
Asta menyusuri jalanan tanah becek dengan lebar tak sampai satu meter. Setelah melewati sekitar sepuluh rumah dan berbelok ke sebelah kiri, akhirnya Asta sampai di rumah milik keluarga Lala. Dari luar pintu dapat dia dengar suara isak tangis tersedu-sedu seorang perempuan. Asta yakin itu adalah Ina, ibu kandung Lala.
Perlahan Asta membuka pintu yang sudah reyot dan menimbulkan suara berderit itu. Sehingga orang yang berada di dalam rumah dengan dinding kardus dan atap dari seng yang sudah berlubang dimana-mana itu, menengok ke arahnya. Asta berdiri di depan pintu kemudian melangkah masuk.
Ina masih tersedu-sedu sambil memijat kaki suaminya dengan pelan yang terbaring di atas tempat tidur beralas tikar tipis. Sorot mata Asta yang dingin dari luar, sebenarnya menyimpan sejuta rasa sedih, resah, pilu, iba di dalam. Asta duduk untuk melihat kaki dan tangan Edi yang lebam-lebam.
"Pak Edi kenapa?" tanya Asta dengan nada datar yang sudah menjadi ciri khasnya.
Dengan bibir bergetar Ina yang menjawab. "Dipukuli sama orang-orang bertubuh besar yang ke sini tadi."
"Nak, Andra gak usah khawatir Bapak gak kenapa-napa kok. Ngomong-ngomong Nak Andra kapan ke sini?" Edi sengaja mengalihkan pembicaraan. Pria ringkih dengan tubuh kurus kering hingga tulang-belulangnya hampir terlihat keluar itu memaksa untuk tersenyum. Dia meminta Ina untuk berhenti memijatnya dan juga menangis.
Asta hanya diam saja. Padahal hatinya begitu terluka. Dari semua orang yang tinggal di pemukiman itu, keluarga Lala lah yang sangat bersikap baik padanya. Bahkan mereka sudah menganggap Asta adalah anak mereka sendiri. Keluarga sederhana itu tak sungkan membagi makanan pada Asta meskipun dengan lauk seadanya. Keceriaan, kehangatan dan ketulusan yang mereka pancarkan, membuat mata Asta semakin terbuka dari rasa angkuh saat dia memiliki segalanya dulu.
"Baru aja sampai," jawab Asta lirih. "Apa yang orang-orang itu mau? Bener yang dibilang Lala kalau tempat ini akan digusur satu minggu lagi?"
Kedua orang yang ditatap tajam oleh Asta itu hanya bisa tertunduk. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut keduanya.
"Pak Edi, Bu Ina," panggil Asta pelan. "Tolong jawab."
Ina menelan salivanya kemudian mengangguk lemah. Air matanya menetes lagi di pipi. "Kalau pemukiman ini digusur, kami semua akan tinggal di mana Nak Andra?" tanyanya tersedu-sedu.
"Ada sekitar 50 keluarga dengan ratusan anak kecil di sini. Mau pindah ke mana kami semua yang tidak memiliki uang ini. Bahkan untuk membetulkan atap yang bocor setiap hujan dan menghadang air agar tidak masuk ke dalam rumah saja kami masih sulit," tambah Ina lagi sambil sesenggukan.
"Maaf, saya berkata begini. Bukan berarti saya tidak bersyukur atau ingin terlihat lemah di depan Nak Andra."
"Iya Bu Ina, Andra paham. Bu Ina, Pak Edi harus kuat yah. Kita pasti bisa lewatin ujian ini. Seperti yang dulu kalian katakan kepada saya, ketika saya sedang jatuh-jatuhnya dan tak punya keinginan hidup," ucap Asta sambil mengusap bahu kedua orang itu dengan perlahan. "Boleh saya tahu, alasan kenapa rumah-rumah di sini mau digusur?"
__ADS_1
Edi mengembuskan napas berat. "Katanya Adhyaksa Grup mau membuat apartemen mewah di kawasan ini. Tanah ini sudah dibeli mereka dari pemilik sebelumnya satu bulan lalu."
"Adhyaksa?" ulang Asta sambil meremas jari-jemarinya dengan kuat. Lagi-lagi si tua gila itu!
Koran di dalam genggaman tangan Asta semakin tidak berupa lagi. Sudah kusut seperti bola karena diremas kuat-kuat oleh Asta. Asta membuang gulungan koran itu ke tempat sampah dengan geram. Lelaki itu sudah tidak bisa menahan rasa sabarnya lagi. Dia tidak bisa membiarkan ketidakadilan berada di puncak tahta dan membuat yang lain menjadi korban.
Asta turun dari motornya. Dia hendak mengantarkan pesanan makanan dari pelanggan yang memiliki toko di seberang gedung perkantoran milik orang yang dibencinya. Namun, tiba-tiba saja mata Asta menggelap. Kepalanya berdenyut nyeri. Seketika ... tubuh Asta pun ambruk di dekat sebuah trotoar sebelum membuka kotak aluminium berisi makanan.
∆ ∆ ∆
Mara tidak jadi berangkat ke kantor. Hari ini dia meminta ijin kepada atasannya. Fachri sialan itu sedang memiliki masalah di restorannya sehingga tidak dapat menggantikan Mara. Akhirnya, Mara mengalah untuk tetap tinggal di rumah, menemani seseorang yang sedang berbaring di kamar tamu.
Tadi, Mara sudah sampai di depan kantornya. Baru saja turun dari mobil, dia dikejutkan dengan seseorang yang tergeletak begitu saja di pinggir jalan. Atas usulan Fachri, Mara akhirnya membawa orang itu ke dalam apartemen sahabatnya. Membaringkannya di kamar tamu. Lalu Fachri memanggil seorang dokter kenalan untuk memeriksa tubuh yang tengah berbaring di atas kasur, karena saat ditemukan tubuh orang itu terasa sangat panas sekali.
"Resep bubur yang tadi lo kasih, lo simpen di mana catatannya?" tanya Mara pada seseorang dibalik telepon sambil mengedarkan pandang ke seluruh ruangan. Tangannya bergerak mencari secarik kertas di atas meja, sofa, di mana pun tempat yang terlihat.
"Di atas nakas kamar tamu. Sorry lupa bilang tadi sama lo," kekeh Fachri di seberang sana.
Dapur milik Fachri jauh terlihat lebih hidup dan seperti dapur yang sesungguhnya. Sedangkan dapur di apartemen Mara terlihat sebagai ruangan pelengkap yang tak berfungsi sama sekali. Dapur apartemen Mara akan terlihat fungsinya kalau Fachri sedang memasak di sana. Itu juga Fachri harus rela bolak-balik untuk membawa peralatan masaknya.
Mara mengambil panci seperti yang tertera pada gambar. Sedetail itu memang. Fachri selalu menyertakan gambar di setiap petunjuk memasaknya. Padahal, bentuk tulisan saja sudah cukup bagi Mara. Entahlah, Fachri memang selalu begitu, memberikan resep lengkap dengan gambar tutorial dan peralatan apa saja yang harus dipakai.
∆ ∆ ∆
"Yo!" sapa Sun yang baru saja tiba di tempat yang telah ditentukannya sebelum membuat janji untuk bertemu dengan Riga dan Jono--managernya.
Jono membalas lambaian tangan dari Sun, sementara Riga hanya melemparkan tatapan dingin dengan kedua tangan berada di dalam saku celananya.
__ADS_1
"Lo kemana aja sih? Gue hampir digorok dan dipecat sama Ibunda karena gak bisa ngasih tau dimana keberadaan lo," keluh Jono dengan gaya lebay khasnya. "Ibunda 'kan kangen berat sama lo. Awas lo lupa sama orang tua. Nanti lo dikutuk jadi tomat."
Sun terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Dia mengabaikan manajernya itu lalu berjalan mendekati Riga. Sun menepuk bahu Riga pelan. "Apa kabar, Brother," sapa Sun pada adiknya lalu keduanya melakukan gerakan adu tangan. Begitulah cara keduanya saling menyapa satu sama lain saat bertemu.
"Baik," jawab Riga singkat tanpa senyum di wajah yang sudah tidak asing lagi bagi Sun.
Jono mengulurkan tangan. Berniat untuk ikut melakukan adu tangan seperti yang dilakukan dua kakak beradik itu. Namun, baik Riga dan Sun tak ada yang menggubrisnya. Kedua lelaki itu justru telah masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Jono begitu saja.
"Buruan Jono! Mau pulang enggak?" teriak Sun dari dalam mobil.
Jono menghentakkan kakinya sebal. "Panggil gue Mr. Jhon. Mis-ter-jhon. Paham gak?" Bibir Jono sengaja digerakkan lambat-lambat untuk mengeja setiap kata yang diucapkannya.
Riga yang duduk di balik kemudi itu berdecak sambil menyalakan mesin. "Buruan masuk Jono!"
Lelaki bertubuh pendek itu mendengus sambil masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Sun di kursi belakang. "Ya Tuhan, salah apa Mr.Jhon sampai kenal dua orang sejahat ini. Untung gue gak kalah ganteng. Gue masih bisa sabar-sabar aj ...."
Sebelum Jono menyelesaikan ucapannya, sebuah jeruk disumpalkan Sun ke dalam mulut lelaki yang lebih tua lima tahun dari sang idola itu. Kebetulan Sun menemukan beberapa buah jeruk yang diletakkan di dashboard mobil. Sun mengambil dua. Satunya untuk menyumpal Jono. Satu lagi dia kupas untuk dimakan.
"Udah diem makan jeruk aja," seru Sun sambil terkekeh. Di depan sana, diam-diam Riga tersenyum kemudian melajukan mobil.
"Awas yah! Nanti gue lapor Ibunda!" jerit Jono sambil merengek.
Astaga!
∆ ∆ ∆
Udah ah segini dulu aja . 🤧 lagi sakit kepala gak bisa mikir 🤧
__ADS_1
nanti sore aku lanjut lagi kalo sempet. doakan lancar nulisnya yah man teman ❤️❤️❤️
maaciiiw 😇😇