
"Seperti Kak Mara, Bunda juga sayang sama Kak Asta. Bunda udah menganggap Kak Asta kayak anaknya sendiri. Kayak Kak Fachri. Bunda juga akrab sama Kak Asta. Makanya, Alya gak mau Bunda jadi sedih lagi karena denger nama itu. Apalagi, setelah melihat sikap Kak Mara sekarang," jelas Alya dengan mengembuskan napas panjang di akhir perkataannya.
"Terus, apa yang dilakuin si brengsek itu sampai Mara jadi kayak gitu?" Fachri memegang kedua bahu Alya dengan erat. Ditatapnya manik mata yang sarat luka mendalam itu. Tapi, bukan jawaban yg didapatkannya. Alya justru tertunduk sedih. Fachri menghela napas. Mencoba sabar.
"Kasih tau Kakak, Al. Coba bilang dimana Asta berada sekarang?"
Alya menggeleng lemah. "Ini bukan ranahnya Alya untuk bilang sama Kak Fachri."
Fachri mengusap wajahnya. Dia sungguh frustrasi. "Terus tujuan kamu mau ngajak ngobrol Kakak itu apa? Bukannya untuk membahas soal Asta 'kan?"
"Bukan soal Kak Asta. Tepatnya ... soal Kak Mara, Kak." Alya terdiam. Tatapan sendunya menyihir dan menusuk Fachri secara tidak langsung. Membuat lelaki itu seolah-olah ikut merasakan luka yang sedang dirasakan Alya saat ini.
Alya menarik oksigen dan membuangnya pelan. Matanya mulai berkaca-kaca. "Aku mau ... Kak Fachri membawa pulang kembali Kak Mara yang dulu. Karena Alya yakin, cuma Kak Fachri yang bisa.
"Kak Fachri adalah dinding pembatas agar Kak Mara gak keluar jalur dan melupakan dirinya. Meski Alya tau, semua udah terlambat. Kak Mara, udah terlalu jauh menghancurkan dinding pertahanannya sendiri dan membuatnya berubah seperti itu. Tapi sekarang Kak Fachri udah kembali. Alya bisa berharap lagi."
Air mata Alya menetes. Meski begitu, dia belum ingin menghentikan perkataannya. "Cuma Kak Fachri yang bisa. Alya mohon, bawa pulang Kak Mara. Bawa kembali senyuman Kak Mara. Bawa lagi keceriaan dan kebahagiaan kakaknya Alya. Alya mohon Kak."
Alya sesenggukan. Bahunya naik turun. Air matanya mengalir deras hingga suara lirih tangisannya terdengar. Fachri merasakan nyeri dan pilu melihat Alya seperti itu. Ditariknya tubuh Alya, lalu dipeluknya dengan lembut. Tangannya mengusap pelan puncak kepala gadis belia itu.
__ADS_1
Fachri sengaja tak berkata. Dia membiarkan Alya mengeluarkan segala kesedihan di dalam hatinya. Membiarkan Alya menangis hingga gadis itu puas dan lelah pada akhirnya. Setelah tangisan Alya mereda, Fachri melonggarkan pelukannya. Dia memegang bahu Alya dengan kedua tangan. Bola matanya memandang Alya lembut.
"Tanpa Alya minta pun, jauh di lubuk hati, Kakak pengen banget lihat Kak Mara yang dulu. Alya percaya yah sama Kakak. Kakak pasti bantu Alya. Makanya, sekarang Alya cerita sama Kakak soal Asta. Biar Kakak paham duduk perkaranya," pinta Fachri dengan berkata pelan.
Alya menggeleng lemah. Lagi-lagi gadis itu menolak untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Fachri merasa menghadapi teka-teki yang berkepanjangan. Tapi, tak mungkin dia memaksa Alya. Gadis itu sudah terlalu banyak menerima luka. Sepertinya, memang hanya ada satu jalan. Bertanya langsung pada Mara. Hanya saja Fachri tak yakin, sahabatnya itu akan menjawab, atau ... biarkan Fachri mencari tahu sendiri dengan caranya.
∆ ∆ ∆
Pukul 10 pagi. Tapi matahari seperti telah berada di atas puncak kepala. Panas. Gerah. Lalu lintas jalanan yang sepertinya tidak pernah lelah dengan kemacetan, membuat udara yang dihirup terasa semakin menyengat. Sesekali Chia berjalan di bawah lindungan bayangan dari toko-toko di sepanjang trotoar.
Setelah melewati satu toko lagi, Chia akan sampai di toko kue kesukaannya. Ya, setiap hari Rabu, Chia akan mendatangi toko itu. Dia memesan kue untuk dibagikan kepada panti-panti asuhan yang ada di sekitar kota. Panti itu akan mendapat giliran sesuai jadwal yang telah ditentukan Jun.
Chia baru saja keluar, setelah membeli beberapa kue. Dia membuka pintu kaca dengan siku tangannya. Baru tiga langkah berjalan, Chia justru terpaku. Di depan sana, dengan jarak sekitar 10 meter, di antara kerumunan orang-orang yang berjalan kaki di trotoar, netra Chia menangkap sosok seorang pria yang juga sama terpaku saat dua bola mata mereka saling beradu pandang.
∆ ∆ ∆
8 Tahun dalam pencarian, rupanya tidak membuahkan hasil sama sekali. Riga sudah beberapa kali mengunjungi berbagai kota di saat libur kuliahnya. Bahkan seorang informan dengan rela disewanya hanya untuk menemukan keberadaan seorang perempuan. Tapi, nyatanya takdir selucu itu. Yang dicari justru dipertemukan dalam keadaan tidak terduga.
Pagi itu, Riga terkena sial karena ban motornya bocor. Padahal tinggal beberapa meter lagi menuju toko kue tempat langganan ibunya. Bosan menunggu, Riga meninggalkan sebentar motornya di bengkel kecil pinggir jalan. Dia berjalan kaki menuju ke toko tersebut.
__ADS_1
Kaki Riga perlahan mempercepat ritmenya. Saking tak sabaran, Riga bahkan berlari demi tidak merasa kehilangan lagi. Tidak ada yang tahu pemikiran perempuan yang bak patung di depan sana seperti apa. Riga bahkan rela tidak mengedipkan matanya. Takut, jika dia berkedip sekali saja, perempuan itu hanya sebuah oasis di padang gurun. Atau, sebuah hologram yang tercipta dari pikirannya sendiri.
Tidak! Tidak! Riga tidak mau itu. Dia ingin apa yang dilihatnya sekarang adalah sosok nyata. Bukan hanya bayang semu yang lantas pergi dan hilang kembali. Dada Riga naik turun. Napasnya tersengal-sengal. Hanya tinggal menepiskan jarak dua meter lagi di depannya, Riga sudah bisa menangkap sosok perempuan itu.
Riga memilih berjalan perlahan. Menikmati setiap sudut wajah itu yang tampak berubah cukup banyak. Rambut hitamnya kini panjang sepunggung dan sedikit bergelombang di bagian ujungnya. Perempuan itu berponi depan sekarang. Riga akui, Chia jauh lebih cantik meski tetap berdandan sederhana.
Riga mengembangkan senyumnya. Sangat lebar hingga Chia merasa tersihir detik itu juga. "Akhirnya, gue menemukan lo," seru Riga lirih dan membuat dua kantong plastik di tangan Chia terjatuh di atas trotoar.
Chia membeku ketika Riga memeluknya dengan erat. Sangat erat hingga membuat Chia tak bisa berpikir jernih. Yang dia tahu, detik saat itu seperti berhenti berputar. Orang-orang tampak seperti patung hiasan. Mereka tidak nyata. Mereka tidak hidup. Chia merasa bahwa dia dan pria itu adalah satu-satunya makhluk yang hidup.
Apakah ini efek bunga tidur yang perlahan memudar? Atau rasa rindu yang akhirnya bertemu dengan rindu yang lain? Nyatanya, Chia tak menolak atau bahkan berusaha ingin melepaskan pelukan Riga. Dia malah menikmati rasa hangat yang saling membaur dari tubuh masing-masing.
"Gue kangen banget sama lo, Chia. Mulai detik ini, gue gak akan pernah ngelepasin lo lagi. Gak akan pernah. Sampai kapan pun."
Mendengar perkataan Riga barusan, barulah kesadaran Chia kembali. Bahwa, kenyataan tidak seindah fatamorgana semu yang membuatnya selalu ingin terlarut dalam euforia keinginan. Nyatanya, takdir jauh lebih kejam dari pada itu. Detik itu juga, Chia meneteskan air matanya. Sadar, bahwa ada ikatan yang tak akan bisa diraih, meskipun dia sangat ingin.
∆ ∆ ∆
maaf gengs.. baru sadar belum aku post. semalem ketiduran 🤭🤭
__ADS_1
semoga hari ini bisa 3 bab deh. Tapi gak janji. Lagi banyak gangguan 🤧🤧