
Indah sudah dapat bernafas lega, sebuah kabar baik sudah disampaikan kepada Papa Leo yang tiada henti mengucap syukur juga merasa bangga dengan Indah, setelah pada akhirnya Indah mewakili perusahaan untuk menanda tangani Surat Perintah Kerja dan Kontrak, serta melakukan pencairan dana Down Payment sebesar Dua puluh persen dari Nilai proyek, Indah bergegas pulang.
Jika satu masalah pekerjaan telah diselesaikannya dengan baik, Kini Indah pulang untuk memberikan sebuah keputusan dalam hal asmara. Indah merasa tidak baik jika dirinya terus menghindar dari masalah di depan mata, Indah harus berbicara secara dewasa dengan Vano, berharap ada jalan keluar yang baik bagi keduanya.
Kali ini pesawat mendarat dengan sangat halus, Indah merasa lega telah sampai di kota yang saat ini menjadi rumah untuknya, untuk keluarganya. Tidak terasa selama di luar pulau Indah telah menjalani hubungan jarak jauh dengan Vano selama empat bulan, besok adalah tanggal dimana mereka genap berpacaran selama dua tahun.
Rasanya sangat disayangkan jika Indah harus mengakhirinya begitu saja, toh selama empat bulan ini terlihat Vano begitu gigih memperjuangkan Indah dan fokus pada skripsinya, itulah yang didengar Indah selama ini dari teman – teman di sekitarnya.
Ketika Indah turun dari pesawat dan berjalan menuju ke pintu kedatangan, setelah mengambil koper di bagasinya, Indah melihat wajah Vano tersenyum begitu lebar, sedangkan dalam hati Indah sendiri, tidak merasakan apapun selain dari rasa lelah dan ingin segera pulang untuk berisitirahat.
Padahal saat di pesawat Indah sudah membayangkan akan memeluk Vano, dan mengatakan aku memaafkan mu, ayo kita buka lembaran baru.
Nyatanya setelah melihat yang bersangkutan, semua bayangan yang direncanakan malah jadi berbanding terbalik, Indah seketika diliputi rasa ragu, apakah lebih baik mengakhiri saja atau bagaimana, aahhh... sungguh membingungkan!
“Apa kabar Ndah?” tanya Vano ramah, dan ingin mengecup bibir Indah namun Indah memberikan pipi, yah... yang dikecup Vano adalah pipi Indah.
“Aku baik, dan aku mau pulang...” jawab Indah berusaha untuk ramah walaupun sekarang yang dirasakan Indah adalah jenuh, sebesar apapun Ia berusaha yang ada di hatinya hanya rasa jenuh dan muak akan sekelilingnya.
“Kamu masih marah sama aku Ndah?” Tanya Vano saat mereka sudah masuk kedalam mobil.
__ADS_1
“Nggak kok, aku biasa aja, aku cuman capek Van..., tolong antar aku pulang yah..., besok baru kita ketemuan lagi, jadi kan makan malamnya?” Indah terus saja berusaha tampak normal, walaupun itu cukup membuatnya tersiksa.
Yah..., berpura – pura dan berusaha untuk normal padahal yang dirasa berbanding terbalik sungguh suatu kebodohan yang dilakukan banyak orang, mereka bahkan mengorbankan kebahagiaannya sendiri, mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran hanya agar membuat orang di sekelilingnya bahagia.
Itulah yang kini disadari oleh Indah, lantas kalau sudah begini, lebih pulang dan tidur, urusan berpikir dialihkan ke nomor urut terbawah, hanya akan berpikir jika sudah siap dan miliki waktu untuk berpikir.
Sepanjang jalan Vano selalu mengajak ngobrol Indah, berusaha untuk menciptakan suasana sehangat mungkin, dan Indah juga berusaha untuk mengimbangi percakapan walaupun akhirnya semua malah semakin terasa canggung.
“Sudah sampai!! Besok jam tujuh aku jemput yah..” ucap Vano saat mengantar Indah sampai di depan pekarangan rumahnya,
“Iyah besok jam tujuh, yah sudah aku turun dulu yah..., nanti baru kita saling kontak lagi yah..., bye..” Jawab Indah yang membuka pintu mobil yang di bawa Vano, belum sampai terbuka lebar Vano menarik tangan Indah agak sedikit kuat sehingga tubuh Indah terhentak kearah Vano.
Vano mencoba untuk mengecup bibir Indah, namun Indah langsung menundukkan kepalanya, dan tentu saja hal itu membuat Vano sangat kecewa, matanya memerah dan ada sorot kesedihan yang begitu dalam dalam diri Vano.
“Maafkan aku yang membuat kamu sampai seperti ini..., aku tidak tau harus berbuat apa lagi agar semua bisa kembali seperti semula Indah..” lirih Vano.
“Aku juga tidak tau harus bagaimana, aku berusaha agar semua bisa normal kembali, tapi untuk hal – hal tertentu tolong jangan terlalu memaksa aku Van, aku yakin waktu yaang akan mengobati semua, tapi untuk sekarang.., maafkan aku..., aku belum bisa.., jangan minta aku untuk secepatnya kembali seperti dulu, tapi biarkan aku berdamai dengan diriku sendiri..” terang Indah, Vano menahan isak tangisnya, ia memalingkan wajahnya dan mengambil Tisue mobil menyeka sesuatu yang pada akhirnya jatuh juga.
“Baiklah..., aku akan memberikanmu waktu, tapi kumohon jangan tinggalkan aku begitu saja Indah, kumohon berjuanglah bersama aku untuk memperbaiki ini semua..” ucap Vano sambil memohon memegang kedua telapak tangan Indah.
__ADS_1
“Aku akan berusaha..”
“Berjanjilah kamu tidak akan menyerah sebegitu cepatnya, berjanjilah untuk berusaha kembali mencintai aku seperti awal kita merasakan begitu besar dan banyak kebahagiaan yang sudah kita ukir, akku ingin semua kembali seperti semula Indah...” Vano sudah tidak tahan lagi, Ia sudah tidak bisa menahan tangisannya, dan Ia tidak lagi memikirkan gengsi serta harga dirinya sebagai laki – laki di hadapan Indah.
Dihadapan Indah, Vano telah mengeluarkan segala kelemahannya, Indah tidak tau harus bersikap apa dihadapan Vano, ingin ikut menangis, tapi tidak ada beban kesedihan yang membuat ia harus meneteskan air matanya, mau kasihan tapi hatinya sudah tawar, semua terlihat begitu kejam, seolah Indah tidak lagi peka dan tidak lagi memiliki perasaan.
“Aku berjanji untuk berusaha memupuk kembali perasaanku kepadamu Van.., tapi aku memiliki batas waktu, jika pada saatnya aku merasa sudah cukup maka aku mohon maaf, aku tidak bisa berjanji untuk bisa berubah menjadi seperti yang kamu harapkan..” Kini Indah berterus terang, karena tidak ingin memberikan sebuah harapan kepada Vano, dan tidak ingin menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa ditepatinya.
“Aku pamit dulu yah Van..., sampai jumpa besok, sampaikan salam ku kepada mami dan papi, aku berharap mereka selalu sehat, selamat sore Van..” Indah turun dari mobil itu dan mengambil koper serta langsung masuk kedalam rumahnya tanpa menunggu mobil Vano keluar dari pekarangannya.
Entah apa yang terjadi dengan Vano didalam mobil itu, tapi memang semuanya sangat berbeda dari awal. “Lega rasanya bisa berterus terang dengan perasaanku sendiri, aku sudah cukup lelah memikirkan perasaannya, kini saatnya aku memikirkan perasaanku sendiri.” Gumam Indah, sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur kecilnya.
***
Bersambung
halo teman2 mohon saran dan kritik yah jangan lupa like like nya, coment dan vote nya dong teman2 semua..
sambil menunggu update terbaru Aku adalah Indah part 3, kalian bisa baca Novel terbaru aku yang berjudul “STRONG IN BETRAYAL” yang tayang setiap hari pukul 13.00 WIB
__ADS_1
makasi sebelumnya,
jgn lupa Follow IG aku yah @Lizbet.lee