
Berbagai macam kata – kata manis terucap dari kedua bibir Indah dan Vano untuk saling bertahan, serta yakin jika mampu memperjuangkan hubungan mereka, walaupun sedari awal Indah telah mendapatkan penolakan mentah mentah dari mamanya. Namun itu semua seolah tidak menyurutkan niat mereka, seolah sedang menantang dan melawan arus penolakan Indah justru merealisasikan rencananya untuk membawa Vano bertemu dengan keluarganya.
Yah..., tentu saja ini tidak mudah, Indah sudah tau, dan tau konsekuensi jika bermasalah dengan mamanya sama saja seperti burung yang ingin terbanng tinggi tanpa sayap, dengan kata lain “MUSTAHIL”, namun entahlah bersama dengan Vano membuat Indah melihat harapan baru, Indah tidak mempermasalahkan perbedaan fisik mereka, yah,, sangat banyak yang bilang jika Vano tidak pantas dan tidak cocok bersanding di sisinya, juga banyak yang bilang Indah saat menerima cinta Vano pasti lagi sakit mata, sampai ada yang bilang kalau Vano pakai dukun pelet untuk membuat Indah mau dengannya.
Semua itu diabaikan begitu saja dengan Indah, bagi Indah tanpaa informasi atau julidan dari mereka Indah juga tau kalau Vano bukan kategori cowok yang ganteng, tapi bukan fisik lagi prioritas Indah, melainkan hati pasangan, rasa tanggung jawab, sikap menghargai dan tentu saja rasa nyaman yang dibutuhkannya. Semua itu didapatnya bersama dengan Vano, apalagi Vano berasal dari keluarga yang sangat harmonis, seolah ucapan “Uang bukanlah segalanya atau sumber kebahagiaan semata mata bukanlah uang” itu tercermin pada keluarga Vano.
Kini akhirnya mereka melanjutkan lagi perjalanan menuju rumah Indah yang hanya sisa lima menit lagi, mobil di parkir oleh Indah menuju kegarasi, untuk membuat mama tidak semakin muak Indah sengaja tidak menggandeng Vano, seperti yang biasa dilakukan Vano ketika mengajak Indah kerumahnya. Biarlah sedikit jarak ini dapat membuat mamanya tidak semakin berang.
“Permisi Pa..., selamat siang..”
“Selamat Siang Om..” sahut Vano dari belakangnya Indah, Indah mempersilahkan Vano untuk masuk kerumahnya dan duduk di ruang tamu, kepalanya celingukan kesana kemari mencari mamanya yang tak tampak batang hidungnya.
“Mama mana Pa?” tanya Indah,
“Mama lagi pergi, uda dari tadi sih..., “ jawab papa sambil melipat koran yang dibacanya,
“Pa..., kenalkan ini Vano yang kemarin Indah ceritakan” lalu Vano berdiri dan menyalami Papanya Indah yang masih tetap duduk dihadapan mereka.
“Oh Iyah..., apa kabar Vano?” tanya Papa Leo, tidak terdengar seolah menolak juga tidak terdengar ramah, entahlaah kepala Indah rasanya mau pecah, ada rasa kecewa di hati Indah melihat bagaimana sikap papanya, benar – benar diluar ekspektasi.
“Saya baik Om..” jawab Vano dengan sopan,
“Kamu kuliah? Jurusan apa?” tanya Papa
“Iyah Om..,saya jurusan ekonomi manajemen Om..”
“Oh..., semester berapa?”
__ADS_1
“Saya sekarang semester tujuh baru selesai KKN persiapan proposal Om..”
“Oh..., usia berapa kamu?” lagi – lagi papa seolah sedang menginterograsi Vano yangberusaha tenang menjawab setiap pertanyaan Papanya Indah.
“Saya dua puluh tujuh tahun Om..”
“Hah??? Dua puluh tujuh tahun? Apa benar kamu semester tujuh? Berapa tahun kuliah kamu” Indah mendengar pertanyaan sarkas keluar dari bibir Papanya, Indah sampai heran ada apa dengan papanya ini, kok bisa – bisanya sampai bertanya sedemikian rupa? Sungguh bukan papa yang dikenalnya.
“Saya lulus SMA tidak langssung kuliah Om.., karena Mami dan Papi masih menguliahkan kakak pertama saya di bali, jadi kami semua mengalah agar pendidikan kakak lebih dahulu selesai dan kami menyusul, saya kuliah di usia dua puluh tiga tahun Om, cuti satu semester karena kakak perempuan sakit” jawab Vano dengan jujur,
Seketika raut wajah Papa yang tadinya sangat tidak enak dilhat oleh mata Indah sontak berubah menjadi lebih ramah, “Oh... Gitu,.... maaf yah..., papa mamamu kerja apa Van?”
Akhirnya papa memanggil nama lelaki yang di bawa oleh Indah, “Papi pensiunan tentara berpangkat rendah, kalau mami sekarang terima katering dan suka buat – buat kue untuk di jual om..”
“Oh,,, gitu yah..., lalu tujuanmu setelah sekolah apa?” tanya papa
“Oh iyah kakakmu ada berapa? Dan apakah sudah kerja semua selain yang pertama?”
“Iyah Puji Tuhan semua sudah kerja om, yang pertama diperusahaan BUMN dan yang nomor dua kerja di kantor pemerintahan masih Honor, tinggal saya yang belum selesai Om.., mohon doanya agar tahun depaan saya bisa selesaikan skripsi saya tanpa adanya hambatan yah Om..” Vano terdengar sangat tulus dan rasa kasihan sangat besar di rasakan oleh Indah semua karenaa kejujuran dan sikap apa adanya Vano, Vano tidak malu dengan keadaan keluarga yang sederhana, berbeda pada teman – temannya yang ingin terlihat berada lantas memaksakan kehendak mereka sehingga menyusahkan orang tua mereka hanya untuk terlihat woww.
“HMMM..., Yah baguslah kalau begitu, kamu fokuslah pada pendidikanmu, dan Om doakan semoga urusanmu sampai pada skripsi semua selesai tanpa ada hambatan apapun yah Vano, Om juga ingatkan kamu bersama dengan Indah jangan melakukan hal – hal yang belum waktunya, jangan membuat orang tua kecewa, apalagi ingat.. kamu sendiri cerita bagaimana kamu harus menunda pendidikanmu karena kedua orang tuamu berjuang menyekolahkan kakak tertuamu, jadikan pengorbananmu dan perjuangan orang tuamu sebagai arah agar kamu dapat hidup dengan benar. Ingat Vano.. Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan. Om hanya bisa sampaikan itu saja. Untuk mamanya Indah kamu berdoa saja yah...,” Papa Leo seakan tidak sanggup lagi melanjutkan perkataannya kepada Vano, sorot mata tidak tega terpancar jelas dimata papa, namun papa mengalihkannya agar tak terlihat jelas.
“Papa masuk dulu yah... lalu rencana kalian apa?” tanya Papa Leo,
“Indah masih ada urusan di yayasan pa.., yah karena Papa sudah ketemu dengan Vano, Indah juga mau lanjut kerja dulu saja pa..,”
“Iyah sudah hati – hati..” jawab papa,
__ADS_1
“Baik Om.. terima kasih untuk nasehatnya Om, akan selalu Vano ingat dan Vano berjanji akan menjaga Indah dengan baik Om” sambil kembali bersalaman, mereka lantas menuju kearah garasi, dan masuk ke mobil,
“Eh Indah... ini lupa tadi kasih bingkisan dari mami, ini Cake marmer untuk Papa mama kamu..” Vano mengambil satu kotak besar cake yang di taruhnya di kursi tengah mobil Indah.
“Oh iyah.. kamu tunggu aja disini dulu yah Van..., aku aja yang ngantar, sebentaar aku nyalahkan dulu mesinnya dan AC nya agar nggak kepanasan kamu disini yah..” Lalu Indah turun dari mobil dan masuk kerumahnya, terlihat mamanya sedang duduk makan nasi goreng di ruang tengah sontak saja membuat Indah terkejut.
“Loh ma? Kapan mama datang?” tanya Indah lalu memberikan kue yang dibawa di tangannya kepada Rose yang saat itu tengah mengambilkan air putih untuk mamanya Indah.
“Mama gak kemana – mana kok.” Jawab mama ketus,
“Tapi kata papa tadi mama pergi” jawab Indah masih bingung.
“Yah itu mama yang suruh, mama nggak mau aja lihat laki- laki yang kamu bawa masuk kerumah ini, dari pada mama usir dia, mending dia ketemu papamu aja, uda cukup to? Papamu juga uda kasih wejangan bijaksananya.” Jawab mama tanpa mau melihat Indah.
Perasaan Indah tersakiti dengan sikap mama, mama selalu saja seperti ini, sewenang – wenang di dalam rumah ini, bahkan papa juga tidak sanggup mengatur dan membuat mama untuk menjadi lebih baik, Indah tidak menyangka penolakan mamanya akan seekstrim ini.
“Ma..., Indah harus berapa lama buat mama luluh ma?” rasa sesak tak tertahankan akhirnya terucap dalam sebuah pertanyaan yang dianggap sangat konyol oleh mamanya.
“SAMPAI KAU PUTUS SAMA DIA, BARU MAMA AKAN BERUBAH BAIK SAMA KAMU!”
Bersambung
halo teman2 mohon saran dan kritik yah jangan lupa like like nya, coment dan vote nya dong teman2 semua..
sambil menunggu update terbaru Aku adalah Indah part 3, kalian bisa baca Novel terbaru aku yang berjudul “STRONG IN BETRAYAL” yang tayang setiap hari pukul 13.00 WIB
makasi sebelumnya, dan jgn lupa Follow IG aku yah @Lizbet.lee
__ADS_1