang menyebabkan gue kecelakaan tiga tahun lalu. Dia adalah orang yang memanipulasi seluruh awak media untuk gak memberitahukan soal apapun lagi tentang keluarga Wisesa. Dia juga yang telah merebut seluruh perusahaan keluarga Wisesa, dan menggantinya menjadi Adhyaksa Group."


Dahi Chia mengerut mendengar penjelasan Asta. Diam-diam dia memerhatikan lelaki yang duduk di sebelahnya itu. "Gimana ceritanya Darmawan bisa merebut seluruh perusahaan keluarga lo?"


"Itu juga yang pengen gue tahu. Makanya gue minta Jun untuk membantu gue menyelidiki si brengsek itu," jawab Asta sambil menghela napas. "Dan lo tau sendiri 'kan? Jun gak pernah mau."


Chia mengangguk. Sekarang dia paham penyebab Asta menjadi seperti itu. "Wajah lo, apa lo ubah karena lo ingin balas dendam?"


Asta tertawa mendengar pertanyaan dari kesimpulan perempuan di sebelahnya itu. "Ini murni karena wajah gue rusak. Kebakar dan gak bisa seperti dulu lagi. Jun dan Raja, yang membantu gue supaya mau melakukan operasi wajah."


"Terus, siapa yang ada di dalam kuburan lo?" tanya Chia penasaran. "Renata juga Pak Dan gimana kondisinya? Apa mereka baik-baik aja?"


Lagi-lagi Asta mengangguk mengiyakan. "Mereka aman. Mereka sekarang tinggal di rumah kecil gak jauh dari sini."


Chia mendesah pelan. Bernapas lega bahwa kedua orang yang menjadi bagian penting di dalam hidup Asta rupanya baik-baik saja. "Kenapa lo gak memilih untuk kembali dengan keluarga lo? Juga Mara. Lo gak mau balik sama dia? Dia ada di kota ini. Gue sempet ketemu dia beberapa hari lalu. Waktu itu gue pengen bilang sama Mara soal lo. Tapi gue takut Mara belum tahu soal lo yang masih hidup."


Lagi-lagi embusan napas panjang yang Chia dengar dari Asta. Lelaki itu tak langsung menjawab. Asta seperti sedang memikirkan sesuatu. Raut wajahnya begitu muram. Mungkinkah karena Chia menyebut nama Mara di depan Asta barusan?


"Biarkan lo, Jun dan Raja aja yang tau soal gue. Gue gak bisa memberitahu orang lain lagi setelah ini. Gue gak bisa membiarkan banyak orang tahu soal gue," jawab Asta sambil tersenyum getir.

__ADS_1


Chia mencelos. Lagi-lagi dia berada di posisi serba salah. Lagi-lagi Chia harus merahasiakan suatu hal dari orang banyak. Ah! Rasanya sangat menyebalkan menjadi seseorang yang serba tahu. "Apa karena keinginan balas dendam lo sama Darmawan Adhyaksa?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja meluncur dari mulut Chia.


Asta menjawabnya dengan geleng. "Bukan. Anggap aja gue lagi melakukan suatu hal seperti superhero," ujar Asta dengan senyum tipis yang ditarik kedua ujung bibirnya. "Nanti bakal gue ceritain semuanya, setelah Jun datang."


Asta menepati janjinya. Lelaki itu menceritakan seluruh hal yang sedang terjadi begitu Jun tiba dua jam yang lalu. Tentang Darmawan Adhyaksa. Tentang gadis kecil bernama Lala. Tentang sebuah pemukiman kumuh. Tentang sekolah ala kadarnya yang dibangun Jun bersama dengan Asta. Juga tentang penggusuran yang akan terjadi dalam kurun waktu 3 hari lagi.


Di tengah perdebatan kedua lelaki yang akhirnya menjadi aksi saling diam itu, hati Chia terenyuh. Ikut merasa panas. Chia tak tahu bahwa lelaki Darmawan Adhyaksa ternyata sepicik itu. Juga ternyata sangat berbahaya. Orang yang dapat melakukan apapun dengan kekuatan uang. Pantas Jun menolak garis keras jika Chia terlibat. Juga menolak permintaan Asta untuk melakukan penyelidikan. Darmawan, bukanlah orang yang mudah ditumbangkan. Lawan yang sangat tangguh bagi Jun yang hanya seorang pengacara.


Tapi, harapan Chia menjadi satu dengan Asta. Dia berharap Jun merubah hati dan pendiriannya yang tetap masih kokoh itu. "Jun, please bantuin Asta. Kita gak bisa membiarkan tanah itu digusur. Lo gak kasihan sama Lala. Meski gue belum ketemu mereka, gue gak bisa ngebiarin ini terjadi."


Mendengar permohonan Chia, Jun menutup surat kabar yang tadi dibacanya dengan kasar. Satu kali hentakan hingga membuat bunyi nyaring. Dia menoleh dan melotot ke arah Chia. "Kalau kita ikut campur dengan urusan Adhyaksa Group, itu sama aja dengan mengibarkan bendera perang."


Chia dan Asta saling memandang. Keduanya mencelos mendengar jawaban pengacara itu. Menunggu satu jam dalam diam, ini kah hasilnya?


"Kecuali ...." Jun bersuara lagi. "... Kita bermain aman dan pintar."


Chia dan Asta saling memandang lagi. Keduanya menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Tak mengerti maksud perkataan Jun barusan.


"Caranya?" tanya Chia penasaran.


Jun menyunggingkan senyuman misterius.


∆ ∆ ∆

__ADS_1


__ADS_2