
Tawaran untuk merequest lagu yang di sambut hangat oleh Indah, membawa Indah akhirnya mengenal seorang sosok Vano, yang ternyata telah berkali – kali bertemu dengannya, Dhino yang juga tau jika laki – laki bernama Vano tidaklah mungkin dapat menarik perhatian Indah, sampai – sampai merasa tergelitik setelah tau kenyataan bahwa Indah dengan Vano telah bertemu sebanyak tiga kali pun Indah tidak memperhatikannya sama sekali, malah menganggapnya sebagai sebuah Dejavu.
Pertemuan yang juga membuat akhirnya Indah mendapatkan kembali sahabatnya setelah menghilang selama satu tahun, membawa mereka bertiga larut dalam perbincangan dan duduk bersama saat itu, Indah bukanlah wanita yang bisa tertarik dengan seseorang jika orang tersebut tidak memiliki penampilan yang good looking, tapi ada sesuatu yang berbeda dengan diri Vano yang cukup membuat Indah tertarik, yaitu Musik!
“Maaf yah Van.. Aku nggak nyangka kalau kita pernah ketemu bahkan lebih dari tiga kali loh..” Indah benar – benar menyesal saat berbicara dengan Vano, dan memperhatikan ada raut kecewa dan malu pada diri Vano.
“Dan apakah kau tau? Bahkan tadi dia mengira bahwa melihatmu itu seperti Dejavu , Hahahahaha!!” Dhino tertawa terbahak dan Vano yang berada diantara kedua orang ini tampak juga tertawa namun masih menjaga sikapnya,
“Iyah.. tidak apa – apa..” sahut Vano tersenyum canggung,
“Oh Yah.., kegiatan kamu selama ini Apa? Kamu anak Band atau gimana?” tanya Indah penasaran.
“Aku dulu salah satu pemain official di salah satu Band senior disini namanya Cendana Band..La..”
Belum selesai Vano berbicara Indah dan Dhino spontan berteriak “WHAT?!!” Indah terkaget sedangkan Dhino berteriak “SERIUS?!!” Ikut antusias,
“I..Iyah.., hehehe... kenapa?” tanya Vano bingung menatap kedua orang di depannya silih berganti,
“Wah..,, mereka kan terkenal Van..” Tanya Indah semakin semangat,
“Iyah..., begitulah, tapi aku sekarang lebih fokus untuk pelayanan di gereja saja sih Indah, dan Fokus untuk Choir (paduan suara), dan cari uangnya yah gini, main dari event – ke event.., buat nambah – nambah persiapan KKN dan Skripsi” Cerita Vano,
“Wah..., keren – keren..., kalau aku main Gitar di salah satu Band yah baru berdiri beberapa tahun lah Van..” Dhino juga sangat antusias,
“Kalau aku sukanya nyanyi hehehe.., kalau alat musik yah rata – rata hanya dasar aja sih.., tidak ada yang bisa di banggakan” kini Indah yang berbicara juga tidak kalah antusias seperti Dhino,
“Iyah., waktu pas di yayasan aku pernah dengar kamu nyanyi lagu Holy Night versi Jesica Simpson, tapi itu pas kamu ngumpul sama anak – anak yang lain, si Roni dan adiknya Tomy.., kan kalian waktu itu karaoke di ruang konseling sehabis jam kantor kan?” Indah langsung ternganga mendengar Vano bicara,
“Hah?!! Yah ampun..., kok kamu tau?? Kamu juga ada disitu atau gimana?” Indah benar – benar tidak menyangka jika Vano ada pada saat itu setelah workshop untuk para calon konselor termasuk dirinya dan sekitar dua puluh orang lainnya,
“Iyah itu kan aku yang gonceng Roni..,Dia teman ku satu kampus, hehehe... dan aku yang request kamu nyanyi lagu itu, kamu cuman bilang okay terus nyanyi, ahahaha!! Wah.., Indah Indah.. kamu benar – benar nggak notice kalau itu aku yah?” Lagi Vano bertanya dengan sedikit tertawa canggung,
“Hahahaha... Iyah.. aku nggak nyadar sama sekali” Jawab Indah Jujur, sedangkan Dhino yang sejak tadi mendengar percakapan mereka berdua hanya menggeleng – gelengkan kepala sambil melihat Indah dengan menahan tawanya.
“Kamu keterlaluan Indah.., yah ampun, kayaknya kamu sekarang tambah parah dari pada kamu yang dulu, kok bisa yah??” Dhino membuat ekspresi sangat menjengkelkan dan konyol sambil terus saja menggeleng – gelangkan kepalanya,
__ADS_1
“Maafkan sahabatku ini yah Vano.., Dia memang.. ANEH...” Ucap Dhino di iringi gelak tawa,
“Duh.., iyah aku juga minta maaf yah..., aku benar – benar gak tau ahahaha!!” Indah tertawa dengan canggung,
“Sudahlah yang penting sekarang sudah tau, heheehe.., nggak masalah, minimal kamu bertanya dan to the ponit kalau pernah lihat aku, itu saja sudah syukur – syukur hehehe..” Vano berbicara sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal,
Percakapan mereka bertiga sangat hangat, dan semakin akrab, yah Indah kini seolah menjadi Indah yang lebih ceria dan dapat dengan lebih muda beradaptasi dengan orang – orang di sekitarnya, Namun tetap saja , Indah yah Indah selalu memiliki waktu yang merupakan ritualnya sendiri untuk di nikmati bersama dirinya sendiri di saat – saat tertentu, namun akhir – akhir ini rasanya Ritual itu hampir tidak pernah di lakukannya, Dia lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai seorang konselor dan tentu saja bekerja di perusahaan papanya.
Vano ternyata seorang pemuda dari golongan keluarga agamis, terhormat dan sederhana, Papanya merupakan pensiunan Tentara Angkatan Darat, sedangkan Mamanya seorang Ibu Rumah Tangga yang selalu membantu suaminya dari berjualan kue juga menerima pesanan Katering makanan, Vano memiliki tiga saudara dan merupakan anak bungsu.
Mereka bercerita dan saling menanyakan latar belakang satu sama lain, Indah yang mendengarkan latar belakang Vano tentu saja sangat menghargainya, Ketika saling bertanya akan umurnya masing – masing Indah cukup terkejut saat mengetahui jika Vano memiliki usia tujuh tahun lebih tua dari pada dirinya,
“Wah..., berarti aku harus panggil kakak dong, selisih kita jauh banget loh ahahaha!!!”
“Wah jangan panggil saja nama, Vano lebih baik, nanti kalau kakak terkesannya aku tuaaaaa... banget” ternyata Vano juga memiliki selera humor yang cukup baik.
Sambil kembali menyeruput Capucino pesanan ke tiga, Indah kembali membakar rokoknya dan menyesapnya nikmat,
“Indah.., suara kamu kan kalau aku dengar rasanya masuk sopran, apa nggak sayang kamu ngerokok..., takutnya nanti mengganggu karakter suara kamu..” Vano rasanya berbicara dengan hati – hati dan sudah meramu sebuah kalimat perhatian yang tidak menyinggung perasaan Indah,
Dhino ikut tersenyum kecil mendengarkan Vano, dan Indah juga tersenyum “Menyanyi pernah menjadi duniaku saat aku masih kecil..., saat itu aku sering sekali menyanyi lagu yang aku bawakan sendiri atau solo yah sebutannya di gereja, tapi waktu berubah, saat remaja aku juga masuk salah satu band disini dan menjadi vocal leadernya, tapi sekarang rasanya semua cuman kenangan sih, dan aku nggak punya rencana kedepannya untuk menjadi penyanyi profesional atau apapun lah itu, sekarang menyanyi hanya sekedar hobi dan cukup bisa saja hehehe...” kembali Indah menyesap asap rokoknya dan mengeluarkannya dengan menatap tajam ke arah Vano.
Kembali semua jadi hening dan sedikit canggung, “Tapi.., terima kasih untuk perhatiannya yah Vano, by the way, ini sudah malam banget aku pamit pulang dulu yah..” ucap Indah mengakhiri sesi pertemuan mereka,
“Kamu pulang naik apa? Aku antar yuk.., sini pialanya aku bawain” Tawar Dhino kepada Indah,
“Oh.. no no lah..., makasi banyak..., aku bawa mobil sendiri, thanks yah Dhin..” ucap Indah kepada Dhino dan Dhino semakin heran dengan Indah yang ada di hadapannya itu,
“Kamu uda bisa nyetir sendiri?”
“Yup!! Hehehee..” jawab Indah lalu merangkul Dhino untuk berpamitan juga tidak lupa menyalami Vano yang ada di hadapannya,
“Hati – hati Indah, sampai jumpa di lain waktu” ucap Vano tersenyum.
Tentu saja Dhino masih penasaran dengan sikap Indah, dan mengikuti Indah sampai keparkiran mobilnya, juga masih membantu Indah untuk membawa Piala dan Tas jinjing Indah.
__ADS_1
“Kamu kok sekarang berubah banyak yah? Ternyata satu tahun menghilang dapat merubah karakter seseorang yah?” Dhino kembali berbicara sambil mengikuti langkah santainya Indah yang masih saja terus menyesap rokok yang kembali di bakarnya.
“Iyah..., keadaan sih.., yang merubah dan membentuk seseorang, tapi ngomong – ngomong percuma sekali aku tadi uda peluk – peluk dan pamit sama kamu kalau ternyata kamu ngantar aku sampai sini.” Omel Indah,
“Nggak usah mengalihkan omongan deh.. kamu kenapa sih?” Tanya Dhino,
“Lah... apanya yang kenapa semua baik – baik saja, aku juga baik – baik saja kok..” Jawab Indah.., Lantas Dhino menatap lekat kepada Indah...,
“Aku rasa tidak.” Ucap Dhino sambil memberikan piala tersebut kepada pemiliknya,
“Kapan kita bisa hang out bareng nih?” tanya Indah tetap tidak ingin melanjutkan topik yang sedang di bahas Dhino,
“Kayaknya nggak bisa deh.., ini juga ketemuan karena kebetulan kan? Kalau Hang out bareng bisa – bisa aku di cakar sama pacarku,” Ucap Dhino sambil menggaruk – garuk kepalanya,
“Hahahaa!!! Maaf – maaf aku lupa kalau snow white kamu itu pencemburu tingkat dewa,"
“Iyah.. Dia ratusnya cemburu, jangankan jalan sama kamu, aku pergi sama adik dan mamaku saja dia sudah marah – marah dan cemburu Ndah..” Keluh Dhino,
“What?!! Itu udah aneh sih, tapi yah sudahlah semoga kalian bahagia” doa Indah tulus kepada Dhino lalu Indah membuka pintu mobilnya dan naik, tidak lupa dia buka jendelanya setelah menyalahkan mesin mobilnya.
“Apakah Kamu pernah bahagia bersama aku Indah?” dengan menatap sendu Dhino bertanya sambil memegang satu tangan Indah yang sedang memegang setir mobilnya, lantas Indah melepaskan pegangannya pada setir mobil tersebut dan ikut menggenggam tangan Dhino dengan pasti lalu menatap kedua manik mata Dhino,
“Tidak ada yang bisa lebih membahagiakan aku selain kamu selama beberapa bulan kita berpacaran Dhino, bahkan saat ini aku sangat bahagia kamu ada disini dan menggenggam tanganku..” mendengar Indah berbicara begitu Lantas Dhino mengecup lembut tangan Indah,
“Terima kasih..” Ucapnya dengan menarik nafasnya dengan berat, sepertinya Indah juga memiliki ruang sendiri di hatinya Dhino.
Begitu juga dengan Indah yang menyimpan nama lelaki di hadapannya pada tempat terbaik di hatinya.
---***---***---
Bersambung
halo teman2 mohon saran dan kritik yah
jangan lupa like like nya, coment dan vote nya dong teman2 semua..
__ADS_1
sambil menunggu updatan terbaru Aku adalah Indah part 3, kalian bisa baca Novel terbaru aku yang berjudul “STRONG IN BETRAYAL” yang tayang setiap hari pukul 13.00 WIB
makasi sebelumnya, dan jgn lupa Follow IG aku yah @Lizbet.lee