
Setelah Kak Sarah pulang dari rumah Indah, terjadilah perdebatan antara Indah dan Mamanya sendiri, Mama Indah memaksa agar Indah mau diajak ke Surabaya melakukan operasi pada selaput perawannya, namun Indah tidak mau melakukan apa yang di minta oleh Mamanya sendiri,
"Mama... Indah... yakin dengan begini Indah akan menemukan lelaki yang tulus dengan Indah ma... Indah sangat yakin ma.. dan Indah berjanji kali ini Indah tidak akan berbuat neko - neko lagi ma... Indah janji akan menjaga diri dan kepercayaan mama..." Ucap Indah berusaha untuk meyakinkan sang mama.., Indah benar - benar tidak habis pikir kalau mamanya punya ide seperti itu.
"Mana ada laki - laki tulus di dunia ini, kamu sungguh Naif!!! baru saja kamu di campakkan oleh laki - laki seperti Nio kok bisa - bisanya kamu masih percaya ada laki - laki tulus yang menerima kamu apa adanya?!! Apa alasan kamu tidak mau mama Operasi?!" kembali mama bertanya dengan penuh emosi, dan ucapan mama cukup menohok di relung jiwa Indah, dengan lirih Indah menjawab,
"Ma... Indah tidak mau berbohong lagi dengan seseorang ma... Indah mau menjalani semua dengan natural ma..., dengan alami ma..." Pinta indah kepada mamanya.
"Mama tidak habis pikir yah dengan isi kepala kamu.., natural - natural, kamu pikir ini merk obat awet muda hah?!!! Apa kamu lupa kalau Nio bilang dia bukanlah yang pertama tidur sama kamu, makanya dia tidak mau tanggungjawab, apa kamu lupa bagaimana Nio membuat mama malu dengan mengatakan itu Hah?!! Anak Bodoh, rasanya pengen mama lempar kamu kelaut,!!" kalau kemarahan mama sudah membabi buta dan histeris seperti ini alangkah baiknya Indah diam dan tidak membahas apa - apa lagi.
"Mama ingin kamu kembali dipandang hormat oleh orang Indah... mama tidak Sudi jika kamu harus di hina lagi seperti Nio menghina kamu!!! menghina mama juga!! yang artinya juga menghina keluarga ini!!!" teriak mama tidak dapat lagi di bendung, nafasnya tersengal sengal karena emosi yang memuncak ke ubun - ubun.
"Kamu tidur sekarang, besok pagi kamu ke rumah mereka lagi kan? mama akan bicara sama papa untuk ke sana pada saat jadwal penguburan saja." perintah mama kepada Indah tidak lagi dapat di bantah, dan segera mama meninggalkan Indah yang masih terduduk di meja ruang tamunya.
"Ma... mama .. Indah besok harus ke kampus ma... jadi Indah ke tempat Nio sore sepulang dari kampus ma.." Indah berbicara kepada mamanya di depan pintu kamar yang tertutup
---***---
Mata bengkak terlihat jelas pada wajah Indah, semuanya terlihat sembab, tapi hari ini Indah harus ke kampus karena akan ada ujian yang harus di kerjakan, pertemuannya dengan Dhino tidak terelakkan, dari semalam Indah berpikir jika masalah ini sampai tersebar luas maka semuanya tidak akan adil untuk Dhino.
Dengan berat hati Indah mengambil keputusan untuk melepaskan Dhino dengan manis, karena rasa cintanya kepada Dhino.. Indah sudah tidak sanggup lagi menyakiti Dhino.
__ADS_1
Sungguh suatu kebodohan yang tidak perlu, seharusnya semua akan baik baik saja jika Indah nurut dengan Nita, tapi nasi sudah menjadi bubur.
Setelah Ujian selesai, Indah mengajak Dhino untuk pergi berdua kesebuah pantai, di sana mereka duduk sambil berpelukan di atas motor milik Dhino.
Wajah Dhino sudah menampakkan kecurigaan bahwa Indah tidak baik - baik saja, namun Indah terus menggenggam Dhino dan tersenyum juga berkata bahwa semua akan baik - baik saja.
"Kamu kenapa?" tanya Dhino sambil menyandarkan dagunya di pundak Indah,
"Aku... bersalah.. Aku sangat bersalah kepada kamu.." akhirnya pengakuan itu terucap dari bibir Indah yang kini bergetar menahan tangis,
"Hei... ada apa? jangan menangis..." ucap Dhino sambil mengusap cairan bening yang mulai turun bebas di wajah Indah,
"Maafkan aku... jika pengakuan ku ini akan membuatmu memandang diriku dengan pandangan yang berbeda.. maafkan aku jika perkataan ku ini akan sangat membuatmu sakit, aku rela jika harus menjadi seseorang yang kamu benci seumur hidupmu, asal kamu terlepas dari belenggu ketidak tahuan seperti ini.." kini Indah mulai terisak, Indah tidak lagi dapat berkata - kata dengan lancar, rasa sesak di dadanya terasa sangat berat, 'Yah Tuhan andai aku dapat memutar waktu..' Lirih Indah dalam hatinya,
Wajah Dhino semakin menegang, terlihat matanya juga menahan gejolak hatinya sampah berkaca - kaca, Namun Dhino tetaplah Dhino... seorang lelaki dengan hati emas dan berhati lembut,
"Apapun yang terjadi.. aku siap mendengarkan mu.. aku juga tidak akan menghakimi mu.. aku akan mendengarkan dan menyetujui apapun yang kamu inginkan.. asalkan kamu bisa berbahagia Indah... aku tidak akan memaksakan apapun itu, tapi jika aku bisa dan di ijinkan untuk memaksa.. maka aku akan paksa kamu tetao bertahan denganku dan tidak meninggalkanku walau itu sempat terpikirkan olehmu.."
Ucapan Dhino membuat tangisan Indah pecah seperti ombak yang pecah menabrak karang - karang kokoh di pinggir pantai, 'Yah Tuhan apa aku tidak salah dengar? jika begini aku akan semakin merasa bersalah yah Tuhan.. kuatkan aku untuk berpisah dengannya dan kuatkan aku untuk bisa berkata yang sejujurnya' satu pinta nya dalam hati, Indah sudah tidak tau harus meminta tolong kepada siapa lagi selain kepada Tuhan saat ini.
Dengan terbata - bata Indah mengakui semua perbuatannya, dan bagaimana statusnya selama ini dengan Nio juga dengan Dhino yang di jalaninya secara bersama - sama, bahkan Indah juga mengakui atas kebodohannya telah berpura-pura hamil sampai akhirnya dia terjebak pada masalah yang seharusnya tidak ada.
__ADS_1
Indah juga mengatakan rencananya awalnya di gagalkan oleh Nita namun karena rasa penasaran Indah tetap membohongi Nio, dab Indah mengakui selama ini juga sudah membohongi Dhino.
Dhino hanya terdiam dan sesekali menyeka mata merahnya, terlihat seperti menahan tangis, Dhino sesekali menarik nafasnya dengan berat saat itu, dengan diam seribu bahasa selama Indah mengakui semua dan setelah Indah mengakui segalanya membuat Indah mau gila dan berteriak meminta maaf kepada seorang lelaki baik di hadapannya.
Hanya desiran ombak yang terdengar di telinga mereka berdua sesekali terdengar nafas Indah yang terus tersengal-sengal belum sanggup berhenti menangis, Kini Dhino memandang Indah dengan wajah penuh kekecewaan dan penuh rasa sakit, semuanya terpancar jelas pada wajah Dhino, tak sanggup berkata - kata panjang lebar, Dhino hanya memberikan sebuah pertanyaan menohok kepada Indah,
"Apakah selama ini pernah ada rasa cinta darimu untukku??" Suara berat itu terbata - bata dan sengau, Indah tidak dapat menjawab dengan benar hanya sebuah anggukan kepala dan pelukan pilu yang dapat menjawab satu kalimat pertanyaan Dhino kepadanya.
*
*
*
*
*
BERSAMBUNG yah Gengs... Author ikut nangis dong ngetik episode ini..ðŸ˜
moga kalian suka yah...
__ADS_1