Aku Adalah Indah#Part 2

Aku Adalah Indah#Part 2
AaI#3. BAB.3 – KONSELING


__ADS_3

Apakah kalian Ingat Roni? Yang memiliki adik bernama Tomy..,Yah mereka adalah teman baru Indah saat bertemu di Yayasan, dan pertemuan rutin untuk pada relawan selalu terjadwal setiap hari senin dan sabtu, sedangkan untuk para Konselor mudda yang baru saja lulus selama masa pelatihan adalah setiap hari namun Indah hanya mengambil Jadwal setiap hari Rabu, Jumat dan Sabtu.


Hari - hari Jadwal yang di ambil oleh Indah kebetulan sekali memiliki waktu yang sama dengan yang diambil juga oleh Roni, dan untuk peraturan di Yayasan bahwa setiap hari wajib ada empat orang konselor yang harus selalu Stay di Kantor praktek Yayasan, karena setiap pasien yang datang untuk memeriksakan dirinya wajib di konselingkan oleh para konselor untuk mengetahui riwayat kehidupan pribadi mereka yang berhubungan dengan keperluan pemeriksaan apa yang mereka ambil.


Siang itu tepat saat jadwal Indah masuk ke Kantor Yayasan, tanpa sengaja Indah berpapasan dengan Roni yang hendak keluar kantor,


“Hai..” Tegur Roni kepada Indah,


“Hai..” Jawab Indah sambil lalu dan berjalan saja, namun langkah terhenti ketika Roni menghampirinya,


“Indah..” panggil Roni sambil menarik tas ransel yang di pakai Indah,


“Iyah Ron?” seketika Indah ketarik sedikit mengikuti arah tenaga Roni membawanya,


“Kamu ada pasien lima belas menit lagi, namanya sudah ada di meja ruanganmu” Ucap Roni sambil mengerlingkan matanya, dan Yah..., Roni cukup bisa dibilang salah satu orang yang paling akrab dengannya di Yayasan tersebut, karena rasanya mereka satu frekuensi, juga Tomy.., Tomy seorang relawan di Yayasan tersebut dan juga akrab dengan Indah.


“Okay.., Thank yah..” Indah melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan konselingnya,


Sebuah Map Merah telah berada rapi di atas meja kerjanya, di bukanya salah satu pasien yang akan mendapatkan nomor pertama janji temu dengannya.


“Jovano Marquez, Usia Dua Puluh Enam Tahun, tinggi badan Seratus Enam Puluh Tiga, berat badan Lima Puluh Satu Kilogram, tidak ada riwayat penyakit bawaan, ingin memeriksa Darah test HIV dan AIDS keperluan test Kerja di salah satu perusahaan.” Setelah membaca salah satu calon pasien yang setelah di konseling akan menghadap ke salah satu bidan yang bertugas, Indah mendapatkan panggilan pada telepon ruangannya yang menginformasikan bahwa pasien pertama telah datang.


Suara ketukan Pintu terdengar, Indah pun mempersilahkan masuk pasien konseling tersebut,


“Selamat Siang Indah..”


“Selamat Siang..” Indah menjawab dengan ramah, “Silahkan duduk Vano..” tidak ada rasa kaget sama sekali pada ekspresi Indah,


“Apa Kabar hari ini Vano?” kalimat pembuka pada umunya jika Indah menyambut semua pasiennya yang datang memilihnya sebagai konselor, Yah... karena tgas seorang konselor adalah mendapatkan riwayat kesehatan jasmani dan tentu saja kesehatan mental pasiennya maka, para pasien bebas untuk memilih dengan siapa mereka ingin mengobrol sebelum di periksa.


“Aku cukup baik, bagaimana denganmu?” Tanya Vano,


“Tentu saja Aku baik – baik saja, untuk itu aku disini bersama denganmu bukan?, so... nama lengkap kamu Jovano Marquez, usia dua puluh enam tahun dan tujuan untuk memeriksa darah agar mendapatkan surat bebas HIV dan AIDS guna menjadi salah satu surat yang diminta oleh perusahaan tempat kamu melamar bukan?” tanya Indah kembali untuk memastikan segala Informasi yang ada.


“Iyah benar sekali..”


“Okay Vano, sesuai dengan prosedur aku mohon maaf jika bertanya pada sesuatu hal yang pribadi,dan semua informasi yang akan di catat merupakan informasi yang rahasia secara profesional dan dilindungi dengan peraturan riwayat kesehatan dari kementerian kesehatan tentunya, sebagai konselor aku juga akan mematuhi peraturan tersebut tentunya, maka silahkan isi tabel form berikut ini..” Indah memberikan selembar kertas pertanyaan umum mengenai riwayat seksual dan orientasi seksual pasien yang ada,


Namun Vano mengembalikan kertas tersebut,


“Maaf Bu Indah.., saya merasa lebih nyaman ketika pertanyaan – pertanyaan di kertas ini di tanyakan langsung oleh Ibu” tiba – tiba saja Vano berubah menjadi sangat formal, maka baiklah..., Indah pun berpikir untuk lebih formal saja, walaupun pada umunnya konseling yang di lakukannya selalu di lakukan dengan santai untuk membuat pasiennya lebih nyaman dan lebih terbuka.


“Baiklah Kak Vano, maaf saya akan membaca satu persatu pertanyaan pada kertas ini yah..”


“Silahkan..”


“Apakah kakak Vano memiliki riwayat meminum – minuman keras selama ini?” tanya Indah,

__ADS_1


“Iyah.., sesekali, sejak beberapa tahun lalu..”


“Apakah sebelumnya kakak Maaf, pernah melakukan hubungan suami istri?”


“Iyah..., di maafkan..., pernah sih” Vano menjawab tetap dengan formal walaupun di tambahi sedikit candaan pada jawabannya.


“Okay.., saya catat yah.., dan apakah lebih dari satu wanita?”


“Iyah begitulah..”


“Okay, untuk riwayat ini mohon di informasikan berapa banyak wanita yang sudah berhubungan dengan kakak?”


“Sekitar tujuh orang.., seingatku..” Jawab Vano,


“Okay.., apakah ada indikasi lebih dari tujuh?? Mungkin wanita – wanita yang tidak Kakak ingat?? Mungkin pada saat party dan mabuk gitu?” Tanya Indah juga serius,


“Rasanya ada indikasi itu,” jawab Vano,


Namun kali ini Vano terlihat seperti sedang menahan tawa, Tapi semua itu tidak mempengaruhi Indah sama sekali,


“Apakah kakak pernah menggunakan obat – obatan terlarang? Karena seperti yang diketahui jika HIV dan AIDS bukan hanya dapat tertular dari hubungan **** melainkan juga dengan jarum suntik dan pemakaian obat – obatan terlarang?” tanya Indah,


“Saya tidak pernah mengkonsumsi atau memakai obat – obatan terlarang Bu Indah”


“Syukurlah kalau begitu, jangan sampai yah.., dan apakah Kak Vano pernah melakukan transfusi darah menerima donor darah?”


“Baiklah.., untuk pertanyaan umum saat ini rassanya sampai disini, saya akan memberikan rekomendasi kepada kakak agar darahnya langsung diambil oleh Bidan kita yang bertugas hari ini yah.., Bidan Rika ada di ruangan sebelah saya, silahkan kesana dengan surat rekomendasi ini yah kak.., Oh.. maaf satu lagi saya ingi bertanya, apakah kakak sudah di sunat?” Tanya Indah datar,


Wajah Vano seketika itu juga langsung berubah menjadi merah, seperti menahan malu “Apakah saya harus menjawab pertanyaan tersebut?”


“Iyah tentu saja, orang yang tidak bersunat lebih beresiko tinggi untuk tertulass IMS, HIV dan ADIS tentunya,” kembali Indah menjawab dengan datar dan tanpa ada ekspresi,


Namun Vano merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Indah dan Indah dapat membaca pada perubahan mimik wajahnya,


“Baiklah tidak perlu di jawab jika merasa tidak nyaman, yang jelas Kak Vano sudah tau yahh resikonya, maka jika sudah bersunat yah saya ucapkan selamat., anda hanya tinggal menjaga pola hidup kebutuhan biologismu, gunakan ****** jika ingin aman, dan tentu saja jika belum maka saya menganjurkan agar anda segera disunat”


Indah memberikan kertas rekomendasi yang sudah di tulasnya dan Vano mengambilnya sambil sedikit tertawa juga mengusap wajahnya,


“Baiklah..terima kasih banyak Indah, atas waktunya..”


“Iyah sama – sama Vano, semoag kamu sehat selalu yah....”


Vano hendak menutup kembali pintu yang dibukanya, “Indah.., apakah nanti malam ada acara?” tiba – tiba Vano bertanya,


“Iyah.. aku ada acara nanti malam,” jawab Indah sambil tersenyum,


“Kalau besok malam?” lagi Vano bertanya,

__ADS_1


“Besok malam juga ada acara..” jawab Indah lagi sambil melihat – lihat berkas pasien lain yang akan datang dua puluh menit lagi,


“Bagaimana kalau minggu depan? Tanggal lima desember?” tanya Vano,


“Maaf tanggal lima desember aku juga ada acara,” Indah kembali menjawab dengan jujur,


“Memangnya kenapa Van?” kini Indah yang bertanya,


“Aku ingin mengajak kamu nonton konser Slank tanggal lima desember nanti..” sahut Vano dengan sedikit kecewa,


“Yah acara itu yang memang akan mengisi waktuku tanggal lima desember nanti” sahut Indah sedikit tersenyum,


“Apakah kamu mau bertemu dengan Kaka Slank dan semua personil Slank yang ada?” tanya Vano,


“Iyah jelas aku akan bertemu karena aku akan nonton mereka perform kan?”


“Maksudku bertemu langsung Indah.., face to face?”


“Hah? Yah aku bukan panitia atau apapun itu namanya.., jadi menonton saja aku rasa sudah cukup,”


“Aku salah satu band pembuka di acara konser tersebut, apakah kamu mau pergi berdua denganku?” tanya Vano,


Mata Indah merubah menjadi sangat berbinar karena antusias yang membucah di dadanya, “Wah?! Serius?” tanya Indah memastikan, dan Vano juga mengangguk dengan antusias,


“Baiklah.., kita ketemu di gerbang masuk jam enam sore yah..” ucap Indah,


“Hah?!! Kita pergi masing – masing maksudnya?” Vano sampai ternganga mendengar Indah berbicara akan ketemuan di gerbang, bukan main... pikirnya.


“Terus? Maksudnya gimana?” tanya Indah lagi,


“Kan aku yang ngajak kalau iyah aku jemput kamu jam setengah lima sore di sini atau disini terus kita pergi bareng.. tapi... “


“Tapi Naik motor yah..” jawab Vano kikuk,


“HAH?! Hahahahaha!! Iyah lah nggak apa – apa naik motor, okaylah disini saja yah karena tanggal lima aku ada jadwal konseling di kantor”


“Thanks.., Bye..” ucap Vano dengan semangat dan menutup sesi pertemuan tersebut dengan undangan nonton bareng konser Slank dengan iming – iming akan bertemu semua personil Slank secara langsung, sukses membuat Vano untuk pertama kalinya akan pergi dengan Indah.


---***---***---


Bersambung


halo teman2 mohon saran dan kritik yah


jangan lupa like like nya, coment dan vote nya dong teman2 semua..


sambil menunggu updatan terbaru Aku adalah Indah part 3, kalian bisa baca Novel terbaru aku yang berjudul “STRONG IN BETRAYAL” yang tayang setiap hari pukul 13.00 WIB

__ADS_1


makasi sebelumnya, dan jgn lupa Follow IG aku yah @Lizbet.lee


__ADS_2