
Sejujurnya, selama ini Cometta Fuschiara masih berharap bahwa waktu bisa mengobati luka. Paling tidak, menutup luka yang dulu pernah terbuka dan mengoyak perasannya hingga begitu dalam.
Ya, mungkin luka yang dulu sempat bersarang sudah mulai memudar seiring hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun, dan musim yang terus silih berganti. Namun, Chia tidak akan pernah memungkiri bahwa ada hati yang terasa kosong, meski telah ada yang mengisi. Hati yang terasa hampa, meski telah ada yang mengganti.
Chia tidak dapat berbohong. Meski dia sudah sering menatap bola mata coklat dan rambut yang berwarna serupa--walaupun wajah dan sifat yang jauh lebih baik--tapi, tetap saja tidak bisa menawarkan dia yang dulu pernah pergi dan hilang.
Ah, bukan! Tepatnya, dia yang dulu dibiarkan Chia pergi begitu saja.
Ya, Chia akui. Dia bodoh. Payah. Idiot. Atau apapun terserah sebutannya apa. Chia telah merelakan hatinya pergi bersama dia yang entah bagaimana kabarnya saat ini. Bahkan, mungkin untuk sekedar merindu saja Chia tak berhak.
Bisa saja, dalam waktu yang lama ini, dia di sana telah menemukan jodohnya. Mungkin sudah melepas masa kesendirian. Entahlah. Chia tidak pernah ingin tahu. Bahkan meski kesempatan untuk mencari tahu kabar selalu datang sendiri, Chia tak pernah menyambut uluran siapapun yang mencoba memberikan info tentang dia yang entah dimana sekarang.
Biarlah. Biarkan Chia menebus kesalahannya dengan melalui sepanjang waktu tanpa kabar darinya. Biarkan Chia mengutuk dirinya sendiri dalam kehampaan dan kekosongan dengan menyia-nyiakan dia yang pernah dicinta. Biarlah.
"Chia?" Panggilan seseorang membuyarkan lamunan Chia yang sedang berdandan. "Lo udah siap?"
Chia menatap wajah si Pemanggil dari dalam cermin. Tubuh tinggi, wajah yang tetap sama sejak 8 tahun yang lalu. Tak terlihat menua sama sekali. Pria tampan yang menjadi incaran para tetangga di apartemennya itu sedang bersandar di pintu.
Fokus Chia kembali pada bayangannya sendiri. "Sebentar lagi, Jun," jawab Chia sambil memoleskan lipstik berwarna oranye di atas bibirnya.
Sayangnya, lagi-lagi Chia dibuat salah fokus detik itu juga. Penampilan Jun dengan tuxedo berwarna putih memang membuat pria itu sangat tampan sore ini. Namun, bukan itu yang membuat Chia menghentikan gerakkannya memoles lipstik.
Dari semua pilihan warna yang ada, kenapa Juna Mandala harus memilih dan memakai warna putih? Kenapa? Kenapa harus putih? Kalau begini, bagaimana Chia bisa berusaha melupakan dia yang entah masih mengingatnya atau tidak.
"Ck! Lama! Gue tunggu di ruang tamu. Lima menit lagi kita berangkat," ujar Jun mengingatkan.
"Iya, iya. Sebentar lagi."
∆ ∆ ∆
Hari Minggu. Pukul 3 sore.
__ADS_1
"Bunda!" seru Alfa dengan suara menggelegar berhambur dengan tergesa memasuki dapur. Laki-laki itu sedang berkacak pinggang dengan wajah frustrasi.
"Kak Mara kayak kebo," lanjut Alfa sambil menghela napas panjang. "Susah dibangunin. Alfa nyerah. Bodo amat ah. Alfa udah telat buat nonton pertandingan sepak bola sama temen-temen. Alfa berangkat yah. Bye Bunda."
Belum sempat bundanya mengiyakan, Alfa sudah nyelonong pergi begitu saja keluar. Bunda hanya menggeleng-geleng kepala melihat tingkah anak keduanya itu. Sambil membuka pintu oven dan mengeluarkan satu loyang besar kue dari sana, kedua bola mata Bunda melirik anak bungsunya yang tengah sibuk mencetak adonan di atas loyang yang lain.
"Alya?" panggil Bunda.
"Iya, Bunda?" sahut Alya tanpa menoleh ke arah bundanya.
"Kamu udahan dulu cetak kuenya yah. 'Kan tinggal sedikit lagi. Biar Bunda yang nerusin."
Alya mengangkat wajah. Dahinya berkerut sambil menatap lekat-lekat ke arah Bunda. "Alasannya? Kenapa, Bunda?"
Alya menyipitkan matanya. Menelisik ekspresi Bunda yang tersenyum penuh arti. "Jangan bilang, Bunda mau nyuruh aku gantiin tugas Kak Alfa. Jangan bilang, Bunda mau minta Alya bangunin Kak Mara."
Bunda terkekeh. "Alya emang paling top deh. Paling tahu isi hati dan pikiran Bunda."
Alya mendengus sebal. "Selalu aja, apa-apa Alya yang jadi kambing hitam Kak Alfa. Selalu aja, Alya yang gantiin tugas Kak Alfa, kalau Kak Alfa gak menuntaskan tugasnya. Kayak sekarang nih. Tadi yang nyuruh Alya gantiin Kak Alfa buat bantu nyetak kue siapa?"
Bunda malah tersenyum-senyum menghadapi putri bungsunya yang telah beranjak menjadi gadis remaja. Bunda dengan sabar mendengarkan Alya yang masih mengomel kepadanya.
"Iya, iya. Emang tadi Bunda yang minta. Tapi 'kan itu memang hobi Alya bikin kue."
Alya mendengus sebal. Untuk alasan yang disebut Bunda barusan, Alya tidak dapat memungkiri hal itu. Selain hobi menonton drama Korea, membuat kue adalah aktifitas yang paling disukai Alya di rumah.
"Tapi ... untuk tugas yang baru ini Alya menolak garis keras. Alya gak mau. Titik." Alya melipat kedua tangannya di depan dada. Yang sejujurnya dipenuhi oleh butiran tepung terigu yang menempel tanpa sengaja.
"Kok gitu. Katanya sayang sama Bunda," rayu Bunda dengan senyuman di wajahnya yang tak lekang oleh waktu itu. Bunda menatap Alya sambil sesekali mengalihkan pandangan pada kue-kue di atas meja yang sedang ditata olehnya ke dalam toples kaca.
"Ih ... Bunda. Tugas bangunin Kak Mara itu adalah tugas paaaaallllllliiiiiiiiiing berat, dibanding sama beresin rumah seharian. Bikin cape. Bikin males. Bikin dongkol diri sendiri," keluh Alya. "Enggak! Enggak! Enggak! Alya angkat tangan juga untuk hal yang satu itu."
__ADS_1
Bunda cekikikan. "Tapi 'kan dia kakak kamu loh."
"Dih, kakak yang ganasnya udah melebihi kehororan kingkong. Serem. Alya takut. Gak berani. Yang pasti ... Alya lagi menjaga hati dari rasa dongkol karena takut nantinya Alya jadi marah-marah sendiri."
Bunda sukses dibuat tertawa oleh pernyataan Alya barusan.
"Ih Bunda malah ketawa," sebal Alya.
"Iya, iya. Bunda berhenti nih ketawanya. Sekarang, kamu cuci tangan. Terus ke atas buat bangunin Kak Mara. Yah?"
Alya membuka mulut untuk menyanggah. Namun, sebelum kata-katanya keluar, Bunda sudah memotong terlebih dahulu.
"Bunda tahu, Alya pasti mau lakuin hal ini demi Bunda. Iya 'kan? Bunda tahu, jauuuuuh di dalam hati Alya, Alya sayang banget sama Kak Mara. Bunda juga tahu, sekarang Alya lagi sangaaaat mencemaskan Kak Mara. Karena gak tahu kenapa, dari pagi kakak sulung Alya gak bangun-bangun sampai sekarang. Bunda bener 'kan?" tanya Bunda sambil tersenyum.
Alya terpaku menatap Bunda. Semua yang dikatakan Bunda barusan benar sekali adanya. Nyatanya, sejak pagi tadi Alya terus memikirkan Mara. Andai semalam Alya tidak mendapati Mara pulang dalam keadaan sempoyongan dan bau alkohol, mungkin Alya akan cuek saja seperti biasanya.
Namun, ini adalah Mara. Kakak sulungnya yang bahkan tidak pernah mabuk sepanjang hidupnya. Tiba-tiba berubah dalam waktu semalam. Untuk pertama kalinya Alya melihat Mara seperti itu. Alya cemas bukan main. Alya ingin tahu apa yang menyebabkan Mara memilih pulang dalam keadaan mabuk berat. Alya penasaran. Sangat.
"Jadi? Mau 'kan bantuin Bunda?" Kata-kata Bunda mampu membuyarkan lamunan Alya tentang kisah balik semalam.
Alya beranjak berdiri. "Iya deh iya. Apa sih yang enggak buat Bunda," jawab Alya sambil berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Dia mengembuskan napas berat sebelum akhirnya melangkah menuju tangga ke lantai dua.
"Usahain sampai bangun yah."
"Iya Bundaku sayang yang bawel," dumel Alya ketik menaiki tangga.
∆ ∆ ∆
**waw.. bukan Alya aja sih yang kaget kenapa Mara sekarang berani minum alkohol. Pada kenyataannya, penulis juga bingung wkwkwk...
cari tahu alasannya yah di cerita ini. tetep pentengin terus Unbeatable dan jangan lupa untuk dukung terus penulis dan para tokoh cerita kesayanganmu.
__ADS_1
sampai ketemu di bab selanjutnya ❤️❤️**