
Tidak seperti biasanya yang selalu bersembunyi dibalik pepohonan, kali ini Chia memutuskan untuk menunjukkan dirinya.
Berbulan-bulan ia menjadi pengunjung misterius di kuburan Agnes, dan menjadi penaruh bunga sebelum Renata datang. Membuat sepupu Asta itu selalu bertanya siapa yang mengunjungi pemakaman adiknya dan selalu datang sebelum Renata datang? Ya! Orang itu adalah Chia.
Mungkin Renata tak pernah memberitahu siapapun soal kematian adiknya. Hanya ia dan keluarganya serta Rei yang tahu. Namun tidak dengan Chia. Ia tahu semuanya. Ingat jika Chia saksi mata soal kecelakaan Riga?
Dengan mata kepalanya sendiri Chia melihat Agnes dan Rei dirawat di rumah sakit yang sama dengan Riga. Ia bahkan melihat sendiri saat para dokter itu tak bisa membantu menyelamatkan hidup Agnes.
Ia tahu saat Renata dan Rei yang menangis sambil berteriak histeris saat di rumah sakit waktu itu. Karena sejujurnya Chia yang menyaksikan dari kejauhan pun ikut menitikkan air matanya.
Menghilangkan perasaan bersalah, Chia mengunjungi pemakaman Agnes diam-diam secara rutin setiap bulan. Sekarang, ia telah berdiri di depan Renata yang baru saja tiba.
Dari balik matanya, Chia tak melihat keterkejutan dari wajah Renata. Gadis itu berekspresi datar dan menatap kosong ke arahnya. Yah! Biarlah! Toh Chia memang tak ingin bersembunyi lagi. Jika Renata akan marah padanya, Chia hanya perlu menghadapinya.
Menunggu cukup lama, saling berhadapan dalam kebisuan, Chia akhirnya memutuskan untuk beranjak pergi. Berjalan melewati gadis yang masih bungkam itu.
"Rei, lelaki brengsek itu udah cerita yang sebenernya."
Chia mengangkat salah satu alisnya sambil berbalik badan. Matanya memandang datar pada Renata yang sedang menatapnya balik. Terperangah, Chia melihat Renata tiba-tiba mengulurkan tangannya.
"Gue tau, gue udah keterlaluan sama lo. Gue juga sadar gue gak bisa dimaafin gitu aja ...." Renata menggantung perkataannya dan Chia menunggunya dalam diam. "... Tapi gue berharap kita bisa memulai semuanya dari awal lagi. Lo mau gak?"
Chia mengerjapkan matanya beberapa kali. Terperangah. Ia meyakinkan diri jika yang sekarang ada di hadapannya itu adalah nyata. Chia pun tersenyum. Tangannya langsung terulur dan menjabat tangan Renata.
Ya! Di hadapan kuburan Agnes, ia dan Renata akhirnya berjabat tangan. Memulai semuanya dari nol. Menjadi seorang teman.
__ADS_1
● ● ●
"Kak Mara buruan!"
"Ih! Alya sama Alfa bawel!" Mara mendengus sambil setengah berlari.
Keluar rumah, mata Mara langsung memindai seluruh area di halamannya. Ia langsung menemukan tempat keberadaan kedua adiknya, yang sejak tadi berteriak menyerukan namanya.
Mara langsung melesat. Berjalan tergesa menuju mobil putih yang sudah terparkir di depan rumahnya. Dengan wajah cemberut sambil menyingsingkan gaunnya yang hampir mencium tanah, ia masuk ke dalam mobil.
"Gara-gara Kak Mara kita terlambat," gerutu Alfa yang duduk di samping ayahnya yang sudah menyalakan mesin.
Mara berdecak tanpa berkata apa pun sambil menatap keluar jendela. Setelah itu mobil pun langsung melaju ke jalan.
Satu persatu keluarganya keluar. Sedangkan Mara menjadi orang terakhir yang turun dari dalam mobil. Ia tidak terlalu bersemangat seperti kedua adiknya. Jika ayah dan ibunya tidak memaksanya untuk datang, mungkin sejak tadi ia masih di dalam rumah. Berguling-guling di atas kasur sambil memainkan ponselnya.
Pesta apaan sih yang ngewajibin seluruh anggotanya keluarga harus ikut? Harus pake gaun kayak gini segala lagi!
Sebenarnya ia sudah tahu. Ayahnya telah memberitahunya. Pesta itu untuk mempererat hubungan kerja antar mitra dan pemilik saham. Serta mengumumkan calon direktur utama perusahaan ayahnya.
Gak penting juga gue harus tau kan?
Mara melangkah dengan malas. Mengekor di belakang kedua orang tuanya. Sedang kedua adiknya sudah berjalan terlebh dahulu. Pasrah. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku kedua adiknya.
Kedatangannya yang terlambat lima belas menit, membuatnya melewatkan acara pembuka. Dengan terpaksa, Mara langsung duduk di kursi sebuah meja bundar yang telah disediakan untuk keluarganya. Uh! Pesta formal seperti ini membuatnya tak nyaman.
__ADS_1
Dengan kikuk dan sabar ia berusaha mengikuti pesta itu. Meski sebenarnya ia ingin kabur sejak tadi. Beruntungnya sekarang telah memasuki puncak acara. Senyum Mara mengembang. Apalagi diotaknya telah muncul berbagai ide untuk kabur dari pesta itu.
Sayangnya senyum Mara menghilang detik itu juga. Matanya membulat. Lebar. Mara melihat seorang lelaki berjalan dengan santai ke atas panggung kecil yang telah disediakan.
"Inilah calon direktur utama perusahaan kita. Cucu dari Pak Dan Wisesa, Semesta Udaraja."
Seluruh orang di ruangan itu bertepuk tangan sambil tersenyum. Meski tak sedikit yang berbisik-bisik untuk mengomentari calon direktur utama itu. Tampan, berwibawa dan komentar-komentar lain yang membuat Mara merinding sendiri.
Dan Mara adalah satu-satunya orang yang tidak bertepuk tangan. Ia malah memutar kedua bola matanya malas. Lalu tersenyum tipis di salah satu sudut bibirnya.
Pembohong!
Menarik pandangannya, Mara menatap kedua orang tuanya yang tersenyum dan masih serius melihat ke arah Pak Dan yang sedang berbicara di podium. Senyum jahil Mara mengembang lagi.
Ada kesempatan buat kabur!
"Mara ke toilet dulu sebentar yah!" bisiknya dan langsung melesat pergi sebelum mendengar jawaban dari kedua orang tuanya.
Mara tersenyum saat ia berhasil keluar dari ruangan yang membuatnya penat sejak tadi. Sekarang dia telah berdiri di sebuah balkon untuk menghirup udara segar sambil memandang pemandangan di luar hotel.
Ia berdecak saat ingat kembali tentang pengumuman yang baru saja didengarnya. "Perusahaan cowok brengsek itu berapa banyak sih? Kenapa gue baru tau kalo Ayah kerja di perusahaan keluarganya Asta juga?"
"Kenapa? Lo gak suka?"
● ● ●
__ADS_1