
"Gue ... mau ngajakin lo main tebak-tebakan."
Astaga! Mara sampai menepuk dahinya karena tak habis pikir dengan tingkah lelaki di sampingnya itu. Bagaimana Asta bisa menunjukkan wajah seserius itu hanya untuk mengajaknya bermain tebak-tebakan? Ck!
"Peraturannya masih sama. Pilih jawaban yang bener di antara dua hal yang gue sebutin," kata Asta masih sama datarnya.
Mara memutar kedua bola matanya. "Asal jangan pertanyaan aneh-aneh aja kayak waktu itu," seru Mara sambil mengamati wajah Asta.
Wajah yang terlalu tanpa ekspresi itu sungguh membuat Mara kebingungan. Dia tak bisa menebak isi kepala lelaki yang dicintainya itu selama beberapa tahun ke belakang. Juga Mara masih tak paham dengan tujuan Asta mengajaknya bermain tebak-tebakan. Yang Mara tahu, tak ada hal baik ketika Asta mengajaknya bermain seperti itu. Pasti berakhir dengan suatu hal yang tak terduga. Mungkinkah sekarang pun akan begitu? Mara bertanya-tanya dalam hati.
"Pertanyaan pertama," ujar Asta memandang lurus ke dalam manik Mara, "Saat gue punya rahasia dari lo, lo akan memilih untuk marah atau biasa aja?"
"Pertanyaan macam apa sih itu," protes Mara.
"Jawab aja. Dihitungan ketiga lo gak jawab, lo harus nyium gue."
Mata Mara mengerjap. "Kok itungan waktunya jadi lebih cepet? Seinget gue dulu lima deh." Mara masih melakukan protes. Nyatanya pertanyaan Asta barusan mendadak membuat pikiran dan hatinya tak tenang.
Jangan-jangan Asta punya rahasia dari gue?
Mara mencoba menepiskan pikiran buruknya. Dia tak sempat berpikir karena Asta sudah terlanjur melakukan penghitungan waktu.
"Sa ...."
"Marahlah!" potong Mara. "Soalnya ... lo 'kan udah janji sama gue kalau lo bakal selalu terbuka dan gak ada rahasia di antara kita."
"Salah!" seru Asta sambil tersenyum miring. Tangannya terulur lalu membelai rambut Mara yang tergerai sebahu itu dengan lembut. "Jawabannya, lo harus percaya sama gue."
"Pilihan itu perasaan gak ada di pertanyaan deh," dengus Mara sambil menatap wajah Asta dengan sebal.
"Permainan ini gue yang buat. Jadi aturannya juga suka-suka gue. Jawabannya ada atau engga, ya suka-suka gue."
Mara menarik oksigen banyak-banyak. Kenapa dia baru sadar kalau lelaki di sebelahnya itu sangat menyebalkan, padahal sudah bertahun-tahun Mara menjalin hubungan dengannya? Serius! Asta hari ini sungguh ingin Mara cincang hidup-hidup.
"Kalo gitu, jawaban gue juga suka-suka gue dong." Mara melepaskan kaitan tangannya dari genggaman Asta. Dia melipat kedua tangannya di depan dada dengan memasang wajah masam.
"Lo harus tetap mengikuti aturan. Inget! Di sini gue yang bener." Lagi-lagi Asta tersenyum penuh misteri. Membuat hati Mara semakin dongkol dengan tingkahnya.
"Gue gak mau main kalau gitu. Lo cari aja orang lain buat main tebak-tebakan aneh lo itu."
Melihat Mara merajuk, Asta terkikik geli dengan pelan. "Pertanyaan kedua."
"Dih maksa amat sih lo."
Mengabaikan protes dari Mara, Asta melanjutkan pertanyaannya, "Saat di pikiran gue ada nama orang lain, lo bakal pilih marah atau biasa aja?"
Mara terkesiap saat mendengar pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut Asta. Rasanya kecurigaan Mara semakin besar. Astaga! Demi kodok yang masih jomblo di rawa-rawa, pertanyaan kedua ini sungguh membuat Mara naik pitam.
Sabar Mara, sabar! Mara mengelus dadanya sementara Asta sudah mulai melakukan hitungan mundur sambil tersenyum-senyum.
"Dua ...."
__ADS_1
"Biasa aja. Puas lo?" Mara setengah tersenyum, setengah tak rela menjawab seperti itu. Bagaimana bisa dia bersikap biasa saja jika ternyata memang benar ada orang lain yang ada di dalam pikiran Asta saat ini? Siap-siap saja Mara mengirimkan boneka voodoo pada orang yang ingin merebut Astanya.
Ck! Astaga! Sadar Mara! Kenapa lo jadi sepossesive ini sih. Mara mendengus dengan segala kebimbangan di dalam hatinya.
"Salah!" Asta menyilangkan tangannya di depan dada.
"Kok salah lagi sih? Jawab marah salah, jawab biasa aja juga salah."
"Karena jawabannya, lo harus percaya sama gue."
Ya ampun! "Jawaban itu gak ada di pertanyaan tadi Tuan Muda Semesta Udaraja."
"Gak peduli. Gue selalu benar."
"Gue gak mau main lagi."
"Lo harus main. Kalo berhenti di tengah jalan, gue yang bakal nyium lo ...." Asta sengaja menggantung kalimatnya ketika mata Mara berubah menjadi berbinar. Perempuan itu, pasti akan memilih untuk diciumnya dari pada melakukan tebak-tebakan seperti ini. Melihat ekspresi Mara seperti itu, keinginan Asta untuk menggodanya semakin kuat.
"... Pake ini," lanjut Asta sambil mengacungkan salah satu sepatunya di udara. "Gue bakal cium lo pake ini."
Seketika, wajah cerah Mara yang hanya beberapa detik terbit mendadak redup kembali. Kini hanya aura gelap dan rasa ingin 'membunuh' yang terpancar di wajahnya. Asta tersenyum sendiri.
"Pertanyaan ketiga, kalau seandainya saat ini gue lagi baca tulisan seseorang yang bikin gue terus memikirkan dia, lo bakal marah atau biasa aja?"
Deg! Pertanyaan Asta barusan entah kenapa semakin membuat Mara jatuh ke dalam lubang kebimbangan. Ingin berpikir positif, namun nyatanya pertanyaan Asta membuat Mara berpikir yang tidak-tidak. Kenapa hatinya mendadak tidak tenang. Hati Mara gusar. Tak karuan.
Kalau seandainya semua pertanyaan itu benar, Mara tak tahu apa yang harus dilakukannya. Mencincang Asta masih kurang sadis, mengubur Asta hidup-hidup masih terlalu baik, menjatuhkan Asta dari bukit sakura pun rasanya Mara belum merasa puas. Astaga! apa yang harus gue lakuin? Mara merana sendiri di dalam hati.
Senyum Asta mengembang. "Pinter. Sekarang lo udah paham berarti sama permainan ini. Kalau Asta selalu benar."
"Ya, ya, ya. Terserah lo. Lo emang Raja Maksa paling akut." Mara mendelik sebal.
"Sekarang, karena lo bilang bakal percaya sama gue. Gue mau ngomong yang sejujurnya. Kalau ... pertanyaan tadi itu adalah beneran. Saat ini, gue lagi baca tulisan seseorang yang bikin gue terus kepikiran." Asta menatap lamat-lamat.
Sementara Mara yang sejak tadi berada dalam kegusaran, kini tak dapat lagi menahan emosinya. "Maksud lo apa? Ada orang lain di antara kita gitu?" Mara nyaris membentak. Namun tertahan dengan air mata yang mulai berkumpul di pelupuk.
Hari ini memang bukan hari ulang tahunnya. Namun, bukan hal seperti itu yang ingin didengarnya di hari lahir kekasihnya itu. Mara pikir, Asta akan memberikan kejutan makan malam romantis, atau pesta kembang api, atau hanya merayakan dengan memakan kue dalam ketenangan malam. Nyatanya, justru rasa sakit yang diterima Mara malam itu.
"Anggap aja kayak gitu. Karena, entah sejak kapan, kata-kata orang itu terus mengganggu pikiran gue, membuat hati gue tergugah, dan gue rasa gue suka dengan kata-katanya."
Penjelasan Asta yang tanpa pengelakan itu membuat harapan Mara pupus sudah. Bahkan saat Asta bicara pun, ekspresi wajahnya tidak berubah. Tetap serius yang membuat bulu kuduk Mara meremang. Perasaan Mara diruntuhkan begitu saja oleh seorang lelaki bernama Asta. Kurang ajar 'kan?
"Cuma kata-kata doang, tapi bisa bikin lo berpaling dari gue? Bikin lo selingkuh dari gue?" Mara tak habis pikir. Air matanya luruh di pipi.
"Gue gak selingkuh. Gue cuma jadi kepikiran dia terus."
"ITU SAMA AJA!" Oke, Mara baru saja berteriak. Anggap saja pikirannya sedang tidak waras dan kacau. Namun, Mara sungguh tidak tahu apa yang harus dilakukannya ketika mendengar hari Asta ternyata sudah berpaling. Mara tidak bisa diam dan hanya percaya begitu saja. "Sejak kapan?"
"Sejak kapan lo mulai mikirin dia?" tanya Mara di sela tangisnya begitu emosinya sedikit turun. "Sejak kapan Asta? Jawab!"
Asta menelan salivanya lalu mengembuskan napas lemah. "Sejak setahun yang lalu."
__ADS_1
Mendengar jawaban Asta barusan, hati Mara semakin terpukul. Ingin rasanya saat ini juga dia menendang Asta ke luar angkasa hingga sejauh mungkin agar lelaki itu tak bisa kembali lagi. "Mana hape lo?" pinta Mara sambil menengadahkan tangannya.
"Buat apa?"
"Gue pengen tau kata-kata apa yang bikin lo jadi seperti ini. Lo pasti simpen 'kan di hape lo?"
Asta mengangguk pelan. Dia tidak berusaha melakukan apapun untuk membuat Mara merasa lebih baik. Setidaknya Mara berharap lelaki itu berkata bohong. Nyatanya, Asta bergeming dan tak berkata sedikitpun.
"Mana hape lo. Gue mau lihat!" pinta Mara untuk kedua kalinya dan kali ini Asta memberikan ponsel miliknya pada Mara.
Mara mencebik melihat layar ponsel itu terkunci. Beruntung Mara mengetahui password untuk membukanya. Setelah mengetikkan 6 digit angka, akhirnya layar itu terbuka. Mata Mara mengerjap saat yang terbuka pertama kali adalah sebuah video berdurasi singkat yang berisi banyak foto dirinya.
Tiba-tiba munculah sebuah tulisan dengan kata-kata yang Mara sangat hapal di luar kepala. Begitu sukanya dia dengan kata-kata itu. Kata-kata puisi milik Sapardi Djoko Damono yang menjadi favorit Mara selama ini.
"Naigisa Amaranth." Suara Asta tiba-tiba terdengar dan membuat Mara menoleh. Lelaki itu tersenyum sambil mengusap air mata Mara yang masih luruh di pipi dengan jari-jemarinya.
"Naigisa Amaranth, Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan, kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan, awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
"Dan gue hanya ingin mencintai lo dengan sederhana, cukup hanya dengan kehadiran lo yang selalu ada di sisi gue. Gue gak akan pernah meminta lebih kepada Tuhan. Karena gue tahu, lo adalah hadiah terindah, terbaik dan terbesar yang Tuhan kasih buat gue. Terimakasih untuk selalu ada di samping gue. Terimakasih untuk gak pernah ninggalin gue." Asta membacakan seluruh kata-kata di dalam video itu dengan lancar tanpa membaca teks. Bahkan saat mengatakannya pun terasa pas dengan backsound lagu yang terputar di video itu.
"I love you, Mara," bisik Asta dan membuat tangis Mara semakin pecah. Tangis bahagia dan haru yang terus menyelusup ke dadanya.
Mara benar-benar merasa menjadi orang paling bahagia malam itu. "Lo gak boleh ngerubah puisi orang seenaknya, Asta!" protes Mara. Lalu senyumnya mengembang. "I love you too ... dan akan selalu begitu."
Asta menarik garis di sudut bibir sebelum mendekatkan wajahnya dengan wajah Mara. Malam itu, Asta mencium Mara dengan lembut. Kunang-kunang yang tiba-tiba saja bermunculan ntah dari mana, membuat suasana yang awalnya dingin menjadi hangat dan penuh kerlipan cahaya.
Kini, kunang-kunang yang dilihat Mara ternyata berasal dari kepalanya yang mulai terasa berat karena terlalu lama menangis. "Gue kangen sama lo Asta. Gue kangen," ucap Mara lirih seraya mengusap air matanya yang masih terjatuh di pipi.
Mara bangkit berdiri. Memandang sendu ke arah tempat peristirahatan terakhir kekasihnya itu. "Hari ini gue pamit, Ta. Hari ini gue mau mencari kebahagiaan gue. Gue tau, di atas sana lo pasti gak mau lihat gue terpuruk kayak gini terus 'kan? Lo pasti dukung gue 'kan? Gue tau yang lo ingin pasti melihat gue bahagia.
"Yang harus lo tau adalah gue bukan mau ngelupain lo. Tapi gue mau belajar untuk ikhlas melepas lo. Supaya lo tenang juga di alam lo. Kali ini gue bener-bener akan menerima kenyataan, bahwa lo udah pergi untuk selamanya. Lo jangan cemas yah. Sekarang gue punya Fachri. Gue janji gak akan terjatuh kayak dulu lagi. Gue akan bahagia. Meski tanpa lo di sisi gue. Terimakasih, Ta. I love you ... dan untuk selamanya."
Setelah pamit, Mara bergegas berjalan meninggalkan kuburan Asta. Dia sengaja tak menoleh ke belakang. Mara tak ingin rapuh. Dia harus bangit. Demi orang-orang tercinta yang ada di sekelilingnya.
Mara menghampiri Fachri yang duduk di bagian depan mobil. "Maaf yah gue lama," ucap Mara sambil tersenyum lemah.
Fachri berdiri lalu menarik tubuh Mara dalam dekapannya. "Lo emang perempuan hebat kesayangan gue."
"Lo laki-laki ternyebelin dan paling rese sedunia," sahut Mara dan membuat Fachri tertawa.
Fachri melepaskan pelukannya. "Siap berangkat Bu Bos?"
"Yap!" jawab Mara mantap lalu melangkah masuk ke dalam mobil diiringi Fachri.
♡ ♡ ♡
baper gak sih gengs.. kok aku baper sendiri..
kenapa Mara yang di so sweet in tapi aku yang mewek ? 🤣🤣🤣
maafkan kalo ada typo bertebaran yah. nanti aku benerin kalo udah selesai sampe ending. sekalian dibaca ulang takutnya ada yg rancu 🤭🤭
__ADS_1