Aku Adalah Indah#Part 2

Aku Adalah Indah#Part 2
AaI#3. BAB.30 – GENCATAN SENJATA


__ADS_3

Indah yang memang dasarnya suka over thinking, kini memikirkan segala hal yang baru saja terjadi, mulai dari saat tak dapat menahan tangis di atas angkutan umum, hingga membuat seorang lelaki asing iba dengan memberinya selembar tisue, dan kini sebuah kalimat yang meneduhkan sekaligus menohok terlontar dari bibir Dhino.


"Jika bukan Aku..., Dia yang akan datang adalah yang terbaik untukmu... sekarang sudah hampir subuh, Aku antar pulang yah... ojek mu sudah Aku kasih uang tadi, Aku tidak mungkin membiarkan Kamu pulang tengah malam sendiri dengan orang asing..." ajak Dhino sambil tersenyum ramah,


Tak dapat memikirkan kata – kata yang layak untuk di ucapkan lagi selain ungkapan terima kasihnya kepada sang sahabat sekaligus mantan kekasih yang pernah di sia – siakannya.


"Terima kasih yah Dhin..."


"Iyah sama - sama..., yuk pulang... uda kenyang, uda tenang juga kan Kamu Ndah?" Lagi sebuah perhatian lebih selalu saja Dhino berikan kepada Indah,


"Iyah Dhin.. yuk..." sambil melepaskan jaket kulitnya Dhino merengkuh pundak Indah dan memakaikan Jaket tersebut agar Indah merasa hangat, dalam hati Indah sebuah ucapan syukur ketika bertemu dengan Dhino, yang masih menganggapnya sebagai saudara dan sahabat, jika tadi Dhino tidak ada, bisa di pastikan Indah masih berkutat dengan pikiran dan masalah hatinya sendiri.


Selama dalam perjalanan Dhino selalu mencoba menghibur Indah dengan kelakar – kelakar dan mengenang masa – masa kuliah mereka dahulu, Indah merasa terhibur malam ini, sesampainya di depan rumah sekali lagi Dhino mengingatkan agar Indah harus bisa lebih tenang dalam bertindak dan tentu saja dapat mengontrol segala emosinya, Indah menerima semua warning positif dari sahabat lamanya.


“Habis ini aku janji bakal kirim pesan ke kamu, biar kamu bisa safe nomorku yah Dhin..” Ucap Indah sebelum Dhino memutar motornya untuk pulang,


“Syukurlah, kamu nggak kirim pesan juga nggak apa – apa, paling kalo kamu butuh Aku, alam yang akan mempertemukan kita” jawab Dhino sembari nyengir,


“Kamu ini mahasiswa ekonomi apa mahasiswa filsafat to? Kok kata – kata kamu uda sekelas kata – kata para filsuf aja..” kekeh Indah,


“Gimana yah Ndah..., orang yang habis putus cinta dan bertemu mantan terkadang membuat jiwa filsuf ku mendadak muncul kepermukaan..” kekeh Dhino, lantas mereka mengakhiri ramah tamah mereka dengan sama – sama saling meninggalkan satu sama lain.


Sesampainya di kamar, Indah mengambil lagi ponselnya, dan sebuah pesan singkat dari Vano dibukanya, “Jika memang waktu yang kamu inginkan seminggu aku pasti akan menunggumu Indah, Tapi bisakah kita tidak putus kontak sama sekali Indah kumohon?”


Indah segera membalas pesan tersebut, “ Aku butuh sendiri selama satu minggu ini, aku rasa sementara kita tidak bertemu dulu dan mulai malam ini jangan menghubungi aku hingga minggu depan kita bertemu pukul empat sore di bawah pohon beringin di kampus, biarkan kamu memikirkan apa yang kamu inginkan dari hubungan ini yah Van.. kumohon jangan di balas lagi, aku mau tidur, selamat malam..” lalu Indah mengirim pesan tersebut dengan dada yang masih sesak dan tentu saja rasa jengkel di hati Indah tidak mudah luntur begitu saja.

__ADS_1


Tidak ada lagi balasan dari Vano yang juga memahami bagaimana karakter Indah, hari demi hari berlalu, Indah lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar, jika ada jadwal kuliah yang bertabrakan dengan jadwal kuliahnya Vano, Indah memilih untuk tidak ke kampus, Indah hanya akan ke kampus untuk jadwal – jadwal tertentu yang dirasanya aman.


Pergi ke kampus, dan pulang selalu hanya itu saja rutinitasnya minggu ini, bahkan Indah mengambil cuti selama seminggu di yayasan, dengan alasan pekerjaannya padat, Indah bahkan tidak ingin tau apapun yang terjadi dengan Vano, kini adalah hari ke empat masa break antara Indah dan Vano, membuat sang mama curiga kepada Indah,


“Kok tumben – tumbenan itu Klepon nggak kerumah? Kamu putus yah sama dia?” tanya mama saat Indah baru saja sampai di rumah sehabis dari kampus,


“Klepon? Siapa klepon ma?” tanya Indah dengan membulatkan matanya heran dengan pertanyaan mamanya,


“Yah itu si Cuplis..., si klepon itu..” jawab mama jengah,


“Hah?? Cuplis?? Klepon?? Mama ini ngomong apa?” Indah masih bingung lantas duduk di kursi ruang tamu ketika selesai membuka tali sepatunya,


“Loh.. Cuplis alias Klepon itu kan pacarmu itu, si tengil itu..” kembali mama mengejek dengan nada sinis, serta wajah tidak suka yang terlihat begitu jelas,


“Hahahahaa!!! Kenapa Kamu ketawa?!” tanya Mama juga dengan terbahak,


“Lah mama? juga ngapain ketawa sekarang? Hahahaha!!!” Suasana yang selalu saja tidak ramah kala itu berubah membuat ibu dan anak ini menemukan kembali momen kebersamaan mereka.


“Haduh ma..., sudah ma..., perut Indah sakit ma...” ucap Indah terengah – engah,


“Iyah kamu juga jangan ngakak seperti tadi Ndah..., mama juga sakit perut kalo ketawa – ketawa kayak gini, lah mama kan heran, tumben dia itu gak datang jadi yah mama tanya, syukur – syukur kalo kamu putus sama dia..” seloroh sang mama.


“Dia lagi ngurusi skripsi ma.., Indah juga lagi banyak tugas, makanya gak ketemu ma..” jawab Indah menutupi kenyataan yang ada.


“Oalah, eh..., antar mama ke tempat kerjaan mama yuk.., kamu kan belum pernah lihat kapal – kapal mama kan?” Indah senang akhirnya mama mengajak Indah untuk pergi berdua, sebuah harapan untuk gencatan senjata dengan mama sudah sejak lama diinginkannya tapi keadaan selalu saja membuat mereka kembali berperang, mungkin ini waktu yang pas untuk harapan itu terwujud.

__ADS_1


“Ayuk ma..., Indah pakai sandal aja, tuk..., Indah nggak usah ganti baju lagi ma..”


Mereka berdua menyusuri jalan yang mengarah kearah kampusnya Indah, sebuah rumah toko kayu yang tak asing dilewati oleh Indah sedikit menoleh kearah rumah itu ketika mobilnya berhenti di pertigaan lampu merah, orang yang pernah memberinya Tisue tidak terlihat sama sekali.


“Nah..., dari toko kayu itu kamu maju sekitar dua puluh meter terus belok kiri Ndah...,” Mama menunjukkan arah pangkalan kapal ikannya.


Indah mengikuti arah yang ditunjukkan oleh mamanya Indah, lalu sampailah mereka dipinggir pantai, beberapa anak buah kapal datang menghampiri mama dan Indah yang baru saja turun dari mobil, Indah melihat bagaimana mereka sangat menghormati mamanya, Indah juga melihat mama mengarahkan anak buahnya dan mulai menimbang hasil teripang yang sudah kering serti ikan – ikan laut yang segar di box Styrofoam.


“Indah...”


“Iyah ma..?”


“Mama... minta maaf yah.. kalau selama ini mama sering kasar sama kamu..., tapi..., ada alasan yang kuat mama melarang Kamu sama Vano, mama takut kamu hidup susah seperti kita dulu Ndah.., tapi mama tetap akan berkomitmen memberikan waktu untuk kalian, tapi kamu juga harus janji, jika saatnya tiba dan mama yakin Vano tidak akan bisa mengejar waktu yang mama berikan maka kamu harus putuskan dia, nanti mama ajak kamu ke Jawa, kamu lanjutkan sekolahmu di sana yah..” Miris rasanya hati Indah mendengar ucapan mama, dengan air mata yang sudah jatuh di pelupuk matanya Indah tak dapat berkata – kata.


“Jangan minder dengan keadaan kamu Ndah..., jangan...”


Bersambung


halo teman2 mohon saran dan kritik yah jangan lupa like like nya, coment dan vote nya dong teman2 semua..


sambil menunggu update terbaru Aku adalah Indah part 3, kalian bisa baca Novel terbaru aku yang berjudul “STRONG IN BETRAYAL” yang tayang setiap hari pukul 13.00 WIB


makasi sebelumnya,


jgn lupa Follow IG aku yah @Lizbet.lee

__ADS_1


__ADS_2