When Om Duda Bastard Meet Gadis Muslimah

When Om Duda Bastard Meet Gadis Muslimah
Masih sedikit mencekam


__ADS_3

Disisi lain


Theo terlihat menelan salivanya saat dia melihat tubuh Taj dan Reihan semakin menjauh dari hadapan nya.


Dia melirik ke sisi kiri dan kanan nya yang terlihat begitu suram dan mengerikan.


Suara jangkrik yang saling bersahutan dan ranting-ranting pepohonan yang saling bergesek menambah efek suram suasana di tempat tersebut.


Theo lagi-lagi menelan salivanya karena dia harus merasakan bagaimana gelapnya suasana di sekitar dirinya.


Oh Theo.... sungguh terkutuk diri mu, kenapa suasananya benar-benar mampu membuat bulu kuduk merinding secara tiba-tiba?!.


Batin laki-laki itu sambil merapatkan tubuhnya didalam jaketnya.


Dia langsung berusaha menjaga pandangan nya untuk beberapa waktu, tidak peduli dengan sisi kiri dan kanan nya, mencoba untuk terus membaca doa apapun yang dia bisa sejak tadi.


Kenyataan nya dia memang seorang dokter, selalu berhasil menghadapi berbagai macam pasien-pasien yang sekarat tapi tidak...


Drrtttt


Drrtttt


"Akhhh Oh shi..t"


Laki-laki itu mengumpat karena terkejut dengan suara getaran handphone nya sendiri.


"Terkutuk kalian para setan yang tidak berprikemanusiaan"


Laki-laki itu spontan mengeluarkan jutaan ketakutan nya.


Entahlah bagaimana bisa dia menjadi seorang dokter tapi dia takut pada kegelapan dan .......

__ADS_1


Bisakah dia pergi dari sini secepat nya?!.


Theo fikir dia memang punya nyali besar untuk menyelamatkan Azalea, menyeret Reihan agar membantu nya tapiiii bukan begini konsep nya.


Tidak berarti dia ditinggal di sini, didalam mobil dengan jutaan ketakutan nya, ditengah kegelapan malam menatap rumah tua gelap tidak berpenghuni.


Mendengar suara jangkrik dan...


Hoooooo


Hoooo


Burung hantu?!.


Oh my god, Reihan sialan kau!.


Umpat laki-laki itu.


selimut si belakang kursi kemudi.


Theo tidak berhenti merutuki dirinya karena rasa takut yang menghantam dirinya.


Dalam hitungan detik laki-laki itu sudah menggulung tubuh nya di antara selimut tebal yang dia dapatkan saat ini, membiarkan kepala nya sedikit menyembul di dalam nya.


tidak dia pedulikan handphone nya terus bergetar sejak tadi ada sebab menurut dia panggilan nya sama sekali tidak penting.


Seharusnya dia tidak menjadi pahlawan kesiangan yang mau datang kemari demi mencari pendonor darah yang dia harapkan.


Sebab dia tidak memiliki nyali luar biasa seperti nyali milik Reihan dan laki-laki lainnya.


Seharusnya dia mencari akal lain untuk melakukan semuanya.

__ADS_1


Ditengah pergulatan batin atas rasa takut yang menghantamnya, tiba-tiba bola mata Theo membulat dengan sempurna saat dia melihat beberapa orang bergerak keluar dari rumah bangunan Tua yang terletak cukup jauh dari hadapan nya tersebut.


Mereka sengaja memarkirkan mobil mereka cukup jauh dari bangunan tersebut, mematikan seluruh nyawa mobil tersebut hingga tidak menyisakan apapun, meletakkan nya sedikit menyelip di antara pepohonan yang bisa melindungi mereka dari hal apapun yang buruk.


Taj benar-benar pintar dan penuh perhitungan.


Tidak heran laki-laki itu berkutat dalam kehidupan Mafia, karena otak seperti itu jelas dibutuhkan dalam sebuah aksi menegangkan seperti ini.


Theo mencoba mengawasi pandangan nya, memperhati kan dengan seksama siapa yang keluar dari sana.


Satu orang.


Dua orang.


Tiga orang.


Lengkap dengan pakaian hitam dan senjata di tangan mereka.


Cukup lama dia memperhatikan gerakan mereka, dimana kemudian ketiga orang tersebut tiba-tiba menundukkan kepala mereka saat seseorang keluar dibelakang mereka.


Oh shi..t.


Theo seketika mengumpat saat dia sadar siapa yang keluar dari sana.


Seolah-olah tahu ancaman besar ikut bergerak mencari apa yang mereka cari juga.


Kakak ipar?!.


Satu ketakutan menghantam dirinya.


Theo secepat kilat menyambar handphone nya.

__ADS_1


__ADS_2