Aku Adalah Indah#Part 2

Aku Adalah Indah#Part 2
Episode 49


__ADS_3

Sesampai di rumahku, aku mandi membersihkan diriku dalam diam, airmataku ikut jatuh bersamaan dengan shower yang mengalir seperti hujan, sambil berpikir "Jika diluar sana Nio bisa mencari kepuasan dan kebahagiaannya sendiri dengan sangat egoisnya, mengapa aku harus menutup hatiku untuk laki - laki lain diluar sana, yang mungkin saja mereka jauh lebih baik dari Nio, atau bahkan justru mereka yang diluar sana itulah  pelabuhan terakhir untukku." gumanku dengan juga egois.


Aku memutuskan untuk bisa tegar dengan memilih sebuah jalan yang tak lazim, yaitu mencari pelarian dengan berbohong aku ingin mendapatkan tempat yang nyaman, karena jujur saja aku masih belum siap untuk benar - benar harus melepaskan Nio, aku tidak mau hanya menjadi budak *** bagi Nio, aku juga ingin dicintai dan di hargai dengan cara yang lazim seperti para wanita pada umunya.


Aku sedikit berdandan hari ini, entahlah untuk apa, aku sendiri tidak tau mengapa, padahal hari ini aku hanya tinggal di rumah saja, setelah menghabiskan waktu seharian dengan mendengarkan music dan mengerjakan tugas Kuliah aku menunggu kedatangan Dhino ke rumahku bersama dengan Ami dan Nita, sudah ku siapkan camilan buat mereka bertiga, namun sampai jam sembilan malam tidak ada satupun temanku yang berkunjung ke rumahku, sampai ketika aku hendak masuk ke rumah, suara motor memasuki halaman pekarangan rumahku.


Tidak terlihat Ami dan Nita, hanya ada Dhino,


"Dhin..., sendirian?" tanyaku sama Dhino,


"Iyah, Sialan mereka berdua, kita jalannya sama - sama pas sampai di trafic light perempatan dibawah mereka berdua malah ngilang, ini malah sms ngabari kalau lagi dinner berdua" sungut Dhino, aku tertawa menanggapi omelan Dhino, "Kamu nggak ikutan pacaran kayak Nita dan Ami tuh Ndah?" lanjut Dhino,


"Nggak lah.., pacar aja aku nggak punya kok" jawabku asal,


"Loh?! kamu serius? uda putus sama anak hukum itu?" tanya Dhino penuh dengan selidik,


"Iyah lah serius, aku aja mau cari pacar nih sekarang, bentar lagi mau tebar pesona sama Ryan atau aku bakalan jalan kali sama Reno ahahahaa!!" gurau bohongku, yang di balas dengan senyuman oleh Dhino,


"Ryan yang pendek itu? " jawab Dhino,


"Iyah pendek, tapi naikkannya Escudo Silver yah.., kalau pacaran aku nggak perlu pinjam mobil papaku atau mobil papanya Ryan kan?" jawabku sambil mengejek Dhino,


"Oh.., uda mulai belajar Matre yah?" ejek Dhino kepadaku,


"Bukan Matre, tapi realistis yah Dhin" jawabku tidak serius,

__ADS_1


"Kalau anaknya Pegawai Negeri Sipil yang PDKT sama kamu, kamu mau nggk?" tanya Dhino,


"Yah tergantung, orangnya kayak gimana" jawabku sambil ngemil camilan di hdapanku yang sudah aku siapkan buat kami berempat, namun kini di meja ruang tamu hanya ada aku dan Dhino malam itu,


"Kalau orangnya kayak aku? mau nggak?" tanya Dhino sambil guyonan,


"Kayak kamu? ehmmmm sepertinya aku akan nggak mau" jawabku lalu menjulurkan lidahku sama Dhino,


"Oh.. yah uda.." ucapnya dengan muka yang berubah menjadi lain, dalam hatiku sepertinya Dhino menganggap gurauanku dengan serius,


"Nggak mau Nolak maksudnya Dhin.., aku kan cuman guyonan, gitu aja ngambek, kamu itu baik, ramah, pintar, cakep, mana mungkinlah perempuan bakal nolak kamu" aku berusaha menghibur Dhino,


"Aku juga cuman guyon kok" jawab Dhino, "Oh iyah.., ada yang mau bicarakan sama kamu, tapi ini serius banget loh" lanjut Dhino,


"Ada apa Dhin?" tanyaku,


"Aduh.., kasihan banget, Dhin.., aku yakin orang tuaku pasti akan setuju kalau Pace tinggal dirumahku aja, biar dia tidur di kamar belakanng rumahku, disana kan kosong Dhin, kalau soal makan minum aku yakin papa mamaku pasti bakal nolong Pace, kita urunan untuk bantu Pace bayar uang semester aja, gimana menurut kamu?" usulku kepada Dhino,


"Kamu yakin? papa mama kamu nggak keberatan Pace disini Ndah?" tanya Dhino kurang yakin,


"Aku jamin Dhin, papa mamaku nggak mungkin menolak menolong Pace, karena hal - hal seperti ini sepertinya sudah menjadi tradisi keluargaku, orang tuaku terbiasa punya banyak anak angkat Dhin" jawabku dengan yakin,


"Terima kasih yah Indah, besok aku bakl info keteman - teman sekelas yang sudah tau masalah ini" Dhino terlihat sumringah mendengar tanggapanku,


"Kamu dandan yah?" tiba - tiba Dhino bertanya sambil menatapku dengan serius,

__ADS_1


"Iyah, aku kira kalian rame - rame bakalan datang dan ngajak aku jalan - jalan cari angin, ternyata kita malah nggak kemana - mana" ujarku lagi - lagi bohong,


"Oalah, aku kira kamu dandan karena memang mau nunggu aku" Goda Dhino kepadaku, hatiku senang dengan percakpan sederhana kami, aku semakin nyaman dengan Dhino, ada rasa egois, ingin menjadi lebih dari sahabat itulah yang ada di otakku sekarang, tapi aku tetap akan menahan keinginan jahatku ini, mengingat aku sudah berbohong tentang keadaanku sekarang sama Dhino, alangkah baiknya Dhino tidak tau kalau aku ada rasa ingin menjadikannya sandaranku untuk sementara.












__ADS_1



Bersambung


__ADS_2