
Berperawakan tubuh yang terbilang kecil, dengan tinggi badan hanya seratus enam puluh dan berat badan empat puluh dua kila, serta wajah yang baby face, membuat Indah terlihat seperti anak perempuan yang masih baru duduk di bangku SMA. Semua itu membuat Indah selalu saja diremehkan oleh lawan – lawan bisnis yang ada di sekitarnya.
Indah yang pada saat pembukaan dokumen penawaran merasa ada kejanggalan dalam Sertifikat Hak Patent yang dimiliki oleh lawan bisnisnya lantas tak tinggal diam, Indah mencatat nomor patent yang ada dan memverifikasi data yang ada langsung ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual – Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Ditjen HKI-KemenhukHAM) dan Pusat Perlindungan Varietas Tanaman Departemen Pertanian (Pusat PVT-Kementan).
Ternyata setelah beberapa ditunggu – tunggu balasan email dari KemenhukHAM masuk ke alamat email Indah, di sanalah memperkuat dugaan Indah jika ada kejanggalan – kejanggalan pada dokumen yang ada.
Kini Indah harus mempertanggung jawabkan Sanggahannya dengan mengajukan bukti yang dapat menggugurkan posisi lawan yaitu Pak Joko sebagai pemenang, dan tentu saja mengambil posisi tersebut sebagai pemenang yang sah dengan cara yang adil dan jujur.
Keributan sempat terjadi, dan jika dilihat dari mimik wajah Ketua Panitia, Indah merasa jika ketua panitia itu merasa tersinggung saat Indah mengajukan sanggahan tepat saat hari pengumuman, melihat semua reaksi yang ada, Indah hanya tersenyum simpul dan tidak terlalu menanggapi ke aroganan para bapak – bapak yang ada di ruangan itu, bagi Indah..., Umur tidak menjamin kedewasaan seseorang, dan bukankah itu adalah sebuah kenyataan yang memang harus di akui?
“Iyah mohon tenang, ini kita lagi verifikasi dan konfrontir kebenaran dokumen, bukan lagi berkelahi dipasar pak yah.., silahkan duduk, nanti ada waktunya anda berbicara, sekarang adalah waktunya saya yang berbicara sebagai penengah!!” dengan tegas Pak Chris berbicara, hingga membuat Pak Joko terdiam dengan wajah merah padam.
“Baiklah Bu Indah..., karena Ibu mengatakan Sertifikat ini palsu, maka saya sebagai Pejabat Pembuat Komitmen ingin meminta bukti yang akan ibu ajukan...”
“Baiklah pak.. terima kasih atas waktu dan tempatnya..”
Tanpa memperpanjang kata, Indah membagikan sepuluh map merah, lima untuk seluruh panitia proyek, satu untuk Pejabat Pembuat Komitmen, satu untuk dirinya sendiri, dan empat untuk peserta yang lainnya.
Belum juga Indah mengatakan apa – apa, beberapa orang sudah saling bisik membisik, dan beberapa orang juga terlihat merona, bukan karena tersipu malu melainkan karena menahan amarah dalam dadanya, Indah tetap tenang, lalu setelah semuanya tenang, dan menatap Indah yang berdiri didepan dengan tatapan yang berbeda – beda, Indah melanjutkan apa yang harus disampaikannya.
__ADS_1
“Saya rasa Bapak – Bapak yaang terhormat disini sudah melihat isi dalam Map yang saya bagikan, benar adanya surat email yang saya dapatkan dari KemenhukHAM disana di cantumkan dan mereka menyatakan, bahwa Nomor Sertifikat Patent yang di verifikasi adalah nomor Patent dari perusahaan Garmen, sedangkan kita sama – sama tau, jika proyek yang saat ini sedang di perebutkan adalah pengadaan dan reboisasi tanaman Hutan Lindung, maaf..., bukan pengadaan pakaian untuk para pejabat sipil negara. Dan data ini juga sudah di verifikasi oleh pihak yang berwajib karena saya juga memasukkan tembusan kepada kepala kepolisian setempat, sebagai masyarakat yang merasa akan ada tindakan pemalsuan dokumen, bahkan sudah dilakukan..., kita juga sama – sama tau jika tindakan pidana ini akan berakibat pada kerugian negara serta masyarakat penerima manfaat dari pekerjaan yang di programkan oleh Negara.”
“Saya tidak bermaksud untuk merendahkan atau merasa lebih pintar serta lebih teliti dari para Panitia pengadaan disini, namun, jika verifikasi hanya membandingkan Sertifikat asli dan sertifikat copyan saja, saya rasa itu tidak cukup, karena percetakan ada dimana – mana, semua orang bisa mencetak sertifikat, namun hanya satu badan negara yang mencatat nomor sertifikat patent yang dikeluarkan, dalam hal ini adalah Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual – Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Ditjen HKI-KemenhukHAM) dan Pusat Perlindungan Varietas Tanaman Departemen Pertanian (Pusat PVT-Kementan).”
Semua seolah terdiam dan terhipnotis mendengar pemaparan Indah yang begitu detail, namun singkat padat dan tidak bertele – tele, sampai Indah secara blak – blakan membuat kesepakatan di depan semua orang yang ada disana.
“Bapak Joko...” Panggil Indah, dan yang dipanggil namanya langsung mengangkat wajah yang sudah memerah sambil mengatupkan bibirnya,
“Saya akan mencabut laporan saya di Polres setempat, tetapi saya minta anda tidak mengulanginya lagi, dan saya minta tolong untuk para pejabat yang berwenang, bekerjalah sesuai dengan rules yang ada, maaf tidak bermaksud menggurui, tapi bukankah tender ini untuk umum dan harusnya tidak ada permainan di belakangnya? Saya tidak tau yang selama ini terjadi, namun jika saya yang berpartisipasi dalam memperebutkan pekerjaan ini, maka saya sebagai anak ingusan tidak akan mau mengikuti budaya kolusi yang selama ini sudah berjalan.”
Indah sengaja berbicara sambil menatap tajam kepada Ketua panitia yang kini hanya menundukkan kepalanya, Indah tidak lagi ingin memperpanjang pertemuan ini, karena Indah merasa sudah cukup membuat beberapa orang tampak malu dihadapannya.
Bahasa diplomatis yang disampaikan oleh Om chris begitu sangat bijaksana, akhirnya semua membubarkan diri, termasuk Indah yang merapikan berkas – berkasnya, sementara Indah menutup tas yang akan ditentengnya datanglah ketua panitia proyek tersebut.
“Baru kali ini saya dipermalukan oleh seorang perempuan dan anak ingusan seperti anda, keputusan saya tidak mungkin salah, dan Pak Joko tetap akan menjadi pemenang proyek yang kami adakan, saya tidak takut dengan segala ancaman yang anda lontarkan didepan banyak orang, apakah saya harus mengikuti kemauan seorang anak baru kemarin seperti anda hah?! Cuiihh!!!” Indah lantas tersenyum, dan membuka kembali tas yang tadi sudah dikunci olehnya.
“Pak..., saya berani berdiri disini berbicara didepan banyak orang dengan bukti yang ada di tangan saya, saya juga tidak mengancam bapak atau siapapun yang merasa terancam dengan ucapan saya, semua saya lakukan berdasarkan prosedur yang ada Pak, namun jika bapak tidak puas, maka belum semua senjata saya keluarkan hari ini..”
“Kita butuh makan kan pak?, saya memperebutkan nasi di piring saya dengan adil dan jujur, saya tidak akan memakan sesuatu yang bukan hak saya, saya rasa harusnya saya yang banyak belajar dari Bapak yaang usianya sudah jauh dari saya, tapi mungkin Bapak sudah mengikuti Budaya yaang ada, sehingga rasa idealis bapak sudah luntur.”
__ADS_1
“KAMU!! Kurang A..!”
“Stop Pak, bicara yang sopan, anda berpendidikan? Silahkan bertingkahlah sebagai orang yang berpendidikan, kalau bapak tidak puas, mohon maaf jika ini...”ucap Indah sambil mengeluarkan Amplop Putih sedang, “Mohon maaf jika ini akan sampai ke tangan Kapolres dan Pers yang akan meliput berita ini dengan senang hati.
Lantas Pak Dodi nama ketua panitia tersebut membuka amplop itu dan seketika itu tersungkur karena sangking terkejutnya ia melihat aapa yaang ada didalamnya, Indah sebenarnya tidak ingin mengeluarkan bukti terkahir itu karena akan membuat karir seorang Dodi habis saat itu juga.
“Sekarang Bapak sudah tau kan? Saya tidak main – main dan saya bukan anak ingusan.., permisi..” Ucap Indah yang lantas pergi meninggalkan Dodi yang masih terkesiap di ruangan rapat itu seorang diri.
***
Bersambung
halo teman2 mohon saran dan kritik yah jangan lupa like like nya, coment dan vote nya dong teman2 semua..
sambil menunggu update terbaru Aku adalah Indah part 3, kalian bisa baca Novel terbaru aku yang berjudul “STRONG IN BETRAYAL” yang tayang setiap hari pukul 13.00 WIB
makasi sebelumnya,
jgn lupa Follow IG aku yah @Lizbet.lee
__ADS_1