
"****!!!" umpatku. Seketika wajah Nio agak berubah lebih datar, sedang Kak Jack, wajahnya tersenyum jahil ke arah Nio dan ke arahku,
"mau di angkat nggak?" tanya mama,
Sebenarnya aku enggan untuk mengangkat telponnya, tapi aku cukup penasaran dengan reaksi Nio, (Ingat reaksi Nio yah... bukan penasaran sama Mathew nya..)
"Iyah.., aku angkat" jawabku sambil melirik ke arah Nio, namun Nio tidak memperlihatkan ekspresi apapun.. hanya datar sambil memakan cemilan yang di bawakan oleh mama, Ternyata Nio pandai sekali menyembunyikan perasaannya, Nio benar - benar datar! tapi rasa penasaran masih terus menggelitik didalam diriku.
"Halo.." suaraku kini berada tepat di depan gagang telepon, dan aku melihat dari pantulan layar monitor komputer ku bagaimananya reaksi Nio, ternyata dia sedikit bereaksi, Nio sejenak langsung mengangkat wajahnya untuk melihat kearah aku berdiri, seolah seperti sedang menunggu apa yang akan didengarnya.
"Adek..., sekarang sudah mau terima telpon kakak? kakak kangen..." sahut laki - laki tidak tau malu!! dan tidak tahu diri di balik gagang telpon ini.
"Ada apa kak? kalau tidak ada yang penting, Indah tutup aja.." jawabku dengan suara yang ketus.
"Adek... kakak minggu depan pulang.., kakak bawakan oleh - oleh dari tempat tugas.., sekalian kakak mau ketemu Adek sebentar, boleh?" tanya Mathew tanpa ada rasa berdosa, tanpa ada rasa bersalah, semua seolah tidak pernah terjadi apapun dan semua seolah baik - baik saja.
"Untuk apa lagi ketemu sama Indah kak.., apa nggak takut, calon istrimu marah.. nanti neror neror aku lagi.." jawabku santai dengan bernada sarkas.
"Nggak Dek.., kakak nggak punya calon Istri.. adek jangan percaya sama gosip - gosip di luaran," jawab Mathew, wah Mathew benar - benar tidak pernah berubah, tabiat seseorang memang susah untuk di rubah, mau berjuang seperti apapun yang namanya tabiat tidak akan bisa berubah kecuali orang tersebut yang ingin berubah.
"WHAT??!!! Jelas - jelas kemarin kakak sudah ngaku, kok sekarang mau ngelak lagi!! kak.. maaf Indah nggak bisa ketemu kakak lagi" jawabku dengan suara bergetar menahan emosi, akibat kebiadaban dan kebohongan yang selalu Mathew lakukan, kebohongan yang selalu berulang-ulang terus dan terus tiada henti,
"Adek.. sudah punya pacar yah?? makanya nggak mau ketemu sama kakak lagi?" tanya Mathew penuh keraguan, Apakah laki - laki ini benar-benar tidak tahu malu??? masih saja penasaran dengan statusku saat ini, bukankah harusnya jika aku jadi dirinya maka aku akan meminta maaf dan mengakhiri telpon ini, tapi tidak dengan Mathew.
"Iyah, Indah sudah ada pacar kak.., dan Indah cinta sama Dia!" jawabku sembari melirik kearah layar monitor, terlihat senyum Nio tersungging di bibirnya, juga kak Jack yang ada di sampingnya ikut tersenyum lalu menyenggol siku tangan Nio.
"Semudah itu adek melupakan kakak??" tanya nya lagi , Indah yang awalnya hanya penasaran dengan reaksi Nio malah terpancing emosi dengan perkataan dan pertanyaan dari Mathew, seolah tidak ada habisnya Mathew ini mengganggu ketenangannya.
"Indah heran.. kok kakak nggak malu yah.. ngomong kayak gini, tolong berkaca atas sikapmu ke aku nya kayak gimana kak.., selama ini apa yang sudah kamu tabur dalam hubungan kita kak, aku bahkan harus berjuang selama tiga tahun lebih untuk bisa benar - benar terlepas dari jerat hubungan kamu dan aku, dengan segala kesakitan yang kamu berikan kepada aku dan kamu masih bisa bertanya semudah itu aku melupakanmu? Yah!! seharusnya dan sudah seharusnya aku melupakanmu dengan Mudah Kak?" Jawabku dengan emosi membumbung tinggi.
"Apa dia tau.., kalo hubungan kita sudah seperti suami istri?? Apa adek yakin? kalau dia tau.. dia akan tetap terima adek apa adanya? dek.. tidak akan ada lelaki yang akan mencintai kamu melebihi rasa cinta aku kepada kamu Dek, ingat itu baik baik?" Ucapnya dengan nada halus namun mengandung ancaman,
"Kamu memang Brengsekkkk kak!!! Laki - laki kurang ajar kamu kak!!" jawabku langsung mematikan telepon saat itu juga.
Mathew sangat pintar untuk membuat Indah hancur berkeping-keping dengan segala rasa takut dan minder yang ditorehkan, entah mental Indah saat itu bagaimana, diusia yang masih sangat muda, Indah harus menghadapi lelaki dewasa pengecut yang bisanya hanya mengancam dan merusak mentalnya teramat sangat.
__ADS_1
Tidak terasa, air mataku mengalir, sakit hati itu kembali terasa ngilu , dan telepon kembali berdering, seketika aku mengangkat lagi "Halo"
"Adek..." suara itu lagi!! dan seketika aku matikan teleponnya,
"Nori..." panggilku kepada asisten rumah tangga keluargaku, belum sempat Nori membuka mulutnya aku langsung berkata "Kalo yang namanya Mathew telepon, dan mau berbicara sama Indah, bilang Indah nggak ada, atau tidur, atau apalah alasannya yah Nor..." ucapku, dan Nori menganggukkan kepalanya tanda mengerti,
tanpa di sadari emosiku terlihat jelas oleh Nio, "Ndah.. jalan - jalan yukk.." ajak Nio,
"Terus kak Jack?" tanyaku
" Santai.., kak Jack lagi mau curhat sama mama Indah.. kamu jalan aja sama Nio" sahut Kak Jack,
"Pakai Mobil sana loh.." sahut mama..,
"Indah ganti baju dulu yah Nio" ijinku, dan aku melihat Nio tersenyum sambil mengangguk kepalanya
Hanya butuh beberapa menit aku ganti baju, dan kini aku sudah siap.. entah Nio mau ngajak kemana,
"Tante.. Nio ijin yah.. balik nya sekitar jam sembilan atau jam sepuluh malam" ijinnya
Aku dan Nio segera naik ke mobil milik papaku, "Kita mau kemana?" tanyaku
"Kita makan yukk..." ajak Nio,
"Okay.." sahutku..
"Mantanmu ngobrol apa tadi sama kamu?" tanya Nio,
"Sesuatu yang tidak berfaedah untuk kita bahas" jawabku
"Apa kamu masih sayang sama dia Indah?" tanya Nio,
"Nggak.. aku benci sama dia" jawabku
"Yah itu artinya kamu masih sayang lah..., kalo uda nggak sayang, nggak mungkin bisa benci" Goda Nio,
__ADS_1
Air mataku hampir terjatuh ketika mendengar perkataan Nio,
"Tolong jangan bahas lagi.., aku sakit hati nanti sama kamu" ucapku
Seketika itu juga Nio bungkam.. dan suasana berubah jadi sedikit canggung, sampai Nio berkata "Indah.., kita makan di rumahku aja yah..., sekalian kenalan sama orang tuaku" ajaknya,
"WHATT??!!!" umpatku, seketika itu aku merasa gerogi bukan main, aku belum ingin sesuatu yang serius, pikirku saat ini yang aku butuhkan adalah ketenangan, bukan sesuatu yang serius seperti ini,
"Kok gitu?" jawabku,
"Kok gitu gimana? aku nggak pernah loh ngenalin pacarku ke orangku" jawabnya,
"Tapi aku kan gerogi Nio.." jawabku,
"Nggak usah gerogi lah.., papa mamaku nggak makan orang kok" Candanya, sambil terkekeh melihatku,
"Tapi..." belum selesai aku berbicara, jari telunjuk Nio menempel di bibirku,
"Sssttt...., jangan cerewet, nanti aku cium loh.." ancamnya sambil tersenyum mesum,
" Okaylah.." jawabku malas menanggapinya,
*
*
*
*
*
*
Bersambung
__ADS_1