Aku Adalah Indah#Part 2

Aku Adalah Indah#Part 2
Episode 47


__ADS_3

Ketika malam sudah menjemput kembali aku teringat akan Nio, dalam hati hanya bertanya - tanya, sedang apa dia?, dimana dia? apakah saat ini Nio sedang asik dengan Risa? hatiku kembali ngilu jika mengingat apapun tentang laki - laki ini. Namun rasa penasaran lebih besar dari pada rasa sakit hatiku kepada Nio, kembali aku mengambil ponsel hendak mengirimkannya pesan singkat, Namun satu panggilan masuk di Ponselku.


Aku tersenyum melihat nama dalam layar ponselku saat itu, " Halo..., ngapain telpon? ada apa?" tanyaku menahan rasa bahagiaku,


"Lah.., aku telpon masa gak boleh? yah udah besok aja baru ketemu, aku tutup nih telponnya yah" ucap dhino kesal namun lembut,


"Eh.., orang guyonan loh! gitu aja ngambek" sanggahku sambil terkikik,


"Aku juga guyonan kok, wkwkwk!!" jawab Dhino,


"Huhh.., dasar" kami langsung tertawa bersama - sama, "Nggak aku serius, kok tumben kamu telpon aku Dhin? ada sesuatu yang penting kah?" tanyaku kepada Dhino,


"Iyah penting buat aku, " jawab Dhino, mendadak aku berubah menjadi sedikit serius mendengar jawaban Dhino,


"Oh yah Dhin? apa itu Dhin?" tanyaku penasaran,


"Kamu." jawabnya singkat,


"Apa? aku nggak paham maksud kamu Dhino?" tanyaku kepada Dhino,


"Iyah uda nggak apa - apa, bagi aku Indah, kamu, ami dan Nita itu penting bagi aku, makanya aku nggak mau lihat kalian susah, bukankah kalian adalah sahabatku?" ujar Dhino, aku senang mendengar apa yang disampaikan Dhino dengan tulus,


"Iyah Dhino.., aku juga.., bagi aku kalian penting dalam hidupku" sahutku kepada Dhino,


"Apakah kamu yakin?" sanggah Dhino,


"Iyahlah yakin, emangnya kenapa?" tanyaku

__ADS_1


"Apa kamu yakin bukan si anak fakultas hukum itu yang penting buat kamu?" tanya Dhino yang langsung membuat mood ku berubah menjadi buruk, dengan spontan dan pikir panjang aku menjawa Dhino bukan dengan maksud membohonginya atau apapun, namun hanya agar Dhino tidak membahas masalah Nio lagi,


"Dhin, tolong stop jangan bahas soal dia lagi, aku sudah putus sama dia!!" jawabku dengan emosi, namun aku tidak sadar dengan jawaban ini apa yang sedang di pikirkan oleh Dhino malam itu membawa kami pada kerumitan yang berbeda, namun bukan hanya Dhino yang terjebak dengan kerumitan ini, tapi aku juga merasa terjebak dengan statement bodohku,


Seketika aku tersadar apa yang baru katakan bukanlah sebuah kebenaran, namun mungkinkah ini sebuah harapan yang tak mampu aku lakukan, aku ingin namun aku belum siap, seketika aku merasa sangat bodoh,setelah bermain dengan pikiranku sendiri tanpa sadar kami hening beberapa menit, dan kesadaranku kembali ketika aku kembali mendengar suara Dhino di balik ponsel yang kugenggam malam itu,


"Apakah benar kamu sudah putus sama anak hukum itu?" tanya Dhino, belum sempat aku menjawab Dhino sudah melanjutkan kalimatnya, "Baguslah kalau itu benar, berarti kamu memang sudah mulai bisa menghargai dirimu sendiri" Lanjut Dhino,


"Dhin.., jangan buat suasana hatiku jadi jelek dong sama kalimatmu yang terakhir ini" jawabku jutek,


"Maafkan kalau aku salah ngomong, tapi aku serius, yah uda ini sudah malam, kamu istirahat yah.., besok aku jemput yah.., mau kan?"tanya Dhino,


"Besok aku nggak bisa kemana - mana Dhino, aku ada kegiatan keluarga, tapi kalau kamu mau main kerumahku malam hari aku ada waktu, karena habis acara keluarga papa mamaku pergi ke luar kota, kita bisa main kartu sampai pagi bareng Ami dan Nita, atau kalian tidur aja di rumahku" ajakku ke Dhino,


"Buset belum jadi apa - apa, sudah diajak tidur bareng, aku takut ah.." goda Dhino,


"Halo, maaf Indah sudah tidur" sahutku, dan mendengar suara ketawa Dhino yang menggelegar di balik ponselku,


"Kok dimatikan itu loh, aku kan cuman guyonan," jawabnya,


"Yah habisnya kamu ngomongnya itu loh," jawabku


"Sudah ah.., orang guyonan juga kok, eh by the way ada yang mau bicarakan besok sama kamu In.., ini soal anak Papua yang ada di kelas kita," tiba - tiba Dhino mengganti pokok pembicaraan kami,


"Kenapa sama Pace Dhin?" tanyaku,


"Besok aja yah ceritanya ini uda mau subuh In..., kamu tidur gih" ucap Dhino,

__ADS_1


"Yah udah.., kalau gitu aku istirahat dulu yah.." pamitku,


"Iyah.., mimpi yang indah yah,.., seperti namamu.." jawab Dhino,


"Makasi Dhino," ucapku, sedikitnya aku mendengar Dhino berbisik di balik ponselnya, "Kamu ngomong apa barusan?" tanyaku sama Dhino,


"Gak dengar yah?" jawab Dhino,


"Iyahlah ngomongnya bisik - bisik mana aku dengar," protesku,


"Yah udah kalau gak dengar, besok atau lusa aku ngomong ke kamu yah" jawab Dhino,


"Okay" jawabku, setelah sama - sama berpamitan kami pun mengakhiri telpon kami, dan ketika aku memutuskan sambungan ponsel ini, aku melihat ada pesan yang sudah masuk dari tadi, nafasku berat seberat niatku untuk membaca pesan ini, namun rindu ku lebih berat dari yang lainnya.








bersambung

__ADS_1


please like and coment yang readersku yang baik :)


__ADS_2