
Setelah melewati sesi panas yang begitu panjang penuh kehangatan, kelembutan dan penuh cinta.
Melawan has..rat membara diiringi peluh yang nyaris membasahi seluruh kulit di antara cuaca dingin malam hari.
Mereka memilih untuk pergi membersihkan diri bersama kemudian melesat naik ke atas kasur dan langsung masuk kedalam selimut tebal secara bersamaan.
Zeline menatap dalam wajah Dominic ketika laki-laki itu mencari handphonenya dan kini tangan kanan laki-laki itu menggeser secara perlahan layar sentuh handphone nya.
Sejenak laki-laki itu diam untuk beberapa waktu, Zeline mencoba memperhatikan mimik muka suaminya tersebut dengan seksama.
Hingga akhirnya bisa dia lihat perubahan wajah suaminya tersebut, laki-laki itu mengerutkan keningnya untuk beberapa waktu.
Kemudian tiba-tiba Dominic langsung menoleh ke arah zeline, bola mata mereka bertemu untuk beberapa waktu.
Laki-laki itu secara perlahan menyentuh lembut wajah istri nya.
"Kamu sudah membaca pesan nya?"
Tanya Dominic secara perlahan, dia terus menatap dalam wajah istri nya tersebut.
Demi Allah baru kali ini dia melihat sosok seseorang yang begitu tenang dan tidak menampilkan sikap ke aroganan nya.
Begitu berkelas dan menampakkan Betapa langkah nya perempuan dengan sikap semahal istri nya.
__ADS_1
Jika Perempuan lain sudah bergerak mengikuti emosi dan egonya, langsung menuduh dan marah-marah, menghentikan jatah atau melayani suaminya tanpa pamrih.
Langsung men judge tanpa bertanya, menuduh, menampar, memukul, berteriak histeris dan mengeluarkan semua kemarahan mereka dalam menghadapi situasi berat yang dianggap mereka melampaui batasan.
Tidak ada kata negosiasi.
Bahkan bisa jadi malam ini menjadi pertengkaran hebat dengan sejuta drama didalm rumah orang lain yang meskipun masih Keluarga.
Mengadu, menangis,meraung dan meminta untuk pulang ke tempat asal Mereka.
Tapi istrinya?!.
Kenapa bisa bersikap begitu tenang layak nya air laut yang begitu menghanyutkan, tapi Dominic percaya kala ombak nya menerjang maka seluru isi dan hal yang ada di dekat nya akan hancur tersapu habis tanpa sisa.
"Sudah"
Jawaban singkat yang terdengar begitu tenang keluar dari bibir istri nya.
"Lalu kenapa tidak bertanya dan membicarakan nya tadi?"
Tanya Dominic sambil mengerutkan keningnya.
"Timing nya tidak dalam keadaan yang tepat, bukankah ada etika yang baik saat Bertanya? sebab suami adalah teman, imam, kawan, sahabat, keluarga dan bukan lawan yang harus ditekan ketika satu persoalan datang Menghantam?"
__ADS_1
Alih-alih menjawab, istri nya malah bicara dan bertanya balik.
"Karena sejatinya, membangun keluarga membutuhkan kerja sama yang kompak, saling menghargai, bahu membahu dalam mengatasi setiap masalah yang timbul"
"Aku percaya suami ku akan menghargai diriku, tanpa bertanya dia akan bercerita dengan sendirinya, karena dalam pernikahan tidak pernah ada kata rahasia"
"Dan sejatinya akan selalu ada riak-riak kecil dan besar yang mengganggu hubungan pernikahan dua orang bukan?"
"Aku tidak akan menjadi anak kecil ketika mendapat konflik sekecil apapun atau sebesar apapun dalam pernikahan kita, mari bersama saling mengatasi dari pada harus saling diam atau bahkan memilih marah tapi tidak mampu memecahkan masalah, menghindar dan meninggalkan rumah"
"Bagi ku bertanya tidak tepat pada timing nya dan marah begitu saja dapat memburuk dan menjadi pemicu keretakan rumah tangga yang tidak bisa terkendalikan lagi. Aku lebih suka duduk bersama untuk berdiskusi meluruskan masalah tanpa emosi yang meledak-ledak, sebab itu akan semakin mempermudah menuju titik temu"
Setelah berkata begitu, Zeline terlihat menggenggam lembut telapak tangan Dominic.
"Katakan saja, aku lebih suka sebuah kejujuran, jika benar soal pesan tersebut maka bagi ku masa lalu bukan lagi menjadi urusan kita, mantan memang tidak memiliki hubungan darah, bahkan jika pernah menjadi seorang istri ada surat cerai yang tertera di antara kalian tapi anak-anak adalah amanah, darah yang mengalir tidak pernah bisa kita putuskan begitu saja"
Mendengar kan ucapan terakhir istri nya Dominic seketika terdiam sambil menelan salivanya.
Dia fikir bagaimana bisa dia menghadapi perempuan yang bersikap se elegan istrinya tersebut dengan sejuta kebijaksanaan nya?!.
Lalu bagaimana bisa dia menyakiti perasaan Perempuan yang ada dihadapan nya itu.
Jika dia berpaling, berbohong dan masih berharap lebih, maka sungguh dia bukan seorang suami yang pandai bersyukur.
__ADS_1