Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 34 : Our Story has Ended (2)


__ADS_3

Chia terkesiap saat tiba-tiba seseorang membanting tubuhnya dan duduk di sampingnya. Ia menoleh dan mendapati seorang lelaki tengah tersenyum ke arahnya.


Lelaki itu, langsung merebut mp3 dan melepas headset yang terselip di telinga Chia. Tanpa menunggu persetujuannya, lelaki itu langsung memakai headset dan mengotak-atik mp3 yang ada di tangannya.


"Gue selalu penasaran lagu apa yang selalu lo denger. Karena gue gak pernah lihat lo lepas dari mp3 ini sejak gue balik lagi ke sekolah," katanya dengan senyum merekah. Semringah.


Satu menit kemudian, senyum lelaki itu menghilang. Tatapannya berubah. Tak terjelaskan. Matanya menatap dalam-dalam ke arah Chia. Menuntut penjelasan. "Sejak kapan benda ini rusak?"


Chia menghela napas sesaat sebelum menjawabnya. "Sejak lo kecelakaan."


Lelaki itu menajamkan tatapannya. "Jadi selama ini, lo gak pernah dengerin lagu apapun?"


"Ya gitu deh."


"Selama ini lo selalu dengerin omongan gue?"


Chia mengangguk pelan sambil menatap Riga yang terpaku. Sorot mata lelaki itu terasa penuh penyesalan, dan Chia mengembuskan napas berat karenanya.


"Karena sekarang lo udah tau, gue balikin lagi mp3 itu ke elo."


Riga tak menjawab. Ia memilih menatap Chia dalam keterdiamannya.


"Ya! Mp3 itu punya lo. Benda kecil kesayangan lo. Yang gak pernah lepas dari lo. Yang selalu lo pakai kemana-mana. Bahkan saat hari kecelakaan lo waktu itu." Chia terdiam sesaat.

__ADS_1


"Gue belum sempet balikin sama lo. Tadinya gue mau benerin sebelum benda ini balik lagi ke pemiliknya. Tapi ternyata gue gagal. Rusaknya terlalu parah. Gue yang gak berani balikin ini ... akhirnya sengaja pake mp3 ini tiap hari. Gue pikir, seenggaknya lo bisa inget dengan benda kesayangan lo. Tapi kenyataannya, mp3 ini terlupakan. Sama seperti gue."


Chia terdiam. Riga pun begitu. Sampai akhirnya Chia terkejut dengan dua lembar kertas yang terulur ke arahnya.


"Hari ini hari terakhir kita semua di sekolah. Besok dan seterusnya kita bakal jarang ketemu."


Chia mengangguk pelan. Mengiyakan sambil menatap dalam-dalam pada sebuah tiket yang sengaja diletakan Riga di atas pangkuannya. Termenung sesaat. "Dan lo bakal pergi dan kuliah di Oxford?"


"Ya. Gue juga bakal ngejalanin terapi buat ingatan gue di salah satu rumah sakit yang ada di sana. Dan gue pengen lo ikut," jelas Riga tulus.


Chia membalasnya dengan gelengan kepala. "Gue gak akan ikut," jawab Chia tegas.


Meski ia tahu Riga tak akan semudah itu menerima jawabannya. "Alasannya?"


Chia menghela napas sesaat. "Kita udah putus Riga. Gak ada alasan apapun buat gue ikut sama lo."


Chia melotot ke arah Riga. Gemas. "Kita udah put ...."


"Belum!" sanggah Riga cepat. Lelaki itu merubah posisi duduknya. Riga kini telah duduk menghadap ke arah Chia. Menatap mantap ke dalam bola mata Chia. "Karena lo mutusin hubungan kita secara sepihak. Jadi kita belum putus."


Chia mengangkat salah satu alisnya. Mendengus. "Terserah," ujarnya pasrah. Lebih tepatnya malas berdebat. Nyatanya Chia tetap pada pendiriannya. Dan ia tak ingin ambil pusing jika Riga masih belum menerima keputusannya.


Chia melirik. Dari sudut matanya, ia mengamati Riga yang telah berdiri di depannya. Menghadap ke arahnya. Menunggunya, Chia hanya terdiam sambil menatap lelaki itu lekat-lekat.

__ADS_1


"Lo tau? Gue mungkin belum inget apapun tentang lo atau masa lalu gue. Tapi dari tempat gue berdiri sekarang. Gue tau. Cewek yang duduk di ayunan dalam mimpi gue, itu adalah lo."


Deg! Ayunan? Chia tersenyum samar. Ah! Ia tak tahu apakah ini berita baik ataukah buruk. Yang ia tahu, Riga pasti kesakitan saat berusaha mengingat tentang masa lalunya.


Dasar bego!


Sungguh! Chia tak mau itu terjadi lagi pada Riga. Yang berusaha keras mengingat masa lalunya dan mengabaikan rasa sakit di kepalanya. Yah! Sudah cukup! Bukankah selama ini ia telah menerima jika Riga tak bisa mengingat apapun di masa lalunya?


Berhentilah Riga! Berhenti ngelakuin hal bodoh! Chia mendesah pelan.


Ah! Andai saja kata-katanya barusan bisa disuarakannya dengan keras. Mungkin ia tak perlu mendengar perkataan panjang dari lelaki itu. Yang justru malah membuatnya makin bimbang.


"Gue pengen lo ikut. Gue pengen lo bantu gue mengingat lagi masa lalu gue. Meskipun seandainya gue tetep gak inget apapun, gue gak akan bisa kehilangan lo lagi."


Lihat? Karena perkataan Riga saat ini Chia jadi termenung. Cukup lama. Meragu dengan banyak hal. Terutama pada dirinya sendiri.


Meremas bajunya, Chia menatap Riga lurus-lurus. "Lo percaya apa kata pepatah? Kalau kita emang jodoh, suatu saat kita pasti ketemu lagi. Lo ngerti kan maksud gue?"


Riga tersenyum. Tak terlihat menyerah sama sekali. "Gue bakal nunggu lo di bandara sampai lo dateng. Lo harus ikut."


Lelaki itu pergi setelah mengusap lembut puncak kepala Chia sambil tersenyum. Mengabaikan Chia yang masih terpaku di tempat.


"Terserah! Gue gak akan datang ke bandara dan ikut sama lo, Riga. Selama apapun lo nunggu, gue gak akan datang!"

__ADS_1


Tanpa perlu menoleh ke belakang, Chia tahu saat ini Riga tengah berhenti berjalan. Berdiri memandanginya sambil tersenyum. Dan Chia memilih untuk mengabaikannya, hanya untuk menguatkan hatinya yang hampir saja menyerah.


● ● ●


__ADS_2