
Riga melangkahkan kakinya dengan tenang ke dalam kantin. Siswa-siswi yang berkumpul di luar kantin dengan wajah was-was tampak memerhatikannya.
Riga berdiri tepat di belakang seseorang yang sedang memakan soto dengan tenang. Beberapa teman lelaki itu yang duduk di sebelahnya menatap Riga dengan cemas. Bahkan seseorang telah menyenggol lengan lelaki yang sedang ditatap oleh Riga itu.
"Ikut gue, atau engga?" ujar Riga dengan santai sambil menunjukkan secarik kertas.
Lelaki yang masih duduk di depannya itu, seraya berbalik badan dan menatapnya dengan tajam.
● ● ●
"Apa sih yang dilakuin sepupu gue di sini?"
Asta melirik gadis yang sedang melipat kedua lengannya di depan dada berdiri di sampingnya.
"Lo gak bisa baca tulisan di depan pintu?" Asta menatap sepupunya tajam sesaat, lalu memainkan lagi bola di tangannya sambil berbaring di atas sofa.
Asta sempat melihat Renata melirik pintu sesaat sebelum menatap ke arahnya lagi.
"Berapa kali gue bilang, gak ada yang boleh masuk ke ruangan pribadi gue!"
"Meski gue sepupu lo?"
"Gak ada pengecualian," jawab Asta dingin.
Renata menghela napas. "Gue gak akan minta maaf soal ini!"
"Udah tau!" Asta masih 'cuek'. "Kalo gak ada urusan, pergi sana!"
"Gue cuma mau ngasih tau aja sepupu gue yang bego ini, temen-temen lo lagi dihukum sama musuh lo di lapangan. Mereka disuruh lari dua puluh keliling," jelas Renata tak peduli.
"Gue gak percaya lo, setelah lo bocorin tentang pesta gue sama Mara."
"Kan gue udah jelasin, kalo gue gak tau dia ada toko buku juga!"
Asta tak menjawab.
"Terserah lo mau percaya atau engga! Cek sendiri ke lapangan sana!"
"Dan pertimbangin juga tentang omongan gue kemaren. Soal musuh lo yang mulai deketin cewek lo," sambung Renata.
Asta terdiam. Ia melirik sepupunya itu. Ah, gadis itu telah melenggang keluar meninggalkannya. Awas kalo lo nipu gue, Ren! Asta bangkit dan mulai berjalan meninggalkan ruangannya.
● ● ●
"Ngapain lo semua?" tanya Asta dengan santai sambil bersandar di tiang bendera. Matanya terarah pada Dipa cs yang berhenti berlari tepat di depannya.
"Kita apes ketauan bikin onar sama ketua OSIS brengsek itu," jawab Dipa dengan dada yang masih naik-turun tak karuan.
"Bikin onar apaan lo semua?"
Dimas terkekeh. "Habis ngusir semua orang di kantin lantai satu, terus makan soto gratis di sana. Ditambah mangkok pecah gara-gara si Dipa kebablasan."
"Lo juga ikut mecahin kali!" Dipa memukul kepala Dimas yang masih terkekeh.
"Dimana Riga?"
__ADS_1
"Tuh," jawab Dimas sambil menunjuk seseorang yang berdiri di lapang basket dengan kepalanya.
Asta menegakkan tubuhnya. Ia berjalan melewati Dipa dan teman-teman lainnya.
"Mau ke mana?" Damar mengerutkan dahinya.
Asta tak menjawab. Matanya terarah pada laki-laki yang sedang memandangnya di kejauhan. Si brengsek! Umpatnya. Ia berjalan dengan cepat ke arah lapangan basket.
● ● ●
"Apa?" Riga memandang datar Asta yang menatap dingin ke arahnya. "Lo mau ikut lari kayak temen-temen lo?"
Bukk! Laki-laki itu tiba-tiba meninju Riga tepat di wajahnya. Riga terkejut sesaat sebelum merubah tatapannya kembali menjadi datar. "Banci lo!" makinya.
Riga mengelap darah yang keluar dari hidungnya. Ia tersenyum tipis sesaat. "Sejak awal gue gak maksa temen-temen lo buat ikut gue. Ini pilihan mereka sendiri. Tanya aja sama temen-temen lo," jawab Riga dingin.
"Berisik!" Asta melayangkan tinjunya lagi. Namun, kali ini Riga berhasil menepisnya.
"Lawan gue! Satu lawan satu!" Asta menyeringai.
Riga menarik garis tipis di wajahnya sambil menatap laki-laki itu.
"Menarik!"
● ● ●
Chia masih terdiam. Ia sengaja berdiri di barisan paling belakang dari kerumunan orang-orang yang berada di lapangan basket. Rasanya malas melihat pertunjukan dua siswa yang sedang berkelahi di tengah kerumunan itu. Bahkan ia tak punya niatan untuk melerainya.
Bukk! Seseorang baru saja menubruk bahunya dari belakang. Chia menatapnya datar. Gadis itu adalah Mara. Ia terlihat buru-buru sambil berdesakan agar bisa menerobos ke tengah.
● ● ●
"Berhenti!!! Gue bilang berhenti sekarang juga!!!"
Dua lelaki yang sudah babak belur itu menoleh ke arahnya. Mara maju beberapa langkah dan berdiri di antara keduanya. Ia memelototi keduanya itu secara bergantian.
"Apa sih yang ada di otak lo berdua?" Mara nyaris berteriak.
Mara mengulurkan tangannya, lalu menarik lelaki yang bernama Asta ke arahnya.
"Ikut gue!" seru Mara pada Asta, nyaris seperti sebuah perintah yang wajib dipatuhi.
"BUBAR SEMUANYA!" teriak Mara pada 'penonton' yang masih terdiam di tempatnya dan membuat Mara semakin dongkol.
Mara mempererat genggamannya pada tangan Asta dan menarik lelaki itu berjalan mengikutinya.
● ● ●
Riga menghela napas saat melihat Mara membawa Asta keluar lapangan. Ia mengepalkan tangannya. Ia tak bisa bohong dengan perasaannya bahwa ia cemburu.
Riga memutar kepalanya, mengedarkan pandangan, mengamati lapangan yang telah kosong. Matanya terpaku saat tatapan seorang gadis tertangkap olehnya. Ah, ia tak menyangka Chia ada di sana, terdiam dan memandanginya dengan jarak yang cukup jauh dari tempat Riga berdiri.
Cih! Riga mendesis saat melihat Chia berbalik badan dan meninggalkannya.
● ● ●
__ADS_1
Mara duduk di hadapan Asta. Ia memerhatikan lelaki itu sejenak. Ah, laki-laki itu masih menutup mulutnya sejak Mara membawanya ke UKS. Kenapa sih nih orang!
Mara beralih menatap luka-luka di tubuh lelaki itu. Jangan ditanya bagaimana penampilan lelaki itu sekarang. Mara saja tampak ngeri melihat luka-luka dan darah yang telah membasahi baju seragam lelaki itu.
Mara mengambil kotak P3K yang sejak tadi ditaruh di sebelahnya. Ia mengambil kapas dan mulai membersihkan luka-luka di wajah lelaki itu.
Sumpah gue gak suka keadaan ini! Asta kenapa sih diem terus kayak gini? Mara sengaja menekan kapasnya dengan kasar, berharap lelaki itu mengeluarkan suara. Sayangnya rencananya gagal total, karena sampai Mara selesai mengobati, lelaki itu masih mengatupkan kedua bibirnya. Ngeselin!
"Lo ngapain sih berantem gak jelas kayak gitu sama Riga? Apa yang lo ributin sama dia?" Akhirnya Mara mengeluarkan suaranya juga. Ia benar-benar tak tahan jika keadaan di sekitarnya menjadi hening saat hanya berdua dengan lelaki itu.
Namun lelaki itu tak menjawab pertanyaannya. Bahkan menatap ke arahnya saja pun tidak. Kalo gue gak inget lo lagi babak belur gini, udah gue tonjok lo dari tadi! Ih!
Mara berdiri. Ia berjalan menuju lemari di pojok kiri, lalu menyimpan kotak P3K yang tadi diambilnya di sana. Ia lalu duduk kembali di samping Asta yang saat ini tengah berbaring di atas kasur sambil membelakanginya.
"Lo kenapa sih, Asta? Kalo lo punya masalah, lo bisa cerita sama gue?" Mara mulai gemas melihat tingkah lelaki itu.
"Lo gak cape apa? Lo sering banget babak belur kayak gini?"
Mara terdiam sejenak. Ah, rasanya percuma. Asta tak akan menjawab semua perkataannya jika sedang seperti itu. Mara bangkit berdiri dan mulai berjalan. Ia terdiam lagi sambil memegang gagang pintu.
"Buat saat ini, berhenti ngelakuin hobi yang aneh-aneh dulu kayak berkelahi. Luka lo harus sembuh. Jangan lupa diobatin."
Asta tak menjawab.
"Lo masih gak mau ngomong sama gue?" Mara menghela napas. "Lo marah sama gue? Apa gue ngelakuin sesuatu yang salah sama lo?"
Asta masih tak menjawab. Sumpah yah gue pengen lemparin kotak P3K ke arah lo biar lo mau ngomong sama gue! Mara mulai kesal.
"Asta lo gak apa-apa kan? Lo baik-baik aja? Apa masih ada yang sakit? Tangan? Kaki? Kepala? Perut? Badan? Mana yang sakit?" Mara frustrasi sendiri saat menatap lelaki itu masih bergeming juga.
"Oy! Jawab gue dong! Bilang sesuatu! Apa kek! Gue kan nanya sama lo!" Mara hampir kehabisan akal untuk membuat Asta bicara.
"Jadi lo masih gak mau ngomong sama gue? Ok! Gak masalah! Gue juga gak peduli! Huh!"
Mara membuka pintu sebagian. Ia mendecakkan lidahnya dan menoleh kearah lelaki itu sekali lagi.
"Lo bakal tetep diem kayak gitu? Lo tetep mau jadi patung? Lo masih gak mau ngomong sama gue?"
Asta tetap terdiam.
"Terserah lo deh!" Mara mendengus kesal.
Mata Mara membulat saat Asta bergerak, memutar badannya dan berbaring menghadapnya sekarang. Mara tampak terdiam, menunggu pergerakan selanjutnya lelaki itu. Namun, setelah beberapa saat Asta tak bergerak lagi. Laki-laki itu terdiam sambil menatap dingin ke arahnya.
Mara menghela napas sesaat. Ia sedikit kecewa. "Kalo ada apa-apa dan lo butuh bantuan, gue siap nolong lo. Lo bisa kan panggil gue?"
"Berisik! Keluar sana!" Tiba-tiba Asta memotong perkataannya.
Mara melongo. Dengan kesal ia melangkah keluar. Dibantingnya pintu UKS dengan keras. Masa bodoh dengan suara keras yang ditimbulkannya.
Mara berdiri di luar UKS, tepat di depan pintu. Ah, ia berusaha menenangkan dirinya sejenak. Ah gue kesel banget! Batinnya.
"Kayaknya ada yang salah sama gue! Gue harus cari dokter. Bisa-bisa gue stres dan ikutan sakit jiwa, lama-lama pacaran sama orang gila itu!" Mara berkata pada dirinya sambil berjalan meninggalkan UKS.
● ● ●
__ADS_1