Aku Adalah Indah#Part 2

Aku Adalah Indah#Part 2
AaI#3. BAB.12 – TERBIASA DAN HAMPA


__ADS_3

Benar saja, setelah kemarin Vano menyatakan cintanya kepada Indah, segala perhatian di berikan kepada Indah, walaupun jujur Indah mengatakan pada dirinya sendiri bahwa tidak ada kemistri apapun yang di rasakan olehnya saat bersama dengan Vano, tetap saja Indah sudah menyanggupi untuk memberikan Vano waktu selama satu bulan membuktikan sebagaimana besarnya cinta itu terhadap Indah.


Vano mulai membiasakan Indah dengan mengantar jemputnya setiap hari setiap kali Indah akan ke kantor Yayasan, walaupun awalnya Indah menolak untuk di jemput karena memang itu bukan Indah..., Dia tidak suka menyusahkan orang lain atau bergantung kepada orang lain, tapi kembali lagi Vano mengingatkan bahwa ini hanya satu bulan saja.


Selama satu bulan setiap pagi selalu ada ucapan dan Doa yang manis untuk Indah baca pada pesan singkat yang dikirimkan Vano, yah... sekalipun awalnya Indah juga merasa tidak ingin memberikan nomor ponselnya, lagi lagi Vano mampu membuat Indah menyerah,


"Ayolah Vano... kamu tau aku sangat membatasi privasiku bukan? kamu bisa menelpon aku di nomor telpon rumahku Vano, kegiatanku selama ini hanya rumah dan Yayasan." ucap Indah kala itu,


"Siapa saja yang tau nomor ponselmu Indah? apakah lebih dari sepuluh orang?" tanya Vano,


"Tidak lebih dari sepuluh orang Vano,"


"Baguslah kalai begitu, jika selama sebulan ini semua sia - sia, maka dengan mudah kamu dapat kembali mengganti nomor ponselmu bukan? kamu tidak perlu memberitahu banyak orang karena tidak lebih dari sepuluh orang yang mengetahui nomormu, hanya satu bulan Indah... setelah itu aku akan menghilang, kamu juga bisa menghilang.. kumohon..." Vano kembali berusaha untuk membujuk agar Indah memberinya kesempatan yang mungkin saja tidak akan pernah datang dua kali.


Sejenak Indah memikirkan apa yang di katakan Vano, 'Hanya satu bulan... baiklah hanya satu bulan dan setelah itu dia pasti akan menyerah dan aku bisa mengganti nomorku lagi' gumannya dalam hati.


"Baiklah.... satu bulan Vano..., sini mana ponselmu, biar aku ketik nomorku" ucap Indah, dan meraih ponsel yang di berikan oleh Vano, senyuman lebar terukir jelas di bibir Vano.


"Terima kasih...." dan kini Indah mendapatkan beberapa kata - kata mutiara pagi, ketika Indah siap untuk kekantor tentu saja Vano sudah menunggu untuk menjemput Indah di depan rumahnya.


"Siapa itu? Tukang ojek?" tanya mama. Indah tertawa mendengar ucapan mama namun tidak mau menanggapi apapun hanya sekedar menjawab saja.


"Oh... relawan di yayasan, kebetulan rumahnya dekat jadi sebulan ini bakal sering ngantar jemput, tidak lebih dari itu." jawab Indah dan segera berpamitan lalu pergi dari rumah.


Bahkan ketika jam makan siang, Vano akan mengingat Indah, atau terkadang jika dia mendapatkan rejeki dari hasil manggungnya, Dia akan mentraktir Indah, lagi - lagi dengan perjanjian hanya selama satu bulan saja. Ada rasa tidak enak bagi Indah, karena latar belakang keluarga Vano yang sederhana, bukankah lebih baik Vano memberikan uang itu untuk mamanya, atau di tabung saja, dari pada mentraktirnya makan?


"Tidak apa... aku tidak akan memaksakan diri Indah... jika ada rejeki lebih saja... jika tidak yah aku hanya mengingatkanmu makan saja..." ucap Vano sambil memasukkan makanan ke mulutnya.


"Iyah aku merasa nggak enak aja Van... karena.."


"Sudahlah .. aku memang sederhana tapi jika mentraktir seseorang yang kusukai itu bukan buang - buang rejeki Indah... itu namanya pengorbanan dan bentuk kasih sayang" Indah hanya menarik nafasnya mendengar perkataan Vano.


Dan ketika akan pulang Vano selalu mengantarkan Indah, juga tidak lupa membantu segala pekerjaan yang dikerjakannya di yayasan, hanya agar Indah dapat pulang tepat waktu. Tentu saja terkadang mereka masih mengisi waktu untuk bernyanyi bersama.


Semua tidak terasa telah menjadi rutinitas yang berjalan selama hampir dua minggu lamanya. "Indah.... aku menciptakan lagu khusus untuk kamu nyanyikan nanti saat di gereja, ketika kamu sudah siap untuk menyanyi lagi... maka lagu ini aku harapkan menjadi lagu pertama yang kamu nyanyikan, semoga lewat lagu ini kamu akan mengingat bahwa Kasih Tuhan kita tidak lekang dan tak pudar atas apapun yang terjadi pada hidup kita.."


"Benarkah? boleh kami ikut mendengarkan lagu yang baru saja kamu ciptakan?" tanya Roni,


"Iyah... tentu saja... bagaimana Indah?" tanya Vano,


"Entahlah .. kapan aku akan siap menyanyi lagu di gereja, tapi tidak salah bukan kita ikut mendengarkan lagu kamu Van..."


"Baiklah... " lalu Vano memetikkan gitarnya dan mulai menyanyikan syair yang bahkan tidak di catatnya.


"Di saat ku Lemah..... Engkau menopang aku....


Di saat ku Jatuh... Engkau mengangkat ku..


Seperti salju .. lembut kasihMu...


Seperti Pelangi... Indah Wajah Mu...


Mengalir lembut... Tulus CintaMu..


Tak Tertahankan... Setia Mu... Tuhan..


Saat ku... memandang Mu... Hatiku Teduh ..

__ADS_1


Di saat ku Bertelut... Engkau Menjawab ku..


Seperti salju .. lembut kasihMu...


Seperti Pelangi... Indah Wajah Mu...


Mengalir lembut... Tulus CintaMu..


Tak Tertahankan... Setia Mu... Tuhan..


Setia Mu.. selalu hadir dalam setiap langkahku...


Setia Mu... menjadi Nafas hidupku ..


Setia Mu... mengalir dalam nadiku...


Setia Mu...." (Lagu tersebut ciptaan dari inisial IB yang tidak lain dan tidak bukan adalah nama asli Vano yang di samarkan)


Indah yang tak terasa meneteskan air matanya saat mendengar syair dan bagaimana Vano menyanyikannya dari hati spontan memegang tangan Vano yang telah berhenti memetikkan gitarnya, "Terima kasih .. itu lagu yang sangat indah dan merdu saat kamu menyanyikan nya Vano..." ucap Indah sambil beradu pandang dengan sang pencipta lagu.


Vano menghapus sebutir air mata yang masih tersisa di pipi Indah "Akan lebih merdu jika kamu yang menyanyikannya Indah... lagu ini khusus aku ciptakan untuk kamu..." ucap Vano dengan tulus


Roni dan teman - teman yang lain sontak saja langsung menggoda mereka berdua sambil berkelakar dan menjodoh - jodohkan mereka berdua, tentu saja untuk membuat Indah merontokkan tembok di hatinya bukanlah sesuatu yang mudah.


Kini tanpa terasa, hari ini adalah hari terakhir di mana Indah dan Vano akan mengakhiri perjanjiannya, sehari sebelum semua berakhir Vano meminta agar Indah pergi makan malam dengannya, namun kali ini bukan di warung kaki lima tempat mereka biasa makan, atau bukan di warung padang ketika Vano mendapat bayaran yang tinggi, tapi Vano mengajaknya makan malam di rumah Vano, karena sesuai perjanjian maka Indah menyanggupi permintaan Vano.


Indah menggunakan pakaian yang semi formal namun terlihat tetap santai, pakaian hitam berleher sabrina dengan celana kulot hitam dan blazer coklat tua untuk menutupi bahunya yang terekspos, tentu saja itu di tutupi saat perjalan kerumah Vano dengan sepeda motor.


Saat masuk ruang pertama terlihat ada sebuah meja bundar yang kecil dan sebuah lilin beraroma terapi menyala di atas meja tersebut juga berbagai alat makan bak restoran mewah juga tertata rapi di meja tersebut.


"Hanya ada kita berdua Indah..., mereka semua lagi ada acara retret rayon dan sebelum pergi mami membantuku menyiapkan semua.." akuh Vano,


"Apa? wah Van... kamu membuat mamimu repot, aku sangat malu kalau begini..." ucap Indah,


"Tidak apa.. kami profesional, mamiku menerima orderan dari anaknya yang merupakan pelanggannya, hahahaha... mari silahkan duduk Indah" ucap Vano sambil menarik kursi dan mempersilahkan Indah untuk duduk.


"Baiklah... untuk tidak memperpanjang kata.. aku akan membawakan asinan buatan mamiku, bukan seperti asinan bogor, tapi asinan ala keluargaku" Vano sejenak masuk ke dalam rumahnya dan mengambil dua mangkok berisi menu yang di katakan asinan ala keluarganya, lalu memberikan kepada Indah dan dirinya sendiri juga sebuah jus jeruk sebagai welcome drink untuk Indah.


"Isi asinan ini ada timun, bengkoang, wortel, nanas, apel dan kerupuk dengan bumbu kacang tapi bukan gado - gado atau pecel, rasanya berbeda dari kedua menu yang tapi aku sebutkan, Huaalah.., silahkan di coba nona Indah.." Vano berlagak seperti pelayan restoran mahal dan itu membuat Indah merasa geli dengan kelakuan Vano yang tak terduga.


Indah lalu mencicipi menu pertama yang du sajikan tentu saja tiba - tiba Indah memejamkan matanya karena merasa bahwa makanan ini sungguh nikmat, "Oh God.... ini sangat enak Vano" ucap Indah dan memakannya dengan lahap.


"Benarkan? mami memang yang terbaik, pelan - pelan saja... kalau masih mau, nanti aku bawakan di kotak makan untuk kamu bawa pulang"


"Benar kah? " tanya Indah berbinar,


"Iyah... tapi aku tidak akan memberikannya sekarang .. kalau sekarang kamu makan semua bisa - bisa menu utama kita tidak akan muat di perutmu, hahahaha" Indah ikut tertawa, bincang - bincang ringan mereka bicarakan satu sama lain, sampai tak terasa jika sudah sepuluh menit berlalu sejak hidangan pertama di habiskan.


"Aku pernah tanya apakah kamu suka steak? dan kamu pernah bilang.. kalau kamu sangat menyukainya, ini mami buatkan steak untuk kita, masih hangat karena aku memanaskannya di microwave, semoga kamu suka..." ucap Vano sambil membawa mangkok kotor ke dalam dan kembali dengan dua piring steak yang sangat harus serta menggiurkan siapa saja yang menghirup aromanya.


"Oh My God!!! Vano... ini benarkah buatan mamimu?" tanya Indah tidak menyangka sama sekali,


"Iyah tentu saja... aku memesan makanan terbaik untuk seorang wanita terbaik selain mami dan kakakku, ini Steak buatan mamiku dengan bumbu entahlah apa isi bumbunya aku tidak tau ahahaha!!! tapi ada sayur - sayuran yang persis seperti yang ada di restoran mewah... makanlah..." Kembali Vano dan Indah menikmati makanan yang benar - benar nikmat, kematangan steak tersebut well done sesuai dengan selera Indah, dan saosnya .. seperti ada mushroom dan milk serta mayo, yang entah di tambahkan apalagi, karena rasanya sangat memanjakan lidah siapa saja yang memakannya.


Hingga tiba lah hidangan terakhir, Panacotta coklat vanila plus ice cream adalah pilihan terbaik dari Vano untuk Indah, dan Indah merasa sangat kenyang serta tidak menyangka bahwa Maminya Vano benar - benar seorang koki rumah tangga yang sangat luar biasa.


"Apakah kamu menyukainya?" tanya Vano kepada Indah,

__ADS_1


"Iyah tentu saja... ini sangat lezat bahkan lebih dari ekspektasi ku Vano.."


"Apakah perutmu masih terasa sesak dan kekenyangan?" tanya Vano sambil sedikit tertawa melihat wajah Indah,


"Rasanya sudah mulai turun kok..." jawab Indah,


"Baguslah kalau begitu..., tunggu yah aku ambilkan air mineral, mau dingin atau biasa?" tanya Vano,


"Yang dingin saja Vano.." jawab Indah...


Sebelum Vano keluar dengan air mineral di tangannya, Dia mengganti aransemen musik yang dari tadi terdengar syahdu dengan sebuah lagu yang lagi - lagi lagu love of my life dari Jim Brickman.


"Ini minumlah..." Indah mengambil air mineral tersebut dan meneguknya, "Thanks Vano... terima kasih banyak..." ucap Indah.


"Iyah sama - sama, apakah kamu mau dansa?" tanya Vano, sontak saja Indah menggelengkan kepalanya dan tertawa,


"Aku tidak bisa berdansa Vano, kakimu akan terinjak - injak jika berdansa denganku"


"Tidak apa - apa... aku akan mengajarkan kamu Indah... sini..." Vano lantas menarik Indah dari tempat duduknya,


"Ikuti setiap ketukan lagu yang ada Indah... lalu ke kiri...dan kanan, dan rasakan kemana aku mengarahkan mu Indah, yah seperti itu, ini hanya dansa satu satu yang sangat sederhana, kamu cepat belajar kok..." ucap sambil terus mengarahkan tiap gerakan dansa yang diajarkannya kepada Indah.


Mereka juga berjoget tak karuan saat mendengar lagu country road, suara tawa dan cadaan keduanya terdengar begitu akrab seolah tidak ada kenyamanan yang lebih nyaman Indah rasakan saat bersama Vano selain malam ini.


Semuanya terasa begitu spesial dan sangat spesial ketika Vano tiba - tiba saja menyematkan sebuah cincin emas bundar di jari tengah tangan kanan Indah, Indah yang merasakan ada sebuah cincin di jarinya langsung terkejut tidak menyangka dengan apa yang baru saja Vano sematkan.


"Jangan di tolak yah...anggap saja kenang - kenangan dari ku, karena setelah ini aku akan meminta jawaban darimu Indah... jika ada yang pernah berkata bahwa cinta tidak harus memiliki maka mungkin aku akan mempraktekkannya setelah hari ini, tapi minimal kamu tetap mengingat aku yah Indah... kumohon simpanlah ini.." Indah yang mendengar permintaan Vano tak kuasa menolak pemberian Vano.


"Aku... aku tak tau harus berkata apa Vano..."


"Sudahlah tidak apa - apa... bukankah hak semua orang untuk jatuh cinta kepada siapapun? dan hak semua orang juga untuk menolak cinta seseorang, karena perasaan seseorang tidak dapat di paksakan bukan?" Vano seolah sudah pasrah dengan segala keputusan Indah


"Vano... maafkan aku... aku belum bisa menjawabnya sekarang" jawab Indah terdengar lirih dan ada perasaan sungkan kepada pria yang sangat baik di hadapannya ini.


"Tidak apa... take your time..., jangan merasa terbeban dengan ini semua... setelah ini jalani saja hidupmu dengan normal yah Indah..." ucap Vano dengan sungguh-sungguh,


"Aku ... juga berterimakasih, lewat dirimu akhirnya aku tau bagaimana rasanya menginginkan seseorang dan mencintainya dengan segenap hati... sebelumnya aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini, terima kasih untuk semuanya.." ucapan itu seolah bagaikan ucapan perpisahan yang manis yang terasa menyakitkan di hati Vano, juga di hati ... Indah....


Setelah malam terakhir Indah dan Vano bertemu, hari - hari Indah kembali terasa normal... namun selalu ada yang kurang, Indah mengecek ponselnya namun sudah hampir seminggu tidak ada lagi ucapan selamat pagi dan doa serta kata - kata manis dari Vano.


Saat Indah sampai di kantor Yayasan, Vano juga tidak terlihat lagi, bahkan tidak ada lagi sesi nongkrong bareng dan nyanyi bersama, semua seolah sibuk sendiri, kalaupun mereka berkumpul namun semuanya terasa ada yang kosong, ada yang kurang.


Ketika malam tiba, tidak ada lagi pulang bersama, Indah pulang pergi dengan normal membawa mobilnya sendiri, Indah merasa sangat Hampa.


Dilepasnya cincin pemberian Vano, dan Indah sungguh terkejut melihat bagian dalam cincin itu terukir nama Vano-Indah 'I love U' , air matanya terjatuh lagi,


"Aku sangat cengeng!! Kau Bodoh Indah dan sangat Cengeng!!!" bentaknya pada dirinya sendiri.


"****!!! Apa yang harus aku lakukan?!!!" Geramnya pada dirinya sendiri


Bersambung


halo teman2 mohon saran dan kritik yah jangan lupa like like nya, coment dan vote nya dong teman2 semua..


sambil menunggu update terbaru Aku adalah Indah part 3, kalian bisa baca Novel terbaru aku yang berjudul “STRONG IN BETRAYAL” yang tayang setiap hari pukul 13.00 WIB


makasi sebelumnya, dan jgn lupa Follow IG aku yah @Lizbet.lee

__ADS_1


__ADS_2