
"Red mafia, clear"
"Demon angel, clear"
"Black pearl, clear"
"Mata elang, clear"
Zeline terlihat mengembangkan senyuman nya saat semua memberikan laporan melalui headset bluetooth mereka, Semua orang berhasil ditumbangkan dengan sempurna oleh para Anggota terbaik nya.
"Perfect, kembali ke posisi masing-masing dan biarkan CIA yang mengejar sisanya"
Semua orang jelas menarik lega nafas mereka, pada akhirnya malam yang dirasakan begitu panjang dan mencekam berakhir secara sempurna.
Dan saat misi berhasil jelas ada kepuasan tersendiri yang mereka semua rasakan saat ini.
"Bersiaplah, Kita akan menepi dengan cepat"
Zeline memberikan perintah terakhir nya.
Setelah berkata begitu perempuan itu melirik kearah sisi kirinya, Dominic terlihat menaikkan ujung alisnya.
"Kenapa?"
Laki-laki tersebut langsung bertanya, dia menoleh ke arah kiri dan kanan nya.
Tiba-tiba semua orang perlahan bergerak menyingkir dari ruangan tersebut, memilih keluar dari pintu samping menuju ke ruangan yang lain.
Seketika Dominic menelan salivanya.
Dia Fikir kenapa semua orang jadi bergerak menjauh dan mencoba menyingkir.
"Humairah, jangan membuat ku takut"
__ADS_1
Ucap Dominic kemudian.
Mendengar ucapan suami nya seketika Zeline memunyung kan bibirnya.
"Apa aku jadi terlihat seperti preman terminal? itu mengerikan"
Rutuk Zeline tiba-tiba.
"Ooohhh bukan begitu Humaira"
laki-laki tersebut langsung bergerak mendekat dengan cepat.
"Aku hanya merasa jadi sedikit canggung saat mengetahui sebuah kenyataan"
Yah jelas saja Dominic merasa canggung dan tidak dipungkiri sedikit takut saat dia sadar siapa istri nya.
Bahkan dia fikir laki-laki lain pun mungkin akan merasakan perasaan yang sama saat tahu istri mereka rupanya seorang pemimpin Mafia.
Bayangkan bagaimana rasa nya jika tiba-tiba laki-laki yang biasa nya mendominasi tapi kini menjadi ciut karena pasangan nya menjadi mendominasi.
Protes Zeline cepat.
"Jika tidak dalam keadaan terdesak, aku tidak akan pernah membuka jati diri ku"
perempuan itu bicara sambil menatap dalam bola mata suaminya.
Sejenak Zeline menghela nafas nya.
"Maafkan aku karena membohongi kamu"
Suara Zeline jelas terdengar penuh dengan rasa penyesalan.
Dominic secepat kilat menyambar tubuh istri nya itu, dia memeluk Zeline secara perlahan.
__ADS_1
Ohhh God.
Dia Fikir dia memang begitu merindukan istri nya, pelukan Dominic semakin mengerat, dia bahkan mencium lembut puncak kepala Zeline berkali-kali.
"Sebenarnya itu bukan kebohongan, hanya saja kamu belum siap untuk memberitahukan soal semua nya"
Ucap Dominic pelan.
Yah Dominic tahu membuka jati diri sebenarnya pada orang lain apalagi pada pasangan jelas tidak mudah.
Sebab risiko yang harus di ambil pasti begitu begitu besar dan berat.
Apalagi jati diri sebesar yang disembunyikan Zeline jelas tidak bisa di paparkan dan dijelaskan secara gamblang.
Mungkin jika tidak dalam keadaan terdesak, Zeline Belum tentu siap membongkar jati diri nya.
"Jangan memasang jarak saat tahu aku bukan istri seperti yang kamu harapkan"
Tiba-tiba Zeline bicara sambil mendongakkan kepalanya, menatap suaminya begitu intens dan serius.
Dominic jelas mengerutkan keningnya.
"Siapa bilang bukan istri yang aku harapkan? aku tidak pernah menyesal menikah dengan kamu Humaira, bahkan meskipun aku tahu sisi lain dalam diri kamu, bagi ku sama sekali tidak ada yang berubah di antara kita"
Ucap laki-laki itu cepat.
"Hanya saja mungkin aku harus sedikit waspada, siapa tahu tiba-tiba aku di hajar karena salah bicara"
Kemudian terdengar candaan dari laki-laki itu sambil mencoba menahan tawanya.
"Albi..."
Rengek Zeline sambil kembali memeluk Dominic, kemudian dia menggigit geram dada sang suami.
__ADS_1
"Awwww Humaira itu sakit"