
Riga tak pernah menduga. Ia bertemu dengannya lagi, dan ... dengan penampilan yang jauh berbeda tentunya. Riga mengamati rambut gadis itu dipotong pendek di atas bahu. Sangat disayangkan rambut hitam panjangnya telah menghilang.
Mata Riga beralih pada kacamata yang sedang diperbaiki oleh gadis yang sedang menatapnya balik. Gadis itu pergi. Begitu saja. Riga bahkan belum berkata sepatah kata pun padanya.
Ah! Sepertinya tak ada kesempatan untuknya berusaha mendekati gadis itu lagi. Riga mencelos.
● ● ●
Menarik! Sudah lama Chia tak pernah dibanjiri seruan atau sekedar celotehan dari ketiga temannya. Namun hari ini berbeda. Hari pertamanya kembali ke sekolah dan ia telah mendapatkan kejutan dari Hana, Sani serta Krisha yang telah berdiri mengeliling bangkunya.
Chia tersenyum. Matanya memandang polos pada Krisha yang sedang mendekatkan wajahnya untuk mengamati Chia.
"Rambut panjang lo ke mana?" Krisha terlihat syok. Chia tertawa pelan.
"Gue potong kemaren."
"Dan ... mata lo kenapa?" Krisha menatapnya penuh tanya. Chia membalasnya dengan senyuman.
"Mata gue minus," jawab Chia asal-asalan dengan santai.
"Serius? Lo minus berapa sampe kacamata lo tebel gini?" Hana ikut menanggapi. Matanya menyipit. Menyelidik.
"Tiga. Mungkin." Chia mengendikan bahu tak yakin.
Chia tersontak saat tiba-tiba Sani melepaskan kacamata yang digunakannya sesaat. Lalu gadis itu memasangkannya kembali di wajah Chia.
"Lo bohong!" katanya sambil menatap tajam ke arah Chia. "Berapa lama lo nangis?"
Chia terdiam. Sekilas matanya menangkap Hana dan Krisha yang saling memandang. Lalu beralih menatap Sani yang masih belum melepaskan pandangannya.
"Tiga hari," jawab Chia diiringi desahan pelan. Pasrah. Berusaha menutupi mata bengkaknya dengan kacamata, ternyata memang percuma.
"Apa yang bikin lo sampe gini Chia?" Krisha terlihat khawatir.
"Kita minta maaf. Kita udah ngejauhin lo kemaren-kemaren. Kita emang bukan sahabat yang baik buat lo." Hana terlihat menahan air matanya. Chia tersenyum.
"Bukan salah kalian kok. Gue cuma nangisin lutut gue yang dijahit nih." Chia menunjuk lututnya yang masih diperban. Ia melihat ketiga sahabatnya itu tersenyum miris. Ngeri.
__ADS_1
"Lo yakin tiga hari lo cuma nangisin lutut lo doang?" Sani masih tak percaya.
Namun Chia tetap tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Soal Riga?"
Chia menggeleng sambil mengendikan bahu menanggapi pertanyaan Sani. Ia tetap tersenyum meski melihat raut kecewa dari ketiga sahabatnya. Yah, biarlah. Toh rasa sakitnya telah ia kubur lagi dalam-dalam. Chia tak ingin membuka dan menangisinya kembali seperti kemarin.
● ● ●
Riga mengikutinya. Gadis berambut pendek dengan kacamata di wajahnya. Chia. Matanya menatap nanar pada perban di lutut gadis itu. Ah! Hatinya berdesir. Luka itu pasti karenanya.
Riga ingin mendekat. Memisahkan jarak. Lalu berjalan di sampingnya. Namun ia tak berani. Menampakkan wajahnya saja ia terlalu takut. Apalagi untuk menipiskan jaraknya dengan gadis itu.
Seenggaknya lo masih ada di sini Chia! Lo gak pergi ke manapun yang gak bisa gue jangkau.
Riga menghentikan langkahnya. Ia berdiri di sebuah belokan ketika gadis itu berbelok melewati pagar halaman rumahnya. Riga bersandar sebentar sebelum melangkah lagi. Ia menoleh ke arah rumah Chia. Gadis itu pasti telah masuk ke dalam. Riga menghela napas. Lalu berjalan menjauhi rumah gadis itu.
● ● ●
Chia masih berjalan dengan santai melewati pintu pagar. Ia tak langsung masuk ke dalam rumah. Langkahnya terhenti. Ia berbalik badan. Kembali berjalan melewati pintu pagar halaman rumahnya. Lalu berdiri di sana.
Riga ....
● ● ●
Itu Asta! Laki-laki yang sedang berjalan berkerumun dari arah berlawanan dengannya di koridor. Mara menghentikan langkahnya. Matanya terpusat pada Asta yang sedang menatapnya dingin di kejauhan.
Apa yang bakal Asta lakuin yah? Apa dia masih marah? Mara masih memandanginya. Baru saja ia membuka mulut untuk mengatakan sesuatu pada Asta, namun laki-laki itu malah berjalan melewatinya begitu saja. Tanpa menatap ke arahnya. Seperti kehadirannya tak pernah ada di sana.
Deg! Sesak. Sungguh hatinya tak bisa menerima sikap Asta kali ini. Ia sudah terbiasa diabaikan oleh lelaki itu. Tapi kali ini berbeda. Rasa sakitnya jauh lebih dalam dibandingkan dengan rasa sakit yang biasa diterimanya.
Menyeka air matanya, Mara berlari menuju beranda lantai tiga. Menangis tersedu di sana. Mengutuk semua yang pernah terjadi padanya.
"Kan gue udah bilang, lo jelek kalo lagi nangis kayak gitu."
Mara tersontak. Mata sembapnya berlayar ke segala arah. Ah! Sial! Sejak kapan lelaki itu ada di sana? Bagaimana bisa Mara tak menyadari kehadirannya? Wajah Mara bersemu merah. Malu. Lagi-lagi Riga menangkapnya dalam keadaan buruk seperti sekarang ini.
__ADS_1
Buru-buru ia menghapus air matanya. Lalu bangkit berdiri. Sikapnya kikuk ketika Riga telah berada di sampingnya. Dilihatnya laki-laki itu berdiri sambil mendongakkan kepalanya ke atas. Menatap langit.
"Sejak kapan lo di sini?" Mara memerhatikan lelaki itu dengan serius.
"Dari tadi," jawab Riga datar tanpa menatap ke arahnya.
Deg! Mara terkejut. Keningnya berkerut. "Lo denger gue nangis?"
"Ya. Dari awal."
Uh! Sial! Lengkap sudah. Rasa malunya tak terbendung. Mara memalingkan wajahnya. Tak berani menatap ke arah Riga.
"Kenapa lo nangis?"
Mara terdiam. Air matanya malah mengalir lagi dengan sendirinya. Buru-buru ia menyekanya sebelum Riga melihatnya. Namun terlambat. Riga telah menariknya ke dalam pelukannya.
"Lo boleh nangis sebanyak yang lo mau," katanya datar membuat Mara makin sesak dan menangis tersedu-sedu.
● ● ●
Bukan hanya ketiga sahabat dan teman sekelasnya saja yang merasa terkejut, Chia pun begitu. Hanya saja keterkejutan Chia tertutupi dengan ekspresi datar dari wajahnya.
Tatapannya masih beradu dengan Asta. Laki-laki yang entah sejak kapan berdiri di depan kelas Chia. Menunggunya? Mungkin. Chia tak terlalu yakin dan tak ingin peduli.
"Gue pinjem dia," ujar lelaki itu kepada ketiga sahabat Chia yang langsung dibalas anggukan lemah. Chia hanya terdiam dan tak berkomentar apapun.
"Lo pulang bareng gue," kata Asta sambil menarik tangan Chia. Namun langsung ditepis oleh seseorang yang membuat Chia terpaku seketika.
"Dia bakal pulang bareng gue," ujar Riga dengan tatapan tajam yang terarah pada Asta. "Lo udah nyelakain dia. Lo gak punya hak buat ngajak pulang bareng pacar gue."
Deg! Pacar? Chia tersenyum tipis. Ah mungkin ia salah dengar.
"Pacar lo?" Asta menyeringai. "Lo lupa siapa cowok yang berusaha keras buat mungkirin kalo dia pacar cewek ini?"
Chia memutar kedua bola matanya. Apa yang dilakukan kedua lelaki ini di depan kelasnya? Sebuah pertunjukan drama? Chia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melepas tangannya dari cekalan kedua lelaki itu.
Ia melirik Adit yang berdiri di kejauhan yang sedang memerhatikannya. Tanpa berkata apapun Chia melewati kedua lelaki itu yang tampak terperangah di tempatnya.
__ADS_1
Yah, masa bodoh. Chia memang tak ingin pulang bersama dengan salah satu dari kedua lelaki itu. Semuanya terlalu tiba-tiba dan ia harus meyakinkan diri tentang hal yang baru saja terjadi di depan matanya.
"Ayo pulang," ajak Chia sambil tersenyum ketika ia telah berdiri di hadapan Adit. Yang diajak bicara hanya melongo sambil menganggukkan kepalanya.