
Setelah bulan madu bersama
Mansion utama Dominic
Indonesia
Setelah meletakkan tubuh istri nya keatas kasur milik mereka, Dominic terlihat menyentuh lembut wajah sang istri nya yang masih tertidur pulas sejak tadi.
Dia tahu istrinya terlihat cukup lelah karena itu Dominic sama sekali tidak ingin membangunkan istrinya, lebih memilih menggendong Zeline Menuju ke arah kamar mereka ketika mereka tiba.
Sejenak laki-laki itu mencium kening istrinya, kemudian Domini langsung beranjak dari tempatnya dan pergi berlalu dari kamar tersebut.
dia melangkah keluar menuju kearah lantai bawah mencari bibi pelayan yang bekerja di Mansion nya.
"Tolong buatkan makan malam untuk Zeline bik"
Ucap Dominic Kemudian.
"Baik, tuan"
Wanita paruh baya itu menjawab cepat.
setelah itu Dominic melangkah keluar dari mansion nya menuju ke rumah samping yang ada di sisi kanan mansion miliknya tersebut.
diantara hamparan rumput luas laki-laki itu terus melangkah menuju ke sebuah rumah putih yang ukurannya tidak lebih dari 100 meter persegi.
Dua orang laki-laki bertubuh kekar terlihat menundukkan kepala mereka di saat Dominic mulai berjalan mendekati pintu masuk ruangan tersebut.
__ADS_1
Salah satu dari mereka terlihat membuka kan pintu untuk Dominic, begitu pintu dibuka Dominic langsung melesat masuk kedalam ruangan tersebut.
Bisa dia lihat seorang laki-laki Tampak menunggu Dominic sejak tadi di dalam sana.
"Kau sudah pulang?"
Tanya laki-laki itu kemudian.
Maheer sang Bernard junior terlihat duduk begitu Santai di atas kursi sofa.
Alih-alih menjawab pertanyaan laki-laki itu, Dominic lebih memilih untuk bertanya balik.
"Kau sudah menemukan pelakunya?"
setelah bertanya seperti itu Dominic langsung duduk di atas kursi sofa tepat di hadapan Maheer.
Ucap laki-laki dihadapan Dominic itu kemudian.
"Laki-laki?"
Dominic mengerut kan keningnya.
"Alat pendeteksi suara berkata usia nya sekitar lebih dari separuh abad, dia hampir seusia orang tua kita"
lagi mendengar ucapan Maheer membuat Dominic mengerut kan keningnya.
Dia fikir sepertinya dia belum pernah menyakiti laki-laki tua sekalipun, meskipun dia bukan orang yang baik tapi dia selalu tahu menjaga adab dengan orang yang lebih tua dari nya apalagi jika orang itu berusia lebih dari setengah abad.
__ADS_1
"Apa kamu punya persoalan dengan laki-laki tua di masa lalu?"
Laki-laki itu kembali bertanya sambil menghisap rokok yang ada di tangan nya.
"Aku fikir tidak pernah, lalu apa keuntungan nya mengirimkan pesan seperti itu?"
Tidak tahu kenapa firasat Dominic berkata seolah-olah ini tidak baik-baik saja, perasaan nya begitu gelisah belakangan ini.
Seolah-olah akan ada hal buruk terjadi dalam pernikahan dia dan Zeline.
Sejak awal seolah-olah banyak sekali yang ingin membuat sebuah konflik didalam pernikahan mereka.
Dari urusan mandi, sky hingga pesan yang ingin menyudutkan dirinya.
Dia takut persoalan demi persoalan yang menghantam mengganggu kehidupan tenang pernikahan dia dan istrinya.
Mungkin jika dia tidak mencintai Zeline seperti awal pemikiran dalam pernikahan nya kemarin, dia akan menganggap semua persoalan yang menghantam akan menjadi sebuah keuntungan.
Tapi karena dia sungguh-sungguh dengan pernikahan mereka, menumbuhkan perasaan cinta yang datang secara perlahan dan dia saat ini tengah berusaha menjadi suami dan imam terbaik untuk istri nya.
Persoalan demi persoalan tersebut jelas menjadi pukulan berat untuk dirinya.
Seolah-olah dia takut Zeline akan melepaskan dirinya karena kecewa dengan banyak nya kesalahan dia dimasa lalu.
"Aku fikir akan menyelesaikan satu per satu lebih dulu gangguan yang terjadi belakangan ini, mungkin hal yang terbaik aku lakukan, aku harus memulainya dari Mandy "
Setelah berkata begitu, Dominic meraih rokok yang ada di atas meja kayu dihadapan nya, dia meraih pamatik besi bergambar ular tersebut dan secara perlahan laki-laki itu mulai menyatukan api dan rokok yang ada di bibir nya tersebut secara perlahan.
__ADS_1