Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 3 : Uneasy (1)


__ADS_3

Mara membanting tubuhnya di atas tempat tidur bernuansa merah muda. Warna kesukaannya. Ia lelah. Ia memejamkan matanya. Ia ingin membenamkan dirinya pada ketenangan sore ini.


Ah, terlalu banyak hal yang dialaminya hari ini. Seluruh pikirannya tersita dengan berbagai masalah yang dialaminya. Ia butuh waktu untuk sendiri. Menenangkan sejenak pikirannya yang terlalu keras berkutat dengan dunia luar. Hingar-bingar, air mata, kesedihan dan kemarahan selalu menyita waktunya.


Dua jam berlalu. Bahkan matahari pun sudah kembali ke peraduannya. Langit yang semula berwarna lembayung, sedikit demi sedikit berubah menjadi gelap.


Mara membuka matanya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya ketika melihat cahaya lampu di kamarnya. Ia melirik pada jam dinding. Pukul 8 malam. Mara mengernyitkan dahinya.


Udah berapa lama gue tidur? Gumamnya.


Ia bangun lalu berjalan dengan lemas menuju ruang keluarga. Ia menatap sekeliling. Ah, rasanya rumah itu terlalu sepi. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung. Pukul 8 malam dan tidak ada siapa pun selain dirinya di ruangan itu.


Mara pun berjalan menuju dapur. Ia masih termenung sambil melihat isi kulkas. Akhirnya ia memutuskan untuk mengambil beberapa helai roti dan selai coklat. Ia lalu duduk di depan televisi sambil memakan roti itu sedikit demi sedikit.


"Ke mana semua orang di rumah ini?" keluhnya.


Ia masih fokus menonton televisi. Sedangkan tangannya masih meraba-raba di atas meja. Mencari sesuatu. Karena tangannya sedari tadi tidak meraih apa pun, akhirnya ia menoleh dan menatap meja. Tak ada apa pun di sana.


Mara menghela nafas panjang. "Gue lupa bawa susunya."


Dengan malas ia bangkit dari sofa empuk kesukaannya. Ia terpaku menatap catatan yang tertempel di pintu kulkas. Ia mengernyitkan dahi.


Ayah, ibu, Alya dan Alfa pergi ke rumah eyang di Surabaya. Mungkin agak telat pulang ke rumah. Jaga rumah baik-baik yah, kak. Dadah kakak cantik.


Salam Alya dan Alfa.


"Jaga rumah baik-baik? Apa cuma rumah doang yang dikhawatirin? Emangnya mereka gak khawatir apa sama gue?" Mara mendecakkan lidah.


Mara menenggak susu coklat kesukaannya sampai habis. Ia pun berjalan dan masuk ke dalam kamar. Ia berdiri di dekat jendela. Memandangi langit yang hitam pekat. Sepekat kesepian yang selalu menghinggapinya.


"Apa di rumah juga gue harus ngerasa kesepian?"


Mara merebahkan tubuhnya di atas kasur. Matanya terpejam lagi. Tapi kali ini ia tidak bisa tidur. Ia teringat Riga. Ia teringat kejadian sore tadi.


"Riga? Apa yang lo pikirin sebenernya?" Mara berkata pada dirinya sendiri. "Hilang ingatan ya?"


Mara membuka matanya. Menatap langit-langit kamarnya. Cahaya lampu pun tak menyilaukannya lagi.


"Jadi lo hilang ingatan? Lo lupa semuanya? Kejadian waktu gue nyatain perasaan gue juga? Lo lupa?"


"Gak apa-apa sih kalo lo lupa. Bagus malah! Gue juga ogah inget kejadian waktu itu!"


Mara termenung. Ia teringat kembali dengan kejadian tadi siang, saat Riga mengajaknya bicara untuk pertama kali. Mara tersenyum lebar sambil memegangi pipinya yang merona merah. Ia senang.


● ● ●


Ruangan ini... lagi?

__ADS_1


Chia menatap dengan teliti setiap sudut ruangan. Ia termenung cukup lama. Dengan perasaan ragu ia masuk ke dalam. Selangkah demi selangkah dengan langkah berat. Jika ia bisa memilih, sejak dulu ia tidak akan pernah datang ke ruangan itu. Ruangan yang penuh dengan bau khas keringat laki-laki. Seandainya bukan pelatih yang memintanya untuk datang, mungkin ia tidak akan pernah kembali ke tempat itu.


Chia mendengus. Ditatapnya baju-baju yang berserakan dimana-mana dengan prihatin. Ia berjongkok lalu meraih sebuah kaos yang tidak sengaja diinjaknya. Ia mengamati kaos itu. Penuh dengan kotoran dan cukup membuat hidungnya kepayahan dengan bau khas pemiliknya.


Chia berdiri dan mulai memunguti satu persatu baju yang berserakan di lantai. Handuk-handuk yang sudah tidak jelas warnanya pun terdapat di setiap sudut ruangan. Ia tahu, ini bukan sepenuhnya kesalahan mereka.


Ah, ia memang jarang berkunjung ke sana. Hampir satu bulan lamanya ia absen. Wajar saja jika pemandangan yang didapatinya seperti itu. Chia menghela napas panjang.


Ia memandang sekeliling. "Apa gue bisa bersihin semuanya tepat waktu?" Ia ragu.


● ● ●


"Masuk!"


Riga memandangi bola yang baru saja melewati ring dan telah ditangkap oleh Fachri. Laki-laki itu begitu antusias sambil berlari ke arahnya.


"Bagus! Bagus! Kita menang!" seru Fachri lagi, sambil menepuk pundak Riga dengan semangat.


"Yaelah ini kan cuma latih tanding." Fajar mengomentari sambil memutar kedua bola matanya.


"Iya nih! Lo heboh amat, Ri!" goda Rezky.


"Lemparan Riga barusan memang bagus. Enam bulan di rumah sakit gak buat kamu lupa dengan basket. Bapak bangga sama kamu," komentar Pak Dedi, pelatih tim basket. Ia menepuk ringan bahu Riga dengan bangga.


"Kalian semua harus tingkatkan kemampuan kalian lagi. Sebentar lagi akan ada pertandingan antar SMA se-Jawa Barat. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Kalian semua harus berjuang dan tetap semangat! Hari ini latihannya cukup sampai di sini. Kalian sudah boleh pulang."


"Baik, Pak!" seru anggota klub basket secara bersamaan. Kecuali Riga yang tidak berkata apa-apa.


Riga merebahkan dirinya di tengah lapangan. Ia memejamkan mata. Ia ingin beristirahat sebentar. Sepuluh menit saja sudah cukup baginya untuk tertidur sejenak. Ia benar-benar sangat lelah. Sangat.


● ● ●


Riga berjalan di antara gelapnya malam yang sangat pekat. Ia bahkan tak tahu ke mana arah tujuannya. Ia hanya berjalan menuju satu titik cahaya di hadapannya. Cahaya kecil yang entah bisa ia gapai atau tidak.


Riga terus berjalan. Tergopoh-gopoh untuk mencapai cahaya itu. Semakin dekat. Semakin dekat. Cahaya itu hampir terlihat jelas. Cahaya itu, cahaya yang berasal dari sebuah taman. Taman yang tidak terlalu besar.


Ia mengamati seluruh taman itu. Ada sebuah ayunan di sana. Gadis itu ... Riga melihat seorang gadis. Gadis yang selalu muncul dimimpinya. Gadis yang samar-samar. Ia tak bisa mengenalinya. Gadis itu sedang duduk di atas ayunan dengan kepala tertunduk. Ia sedang menangis. Suaranya sangat lirih. Sangat memilukan.


Jantung Riga mulai berdenyut dengan cepat. Lagi. Ia berjalan menghampiri gadis itu. Ia ingin menggapainya. Meraihnya. Memeluknya. Menghapus air matanya. Perasaan ini ... Siapa dia?


Riga terus bertanya-tanya. Ia berjalan semakin dekat. Namun ketika Riga berada tepat di depan gadis itu, gadis itu telah menghilang.


Riga membuka matanya. Cahaya matahari menyilaukan matanya. Ia terpaku. Mimpi itu lagi. Siapa cewek itu?


"Riga?"


Riga menoleh ketika namanya diserukan. Ditatapnya Fachri, laki-laki yang tadi menyerukan namanya, dengan perasaan bingung.

__ADS_1


"Lo gak apa-apa kan?" tanya Fachri.


"Iya," jawab Riga pelan.


"Nih minum dulu!" Fajar menyodorkan sebotol air mineral padanya.


Tanpa banyak bicara, Riga segera duduk dan meraih botol itu. Ia minum dengan cepat. Tak butuh waktu banyak untuk mengosongkan botol itu.


"Thanks!" akhirnya Riga berkata.


"Cabut yuk!" ajak Fachri pada keduanya.


"U-ta-ra-ka Me-te-o-ri-ga!"


Riga menoleh. Ia menatap seorang laki-laki yang sudah berdiri di lapangan basket, tak jauh darinya. Laki-laki itu membawa teman-temannya. Mereka menatap Riga dengan senyuman menghina.


"Lo gak perlu natap gue kayak gitu, Fachri." Laki-laki itu menyeringai. "Lo ngingetin gue sama cewek yang selalu natap gue dengan tatapan itu."


Riga menatap Fachri sebentar lalu beralih pada laki-laki itu lagi.


"Siapa lo?" tanyanya.


"Ciiih!! Semesta Udaraja!" geram Fachri. "Dan teman-temannya dari kelas S."


Riga mengernyitkan dahinya. Kelas S? Ada urusan apa kelas S datengin gue?


Mata Riga bergantian mengamati Fachri dan laki-laki itu. Dari tatapan Fachri, sepertinya temannya itu tak menyukai laki-laki itu. Firasat buruk!


"Bagus! Lo masih inget gue, Fachri." Laki-laki itu tertawa puas.


Ah, Riga bisa melihat kemarahan yang terpancar dari sorot mata Fachri. Bahkan Fachri telah mengepalkan tangannya dan maju untuk memukul laki-laki itu. Sebenarnya ada apa? Riga tampak kebingungan.


"Jangan!" tahan Fajar, "lo harus tahan emosi lo. Lo harus inget kita berhadapan sama siapa!"


"Ciiih!" Fachri memalingkan wajahnya. Terlihat sekali ia berusaha menahan emosinya.


"Apa urusan lo? Kita gak punya masalah sama lo!" Fajar berusaha menengahi.


"Lo tenang aja! Kita gak punya urusan sama lo!" jelas Asta.


"Kita cuma mau nyapa salah satu 'sobat' kita yang enam bulan ini gak masuk sekolah. Gimana kabar lo, Riga?" Asta membungkuk dan berjongkok. Ia menatap Riga yang masih terduduk di lapangan dengan tajam. "Apa lo lupa sama gue?"


Riga hanya terdiam. Ia masih menatap laki-laki itu dan teman-temannya dengan tajam. Ia benar-benar tidak suka laki-laki itu. Laki-laki yang bernama Semesta Udaraja.


"Udah lama gue gak lihat tatapan dingin lo, Riga!" Asta menarik ujung bibirnya. Ia menyeringai. Lalu berdiri sambil tetap menatap tajam ke arah Riga.


Ah, ini pertama kalinya seseorang menatapnya dengan penuh kebencian sejak Riga kembali ke sekolah. Ia sungguh tak suka dengan tatapan dingin dari laki-laki itu.

__ADS_1


"Apa masalah lo?" tanya Riga datar.


● ● ●


__ADS_2