
Perbincangan dengan Ryan melalui telepon rumah, sungguh sudah mengubah mood Indah menjadi lebih baik lagi dari biasanya, selama ini Indah sudah menutup segala akses dari dunia luar, benar – benar menutupnya!, bahkan Indah sampai mengganti nomor ponselnya, tidak ada lagi rasa penasaran jika ada suara notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya, walaupun pada akhirnya Indah sudah berkegiatan tapi dalam hatinya semua terasa flat..., rata tidak ada gelombang apapun yang mewarnai hidupnya selama satu tahun ini.
Terkesan benar – benar menutup diri dari semua kaum hawa, baru sesosok Vano saja laki – laki yang berani mendekatinya akhir - akhir ini, berkali –kali Indah bertemu dengan banyak lelaki muda pada masa pemulihan dirinya, berkali – kali pula Indah membentengi dirinya, semua itu dilakukannya untuk membuat siapa saja tidak dapat menggapainya, dan itu cukup berhasil membuat beberapa lelaki yang hendak mendekatinya langsung bertolak mundur dengan teratur.
Kini benteng tersebut sempat dirasakan oleh Vano yang ingin mencoba menyentuh hati Indah, namun lagi – lagi bahkan sampai mengatakan bahwa apa yang di lakukan oleh Vano adalah trik murahan ‘kaum mereka’, walaupun pada akhirnya Indah berdamai dan memberikan sedikit akses bagi Vano sebagai seorang teman biasa.
Indah memaafkan Vano juga memikirkan berbagai macam faktor dan tentu saja faktor utamanya adalah kemungkinan yang bisa di katakan nol persen untuk bisa jatuh cinta dengan sosok Vano. Itu mustahil!
Namun rasanya Dewi cinta sedang menggelitik hati Indah lewat suara Ryan yang terus saja menggema di telinga Indah walau sedang menikmati alunan musik dan lagu dari CD yang di berikan oleh Vano. Yah.., kini Indah sedang senyum – senyum sendiri membayangkan besok akan bertemu dengan Ryan, Indah malah berpikir, seperti apa penampilan Ryan?
Apakah waktu satu tahun mampu membuat Ryan terlihat lebih tampan? Sungguh pikiran yang memalukan! Indah memang seorang perempuan yang selalu lemah dengan kharisma lelaki – lelaki tampan tentu saja lelaki yang masuk kategori tipe nya.
Seluruh penghuni kantor juga beberapa relawan termasuk Vano menatap Indah dengan pandangan kagum, bagaimana tidak kali Indah berpakaian lebih casual dan menarik, tidak seperti biasanya yang terlihat semi formal, kali ini Indah berpakaian benar – benar seperti usianya, dengan celana Jins yang robek di bagian depan, baju ketat berwarna hitam dengan lengan sampai dibatas siku, leher baju yang tinggi, Indah juga menggunakan anting – anting fashion yang panjang, serta kalung rantai sederhana bergelantung liontin salib polos, juga rambut yang kini berubah menjadi lebih pendek berbentuk asimetris, sepatu boots hitam serta tas ransel yang hanya di gantung pada bagian kiri lengan membuat Indah seakan sedang Fashion show berjalan ke dalam kantornya.
“Apa ada yang salah?” tanya Indah berhenti di ruangan tengah kantor, karena melihat mereka semua melongo melihat Indah dan tidak beraktifitas apapun, sontak semuanya kalang kabut apalagi adik – adik mahasiswa yang tidak dapat menguasai diri,
“Kapan kamu potong rambut?” Tanya Tomy yang mendekat dan memegang rambut Indah yang sudah lebih pendek dari kemarin, rambutnya juga bagaikan rambut model yang akan menjalani syuting iklan sampo atau vitamin rambut, Halus dan wangi!
“Tadi sebelum ke sini hehehe..” jawab Indah tertawa,
“Aku kira tadi siapa yang datang, baru kali ini kan lihat kamu pakai baju kayak gini, hehehe..., wah... kalau gini aku putusin saja pacarku” Goda Tomy,
“Emangnya aku mau sama kamu?” ucap Indah sontak membuat semua yang mendengar ikut tertawa.
“Cantik.” Satu kata pujian terucap dari Vano, membuat siapa saja menahan senyum, termasuk Roni dan Rika yang ada di sana.
“Thanks” ucap Indah sambil berlalu begitu saja masuk ke kantornya,
Semua pekerjaan di kerjakan dengan baik oleh Indah, untung saja ruangan kantor Indah adalah ruangan ber AC, Sehingga tetap dapat membuat penampilannya stabil dan Indah memoles sedikit bibirnya dengan lips gloss merah tua, dan mempertegas garis matanya agar terlihat lebih fresh.
Ketika jam dinding menunjukkan pukul setengah enam sore Indah merasakan dadanya bergemuruh, ada perasaan gerogi untuk bertemu lagi dengan Ryan, wah.., benar – benar kali ini hati Indah sedang menjadi sasaran empuk cupid yang sedang berterbangan di sekeliling Indah.
Suara deru mobil terdengar tiga puluh menit kemudian, Indah langsung keluar kantor untuk menemui jemputannya, tentu saja sebuah mobil Suzuki Escudo Silver terbaru sedang berhenti di lobi kantor, dan tampak seorang lelaki tampan, klimis, dan entahlah.. Ah... hati indah terporak – poranda..., tak mampu menahan senyum lebar di bibirnya, dengan semangat namun tetap berusaha tenang Indah menghampiri lelaki tersebut setelah saling melambaikan tangan.
Ternyata bukan hanya Indah yaang terpana melihat lelaki yang menjemputnya, para relawan yang merupakan mahasiswi – mahasiswi juga terpana dan beberapa orang bagaikan cacing kepanasan berusaha mencari perhatian lelaki yang tampak sangat tenang, dan sempurna ini.
Itulah kelemahan Indah.., lelaki tampan, pintar, cool dan seorang musisi.., Ah.. Author juga lemah sama tipenya Indah hahaha!!!,
“Hai...,” Tegur Ryan dengan tenang lalu merangkul Indah, dan mengecup pipi Indah di hadapan semua orang,
“Hai..,” balas Indah merasa malu namun bahagia dengan bagaimana Ryan memperlakukannya di hadapan banyak orang, sontak para teman dekat Indah Roni dan Tomy langsung saja menggoda Indah,
__ADS_1
“Suit.. suittt!!” kelakar mereka,
“Aku pamit dulu yah gaes...” pamit Indah kepada semua yang ada di sana,
“Hati – hati yah..., byeee!!” balas mereka
ramai – ramai, dengan langkah Gentle Ryan membukakan pintu mobil untuk Indah, Ryan memperlakukan Indah like a queen di hadapan banyak orang saat itu, barulah ia memasuki mobilnya, terlihat sosok Vano sedang merokok hanya menatap kepergian Indah dan Ryan tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Fix..!!Vano jelas ada perasaan yang lebih kepada Indah.
Harum..., itu adalah kesan pertama saat Indah masuk Mobil Ryan, yang tercium di dalam mobil adalah wangi Citrus mint pilihan Ryan sungguh elegan, terlihat juga wajahnya lebih tegas dari pada satu tahun lalu, dengan kulit yang masih putih dan selalu terlihat bersih, Indah juga merasa jika Ryan lebih tinggi dari pada sebelumnya.
“Kita kemana?” tanya Indah akhirnya memecahkan keheningan antara mereka berdua,
“Ke restoran yah.., habis makan malam berdua baru kita ketemu teman – teman aku yang lagi ada di studio, kalau kamu mau..” Jawab Ryan dan tersenyum manis saat menoleh kearah Indah, Oh God!! Lesung pipi Ryan semakin menambah kadar ganteng dan manis bagi Indah,
Rasanya saat itu Indah ingin berteriak “GILAA!!! KAMU GANTENGGG RYAAANN!!” tapi tentu saja itu semua hanya angan - angan belaka dengan perasaan yang ditahannya, dan hanya bisa berteriak dalam hati.
Sebuah Restauran mewah di ujung tebing menjadi pilihan Ryan, melihat pakaian Indah yang cukup ketat berbahan cotton Ryan memiliki Inisiatif untuk melepas jaketnya dan memakaikannya kepada Indah, suasana di sana cukup ramai dengan pasangan muda mudi juga beberapa keluarga - keluarga kecil dan besar yang menghabiskan malam mereka menikmati santapan seafood di restauran pinggir tebing.
“Terima Kasih Ryan.., aku nggak apa – apa kok.., kamu pakai saja jaket kamu, aku nggak kedinginan kok..” Indah mengembalikan jaketnya Ryan, namun tentu saja Ryan menolaknya,
“Walaupun tidak dingin bagimu, tapi nanti banyak yang lihat pakaianmu Indah..” dengus Ryan sambil menatap beberapa pasang mata yang langsung menunduk malu karena ketahuan menatap Indah,
“Hah? Ada apa dengan pakaianku.. ini sopan loh..” bisik Indah sambil terus berjalan dengan di gandeng mesra oleh Ryan,
“Apakah kamu juga begitu?” tanya Indah polos sambil menatap Ryan dengan perasaan malu,
Ryan hanya menganggukkan kepalanya dengan frustasi “Iyah begitulah..., tapi aku tidak akan aneh – aneh, tenang saja..” jawab Ryan kembali menutup Jaketnya agar benar – benar melindungi Indah dari dinginnya angin malam dan tatapan – tatapan kaum adam.
“Thanks..” ucap Indah merasa malu, Wah bagaimana tidak malu, pantas saja sepanjang perjalanan Ryan tidak terlalu mengajak Indah berbicara dan fokus menatap kedepan jalan sekalipun saat mobil berhenti di perempatan traffic light.
Percuma saja dia sudah berdandan all out ternyata itu tidak membuat serta merta Ryan kagum dengannya, yang ada kini Indah memakai Jaket kebesaran milik Ryan sambil memesan makanan yaang tersedia pada buku menu.
“Kenapa kok sekarang kamu memperhatikan cara aku berpakaian Ryan, tidak biasanya kan kamu kayak gink?” tanya Indah,
“Iyahh..., mungkin karena satu tahun ini cukup membuat aku lebih.. entahlah.. lebih apa ahahaha!!”
“Maksudnya kenapa baru sekarang? Bukankah dulu aku malah sering pakai baju tanpa lengan tapi kamu biasa saja..” tanya Indah penasaran.
“Yah dulu kamu pacarnya Nio, dan mungkin Nio suka dengan penampilanmu, tapi sekarang kamu jomblo dan sedang berjalan denganku, kalau ada yang mengganggu kamu tentu saja aku tidak akan tinggal diam, dari pada aku pulang dengan wajah lebam lebam dan babak belur atau tangan yang harus di kompres karena habis meninju orang, alangkah baiknya aku mencegahnya bukan?” terang Ryan yang didengar Indah dengan seksama.
“Oh..., iyah juga sih..., makasih yah.. aku gak kepikiran sampai ke sana Ryan...hehehe..”
__ADS_1
“Nggak apa – apa..., tapi kamu cantik kok malam ini, tadi pas kamu keluar dari kantormu, aku...”
“Kamu kenapa?”
“Yaah aku gerogi ahahaha!!” Indah juga ikut tertawa bersama - sama dengan Ryan.
“Nggak nyangka aku bisa ditelpon kamu kemarin Ryan.., aku kira yah Udah aku pulang yah pulang aja,”
“Aku juga sudah hubungi kamu sejak tiga bulan kamu pergi, tapi kamu tidak ada di rumah, dan beberapa kali aku mampir ke rumahmu juga katanya belum pulang, berkali – kali telpon ke ponselmu juga yang ada Mbak vero yang ngomong di balik gagang ponsel ku, ternyata kamu ini orangnya cukup misterius yah Indah..”
“Ah.. tidak juga, aku hanya lagi menenangkan diri saja..” jawab Indah,
“Butuh setahun yah? Kalau aku butuh tiga bulan” Ryan lantas menceritakan bagaimana hubungannya dengan kekasihnya berakhir, namun Indah tetap menyimpan rapat masalahnya dan tidak ingin bahkan tidak ada niatan untuk membuka luka lama, berbeda dengan Ryan yang tampaknya sudah bisa berdamai dengan dirinya sendiri.
“Lantas sekarang kegiatan kamu di yayasan itu apakah juga hanya untuk pelampiasan mengisi waktu?” tanya Ryan,
“Iyah.. begitulah, pekerjaanku kan tidak setiap saat Ryan, jadi sebelum proyek dan sesudah proyek yah aku habiskan waktuku di sana.”
“Lalu bagaimana Dengan tawaran ngeband bareng?” tanya Ryan lagi,
“Rasanya aku harus jauh dari perhatian orang dulu deh..” Indah menolak secara halus,
“Yah...yah... kamu ingin jauh dari perhatian orang tapi kamu masuk koran sebagai runner up duta HIV dan AIDS bahkan hadiah yang kamu terima dri yayasan juga Unicef terbilang wooww!!”
“Hahahaha!!! Yah itu.., adalah bentuk perhatian terkahir yang aku butuhkan, padahal targetku sebenarnya untuk menjadi yang nomor satu, untuk melancarkan program kerjaku, tapi aku hanya runner up, dan program kerjaku hanya menjadi program kerja cadangan saja yang bisa di masukkan pada event – event yang kan mereka lakukan.” Ryan mendengar dengan seksama semua rencana Indah dan sampailah mereka pada titik kehabisan bahan untuk bercerita satu sama lain.
Mereka hanya menikmati makanan yang tersaji di depan mereka dengan diam, sampai akhirnya Ryan menarik Nafas frustasi sambil menatap Indah, dan sesekali meminum air putih di gelasnya, seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi terasa sangat berat, dan seperti itu terus sampai akhirnya berakhir acara makan malam mereka, kini mereka sudah kembali ke mobil, namun sebelum Ryan menyalahkan mesinnya,
“Aku rasa aku tidak ingin membawamu bertemu teman – temanku..” tiba-tiba Ryan mengubah rencananya,
“Loh.. kenapa?” tanya Indah,
“Aku.. Aku.., Apakah akan lebih baik jika kita jadi sepasang kekasih saja Indah?”
---***---***---
Bersambung
halo teman2 mohon saran dan kritik yah jangan lupa like like nya, coment dan vote nya dong teman2 semua..
sambil menunggu update terbaru Aku adalah Indah part 3, kalian bisa baca Novel terbaru aku yang berjudul “STRONG IN BETRAYAL” yang tayang setiap hari pukul 13.00 WIB
__ADS_1
makasi sebelumnya, dan jgn lupa Follow IG aku yah @Lizbet.lee