Aku Adalah Indah#Part 2

Aku Adalah Indah#Part 2
Episode 32


__ADS_3

Sebelum mobil Ami mendekati jalan masuk ke rumahku, Dhino kembali berbisik kepadaku "Lelaki apa yang pantas di sebut sebagai lelaki, jika bersikap dengan pacarnya saja di depan umum seolah pacarnya adalah orang asing?!" ucap Dhino singkat dan langsung membuatku ingin meledak dengan tangisan saat itu juga namun kutahan, tapi aku tau mataku sudah memerah dibuatnya, aku melihat Dhino dengan seksama, dan Dhino hanya melihat lurus kedepan tanpa menghiraukan diriku. Rasanya hatiku seperti di tusuk oleh sebuah belati tajam, setajam perkataan Dhino, tapi apa yang dikatakannya itu benar, tidak ada salahnya sama sekali, dan mengapa aku bodoh sekali.., sulit rasanya aku untuk beranjak dari hubunganku dengan Nio, Apakah aku malah hanyalah pacar simpanannya saja?? Tapi dilain sisi banyak hal yang tidak diketahui oleh sahabatku ini, bahwa Nio sudah mengenalkanku kepada semua keluarganya, Mungkin Nio tidak ingin aku disakiti oleh orang - orang yang iri dengan hubungan kami, hanya pikiran positif itu saja yang kutanamkan di benak dan hatiku.


Tanpa berpamitan dengan Dhino aku segera turun dari mobil Ami tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada sepasang kekasih yang sedang kasmaran itu.


Kata - kata Dhino terus saja mengusik hariku, namun aku berusaha untuk mengabaikan semuanya saja, dengan menyibukkan diri mengatur baju, dan beberapa dokumen yang harus kami bawa malam ini, tanpa terasa langit sudah menjadi gelap, "Indah.., sudah siap? itu Nio sudah di depan" ucap mama setelah membuka pintu kamarku tanpa mengetuk terlebih dahulu,


"Iyah ma..Indah sudah siap", lalu akupun segera bergegas keluar dan membawa semua barang - barang yang harus kami bawa, Nio terlihat membantu papa dan mamaku yang sedang mengatur beberapa barang bawaan di bagian mobil paling belakang.


Seperti biasa, Nio selalu tampan, bersih dan tentu saja harum, semua yang ada pada Nio mampu membuatku salah tingkah, entahlah mungkin kadar kegantengannya yang membuatku mabuk kepayang, Nio mengacak - acak poniku dan seketika itu juga aku tersadar dari lamunan bodohku, dengan wajah memerah aku tidak berkata apapun dan langsung saja masuk ke mobil bagian tengah, melihatku gugup Nio hanya tersenyum, dan tidak lupa berpamitan dengan mama, kamipun berangkat ke lokasi proyek papa, sepanjang jalan Nio tampak tenang, tidak terlihat lelah sama sekali, tepat pukul 10 malam kami sampai ditempat tujuan kami dan papa menyewa 3 kamar hotel, kamar buat Nio, buatku dan tentu saja kamar buat papaku.


Malam ini kami beristirahat dan akan melanjutkan hari yang panjang ke esokkan harinya.


-----***-----


Pagi ini kami sudah rapi dan berbegas ke kantor Dinas yang dimaksudkan oleh papa, dengan semua dokumen yang sudah dijilid dan siap untuk diserahkan kepada petugas Pemerintahan di kantor tersebut.


Semua urusan berjalan dengan lancar sampai siang hari, tidak lupa sebelum kembali ke Hotel kami makan siang bersama dengan teman - teman papa dari kantor Dinas tersebut, Nio terlihat bersemangat, seolah ini adalah pengalaman baru untuk Nio, dan kulihat Dia mulai belajar untuk berbaur juga memperhatikan bagaimana papaku berbicara dengan teman - teman pejabatnya, setelah menghabiskan waktu kamipun kembali kehotel untuk beristirahat, karena malam nanti kami akan pergi ke rumah salah satu Kepala Dinas setempat untuk membicarakan hal - hal teknis yang harus dilakukan untuk memperlancar pekerjaan di lapangan, terkait dengan pembebasan lahan pemerintah yang sedang digarap oleh beberapa masyarakat sekitar.


Sesampai di Hotel kami pun masuk ke kamar masing- masing, aku membaringkan tubuhku, dan hendak bersiap - siap mandi siang itu, namun selang beberapa menit kemudian pintu kamarku diketuk oleh papa, "Indah.., papa dijemput sama Om Lukman yah.., papa mau turun ke lokasi proyek sama Om lukman aja, kamu istirahat disini, Nanti habis istirahat jam 7 malam gitu jemput papa dirumahnya Bapak Kadis yah.."


"Iyah Pa.., Nanti Indah info ke Nio"


Aku pun menyahut tanda akan melakukan sesuai dengan instruksi papa, dan lekas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diriku, berpikir akan istirahat sejenak sambil bersantai. Setelah mandi aku membaringkan tubuhku, berusaha untuk tidur siang namun tetap saja aku tidak bisa tidur dengan benar.


"Apa yang sedang di lakukan Nio sekarang?" gumanku sendiri.., sambil memeluk guling dan mencoba terlelap, satu suara notifikasi mengganggu diriku yang sudah hendak terlelap, ku nyalakan layar ponselku, dan pesan singkat dari Nio masuk,


"*Lagi ngapain?" tanya Nio lewat pesan singkatnya, dan akupun membalas pesan singkat tersebut,


"Lagi baring, baru mau tidur"


"Badanku lumayan capek, bisa pijitin nggak?"

__ADS_1


"Oalah..., coba aku tanya reseptionis yah.., ada nggak disini tukang pijit panggilan."


"Nggak usah kalau gitu,"


"Kok Gitu? katanya capek?"


lalu aku menunggu beberapa menit tapi tidak ada lagi balasan pesan singkat dari Nio, akupun beranjak dari kamarku untuk menuju ke kamar Nio, dan mengetuk dengan pelan takut mengganggu Nio, Tidak ada sahutan, setelah aku hampir pergi meninggalkan pintu kamar Nio, pintu itu dibuka oleh penghuninya,


"Masuk aja" kata Nio singkat,


"Katanya capek, ditanya mau dipanggilin tukang pijit nggak mau, ditanya malah nggak di jawab" Nio masih tidak menjawab apapun, hanya baring tengkurap di tempat tidurnya,


"Nio.., Indah ngomong sama Nio loh.., " aku bingung dengan sikapnya yang tiba - tiba mendiamkanku,


"Kaki kiriku yang agak pegal," sahutnya.., dengan bingung aku memegang kaki yang dimaksud Nio,


"Yang ini?" tanyaku, dia pun mengangguk, dan aku berinisyatif untuk memijit sendiri kakinya Nio,


"Sudah Ndah..,kamu capek?" tanya Nio dan sekaligus memintaku berhenti untuk memijitnya,


Aku menggeleng dan menghentikan aktifitasku, lalu Nio memberikanku hadiah kecupan di kening dan di bibir dengan singkat,


"Yah uda.., Indah balik kesebelah yah.., Nio istirahat dulu" pamitku, dia tidak berkata apa- apa, tapi ikut beranjak dari tempat tidur, kupikir Nio akan mengantarkanku sampai pintu kamarnya namun aku salah, justru Nio mengunci pintu kamarnya dan dengan gugup aku melihat kearah Nio,


Nio mendekat dengan wajah yang sangat romantis, ada sedikit kabut di matanya, lalu dia mulai mencium lembut bibirku, dan akupun terlena dibuatnya, ciuman kami saling menyambut satu sama lain, dengan penuh kelembutan, Kukalungkan tanganku ke leher Nio, dan Nio semakin mengarahkanku ke tempat tidurnya, dan kami duduk berdua disana.


Nio sudah akan semakin jauh, namun aku menahannya, ada air mata yang jatuh di pipiku "aku tidak bisa.." dengan nafas yang tersenggal - senggal aku memintanya mengerti akan apa yang aku rasakan,


"Kenapa?" tanya Nio juga dengan tersengal - sengal dengan wajah yang terlihat frustasi..,


"Aku Takut.." lirihku

__ADS_1


"Aku sayang sama kamu, aku sudah sangat sayang sama kamu, kenapa harus takut.." jawabnya menggebu
















BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2