
Masih di bangunan gedung tua
Entah siapa yang tengah berjalan menapakkan kaki satu demi satu di ujung sana, menaiki satu persatu anak tangga dengan langkah perlahan.
Tapi Taj yakin itu bukan kucing, tikus atau hewan apapun itu bahkan setan sekalipun, bagi nya itu jelas suara tapak sepatu manusia.
Dia bersiap dengan kemungkinan buruk yang terjadi saat ini, bersiap bertarung nyawa jika dalam keadaan yang terdesak.
"Siapa?"
Dia berbisik pelan, nyaris tidak terdengar.
Laki-laki itu fikir dia siap menghancurkan lawan jika seandainya terjadi satu penyerangan tidak terduga.
Sedangkan Bola mata Reihan terus awas mencoba membiasakan diri dengan gelap nya ruangan tersebut sambil tangannya menarik senjata api yang ada di belakang punggung nya.
Sejenak laki-laki itu mengerutkan keningnya.
Dia bisa mendengar Suara tapak kaki tersebut bergerak menuju kearah atas.
Pertanyaan nya adalah siapa dan apa yang di cari didalam sana?!.
Siapa yang ada di sana saat ini?!.
Lawan atau kah kawan?!.
Mereka jelas memiliki tujuan untuk turun ke lantai bawah tanah saat ini, mencari sesuatu yang seharusnya mereka cari.
Dan Reihan tahu ini jelas tidak mengherankan ketika tidak ada yang menyadari perihal ruangan bawah tanah, sebab tidak pernah ada yang tahu soal ruang rahasia bawah tanah tersebut.
Saat ini Mereka jelas mencoba menetralisir suara nafas mereka saat ini, memasang pendengaran awas agar tidak bergerak gegabah.
Tukkkkkk.
Tukkkkkk.
__ADS_1
Tukkkkkk.
Tukkkkkk.
Sepasang sepatu.
Dua pasang.
Tiga pasang
"Kau sudah menemukan keberadaan nya?"
Sebaris pertanyaan terdengar di ujung sana.
Suara seorang laki-laki yang mereka jelas tidak tahu siapa.
Reihan dan Taj saling menoleh.
"Belum Sir"
Kembali satu sahutan terdengar.
Apa yang mereka cari jelas juga di cari oleh mereka.
Jika mereka mencari yang mereka cari ada kemungkinan orang tersebut tahu soal Azalea.
Taj menggelengkan kepalanya, seolah-olah tahu apa yang difikirkan oleh Reihan.
Jangan gegabah, belum tentu apa yang kamu pikirkan terjadi Saat ini.
Dia tahu Reihan khawatir jika orang-orang itu tahu soal Azalea dan Zeline.
"Keluar dan cari ketempat lain"
Mereka kembali mendengar kan perintah dari suara laki-laki pertama.
Cukup lama hingga akhirnya derap langkah sepatu tersebut semakin menjauh.
Cukup lama mereka memastikan jika tidak ada lagi ancaman, hingga mereka benar-benar tidak lagi mendengar kembali suara tapak kaki tersebut.
__ADS_1
Setelah yakin semua aman reihan mencoba untuk memberikan bahasa isyarat, membiarkan Taj terus mengikuti dirinya dari belakang.
Dia paling paham jalan bangunan tersebut, sebab sudah beberapa kali dia pernah masuk kedalam tempat tersebut sebelum nya.
Kini mereka bergerak cepat menuju kearah salah satu pintu, Reihan mencoba untuk membuka pintu tersebut secara perlahan.
Krietttt
Oh shi.t.
Bolehkah Taj mengumpat?!.
Mereka seharusnya tidak mengeluarkan sedikit pun suara, tapi kenapa pintu yang dibuka Reihan sama sekali tidak bisa di ajak bekerjasama?!.
"Ini benar-benar sialan"
Reihan ikut mengumpat pelan.
Dia fikir seandainya ada pintu lain yang bisa mereka ikuti dan mereka gunakan saat ini, dia tentu tidak mau melewati pintu yang membuat mereka susah tersebut.
Sejenak mereka mencoba kembali menahan nafas, berjalan melangkah mendekati sebuah lemari besar yang ada di ujung ruangan.
Reihan bergerak melangkah lantas memutar sesuatu di sisi kanan lemari besar tersebut.
Crieeettttt
Tiba-tiba terdengar lemari tersebut bergeser secara perlahan.
Oh god, terkutuk lah yang membuat tempat ini sedemikian rupa.
Umpat Taj penuh ketidakpercayaan.
Bola matanya membulat saat dia melihat sebuah cahaya yang begitu menyilaukan mata.
Ketika mereka melangkah masuk kedalam sana dan Reihan langsung menutup pintu Tersebut sekali lagi laki-laki itu tercekat tidak percaya dengan apa yang dilihat nya.
"Kau pasti sudah gila"
Ucap Taj kembali sambil tidak melepaskan pandangannya.
__ADS_1