Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
S2-Lima Puluh Satu


__ADS_3

Kesal! Dongkol! Itulah yang sedang dirasakan Mara saat ini. Perempuan itu, ingin sekali menghujani lelaki yang tengah mengamatinya itu dengan ratusan batu. Sayang, nasib lelaki itu jauh lebih beruntung. Selama Mara berjongkok, matanya tak menemukan bebatuan yang bisa diraih untuk dilemparkan kepada Asta. Bahkan kerikil saja dapat ditemukan beberapa. Itu juga Mara harus mau bersusah payah untuk mengambilnya. Karena kerikil itu terselip di antara pavling blok yang ditata berjajar sedemikian rupa.


Mendingan gue cepet-cepet nemuin itu gelang dari pada ngurusin batu! dengus Mara dalam hati.


Tangannya kemudian mengarahkan ponsel yang masih dalam mode senter itu ke atas paving blok sekali lagi. Matanya masih beredar ke seluruh area yang masuk ke dalam jangkauan jarak pandang. Namun, hasilnya tetap nihil. Gelang Mara tetap tak bisa ditemukan.


"Buruan! Lama banget sih. Gue udah ngantuk. Mau pulang. Gue mau istirahat!" seru Asta ketika mendapati gerakan Mara terhenti. Perempuan itu terlihat diam dengan posisi berjongkok. Entah apa yang sedang dilakukan perempuan itu. Asta tak tahu. Asta hanya iseng untuk menggodanya.


Tentu saja keisengan Asta berakhir dengan sukses. Mara menoleh ke arahnya dengan mata berkilat galak. Siap menerkam Asta hidup-hidup. Senyum simpul Asta terkembang.


"Bawel banget sih!" omel Mara. "Kalau mau pulang, ya sana pulang! Gak usah nyuruh gue buat buru-buru. Lagian salah lo sendiri. Gak ada yang minta lo nungguin gue."


Ck! Asta berdecak. Dia mengeluarkan ponselnya. Kemudian mencari fitur kamera.


Ceklek! Asta memotret Mara tiba-tiba. Mara yang tidak siap seraya melotot. Menatap garang dan tajam. Bagaimana tidak? Sekarang Mara mendapati bahu lelaki di depannya itu naik turun. Meski mulutnya tertutup rapat, dengan ekspresi kalem dan datar, tapi tetap saja Mara dapat menyadari bahwa lelaki sialan itu sedang menertawainya. Minta disantet memang! Huh!


"Ngapain lo motoin gue?" sentak Mara sambil berjalan cepat-cepat menghampiri lelaki yang masih bersandar pada badan motornya.


Tangannya dengan sigap meraih ponsel dari Asta. Betapa terkejutnya Mara ketika dia mendapati wajah yang terbingkai sempurna dengan pose memalukan itu. Dalam remang-remang gelap, Mata Mara berkilat. Mulutnya menganga lebar. Wajahnya terlihat aneh. Seperti ikan lohan yang sedang bernapas di air.


Mara mengerang seketika. "Lo tuh kurang kerjaan banget!" kesal Mara. Jari telunjuknya hampir saja menekan tombol 'delete'. Tapi kalah cepat dengan pergerakan tangan Asta. Lelaki menyebalkan itu telah merebut kembali ponsel yang diambil paksa oleh Mara tadi.


"Ini bukti buat ke kantor polisi. Kali aja setelah gue tinggal, lo bakal macem-macem sama restoran ini," jawab Asta santai sambil memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku celana.

__ADS_1


Kemudian lelaki itu mengabaikan Mara. Dengan gerakan pelan, Asta mengibas-ngibaskan punggung tangannya ke arah Mara. Bermaksud mengusir perempuan itu. Asta menaiki motornya dengan kalem. Tak peduli dengan Mara yang masih mencak-mencak sendiri.


"Eh, sebelum lo pergi, hapus dulu foto gue! Atau enggak gue lapor lo ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik. Mau lo?" ancam Mara.


Asta tersenyum miring sebelum memakai helm full facenya. Dari balik kaca helm, matanya menatap datar ke arah Mara. "Gue ... gak takut. Buat apa ada pengacara beken kayak Juna Mandala yang jadi back up an gue?"


Mata Mara membulat. Dia tidak menyangka lelaki pengantar makanan seperti Asta itu, memiliki kenalan yang sangat hebat seperti Juna Mandala. Termasuk seorang tokoh yang cukup penting. Ketenarannya hampir sama dengan Sun. Bedanya, Sun terkenal di lingkungan para pecinta film, idola, penyanyi dan dunia keartisan. Sedangkan Jun terkenal di lingkungan orang-orang besar yang biasa membutuhkan pengacara. Namanya sudah sering muncul karena keberhasilannya dalam memenangkan berbagai kasus besar.


Kalau orang yang ada di belakang Asta adalah seseorang yang sehebat itu, berarti lelaki di depan Mara ini bukanlah orang biasa saja seperti yang terlihat. Nyali Mara menciut tiba-tiba. Dengan alis bertaut, Mara mengamati lelaki yang wajahnya sudah tertutupi helm itu.


"Minggir! Jangan halangin jalan gue!" ujar Asta datar dengan tangan kanan terkibas-kibas. Hendak mengusir Mara lagi.


Lelaki itu menyalakan mesin. Memutar gas dan melajukan motornya begitu saja. Meninggalkan Mara sendirian dengan kedongkolan di hati yang belum surut sepenuhnya. Justru kini rasa marah itu kian memuncak.


Kalau boleh mengeluh, Mara juga lelah. Tengah malam sudah lewat. Fachri pasti dari tadi menghubunginya. Mara tidak berani menyalakan data seluler. Takut, kalau-kalau pesan dari Fachri akan membuat baterai ponselnya semakin low. Mara tidak mau itu terjadi. Mara masih membutuhkan penerangan untuk mencari gelangnya yang hilang.


Tepat saat cahaya dari lampunya mulai meremang. Pertanda baterai di ponsel Mara mulai habis. Di kejauhan, matanya menangkap sesuatu yang menyilaukan mata.


Mara mendekati sesuatu yang membuat matanya menyipit itu. Ternyata, semakin di dekati Mara justru menemukan 4 cahaya yang memantul. Empat cahaya kecil yang kalau dilihat dari kejauhan menjadi satu cahaya besar. Tanpa berusaha untuk melihat lebih jelas, Mara sudah bisa menebak jika benda yang berkilau itu pasti gantungan dari gelangnya. N-U-S-A. Inisial dari Naigisa Amaranth dan Semesta Udaraja.


Namun, penemuan benda itu tidak lantas membuat Mara berjingkrak kegirangan. Sekarang dia mendapatkan masalah baru. Gelang kesayangannya itu memang sudah ditemukan, tapi letaknya ada di bawah sana. Di dalam gorong-gorong pembuangan air.


"Kenapa bisa gelang gue ada di sana?" rengek Mara yang tak tahu harus bagaimana.

__ADS_1


Sebuah sepeda motor tampak muncul dari arah jalan. Sorot cahaya dari lampu depan yang begitu menyilaukan mata, membuat Mara tak dapat menangkap sosok yang mengendarai kendaraan roda dua itu. Namun, begitu lampu mati dan menunjukkan si wajah pengemudi, Mara mendengus detik berikutnya.


"Ngapain sih lo balik lagi?" cibir Mara dengan melemparkan tatapan yang seolah-olah berkata, 'yah ... lo lagi. Lo lagi.'


Asta tak segera menjawab. Dia justru mengamati Mara yang masih berjongkok. Posenya tidak berubah dari kali terakhir Asta meninggalkannya. Bedanya, hanya pada perbedaan tempat Mara berjongkok. "Ngapain sih dia jongkok di depan saluran pembuangan air?" tanya Asta di dalam hati.


"Jangan geer. Ada barang gue yang ketinggalan," jawab Asta berbohong.


Tadi, Asta tak bersungguh-sungguh meninggalkan Mara. Setelah membuat Mara percaya bahwa dia pergi, Asta mematikan mesin motornya. Lalu sengaja mendorong kendaraan itu menuju tempat yang tidak terlihat oleh Mara.


Asta memarkirkan motornya di bawah sebuah pohon rindang. Masih dalam posisi duduk di atas jok motor, matanya mengamati Mara begitu lekat. Tanpa berkedip. Seolah takut perempuan itu akan hilang tiba-tiba.


Asta pikir, setelah kepergiannya, Mara akan ikut menyusul. Namun, malah tetap berdiam diri di tempat. Dengan kepala tertunduk dan sesekali berjongkok, Mara terlihat seperti sedang mencari sesuatu. Makanya, Asta yang gemas melihat tingkah perempuan itu, segera mengalah. Lalu memilih menghampiri perempuan itu.


"Lo sendiri ngapain? Pakai acara akting bungkuk badan segala. Gak bakal ada yang lihat juga malem-malem gini. Semua orang udah tidur. Jadi, gak ada yang bakal ngasihani lo."


"Apaan sih lo!" kesal Mara. Langkahnya mendekat. Tangannya buru-buru melayangkan tinju. Takut kalau-kalau tidak ads kesempatan lagi. "Gue juga lagi mau ngambil barang gue yang ketinggalan. Jangan geer lo!"


Salah satu bibir Asta tertarik ke samping. Matanya tersenyum memandang Mara selama 3 detik. Dia tak berani menatap Mara lama-lama. Asta takut perasaannya semakin tumbuh. Padahal sudah ingin Asta buang jauh-jauh.


Asta beralih menatap ke arah tempat pembuangan air. "Jadi dari tadi lo nyariin itu?" Asta menunjuk dengan dagunya.


♡ ♡ ♡

__ADS_1


aku ngantuk.. besok disambung lagi ❤


__ADS_2