
Pieter mengerti itu dan hendak membuka mulutnya untuk berbicara tapi di potong oleh Indah, "Dan..kita berjanji untuk tidak saling mengorek info pribadi masing - masing kan?" sahutku
"Baiklah" jawab Pieter malas, kami menghabiskan waktu dengan membahas tentang kehidupan Pieter dan sedikit membahas tentang diriku, juga membahas tentang berbagai mata kuliah yang akan aku pelajari di semester satu ini,
Namun tentu saja perasaanku sangat tidak enak, karena ditengah canda tawaku bersama Pieter dan Nita ada mata Nio yang mengawasi dalam diam, tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, dan yang sangat membuatku tidak nyaman adalah Nio selalu bertingkah bahwa kami hanya sekedar tau, bahkan terkadang bertingkah seperti tidak mengenal diriku,
Perasaan itu selalu mengganjal dalam diriku, Namun aku sangat tidak ingin memikirkan hal yang membuatku semakin kacau, karena besok aku harus mempersiapkan diriku untuk terus terang dengan Nio,
"Ndah..., udahan yah.., aku mau balik" celetuk Nita,
"Barengan yah.., Piet makasi yah untuk semua sharing infonya ke aku" ucapku,
"Sama - sama Ndah.. terima kasih juga sudah nepati janji kencan makan siangnya, walaupun ada obat nyamuk dari tadi, ahahahahaa" goda Pieter, aku dan Nita pun ikut tertawa,
"Oh Iyah bagi nomor hp yah.." pinta pieter,
"Lah?! bukannya pas Ospek uda di kasih di kertas?" tanyaku,
"Kertasnya gak sengaja kena air Ndah.." jawav Pieter.."Bagi yah..., biar bisa aku bantuin kerja tugas bareng atau apa gitu.." rayu Pieter sambil senyum- senyum.
"Iyah..., ini siniin ponselnya" pintaku dan Pieter memberikan ponselnya, dengan cepat aku menyimpan nomorku, "nanti sms aku yah..., biar aku simpan nomornya Pieter juga" ucapku ramah,
"Terima kasih banyak, hati - hati di jalan" sahut Pieter,
Aku pun berjalan meninggalkan kantin itu, tanpa menoleh ke arah Nio duduk, bukankah Nio yang mau membuat situasi seperti ini di depan umum, kami tidak saling menunjukkan kertertarikkan kami satu sama lain.
Dalam perjalanan Pulang pikiranku kembali melayang, aku sungguh merasa asing dengan hubungan baruku ini, terkadang aku merasa Nio perhatian, terkadang aku merasa bila Nio takut reputasinya hancur karena menjalin hubungan asmara dengan gadis biasa seperti aku.
________***________
Selama beberapa hari ini, aku sedikit merasa tenang karena sama sekali aku tidak di ganggu oleh telpon dan sms dari Mathew, namun jantungku kembali tidak karuan bila mengingat hari ini aku harus mempersiapkan diriku bertemu dengan Nio dan mengungkapkan kekuranganku sepenuhnya.
Di tengah kegelisahanku, aku kembali mengingat janjiku dengan Kak Ayi, buru - buru aku mengirimkan pesan singkat kepada kak Ayi.. "Tolong doakan aku kak..." pesanku terkirim.
"Iyah Ndah... doakan kakak juga.. semoga hari ini semuanya lancar yah Ndah.." balas Kak Ayi
__ADS_1
Aku hanya membacanya dengan senyuman, sambil duduk diam di kamar tidurku sendirian, yang sedang menahan rasa kegelisahan tak tertahankan.. apakah dia akan menerima semuanya yah Tuhan, gumanku dalam hati, Ahh... sebaiknya aku jangan terlalu berharap, gumanku lagi.
"Selamat malam Tante.." sapa Nio di luar sana, tanpa menunggu aku segera keluar dari kamarku, pandangan pertama yang kulihat adalah keakraban Nio dengan mama, mama sangat menyukai Nio, rasanya Nio adalah calon menantu Impiannya.
"Hai..." sapaku,
"Hai Ndah.." sahut Nio,
"Ma.. Indah pamit yah, mama nggak ke rumah Kak Ayi?" tanyaku,
"Pergi.. nanti mama bareng sama Tante Nonik, kalian hati - hati di jalan yah..." begitulah pesan mama,
"Iyah Te.., Selamat malam.." lagi tegur Nio dengan sopan, diikuti juga denganku, kami bergegas beranjak dari rumahku,
Didalam perjalanan, aku memberanikan diri untuk memulai percakapan, "Nio... ada yang mau aku bicarakan sama kamu" ucapku berusaha tenang menahan rasa gugup,
"Baiklah, berarti kita nongkrong dulu di pinggir pantai yah..., acara Ulang tahun mamanya Ayi jam berapa?" tanya Nio
"Sudah mulai, tapi masih ada kayak pengajiannya dulu gitu, kita datang terlambat nggak apa - apa" jawabku
"Kemana saja asal kita bisa berbicara dengan tenang" jawabku,
"Baiklah.." Lalu Nio memutar arah mobil kami menuju tempat yang di maksud oleh Nio, "Kemarin kencan makan siangnya sepertinya lancar.." kalimat sarkas keluar dari mulut Nio,
"Iyah benar, sangat lancar... aku harus berterima kasih dengan Nita yang sudah menolongku memperlancar acara kencanku" jawabku dengan sarkas juga,
"Hehee..., kenapa pas di tanya sudah punya pacar kamu nggak mau jawab?" tanya Nio
"Apakah kamu ingin aku menjawab sudah memiliki pacar?" kini aku membalikkan tubuhku menyamping agar benar - benar bisa melihat Nio dengan Jelas,
"Bukankah memang kamu memiliki pacar? mengapa harus di tutupi.." jawabnya lagi,
'sungguh terlalu panjang omongannya, cukup bilang iya maka aku mengerti' ocehku dalam hati, lalu satu pertanyaan kembali hadir di kepalaku,
"Baiklah...bila ada yang bertanya tentang statusku maka aku akan menjawab apa adanya.." ucapku sambil menatap lekat wajah Nio, dan aku melihat senyuman tipis menghiasi wajah tampannya, aku memberikan sedikit jeda sebelum melanjutkan pertanyaanku "Dan..bila ada yang tanya siapa pacarku, lalu aku harus menjawab apa?" sambungku, kini tidak ada senyuman di wajah Nio, Dia diam cukup lama sampai akhirnya sebuah kalimat terucap dari bibirnya
__ADS_1
"Bilang saja rahasia, mereka cukup tau statusmu tanpa perlu tau siapa nama orang yang menjadi pacarmu" jawabnya tegas,
Aku tersenyum kecut, lalu membalikkan tubuhku lagi agar duduk dengan benar dan menatap jalanan, sesaat kemudian mobil kami sudah terparkir di pinggir pantai, dapat terdengar dengan jelas deru ombak yang menghantam batu karang.
"Baiklah... jika itu mau mu.., aku akan merahasiakan siapa pacarku kepada semua orang, dan aku rasa tanpa di mintapun kamu pasti melakukan hal yang sama" ucapku berusaha biasa saja,
"Indah.. jangan salah paham denganku, aku hanya tidak ingin ada yang mengganggu dirimu, dan merusak hubungan kita, apakah kamu percaya sama aku sepenuhnya Ndah?" tanya Nio dengan panjang, karena tidak biasanya dia berkata - kata panjang lebar,
"Aku akan berusaha untuk percaya dengan kamu Nio," jawabku lirih,
"Lalu apa yang ingin kamu bicarakan denganku? hem??" tanyanya lembut,
Aku menarik nafasku dalam - dalam dan membuangnya dengan perlahan beberapa kali agar jantungku yang tiba - tiba tidak bersahabat menjadi lebih tenang,
"Nio.., aku hanya ingin jujur sama kamu, aku tidak mau ada rahasia diantara kita terlebih mengenai kekuranganku,"
"Bicaralah.., aku menunggu" ucap Nio
"Setelah ini semua terserah kamu Nio.." Kini Nio menatapku dan aku berusaha untuk menatapnya namun aku tidak sanggup, debar jantungku bahkan terdengar jelas dengan iringan deru ombak yang memecah di batu karang sepanjang pantai, Setelah jeda beberapa saat aku memaksakan lidahku yang keluh untuk berucap,
"Nio.., maafkan aku.. aku sudah tidak perawan lagi.."
*
*
*
*
*
*
bersambung
__ADS_1