
Hidup kok penuh dengan masalah, selalu saja datang silih berganti, kapan bisa hidup dalam damai sesuai yang diinginkan? Terkadang manusia sering mengeluh begitu bukan? Tapi yakinlah jika masalah yang datang bertubi – tubi itu sebenarnya bertujuan untuk mengupgrade kapasitas diri kita agar kita mampu untuk terus bertahan dan tidak berhenti berjuang.
Baru beberapa bulan semua berjalan dengan normal, kini satu lagi cobaan dari si cewek bocil bernama Cika, sebuah pemandangan yang membuat darah Indah mendidih ketika mengantarkan Kue Lepa pesanan Bu Retno adalah Cika dengan berani mencubit kedua pipi Vano dengan gemas, dan bodohnya lagi Vano hanya tertawa canggung dengan semua apa yang di perbuat oleh Cika.
“What the Fvck?!” Umpat Indah, masih mencoba untuk mengetuk pintu yang setengah terbuka dengan berkali – kali setengah berteriak “Permisi!!! Permisi!!” tapi tetap saja Cika dan Vano sama – sama tidak mendengar suara Indah.
Indah yang emosi tapi tidak tau harus berbuat apa lantas memilih untuk menaruh pesanan Kue Lepa tersebut di kursi depan rumah Bu Retno, lalu Indah mengirimkan pesan singkat kepada Vano dan mengatakan jika Kue Lepa tersebut sudah di taruh oleh Indah di kursi depan rumah Bu Retno dan meminta agar mengambil uang penjualan kue tersebut.
Indah pergi begitu saja dan memilih untuk menunggu Vano di rumahnya, setelah beberapa jam yang di tunggu – tunggu akhirnya datang, dada Indah bergemuruh kala mendengar suara sepeda motor diparkir di pekarangan rumah Vano, diintipnya lelaki yang merupakan kekasihnya itu, Vano turun dengan membawa dua kantong plastik.
“Indah...” panggil Vano sumringah,
“Iyah Van?” jawab Indah seraya melangkah ke ruang tamu dari kamar Vano,
“Mami dan papi kemana?” tanya Vano,
“Mami dan papi lagi latihan paduan suara.., apa itu?” tanya Indah sambil menunjuk dua kantong plastik putih yang di bawa Vano.
“Sini – sini, ini mamanya Cika..., Bu Retno menitipkan bingkisan untuk kita, ini ada nasi kotak Ndah... ada lima Ndah, ini juga ada kue kue..” ucap Vano sambil mengeluarkan satu per satu bingkisan tersebut.
“Kamu aneh..” celetuk Indah dengan singkat, Vano terus saja melakukan aktivitasnya dan tertawa kecil sambil menatap Indah,
“Aneh gimana to?” tanya Vano, lalu memberikan satu nasi kotak yang di meja tersebut untuk Indah. Indah menerimanya dan membawa sebagian untuk di bawa ke dapur, langkah Indah diikuti oleh Vano dari belakang sambil membawa sisa bingkisan yang masih tertinggal di meja ruang tamu.
__ADS_1
“Aneh lah..., mami suka terima pesanan makanan enak – enak, mami juga hampir tiap hari buat kue basah maupun kue kering, tapi tingkah kamu kayak orang baru lihat makanan, itu Aneh Van!” sindir Indah terus mengomel tanpa melihat kepada Vano,
“Hahaha!!! Iyah..., tapi kan ini juga enak Ndah..., ini lihat masakannya ada ayam bakar taliwang Ndah.., ini kue – kue nya juga nggak kalah enak sama buatan mami, dan mereka sangat baik juga ramah Ndah.., aku juga hari ini bukan hanya dapat seratus lima puluh ribu, ini lihatlah di amplop, aku dapat dua ratus lima puluh ribu, dan papanya Cika juga mau kasih job untuk acara kantornya Ndah, aku di tawari main dan mengiringi anaknya nyanyi dengan bayaran satu juta, bagaimana aku tidak semangat!” cerita Vano panjang lebar dengan wajah berseri –seri semakin membuat Indah dongkol.
“Iyah.. sangking baiknya mereka sampai – sampai Cika cubit – cubit pipimu kayak gini kan??!! Dan kamu keliatannya sangat menikmatii kebersamaanmu dengan Cika, sampai suaraku tidak kalian dengar sama sekali, aku bahkan memanggil kalian sampai pita suaraku hampir putus!” ucap Indah sambil mempraktekkan apa yang terjadi tadi dengan wajah yang cemberut.
“Aku... aku bingung juga itu, tapi kan dia masih kecil Ndah..., ngapain kamu cemburu?” tanya Vano sambil melahap nasi kotak yang ada dihadapannya.
“Apa Cemburu??? Hahahahaa!!! Seorang Indah cemburu? Kamu bermimpi Vano!!” sangkal Indah dengan wajah memerah, Vano tertawa geli melihat tingkah Indah,
“Hahahaaaa!! Benar! Kamu benar – benar cemburu, yah aampun Ndah Cika itu masih kecil Ndah.. aku dan dia mungkin selisih dua belas atau tiga belas tahun Ndah..., yah ampun..” Vano bahagia sekaligus tidak menyangka dengan reaksi Indah yang tidak biasa.
“Anak kecil kok pakai BH!! Kamu kok bilang selisih cuman dua belas sampai tiga belas tahun, kamu lupa selisih papi mami kamu berapa tahun hah? Orang tua kamu selisihnya sepuluh tahun Van, dan apa kamu lupa selisih papa mamaku berapa tahun? Mereka selisih lima belas tahun! Jangan pura – pura kamu!” Nada ketus yang keluar tidak lantas membuat Vano marah, malah terlihat Vano sangat menikmati pemandangan dihadapannya.
“Kapan lagi ada cewek cantik cemburu sama aku, ahahahaa!!” Goda Vano, membuat Indah melengos dan membuang mukanya begitu saja.
“Aku bukan cemburu yah Van..., aku tidak suka dengan attitude anak muridmu itu, dan terlebih aku juga tidak suka dengan reaksi kamu yang seolah menikmati di cubit – cubit begitu, kamu itu sudah dewasa Van, jangan karena satu dan lain hal kamu merasa tidak enak hati dalam bersikap.”
Indah masih mengungkapkan maksudnya dengan sangat halus, sebenarnya Indah tau karena Vano membutuhkan uang yang di berikan oleh mamanya Cika membuatnya jadi sungkan untuk menolak segala tindak tanduk Cika yang bermanja – manja ria ala anak baru gede.
“Sudahlah..., yuk sini makan Ndah..., ini enak banget,” Vano membukakan kotak nasi tersebut da menaruhnya di haadapan Indah, berharap agar Indah mau ikut makan bersamanya.
“Aku sudah makan, masakan mami jauh lebih enak dari pada ayam bakar taliwang itu!” Indah lantas menutup kembali kotak nasi dihadapannya.
__ADS_1
Vano yang masih makan tidak menghirauan omelan Indah, dia terus saja makan dengan lahapnya sampai habis dan hanya bersisakan tulang belulang serta sisa – sisa sambal. Lalu Vano mencuci tangannya, meminum air es, dan membalikkan tubuh Indah agar duduk berhadapan dengannya.
“Ndah... aku tidak ada perasaan apa – apa dengan Cika, dia aku anggap anak kecil Ndah, lagian aku juga kerja sama mereka dan mendapatkan uang untuk kebutuhan kuliahku, kamu tau kan kalau aku sangat membutuhkan uang yang lumayan banyak untuk keperluan menyusun skripsiku Ndah, mereka juga memakai jasaku setidaknya sseminggu tiga kali, berarti seminggu aku dapat empat ratus lima puluh ribu, sebulan aku dapat satu juta delapan ratus, kan lumayan Ndah..”
Vano berharap Indah mengerti akan kebutuhan dan keadaannya, “Kasihan mami yang sudah tua jika aku terus meminta uang kepada mami, aku tidak tega Ndah.., yah... kamu jangan cemburu buta yah Ndah..” kini Vano merangkul Indah bertujuan untuk merayu, dan Indah tau betul apa maksudnya Vano ini.
“Aku cemburu tapi tidak buta yah Van..., aku bisa melihat dari awal Bu Retno itu sengaja aja dia baik – baikkin aku tapi aku tau dibelakang ku dia punya maksud terselubung dengan kamu, dan anaknya yang kecentilan itu, bukan anak kecil Van! Entah dengan papanya Cika, aku belum bertemu dengannya jadi aku tidak bisa asal menilai seseorang.” Terang Indah semakin membuat Vano menahan tawanya,
“Kamu jangan ketawa Van..., aku tidak sedang bergurau, aku mengatakan apa yang aku rasakan, jangan sampai berawal dari butuh dan tidak enak hati, malah kamu merasa nyaman dan akhirnya hubungan kita terancam!” peringatan keras dari Indah masih saja di abaikan oleh Vano.
“Indah... Indah..., yah sudah sini nonton sama aku..” panggil Vano sambil berjalan keruang tengah,
“Aku serius Van..., aku tidak sedang mengada – ada, jika hal itu terjadi dan ternyata kamu terlambat menyadari sehingga terjatuh terlalu dalam, jangan salahkan aku jika kedepannya aku akan mengambil keputusan yang tidak pernah kita inginkan bersama..” lagi peringatan keras diulang oleh Indah dengan wajah dingin.
Bersambung
halo teman2 mohon saran dan kritik yah jangan lupa like like nya, coment dan vote nya dong teman2 semua..
sambil menunggu update terbaru Aku adalah Indah part 3, kalian bisa baca Novel terbaru aku yang berjudul “STRONG IN BETRAYAL” yang tayang setiap hari pukul 13.00 WIB
makasi sebelumnya,
jgn lupa Follow IG aku yah @Lizbet.lee
__ADS_1