Aku Adalah Indah#Part 2

Aku Adalah Indah#Part 2
episode 7


__ADS_3

Tanpa menjawab aku hanya tersenyum dan menegur semua yang duduk di meja makan itu, Baru saja aku berdiri di depan trotoar menunggu mobil angkutan yang menuju kearah rumah, ponselku berdering


"Halo.." ucapku singkat, aku tau siapa di balik telpon ini,


"Jangan pulang terlalu malam.. kita akan keluar jam tujuh malam, kita sudah janjian kan?" ucap Nio


"Iyah.. kita lihat nanti.., " jawabku dengan nada malas, bagaimana tidak? Dia berlagak seolah - olah kami hanyalah orang asing, lalu di saat sekarang ketika tidak ada siapapun dan hanya satelit telpon seluler barulah Nio berlagak seolah - olah sedang mengejar ku. Rasa Kesal melingkupi hatiku.


"Aku tetap jemput jam tujuh tenggg!" kembali Nio berbicara menegaskan jika Dia tidak suka di tolak atau bahkan tidak suka dengan jawaban yang tidak pasti.


Malas dengan beragumentasi, tanpa menjawab aku langsung mematikan ponselku secara sepihak, "Oh... Tuhan aku butuh Pantai..." guman ku sendiri masih menunggu mobil angkutan umum yang akan membawaku kembali ke rumah.


Mobil angkutan umum berlalu lalang silih berganti, musik berdentum kuat seakan diskotik berjalan yang sedang bersiap mengantarkan ku di tempat perhentian, Aku teringat kembali kenangan akan manisnya hubunganku dengan Kak Mathew, di mana Kak Mathew akan selalu bersikap manis jika berada di tempat umum, Dia selalu memperlakukanku dengan baik, tidak malu menggandeng tanganku, tidak malu untuk kemana - mana berdua layaknya orang normal yang sedang memadu kasih.


Apa yang manis ternyata bisa menjadi sesuai yang hambar, bahkan pahit, tidak akan ada hubungan yang sempurna, beralih dari satu ke satu pria yang berbeda, masing - masing juga memiliki karakter yang berbeda, perasaan sesak selalu melanda ku, pikiranku suka kacau oleh karena prasangka dan kenangan manis maupun kenangan buruk yang sudah tercoret dalam lembar buku kehidupanku, dan semuanya itu tidaklah mudah untuk di atasi oleh seorang anak remaja seperti diriku saat itu.


Niatku ingin rebahan dirumah aku batalkan, "Aku rindu kamu kak Mathew..., kamu tidak akan memperlakukanku sebagai orang asing jika kita bertemu secara tidak sengaja" Air mataku terjatuh, aku mengambil sebulir air mata itu dan melihatnya dengan seksama "ternyata mata ini masih bisa basah ketika aku mengingat kamu kak..." lirihku menahan rasa ngilu di dada.


Aku mencegat salah satu mobil yang berlawanan arah dengan rumah ku, mengingat aku berpamitan akan bertemu sahabatku (yang ternyata itu hanyalah karangan ku belaka) aku tidak ambil perduli ketika mama dan semua orang di meja yang sama itu menatapku curiga, yang aku inginkan saat ini hanyalah pergi menjauh dari semua orang, tanpa harus di ganggu dan terganggu oleh orang - orang sekitar yang membuatku merasa gagal menjadi manusia yang hidup di dunia ini.


Sesampai di pantai yang biasa aku datangi berdua dengan Mathew, aku duduk menatap ke arah laut, suara deburan ombak terdengar jelas bagaikan deburan kehidupan yang sedang di hadapi, kita hanya tinggal memilih menjadi batu karang yang berdiri tegap tidak berpindah sekalipun merasakan sakitnya di hantam setiap saat, atau memilih menjadi perahu uang berlayar di atas ombak melewati badai di saat - saat tertentu, namun memiliki sebuah tujuan yang pasti untuk berlabuh,


Mataku terpejam merasakan angin pantai yang terus bertiup menerpa wajahku, tidak henti - hentinya membuat rambutku berterbangan tak menentu arah, Aku menarik nafas sedalam - dalamnya untuk menghirup bau pantai yang sangat aku gemari, sesekali aku merasakan adanya percikkan air ombak yang sedikit mendarat di kulit wajahku, semua ini terasa sangat menyesakkan,

__ADS_1


Aku berpikir jika aku keras kepala dan menjadi Batu karang saja, maka lama - kelamaan aku akan terkikis habis oleh air ombak yang terus menghantam setiap saat, Namun jika aku menjadi perahu yang mengarungi dan berasa di atas ombak juga tidak memberikan aku jaminan akan sampai ke tempat tujuan dengan selamat, bisa saja badai menghantam dan membuat perahuku terbalik, tapi .. jika menjadi perahu bisa saja terus berusaha untuk mendekati arah tujuan dengan segala tantangan yang ada, dari pada menjadi batu karang yang tidak berbuat apa - apa dan hanya diam ditempat?


Aaahh... ketika aku membuka kedua mataku aku berpikir untuk menjadi perahu saja sambil tersenyum walaupun suasana hatiku saat ini sedang kacau tapi aku sudah bertekad untuk berusaha mencapai ke arah tujuanku, yaitu pelabuhan terakhir dimana aku akan mengikat tali perahuku dan berlabuh...


---***---


"Indah!! sudah siap belum" panggil mama sambil mengetuk pintu.., aku mendengar suara sepeda motor baru saja terparkir di depan rumahku.. dan aku tau si pengendara motor tersebut.


"Indah masih pakai baju ma..." padahal aku sudah siap memakai baju dengan lengkal, berdandan minimalis, dengan tas selempang terlingkar di bahuku, tapi biarlah sejenak aku memilih rebahan dulu,


"Okay..., Nio baru saja datang" ucap mama dari balik pintu kamarku, "cepetan jangan buat orang menunggu lama, itu tidak baik Indah" lagi Mama mengingatkan ku untuk segera bergegas.


"Iyah ma.. mama temani aja dulu yah.. " sahutku, tanpa menjawab apapun aku mendengar langkah kaki menjauh, dan suara dari Nio maupun mamaku yang saling menyapa satu sama lain.


Bukannya mendengarkan lagu cinta, aku malah mendengarkan lagu patah hati, sungguh perasaan yang aneh.., ketika kamu memulai suatu hubungan dengan seseorang, tapi kamu memulainya dengan bayang - bayang masa lalu, dan memulai tanpa ada rasa cinta, baru aku sadari, wajah tampan seseorang tidak akan mampu membalikan hati seseorang untuk mencintainya.


"Indah!!, sudah belum?" panggil mama.. yang sedang mengganggu rutial hatiku,


Tanpa menjawab pula aku membuka pintu kamarku,


"Yah Tuhan Indah.., rambutmu belum rapi, sini mama benerin," tarik mama ke dalam dan mendudukkan ku di pinggir tempat tidur serta merapikan rambutku yang berantakan.


"Okay.. gini baru cantik" ucap mama.. "uda sana, Nio uda nunggu"

__ADS_1


Kami pun berjalan ke ruang tamu bersama - sama, "Hai Indah" sambut Nio, dengan mata yang berbinar - binar, sikap yang sangat bertolak belakang dengan sikapnya tadi siang di kampus,


"Hai.." jawabku sambil memberikan senyum tipis,


"Tante, Nio pamit mau ngajak Indah keluar" pamit Nio,


"Okay.. hati - hati yah.." jawab mama,


Dalam Perjalanan kami diam seribu bahasa, tidak ada percakapan sama sekali, sampai... motor itu di parkir kan di salah satu taman, gelap gulita, namun penuh dengan banyak motor yang juga terparkir di sana, ini adalah pertama kali nya aku di ajak berpacaran di tempat yang gelap dan tidak ada hiburan apapun, selain pantai yang sedang surut dan pemandangan bagan bagan ikan yang mengapung di tengah laut.


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


bersambung


__ADS_2