
Amena dengan kaki gemetaran mencoba untuk terus melangkah maju, tidak dia pedulikan handphone nya terus bergetar sejak tadi.
Fokus nya Hanya satu yaitu pada Suara sang Mama nya.
Dia mencoba mengintip di Antara celah pintu, mencari sosok Mama nya dengan tangan gemetaran.
Ingin tahu apa yang terjadi pada sang Mama nya saat ini.
Cukup sulit mencari celah di antara pintu apalagi Amena takut jika dirinya ketahuan.
Dia berusaha bergerak ke sisi kiri sedikit berjalan memutar menuju kearah sisi sampingnya.
Amena Fikir biasa nya jendela akan menjadi tempat terbaik untuk mengintai selain biasanya jendela memiliki celah, ukurannya pun tidak terlalu besar dan bisa menutupi tubuh seseorang yang mencoba mengintip.
Dengan berjalan secara Perlahan, berusaha untuk tidak mengeluarkan sedikit pun suara, Amena mulai bergerak mendekati jendela kecil di sudut kiri bangunan ruangan tersebut.
Gadis itu berusaha menahan nafasnya dengan seksama, sebab ketakutan yang menghantam dirinya jelas begitu besar.
Dia tahu tempat yang dia masuki bukan tempat yang baik, bahkan orang-orang yang ada di dalam San maupun bukan orang-orang yang baik.
Semua yang masuk selain orang yang memiliki banyak uang, mereka jelas memiliki Adi kuasa yang besar.
Sebenarnya sang Mama telah berjanji kepada dirinya, ini akan menjadi pekerjaan terakhir nya untuk menjadi penerjemah bahasa untuk orang penting yang akan membayar Mama nya dengan bayaran tertinggi yang pernah Mama nya terima.
Uang yang akan di dapatkan akan di jadikan modal dan tabungan masa depan mereka, bahkan Mama dan dirinya telah mendiskusikan semua nya untuk menata masa depan mereka bersama.
__ADS_1
Pilihan nya jelas begitu manis dan menggiurkan, Mama nya bilang mungkin Minggu ini akan menjadi Minggu terakhir untuk mereka melihat kota Paris.
Kita akan kembali ke Indonesia.
Sebaris kalimat itu diucapkan Mama nya diiringi senyuman yang begitu cantik.
Membuka sebuah usaha di Jakarta, membeli lahan perkebunan di kampung, memelihara hewan ternak dan membuka sebuah rumah panti untuk menampung anak-anak tidak mampu yang terlantar di kampung mereka.
Amena jelas setuju, bukankah dia mencari Mama nya untuk itu?!.
Menarik Perempuan cantik itu kembali ke tempat asal mereka, membuka lembaran baru dan kehidupan baru bersama.
Tapi malam ini apa yang terjadi?!.
Malam yang seharusnya menjadi pekerjaan terakhir Mama nya mungkin benar-benar menjadi malam terakhir untuk dirinya melihat Mama nya.
Mama nya terlihat tergeletak tidak berdaya di atas lantai bangunan tersebut, beberapa orang terlihat berdiri cukup jauh dari Mama nya, dan seorang laki-laki berusia sekitar hampir setengah abad menjongkokkan tubuhnya dihadapan Mamanya.
Sebuah pistol di arahkan ke kepala sang Mama nya.
Hahhh?!.
Amena jelas terkejut, dia berusaha untuk menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya.
"Katakan dimana flashdisk tersebut?"
__ADS_1
Samar-samar bisa dia dengar kan suara laki-laki itu bertanya dengan nada yang begitu mengerikan ke arah sang Mama nya.
"Kau tahu? aku tidak suka bermain-main dengan keadaan, cukup katakan maka aku akan menyelamatkan diri mu"
Lanjut laki-laki itu lagi.
Mama Amena terkekeh pelan, di antara ketidakberdayaan nya, Perempuan itu berkata.
"Apa kau fikir aku tidak tahu dengan sifat kamu, Adam?"
Ucapnya sambil terbatuk-batuk, darah segar keluar dari mulut Perempuan tersebut.
"Aku bicara atau tidak itu tidak akan menjamin keselamatan ku, jadi jangan mimpi aku akan memberitahukan kamu soal flashdisk nya"
Setelah berkata begitu, bisa Amena lihat laki-laki yang dipanggil Adam merapatkan pistol nya ke kepala Mama nya.
Kletakkkkk
Dan dalam hitungan detik tiba-tiba suara letusan dahsyat terdengar di sepanjang ruangan dan langit malam.
Doorrrrrr.
Ratusan burung gagak seketika berhamburan dari atap gedung tersebut, langit malam semakin menampakkan warna mencekam nya.
No...no......!!!!!.
__ADS_1
Amena berusaha untuk menutup mulutnya sekuat mungkin, air matanya seketika tumpah, tubuhnya bergetar hebat dan dia berusaha untuk tidak berteriak histeris saat itu juga.