Aku Adalah Indah#Part 2

Aku Adalah Indah#Part 2
Episode 42


__ADS_3

Tidak mungkin anak usia enam tahun mau bohong, lagi pula semua apa yang disampaikan Paula seolah itu semua hanya spontanitas anak kecil yang masih polos batinku,


"Tante...,Tante...!! kok melamun?" tanya Paula,


"Tante nggak melamun sayang, nanti kalau tante Risa datang ke sini lagi cerita yah sama Tante Indah, tapi ini rahasia kita berdua, jangan sampai ada yang tau, okay?" tanyaku sedikit ragu kepada Paula,


"Okay Tante..!!!" teriak Paula dengan semangat, berbeda dengan diriku.., lututku langsung lemas, tapi aku tetap harus menguasai diriku, untuk tidak terlihat kecewa dihadapan keluarga Nio, aku yakin mereka juga tau siapa saja yang datang ke rumah ini, Namun mereka pasti memilih untuk menjaga privasi Nio.


Rasa sakit hati menyelimuti hati dan pikiranku, ingin segera mengakhiri hubungan ini namun masih belum sanggup, aku takut belum mampu kehilangan Nio, berbeda dengan saat Nio kepergok jalan berdua sama - sama Ayu, disaat itu aku merasa mapan dengan meninggalkan Nio, namun tidak kali ini,


Dendam dan keinginan untuk membalas sempat terbesit di pikiranku, namun aku tidak tau apakah aku sanggup? sedangkan rasanya aku ingin mencari tempat bersandar yang baru untuk mencurahkan segala kekecewaan dan rasa sakit hatiku. Hingga aku memutuskan untuk pulang, dan kembali termenung sendiri di kamar tidurku, aku merasa galau yang berkepanjangan.


Beberapa hari aku ke kampus dengan wajah murung dan tidak ceria dari biasanya, aku lebih banyak menghabiskan waktuku di perpustakaan sendiri, membaca buku - buku yang aku tidak tau mengapa aku memilih buku - buku filsafat yang bukan merupakan jurusan kuliahku, tapi aku merasa tenang dengan membaca,


Aku mencoba mengabaikan sikap Nio, yang jarang menghubungiku, berusaha untuk tidak menghubunginya duluan, tapi ketika dia menghubungi lewat pesan singkat aku akan membalas dengan biasa saja, tidak ada ajakan - ajakan untuk jalan - jalan lagi yang seperti biasa aku lakukan, dan terang saja dia semakin bebas di luar sana. Walaupun kami masih keluar kencan berdua setiap minggu, namun ada yang hambar dalam hubungan kami.


Semua berjalan sekitar dua bulan kehambaran dalam diriku menguasaiku, hingga suatu kali aku menunggu angkutan umum untuk pulang kerumah sendirian di kampus, karena teman - temanku sudah pulang semuanya, hanya tinggal aku sendiri yang masih di kampus karena menghabiskan waktu membaca sampai disuruh pulang sama Bu Ara,


"Indah... Ibu sudah menunda menutup perpustakaan ini dari 1 jam yang lalu, namun Ibu lihat bok*ngmu masih saja lengket di kursi itu" ucap Bu Ara,


"Hehehee.., Harus di tutup yah bu?" jawabku bodoh,


"Yah Nak.., basok baru kamu lanjutkan lagi yah.., atau kamu mau membawa pulang buku itu nak?" tawar bu Ara dengan ramah,


"Biar disini saja bukunya bu.., rasanya lebih nikmat membaca di Perpustakaan ini, dari pada di rumah, nanti Indah takut malah tidak mengerjakan tugas kampus karena membaca buku ini bu" jawabku sambil menaruh buku kembali pada Rak di mana tadi aku mengambilnya.


Setelah melihat Bu Ara pergi dengan mobil meninggalkan kampus, aku berjalan kedepan gerbang Kampusku, aku merasa sendiri sampai hujan gerimis mulai membasahi diriku,

__ADS_1


"Ngapain kamu nunggu bemo hujan - hujan gini?"


Seketika aku menoleh ke arah suara itu,


"Kalau di dalam atau berteduh nanti nggak dapat bemo" sahutku..


"Memangnya kamu senang hujan - hujan gini?" tanya nya sekali lagi,


"Yah..., untuk saat ini aku rasanya ingin hujan - hujan saja," jawabku asal,


"Mana ada Bemo yang ngangkut orang basah kuyup" sungguh menyebalkan batinku,


"Kan gerimis gak bikin Basah kuyup, paling juga lembab - lembab doang" jawabku


"Ayo aku antar pulang saja.., suka hujan - hujan kan? kalau suka berarti nggak usa nunggu Bemo, naik Motor aja." Ajaknya sambil menggandengku tanpa menghiraukan jawabanku,


"Iyah..., ini kan arah ke rumahku, kamu ganti bajunya adikku dulu, nnti hujan reda baru kita pulang" jawab Dhino santai,


"Kamu beberapa bulan ini rajin banget ke Perpus," lanjutnya,


"Iyah.., lagi ketagihan ke Perpus aja, " jawabku,


"Oh.., tapi kenapa tiap ke kampus kayak mayat hidup gitu" ejeknya


"Nggak lah.., orang biasa - biasa aja kok" sahutku lagi,


"Tapi kan nggk biasanya Indah murung..., ada masalah apa to?" tanya Dhino,

__ADS_1


"Rumahmu masih jauh nggk?" tanyaku mengalihkan pembicaraan,


"Ini uda mau sampai" jawab Dhino, di sebelah rumah Dhino ada rumah Alan teman sekelasku yang lainnya, "Mau main di tempat Alan nggk?" tanya Dhino,


"Nggak lah.., aku di tempatmu saja" jawabku


Sesampainya di rumah ternyata tidak ada orang sama sekali, lalu aku lihat Dhino sedang menelpon, dan setelah itu dia masuk kekamar serta keluar kamar membawakanku baju kaos dan celana pendek,


"Ini ganti dulu, tadi aku telpon papaku, ternyata mereka lagi pergi semua sampai malam, ada acara keluarga, kamu ganti aja di kamarku, atau di kamar mandi" jawabnya sambil menyalahkan rokok di tangannya,


"Kamu nggk ganti baju juga?" tanyaku,


"Mau ganti baju bareng?" lagi menyahut tanpa akhlak.


"Menyebalkan!!" jawabku, dan di balas dengan kekehan oleh Dhino,







__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2