
Pengumuman penjajaran ospek akhirnya diumumkan, dan acara Ajang Pencarian Bakat se Universitas akan menjadi malam puncak perayaan kami, artinya rencana awal para senior berubah, Waktu rapat penjajaran dan petunjuk - petunjuk di sampaikan oleh panitia acara dengan jelas. Tentu saja seperti biasa mulutku tidak bisa kutahan ketika ada beberapa hal yang tidak bisa aku toleransi, aku melakukan protes tentang acara OSPEK yang akan dilakukan, dan rupanya aku kembali menjadi sasaran kebencian para senior perempuan saat itu, aku tidak memperdulikan kebencian mereka atau rasa iri mereka kepadaku, mengingat bagaimana sikapku saat awal pengenalan kampus sudah cukup membuat beberapa diantara mereka menaruh dendamnya kepadaku.
-----****-----
Benar atau tidak bahwa sifat dasar seorang perempuan adalah iri hati\, tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya\, selalu menginginkan milik orang yang lebih baik\, membanding - bandingkan dirinya dengan yang lain\, dan merasa bahagia bila ada seseorang atau sekelompok teman yang berbohong kepadanya dengan mengatakan ***"kamu lebih dari dia" ***Iyah kan??! Karena aku juga memiliki sisi gelap itu\, tapi bedanya aku selalu merasa minder dengan diriku sendiri\, aku tidak pernah merasa paling okey dari siapapun yang ada di sekelilingku\, keinginan untuk menjadi 'okay' tentu saja ada..\, tapi tidak berani menggapainya\, selalu merasa Insecure dimanapun aku berada\, Aku terlihat berani tapi sebenarnya aku Pengecut\, Aku terlihat Kuat tapi sebenarnya itu hanya kamuflase saja\,
Seperti saat ini, hari ini aku merasa di teror oleh sekelompok seniorku, hanya karena cara jalanku!!! Gezzzz!!!! karena cara jalan, mereka protes karena aku berjalan dengan badan yang tegak (alias tidak bungkuk), katanya aku membusungkan dadaku ketika berjalan dan itu bagi mereka aku sudah menantang mereka, jelas saja aku memprotes dan berkata bahwa aku tidak menantang siapapun dan memang seperti ini cara jalanku, dan apakah kalian tau?? yang datang menakut - nakutiku adalah kakak senior laki - laki, dengan sekelompok kakak senior perempuan, wahhh ini sudah diluar batas, tapi tetap saja aku tidak mau terlihat lemah.
"Maaf, saya tidak merasa menantang siapapun disini" jawabku dengan suara datar,
"TAPI KENAPA LU PUNYA MUKA KAYAK GITU HAH?! LU MAU SOK CANTIK?! SOK KUAT DISINI?!!" teriak senior cowok yang sedang mengintimidasi ku,
Aku mengumpulkan keberanianku untuk menatapnya dan berkata "Tidak ada yang salah dengan cara jalan saya, dan dengan wajah saya bahkan sekarang saya menjawabpun saya tidak merasa salah, jika semuanya salah bagi kakak, berarti memang ada yang salah dengan diri kakak sendiri" jawabku tegas,
"Lihat kan? ini perempuan memang kurang di ajar, sok banget dia" celetuk salah satu senior perempuanku, namun aku tidak mau terpengaruh untuk menoleh sedikitpun. Hingga akhirnya Reno datang dan menengahi kami, lalu menyuruhku kembali ke barisan dengan tenang. Ada rasa sangat tidak puas di wajah para senior perempuan, tapi mereka tidak mampu berbuat banyak, dan selama di lokasi penjajaran aku semakin dekat dengan Reno, namun menjadi jauh dengan para sahabatku bagaimana tidak jauh, diantara mereka yang mengikuti penjajaran hanya Nita, tidak dengan si anak manja Ami, dan Dhino seperti orang asing bagiku saat itu, Nita juga selalu dijauhkan dariku oleh para senior pengatur kelompok, begitu juga dengan Nita, kami selalu terpisah dalam kelompok.
Beruntungnya Selama 3 hari disini aku merasa aman karena ada Reno yang mengawasi selalu gerak gerikku, cukup tersanjung rasanya dengan kebaikkan Reno saat itu. Tibalah malam terakhir dimana semua harus mandi lumpur dan entahlah apa lagi yang dilakukan teman seangkatanku, karena Reno menyuruhku untuk tetap tenang dan tidak usah mengikuti kegiatan puncak tersebut, aku pun menurut saja.
Semua teman seangkatanku sudah kembali ada yang masih berlumuran lumpur, ada yang sudah bersih, dan para senior sudah memutar musik dugem, beberapa senior sudah menarik para adik semesternya untuk berjoget bersama, terlihat mereka sangat bahagia, mengabaikan ketegangan yang terjadi di sana selama masa penjajaran akupun melihat pemandangan dihadapanku dengan bahagia, dan Ingat senior cowok yang mengintimidasiku dia mengajakku untuk ikut berjoget, tentu saja aku malu, tapi karena semua teman - teman sudah tidak tau malu, maka akhirnya urat malu ini aku kesampingkan dulu untuk kesenangan sesaat.
Ditengah hiruk pikuk musik RnB dan padatnya senior junior yang berjoget..tiba - tiba ada yang menarikku dari kerumunan orang banyak , dan ternyata Reno..
"Kita disini saja.., langit malam ini cerah yah.., banyak bintang.." ucap Reno membuka pembicaraan
__ADS_1
"Iyah.., bagus.." jawabku masih mengikuti kemana Reno menarikku, ternyata Reno mengajakku untuk duduk di belakang Mobil Pick up yang sudah tidak ada roda, namun ada terpal bersih yang mengalasi bagian belakang mobil itu, kami pun duduk berdua disana.
"Indah... aku tau siapa pacar kamu.." mendengar apa yang dikatakan Reno tanpa basa basi membuatku kaget, namun untuk menguasi diri aku tidak menjawab apapun, hanya tersenyum saja.
"Apa yang kamu cari dari Nio? kamu tau sudah berapa banyak perempuan dibuatnya jadi mainan Ndah..," ujar Reno prihatin. ada nada kesungguhan, aku mencari kebohongan pada pancaran matanya tapi tidak kutemukan sedikitpun.
"Kamu tau dari mana aku pacaran sama Nio?"
"Aku cari tau lah Ndah..., aku tidak tau kalian sudah pacaran berapa lama, tapi apa sepasang kekasih akan berlagak tidak kenal jika bertemu di kampus?" tanya Reno heran, kembali aku tersenyum
"Semua itu tergantung cara orang memandang saja Reno.., kalau aku biasa saja, tidak ada yang salah karena yang menjalankan hubungan ini kan aku dan Nio" jawabku lembut tapi sudah dua orang yang berkata seperti ini, dan jujur seperti ada Jarum yang menusuk jantungku, juga ada rasa takut dalam diriku.
"Ndah.., aku tidak tau apa kesepakatan kamu sama Nio, tapi sebagai sesama Laki - laki sikap Nio itu tidak wajar bagiku, dan soal perasaanku aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini, jujur aku suka sama kamu, tapi aku menghormati kamu yang tidak mau jadian sama aku, aku juga tidak mau karena perasaan ini kita tidak bisa berteman lagi Ndah..," Reno berbicara dengan tenang namun ada nada frustasi dengan pilihanku,
Aku terharu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Reno, "Terima kasih banyak..." ucapku sambil tersenyum dan kami larut dengan berbagai topik pembicaraan, saling berkelakar sampai akhirnya para senior dan beberapa temanku datang menghampiri kami dengan tatapan penuh curiga, ada yang menggoda kami, dan ada Dhino yang hanya melihatku beberapa detik sebelum pergi dengan acuh meninggalkan kelompok itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG
__ADS_1