
Fachri membaringkan tubuh Mara di atas kasur. Lalu menyelimutinya dengan selimut beludru agar perempuan itu tidak kedinginan. Subuh tadi hingga matahari menyingsing, Mara menangis dalam pelukannya. Sekarang, perempuan itu tertidur lelap karena lelah. Wajah polos Mara seperti bayi. Fachri tersenyum getir sambil perlahan keluar dari kamar.
Fachri pergi ke kamarnya di lantai bawah. Dia merebahkan diri di atas single bed. Terlelap sebentar, sebelum pukul 10.00 pagi dia meninggalkan Mara untuk menengok restorannya di salah satu Mall besar di Bandung. Ada masalah yang harus diselesaikan Fachri. Sebelum pergi, Fachri menitip pesan pada Bi Narti dan Pak Agus untuk tidak membangunkan Mara.
Sore hari, Fachri baru kembali dari kota. Dia buru-buru memasuki vila setelah memarkirkan motor di halaman. Langkahnya perlahan menaiki anak tangga menuju kamar yang di tempati Mara. Fachri membuka pintu bercat jingga yang selaras dengan warna cat di dinding.
Matanya terkejut saat *** menemukan Mara di sana. Fachri mencari di kamar mandi. Namun, dia tak menemukan siapapun. Kening Fachri mengerut. Dia berlari ke bawah menuruni tangga dan menghampiri Bi Narti yang sedang memasak di dapur.
"Bi, lihat Mara gak? Kok Fachri tengok di kamarnya, dia gak ada?" tanya Fachri gelisah.
"Eh? Masa iya Den? Tadi Bibi terakhir kali lihat masih tidur di kamarnya, Den," sahut Bibi yang mulai ikut gelisah.
"Bibi lihat jam berapa?"
"Sekitar sepuluh menit yang lalu, Den."
Fachri langsung berlari menaiki tangga lagi. Dengan langkah terburu, dibukanya satu-satu setiap kamar yang ada di lantai dua. Mencari ke dalam setiap ruangan yang ada di atas, lalu berganti mencari ke bawah. Hasilnya? Nihil. Mara tidak ditemukan.
"Mar? Mara! Lo dimana?" panggil Fachri sambil mengitari bangunan bercat oranye itu. Matanya menelisik ke setiap sudut. Barangkali salah satu ujung rambutnya dapat terlihat.
"Mang Agus gak lihat Mara?" tanya Fachri pada Mang Agus yang baru saja tiba sambil mengangkut beberapa potong kayu di pundaknya. Kayu-kayu yang akan dijadikan kayu bakar untuk menyalakan api di dapurnya Bi Narti.
"Neng Mara?" ulang Mang Agus. "Tadi saya lihat Neng Mara jalan ke belakang A'. Ke arah bukit kecil di belakang vila."
__ADS_1
Fachri memejamkan matanya perlahan. Degupan jantungnya tidak secepat sebelum dia mendengar kabar Mara dari Mang Agus. Ritmenya sudah kembali normal. Fachri mengatur napasnya lalu mengucapkan terimakasih pada Mang Agus. Setelah pamit, dia berjalan pelan menyusuri jalan setapak menuju bukit kecil di belakang vila.
"Gue pikir lo kabur dan pulang ke rumah," ucap Fachri lalu duduk di sebuah ayunan kosong. Tepat di samping ayunan yang dinaiki oleh Mara.
∆ ∆ ∆
Mata Mara terbuka. Cahaya Matahari menyilaukannya. Astaga! Sudah berapa lama dia tertidur? Dia bahkan melupakan pekerjaannya hari ini. Padahal ada sebuah berkas yang harus dilaporkannya. Ah! Masa bodoh! Mara sedang tak ingin memikirkan sesuatu. Kali ini saja, biarkan pikirannya merasa bebas tanpa beban.
Mara turun dari kasur. Berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka, lalu keluar kamar. Dia mendatangi kamar Fachri. Namun, sepertinya lelaki itu sedang pergi menengok restorannya. Terlihat dari halaman yang tidak ada motor Fachri yang terparkir.
Mara keluar dari vila. Sore itu, tampaknya dia ingin mencari udara segar sambil melihat pemandangan. Ah, rasanya sudah lama sekali. Sejak kepergian Fachri, beberapa kali Mara mendatangi vila seorang diri. Namun, rasanya tetap berbeda dibanding pergi ke tempat itu berdua dengan sahabatnya.
Mara mendudukkan diri di atas ayunan. Pemandangan dari bukit kecil di belakang vila memang menyajikan pemandangan terbaik kota Bandung. Sambil menggerakkan ayunan itu secara perlahan, pikirannya melayang kembali teringat kejadian semalam. Dia merutuki diri sendiri. Sungguh Mara sangat bodoh. Dia menyesali banyak hal yang telah dilewatinya beberapa tahun ini.
Ah, sudahlah. Dipikirkan pun, faktanya waktu tak akan bisa mengembalikan kejadian di masa lalu. Hanya rasa penyesalan yang tersisa dari apa yang telah dilakukannya selama ini.
Mara menoleh dan mendapati Fachri tersenyum padanya. Ternyata lelaki itu sudah kembali dari kota. "Lo ... pulang ke rumah?" tanya Mara takut.
"Huum. Sebentar sih. Buat ganti baju. Tenang. Bunda lo tau kok lo lagi sama gue di sini. Semalem, waktu lo di bar, gue minta ijin sama Bunda buat ngajak lo ke vila. Makanya gue gak ngajak lo pulang ke rumah. Gue tau, meski lo sok kuat dan sok tegar, lo tetep aja takut dimarahin Bunda," jelas Fachri panjang lebar. Seolah paham dengan apa yang ada di pikiran Mara saat ini.
Mara justru memandang Fachri takjub. Tidak menyangka, jika sahabatnya itu berbuat sejauh ini untuk melindunginya. Mara tersenyum kecut. Rasa bersalah menggerogoti jiwanya lagi. "Sorry yah. Gue ngerepotin lo terus," sesal Mara.
"Jujur, tanpa bantuan dari lo, mungkin semalem gue udah hancur. Kalo lo gak dateng, gue gak yakin bakal berani pulang ke rumah. Gak berani menunjukkan wajah gue sama Ayah dan Bunda. Karena, mereka pasti malu punya anak kayak gue," lanjut Mara sambil terisak.
__ADS_1
Fachri mendengus sambil memutar kedua bola matanya. "Heran gue sama lo. Giliran lagi mode melow aja, banjir air mata tiap detik tiap menit. Berasa kayak lo doang yang punya air mata."
"Ish! Enak aja lo! Gue lagi serius tau. Lo malah bercanda," sebal Mara setelah mencubit lengan Fachri.
Yang dicubit malah terkekeh geli lalu mengusap puncak kepala Mara dengan lembut. "Iya, iya. Lagian udah tugas gue ngelindungin lo. Gue 'kan malaikat penjaga lo. Sampai kapan pun, gue bakal selalu lindungin lo."
Mara terpaku saat Fachri mengusap air matanya dengan jari jemari lelaki itu. Senyuman Fachri mampu menular dan membuat Mara menarik garis di setiap sudut bibirnya. "Makasih yah."
"Bawel ah!" seru Fachri sambil menyentil dahi Mara dengan jari telunjuknya secara pelan.
Mara mendengus sambil mengusap jidatnya pelan. Mara bangkit berdiri. "Ayo!" ajaknya tiba-tiba.
"Kemana?" tanya Fachri dengan pandangan yang tak lepas dari Mara. Perempuan itu sudah berjalan mengitarinya lalu mulai menapaki jalan setapak. Namun, baru saja Fachri berdiri untuk menyusul, kaki Mara berhenti bergerak.
Mara menoleh ke arah Fachri. Memandang lelaki itu dalam-dalam. "Kita pulang. Lo penasaran 'kan tentang apa yang terjadi antara gue dan Asta? Gue ... bakal ceritain semua soal Asta sama lo. Tanpa ada yang kelewat satu pun."
Mata Fachri terbelalak mendengar pernyataan Mara. Dia berjalan cepat-cepat menghampiri perempuan itu. Lalu menatapnya lamat-lamat. "Lo yakin, Mar? Kalo lo belum siap dan sanggup untuk cerita, gak apa-apa. Gue siap nunggu. Bahkan, kalo lo gak mau ngasih tau apapun sama gue, gue gak akan mempermasalahkan itu. Yang gue mau cuma dua. Lo baik-baik aja dan bahagia."
Mara tersenyum lebar. Kali ini senyuman tulus yang muncul dari segenap hatinya. Bukan lagi senyuman seperti dulu, yang hanya bentuk lain dari sebuah kepura-puraan. Senyuman itu kini jujur dan sepenuh hati.
"Gue siap kok. Gue sanggup ceritain semuanya sama lo, Fachri. Udah waktunya gue memang harus melepaskan Asta. Merelakan dia pergi. Merelakan hati gue untuk menerima kenyataan yang terjadi. Lo tanya di mana Asta sekarang berada 'kan? Gue tahu dia di mana. Gue bakal tunjukin sama lo tempat keberadaan Asta sekarang."
∆ ∆ ∆
__ADS_1
uhuy, misteri Asta sebentar lagi terungkap. Kira-kira ada yang bisa nebak gak? 🤭🤭
tunggu jawabannya di bab selanjutnya yah ❤️❤️