Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 9 : U in Trouble (1)


__ADS_3

Mara masuk ke dalam bus yang sudah terparkir tepat di hadapannya. Matanya melirik ke kanan dan kiri, mencari kursi kosong untuk diduduki. Ia pun duduk di barisan ketiga dari belakang, tepat di samping jendela.


Nyebelin banget gak punya sopir pribadi! Mau bawa mobil sendiri, nanti dimarahin Ayah. Huft! Keluhnya saat bus berhenti di sebuah halte.


Mara turun dari bus itu. Ia berjalan dengan santai memasuki sebuah taman. Mara mengerucutkan bibirnya ketika melihat beberapa keluarga yang tampak bahagia melintas di hadapannya. Kemana keluarga gue? Mara memutar kedua bola matanya.


Mara duduk di sebuah bangku kosong. Satu-satunya bangku yang masih kosong sebenarnya. Matanya menikmati remang-remang cahaya di kejauhan.


Kenapa gue ke sini? Mara menghela napas. Sejak awal ia memang tak memiliki tujuan ke mana pun. Ia hanya ingin pergi dari rumah. Rasanya malas berada sendirian di sana.


Mara melirik ponsel yang sejak tadi digenggamnya. Sumpah yah Fachri rese banget! Gue missed call, gue sms, gak ada yang dibales! Awas aja! Gue hajar lo nanti! Mara menyelipkan ponselnya ke dalam tas jinjing dengan kesal.


Tadinya, jika sekali saja Fachri membalas pesannya, Mara akan mengajak laki-laki itu jalan-jalan dan mentraktirnya. Sekarang, bahkan setelah Mara berada di taman, laki-laki itu masih enggan menjawab panggilannya.


"Ngapain lo di sini?"


Mara mengerutkan dahinya. Seseorang berbicara padanya dengan suara dan intonasi khas yang cukup dikenali. Seseorang yang berdiri tepat di belakangnya. Buru-buru Mara menoleh ke belakang. Lalu ditatapnya laki-laki itu dengan heran.


● ● ●


Lo gak akan bisa kabur dari gue, Chia!


Chia masih diam sambil menatap pesan singkat yang baru saja hinggap lagi di ponselnya. Tadinya ia pikir itu hanya pesan 'nyasar' atau sekedar kerjaan orang iseng. Namun, melihat namanya disebut, jelas orang di seberang sana mengenalnya.


Siapa sih? Chia penasaran. Ia mencoba menghubungi balik nomor itu. Hanya nada tunggu yang didengarnya. Tiba-tiba sebuah motor besar berwarna hitam kelam, diparkirkan tepat di depannya dengan posisi melintang. Chia menatap seseorang di atas motor itu dengan datar. Seseorang yang berpakaian serba hitam, dengan helm yang sama gelapnya menutupi wajah orang itu.


Chia memusatkan kembali perhatiannya pada ponsel yang masih ditempelkan di telinganya itu. Ah, masih nada sambung yang terdengar. Chia berbalik badan, mengabaikan motor yang menghalanginya tadi. Namun lagi-lagi ia mendapati sebuah motor terparkir dengan posisi yang sama. Bahkan bukan hanya satu, tapi lebih.


Ok! Gue dikepung! Gumamnya sambil melepaskan ponsel yang masih menempel di telinganya. Ia menatap orang-orang yang mengelilinginya itu dengan santai. Bahkan wajahnya tak memperlihatkan ketakutan sedikit pun.


Bunyi, lagi? Chia menatap ponsel yang digenggamnya sejenak. Tanpa ragu ia menekan tombol hijau di ponsel itu.


"Halo?" Sapa Chia ragu.

__ADS_1


Ah, kali ini penelepon misterius, yang telah mengiriminya dua pesan berturut-turut tadi, sengaja tak mematikan panggilannya. Penelepon itu bahkan membalas sapaannya. Bagus deh! Komentar Chia.


"Gimana rasanya dikepung kayak sekarang? Lo cemas? Lo takut?"


Chia tak menjawab. Ia justru tertegun mendengar suara penelepon tersebut. Rasanya tak asing. Gak salah lagi! Pasti dia!


"Lo penasaran siapa gue? Dan dimana gue sekarang?" sambung seseorang di seberang sana. "Gue tepat di belakang lo!"


Chia mengerutkan dahinya. Ia berbalik badan dengan cepat. Ah, benar saja. Tepat di belakang Chia, seseorang sedang menyimpan ponsel di telinga, seperti yang dilakukannya.


Chia memutuskan panggilannya tanpa melepaskan pandangan dari seorang lelaki yang masih duduk di atas motornya. Ya, laki-laki pertama yang memarkirkan motornya di hadapan Chia.


"Rei!" ucap Chia pelan.


Lelaki di hadapannya tertawa dengan keras. Laki-laki itu menatap Chia lurus-lurus.


"Lo masih inget gue? Gue pikir lo lupa!" katanya.


Lalu lelaki yang bernama Rei itu melepas helmnya. Kini wajahnya terlihat jelas. Chia masih tak berekspresi apa pun ketika laki-laki itu tersenyum sinis padanya.


"Kayaknya lo baik-baik aja. Apa lo seneng hidup tanpa gue?" sambungnya sambil berjalan mendekati Chia.


Chia masih menatap datar Rei yang kini telah berdiri beberapa sentimeter di hadapannya, meski laki-laki itu telah melemparkan tatapan tajamnya.


"Kemana tuh bodyguard lo yang sok itu? Dia ninggalin lo? Dia campakin lo?" Rei terlihat menyipitkan matanya, menyelidik ke dalam bola mata Chia.


"Itu bukan urusan lo," jawab Chia tenang.


Rei terdiam sejenak. Chia menghela napas ketika laki-laki itu tertawa keras tepat di depan wajahnya.


"Bukan urusan gue?" Rei mencondongkan wajahnya ke depan. Setengah berbisik ia berkata, "lo masih pacar gue! Dan dia jelas-jelas urusan gue!"


Chia memutar kedua bola matanya, malas. "Hubungan kita udah selesai, Rei."

__ADS_1


"Gak! Lo masih milik gue! Hubungan kita belum selesai, sampe gue kasih perhitungan sama bodyguard lo. Dia udah ngambil lo dari gue!" bantah Rei cepat.


"Dimana bodyguard lo sekarang?" katanya lagi.


Chia menghela napas. Ia mengalihkan pandangannya dari laki-laki itu. Ah, rasanya malas menjawab pertanyaannya barusan.


"Jadi lo gak mau ngomong? Lo gak mau ngasih tahu gue? Apa perlu gue paksa biar lo ngomong, hah?"


Chia tetap tak menjawab. Tiba-tiba Rei mencengkeram dan menarik tangannya.


"Ikut gue!"


"Kalo gue gak mau?" jawab Chia cepat.


"Lo nantang? Mau gue seret lo supaya lo ikut gue, gitu?"


"Apa lo lupa? Gue pernah ikut karate waktu SMP. Gue gak takut sama lo."


Rei mengangkat kedua alisnya. Ia menatap Chia dengan tatapan geli. Lalu lelaki itu tertawa dengan keras, lagi. Tubuh Chia tiba-tiba ditariknya, hingga wajah mereka begitu dekat. Sangat dekat, hingga Chia bisa merasakan setiap embusan napas lelaki itu, dan saat itu pula tawa lelaki itu menghilang.


"Seseorang yang punya trauma di masa lalunya, apa dia bisa tetep pake jurus karatenya, buat jaga diri?"


Chia tertegun mendengar perkataan lelaki itu. Ah, ia lupa. Rei mengenalnya dengan baik, sedikit ancaman tak akan mempan padanya. Sial!


Chia mulai merasa cemas. Bukan karena lelaki di hadapannya itu, melainkan karena ingatan tentang traumanya kembali. Meski wajahnya terlihat tenang, namun tidak dengan keringat dingin yang mulai membasahi wajah dan lehernya. Sialnya, Rei bisa menangkap kecemasan Chia. Lelaki itu tersenyum simpul sambil menjauhkan lagi tubuh Chia darinya.


"Apa perlu gue buktiin?"


Rei melepaskan pergelangan tangan Chia. Chia sedikit terkejut saat lelaki itu telah mengepalkan tangannya di udara, lalu dalam hitungan detik tinju lelaki itu terhenti tepat di depan wajah Chia.


Ah sial! Chia semakin tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Meski Rei hanya berpura-pura meninjunya, tetap saja tubuhnya bergetar hebat. Uh, pandangan Chia mulai kabur. Menyebalkan! Saat gambaran-gambaran dari masa lalunya berdatangan dengan cepat di pikirannya. Teriakan, tangisan, air mata dan darah bercucuran mulai terekam lagi di otaknya.


Napas Chia tersengal-sengal. Keringat dingin mulai bercucuran, membasahi sekujur tubuhnya. Ah, ia hampir menangis. Namun diurungkannya saat ia melihat sebuah tangan menghalangi tinju Rei mendarat di wajahnya.

__ADS_1


Chia menelusuri tangan yang terulur dari belakangnya itu. Ditatapnya wajah sang pemilik tangan yang berdiri tepat di belakangnya. Chia tercengang sambil menatap wajah orang itu. Dia? Kenapa ada di sini?


● ● ●


__ADS_2