Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 12 : Über Uns (About Us) (2)


__ADS_3

"Gue tau, bukan gue orang yang lo harap ada di sini." Chia sengaja tak melirik sedikit pun lelaki yang sedang duduk di kantin lantai satu itu.


Ah, ia tahu Riga pasti sedang menatapnya dengan tatapan aneh saat ini, mengingat kedatangannya yang tiba-tiba itu. Chia sendiri juga tak mengerti mengapa ia repot-repot membawa kotak P3K yang dipinjamnya dari ruang klub basket.


Ah, Selain rasa simpati karena tak suka melihat orang terluka, tak ada lagi alasannya hingga ia nekat mencari lelaki yang masih menatapnya dingin itu. Apalagi sekarang ia telah mengacungkan kotak yang dibawanya ke arah Riga tanpa menoleh ke arahnya.


"Segitu takutnya lo sama darah? Apa lo gak mau tau dan lihat kondisi gue?"


Chia terkejut sesaat mendengar komentar Riga dengan nada datar ciri khasnya.


"Obatin luka lo." Chia menanggapi, mengabaikan perkataan Riga tadi. "Dia pasti khawatir."


Chia pun meletakkan kotak P3K di atas kursi, di sebelah Riga, dengan mata yang masih terarah ke sekeliling.


"Lo sendiri?" Riga bertanya lagi. "Lo gak khawatir?"


Chia tak menjawab. Khawatir? Lagi-lagi perkataan Riga mengejutkannya sesaat, sebelum ia berubah tenang kembali. Ah, ia tak mengerti apa yang sedang dipikirkan lelaki itu.


"Itung aja sampe lima. Dihitungan ke lima dia pasti datang." Chia berbalik badan. Ia mulai berjalan meninggalkan Riga. Masa bodoh dengan tatapan dingin darinya. Ia hanya ingin segera pergi dari sana, menjauh dari lelaki itu.


Setelah melewati koridor utama, Chia berbelok ke kanan. Ia menghentikan langkahnya dan berdiri di sana. Berdiri di sebuah lorong yang menuju tangga kantin lantai 2. Lorong yang menjadi cabang lorong utama yang baru saja di lewatinya.


Chia menyandarkan tubuhnya pada tembok. Ia termenung. Ia menatap kosong pada dinding di seberangnya. Sebuah dinding yang sama-sama berwarna putih bersih.


"Lima." Dia berkata pada dirinya sendiri dengan pelan.


"Empat," ujarnya lagi dengan santai.


"Tiga. Dua. Satu."


Chia yang bersikap tenang dengan wajah datarnya itu menoleh pada koridor utama di sebelah kirinya. Baru saja ia melangkahkan salah satu kakinya, tiba-tiba saja seseorang melesat dengan cepat melewatinya.


Chia yang menyadari itu, dengan refleks segera mundur selangkah kembali. Karena, hampir saja ia tertabrak seorang gadis yang sedang berlari dengan terburu-buru.


"Nol!" ucap Chia lagi tiba-tiba.

__ADS_1


Ia pun maju beberapa langkah. Ia berdiri di lorong utama, sengaja keluar dari tempat persembunyiannya.


Chia menatap Mara yang telah berdiri di belakang lelaki yang masih duduk dengan luka di sekujur tubuh di kantin lantai satu. Ia tersenyum tipis sesaat.


"Seperti yang gue bilang," katanya lagi. Chia masih berkata pada dirinya sendiri.


Chia tak langsung beranjak. Ia termenung sesaat sambil menatap kedua orang yang mulai bercakap-cakap di kejauhan itu. Hatinya berdesir. Bukannya ini yang pengen lo lakuin waktu dulu, Riga?


Chia menghela napas sambil berbalik badan. Uh, lagi-lagi langkahnya terhenti disaat ia hampir beranjak pergi. Tatapannya dingin menatap dua orang yang berdiri jauh di hadapannya. Asta? Renata? Kedua orang itu bahkan mengabaikan keberadaannya. Mereka berdua terlihat fokus menatap kantin lantai satu.


Chia menelan ludahnya, perasaannya sedikit terganggu. Namun memang sudah begitu sikapnya, ia hanya 'cuek' dan bersikap tenang saat berjalan melewati kedua orang itu. Terserah apa yang lo berdua mau lakuin.


● ● ●


Mara menghentikan langkahnya. Ah, rasanya ia kesal. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar suara tangisan di dalam kamar mandi diiringi gelak tawa gadis-gadis yang mengelilinginya.


Mara melotot ke arah Renata yang berdiri sambil bersandar di pintu tepat di sampingnya. Ia tahu kehadirannya yang mendadak itu membuat kelompok gadis yang dipimpin Renata itu menatap tajam ke arahnya.


"Apa lo puas menindas orang lain kayak gini?" Mara menyipitkan matanya, menunjukan seberapa besar ketidaksukaannya dengan tindakan gadis di sampingnya itu.


Mara melirik sebentar pada teman Renata yang sedang berjalan melewatinya, lalu kembali menatap tajam sepupu pacarnya.


"Kalo lo bukan pacarnya Asta, lo udah abis saat ini juga. Karena gue masih ngehargain Asta, gue biarin lo hari ini." Renata tersenyum sinis sesaat sebelum tatapannya berubah menjadi serius.


"Tapi lain kali lo ganggu gue, gue gak akan peduli lo pacarnya Asta atau bukan. Gue bakal ngelakuin apa pun sama lo. Dan kalo gue denger ada laporan tentang hari ini ke guru-guru, lo tau kan siapa orang pertama yang gue cari?"


"Gue gak takut ancaman lo!" Mara mendengus. Matanya masih terarah pada Renata yang melenggang melewatinya dengan santai.


Uh, Mara kesal. Gak yang cewek, gak yang cowok sama-sama nyebelin! Huh!


Mara melirik gadis yang masih terduduk di dalam toilet dengan penampilan yang berantakan masih menangis dalam diam. Mara menghampirinya dan berjongkok di depannya. Tangannya dengan sigap membantu gadis itu membereskan kekacauan di dalam kamar mandi.


"Udah berapa kali lo ditindas sama nenek sihir itu?" Mara menatapnya sesaat lalu kembali membersihkan kamar mandi.


"Gak tau," lirihnya.

__ADS_1


Mara menghela napas. "Harusnya lo lawan orang-orang kayak Renata, biar lo gak ditindas terus kayak gini!”


Gadis itu terdiam. Ia hanya mengangguk sambil sesenggukan.


"Gue Naigisa Amaranth. Panggil gue Mara aja."


"Chika." Gadis itu menjabat tangan Mara yang terulur.


"Kelas lo dimana? Gue anter ke kelas lo."


"11-H."


"Gue anter yuk!"


Chika menggeleng pelan sambil tersenyum. "Gue gak apa-apa kok."


"Yakin?"


Gadis itu mengangguk.


"Ya udah kalau ada apa-apa bilang ke gue. Terutama kalau Renata dan temen-temennya ganggu lo."


Chika terdiam, menatap Mara lurus-lurus.


"Kenapa?" Mara tampak berpikir sambil mengamati ekspresi wajah gadis bernama Chika. "Ah, lo takut sama gue yah?"


Mara mendengus. Ia sebal dengan gosip-gosip yang beredar tentang dirinya, yang membuat semua orang takut berteman dengannya.


"Lo gak mau temenan sama gue, karena takut diapa-apain Asta kan kayak yang udah-udah?"


Chika menggeleng. "Gue seneng ternyata lo emang beda dari gosip yang beredar. Lo tuh baik banget."


Mara tertegun mendengar jawaban gadis itu.


"Gue mau kok temenan sama lo." Chika tersenyum, membuat Mara salah tingkah. Mara senang.

__ADS_1


● ● ●


__ADS_2