When Om Duda Bastard Meet Gadis Muslimah

When Om Duda Bastard Meet Gadis Muslimah
Gadis Macam apa dia


__ADS_3

La Vue Rooftop Bar


Jakarta



Ditengah langit senja menyelimuti Jakarta, ketika adzan magrib sudah selesai berkumandang dalam beberapa waktu terakhir tadi.


Entah sudah berapa menit berlalu dia enggan menghitung nya, sebab gadis itu berkata dia harus mendapat kan waktu magrib nya terlebih dahulu dibawah.


Dominic terlihat duduk dengan santai di atas kursi sofa bercorak tersebut.


Dia menikmati langit yang sejenak lagi akan menggelap, ini adalah waktu terbaik untuk merasakan fenomena pergantian suasana dari terang menuju ke gelap nya malam.


Dulu saat masih anak-anak hingga lulus SMA dia selalu naik ke atas atap rumah mereka, berlarian bersama Mommy nya hanya untuk bisa menikmati senja yang perlahan meredup menuju malam.


Seolah-olah waktu seperti ini akan menjadi kenangan indah didalam hidup nya.


Sejenak bola mata Dominic tertuju kearah depan dimana seorang gadis berhijab terlihat dengan gaya santai dan elegan nya berjalan ke arah dirinya.


Bisa ditebak siapa?!.


Yah itu adalah putri dari keluarga besar Abimanyu, yang terikat dengan keluarga Hillatop dan Futtaim.


Oke tidak dia pungkiri gadis kecil itu.


Cantik!.


Tapi tetap saja masih anak-anak.


Kata anak-anak Seolah-oleh menghantui dirinya, dia selalu merinding setiap kali harus membayangkan bagaimana mereka melewati malam panas bersama.


Oh god, bagaimana cara nya?!.


Tidak pernah bisa dia bayangkan sedikit pun ketika mereka menikah, dia menginginkan nya dan satu-satunya gadis yang harus dia ajak melewati malam panas bersama gadis bertubuh kecil yang usia nya bahkan belum matang tersebut.


Tidak bisa dia bayangkan bagaimana gadis itu menangis menghadapi diri nya yang tinggi tubuhnya dan ukuran tubuh nya hampir 2 kali lipat dari tubuh gadis tersebut.


Bayangkan tinggi gadis itu saja tidak lebih dari dada nya.


Bisa-bisa nya aku?!.


Oh god.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Om?"


Tahu-tahu gadis itu sudah mengembangkan senyuman nya dihadapan dirinya.


Dominic mendongak, menatap dalam wajah gadis itu dengan seksama.


"Wa'alaikumsallam"


Kalimat itu terlalu lama tidak pernah dia gunakan.


Se brengsek inikah dia selama ini?!.


Selain pergaulan gilanya, dia nyaris lupa dengan agama nya sendiri.


Kini Gadis itu tahu-tahu sudah duduk tepat dihadapan dirinya, menatap wajah nya dengan keadaan serius dan menunggu diri nya untuk bicara.


Dia yang menghubungi gadis itu pagi ini, mencari jadwal pasti untuk kelonggaran waktu bersama mereka agar bisa bertemu.


Dominic fikir Mereka harus bicara serius saat ini, berdua hanya 4 mata tanpa ada siapa-siapa di antara mereka.


"Apa ada sesuatu yang serius?"


Tanya gadis itu tiba-tiba.


"Apa kamu dalam keadaan terburu-buru?"


Tanya Dominic sambil menaikkan ujung alisnya.


Dia fikir bukan kah mereka menyepakati waktu longgar tanpa gangguan atau istilah terburu-buru.


"Tidak juga, teruskan lah"


Jawab Zeline sambil mengembangkan senyuman nya.


Alih-alih peduli dengan ekspresi Zeline, Dominic kemudian menggeser sebuah map coklat yang ada dihadapan nya menuju ke arah Zeline.


Gadis itu sejenak mengerutkan keningnya, dia menatap map tersebut untuk beberapa waktu.


"Ini apa?"


Tanya gadis itu kemudian.


"Kamu bisa membuka nya"

__ADS_1


Setelah Dominic berkata begitu, Zeline secara perlahan meraih map tersebut, dia mulai membuka map itu sambil melihat apa isi didalam nya.


beberapa lembar kertas terlihat di sana.


Gadis itu dengan perlahan mulai membaca isi dari barisan kertas-kertas tersebut.


Awalnya Dominic menduga gadis itu akan marah, mengerut kan kening nya atau bahkan panik membaca isi nya, tapi gadis itu selalu saja berada di luar ekspektasi nya.


Alih-alih mengeluarkan ekspresi wajah yang dia harapkan kan, wajah cantik itu malah mengembangkan senyuman nya, dia tertawa renyah membaca baris demi baris kalimat disana.


Kemudian tahu-tahu gadis itu menatap dirinya.


"Om begitu yakin bisa membuat ku jatuh cinta Lebih dulu pada type Laki-laki seperti Om?"


Tanya gadis itu tiba-tiba.


"Ya?"


Dominic langsung menaikkan ujung alisnya.


"Meskipun Om berada di Posisi puncak terkaya setara dengan Bos Tesla, Elon Musk, dengan total nilai kekayaan US$ 229,1 miliar nya, itu belum tentu bisa membuat ku jatuh cinta"


Tambah Zeline sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya.


"Tidak semua gadis akan jatuh cinta pada laki-laki kaya, tapi karena Om menawarkan nya maka aku menyetujui nya"


Ucap gadis itu lagi sambil mengeluarkan sebuah pulpen di dalam tas tangan nya.


Dominic jelas membulat kan bola matanya.


"Jika Om yang lebih dulu jatuh cinta pada ku dan meminta hak om dimalam pertama, pastikan Om akan menandatangani semua dokumen dimana ½ dari Faith yildiz akan menjadi milik ku"


Setelah berkata begitu, Zeline langsung menandatangani kertas-kertas yang berisi kesepakatan didepan nya itu tanpa banyak bicara.


Dan bisa Dominic lihat Senyuman terindah terus mengembang di balik bibir cantik tersebut tanpa terlintas sedikitpun rasa takut dan gerah dibalik apa yang dilihat gadis itu ditangan nya.


"Apa?"


Seketika Dominic ternganga, dia fikir tidakkah gadis itu mau bertanya lebih lanjut soal semua perjanjian nya?!.


Oh shi..t gadis macam apa yang aku hadapi ini.


Umpat nya tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2