
Niat baik Indah untuk mensupport Vano agar segera menyelesaikan kuliahnya, malah menjadi sebuah pertengkaran besar yang pertamakali dihadapinya, seolah melihat sisi yang berbeda dari Vano membuat Indah sangat kecewa.
Indah tidak menyangka parcel yang dibeli dengan uang hasil keringat mereka berdua kini menjadi sampah di halaman pekarangan rumah Vano, kekecewaan kian membuncah tak kala Vano menyalahkan semua yang terjadi kepada Indah.
Setelah hening beberapa saat dan menyadari jika Vano merasa bersalah dengan menggapai tangan Indah, sontak saja sentuhan itu semakin membuat hati Indah ngilu bukan main, dengan air mata yang berderai bagai air hujan pada musimnya Indah segera melarikan diri tak ingin melihat Vano, tak ingin mendengar suara Vano, apalagi disentuh oleh Vano.
Suara Vano terdengar berteriak memanggil namanya “INDAH...!!! INDAH!!! MAAFKAN AKU..INDAH!!!” terus Vano berteriak dan menyusul Indah dari belakang, beruntung sebuah angkutan umum sedang berhenti menurunkan penumpang, Indah langsung saja masuk kedalam angkutan itu dengan cepat,
“Pak tolong jalan cepat pak...” Pinta Indah tanpa tau tujuan mobil ini kemana, supir yang bingung melihat tangis Indah sontak saja menekan gas dan berjalan meninggalkan area kompleks rumah Vano.
Dari kaca spion tengah mobil terlihat bagaimana Vano masih berusaha mengejar sampai akhirnya kini dia menyerah dan bayangan itu hilang ketika mobil berbelok,
"Kakak baik - baik saja?" tanya salah satu penumpang wanita yang ada dihadapannya Indah sambil memberikan selembar tisu,
"Terimakasih yah... saya baik - baik saja..." ucap Indah lalu membersihkan sisa air mata yang tetap saja tak kunjung berhenti mengalir, sampai membuat wanita dihadapannya itu tidak tega dan memberikan seluruh tisu yang dimilikinya kepada Indah,
Tangisan Indah kian menjadi walau tanpa suara, bentuk perhatian dari orang asing malah semakin membuatnya merasa sedih dan hancur,
"Pak Supir... ini mobilnya arah kemana?" tanya Indah,
"Oh ini arah ke Kampus Kristen Kak..." mengetahui jika rute mobil ini sangat berlawanan dengan arah rumahnya, Indah meminta agar supir angkutan ini menurunkannya di pangkalan ojek terdekat
"Pak... nanti tolong turunkan saya di pangkalan ojek terdekat yah Pak..."
__ADS_1
"Baik Kak..., itu ada pertigaan lampu merah kak... nanti kakak berenti di depan rumah toko yang jualan kayu - kayu kusen dan papan papan yah kak... di sebelahnya biasanya jam segini ada ojek - ojek mangkal kak..." info Pak supir sangat di mengerti oleh Indah,
"Terimakasih banyak yah Pak..."
"Sama - sama kak... ini sudah mau sampai, hati - hati yah kak..." pesan Bapak supir itu membuat Indah semakin melow, sakit hatinya kepada Vano membuat hati Indah sangat sensitif sore itu. Tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada wanita dihadapannya Indah segera turun sesaat setelah mobil berhenti dengan sempurna.
Benar saja Indah yang sudah turun dari angkutan umum tersebut kini sedang berdiri menunggu di sebuah rumah toko yang menjual banyak sekali kayu kayu untuk kusen dan papan serta perlengkapan mebel, bahkan sampai malam mereka terlihat masih bekerja.
Suara mesin penghalus kayu terdengar nyaring membuat Indah yang sedang sedih dan galau akibat Vano, langsung saja memilih duduk di bawah tiang listrik sambil menangis kencang dan tersedu - sedu, pikirnya suara mesin ini menutupi suara tangisnya, jadi biarlah dipinggir jalan ini Indah melepaskan rasa sesak di dadanya.
Saat sedang menangis tiba - tiba saja ada sepasang kaki sedang berdiri di hadapannya, dengan wajah iba dia melihat Indah yang sedang jongkok, dan menyodorkan tisu kepada Indah,
Sadar jika suara mesin di belakangnya tak lagi terdengar Indah lantas mendongakkan kepalanya dan melihat seorang lelaki seumuran dengannya sedang berdiri dan ada selembar tisu diarahkan ke wajah Indah.
Indah mengambil tisu tersebut dengan membisu, dan lelaki tersebut juga hanya menatap datar tanpa ada sepatah kata apapun, lalu Indah melihat sebuah motor telah berhenti di pangkalan ojek, berarti ini saatnya Indah harus pulang, saat ingin berterimakasih kasih lelaki tersebut telah masuk kedalam rumah toko mebel begitu saja.
Menunggu punggung lelaki itu berbalik hanya untuk sekedar menunduk kepala sebagai tanda terima kasih, yang terjadi lelaki itu masuk begitu saja tanpa menoleh sedikitpun, akhirnya Indah memilih untuk mendekati tukang ojek tersebut dan memilih untuk pulang.
Sepanjang jalan, ponsel yang disimpan disaku jaketnya terus saja bergetar, Indah akhirnya mengambil ponsel tersebut dan melihat ada tiga puluh panggilan tak terjawab, takut jika saat ini Vano menyusulnya dirumah, Indah meminta agar supir ojek tersebut memberhentikannya di sebuah cafe kecil dipinggir pantai.
"Kak... kalau saya carter kakak pakai perjam saya bayar berapa?" tanya Indah,
"Perjam dua puluh ribu kak..." jawab supir ojek itu,
__ADS_1
"Okay kak.. kita berhenti di Cafe island yah .., saya mau duduk disana, nanti kakak tunggu saja di parkiran motor, kalau saya sudah selesai baru kita pulang, saya bayar perjam dua puluh lima ribu nanti di luar ongkos ke rumah kak..." tawar Indah agar supir ojek ini menerima tawarannya,
"Wah... kakak baik sekali, baiklah kak... saya tunggu di parkiran yah..." supir itu senang bukan main, sepanjang jalan Indah diajak ngobrol terus, awalnya Indah enggan bercerita dengan supir ojek ini, tapi ketika supir ojek ini cerita jika dia bersyukur dicarter Indah karena uang yang di dapat untuk membeli susu anaknya akhirnya Indah pun menanggapi cerita tukang ojek tersebut.
Sampai di cafe tersebut Indah memilih sebuah kursi yang berada di pojokan dan memesan es jeruk juga membeli sebungkus rokok yang tersedia di cafe, Indah kembali membuka ponselnya, kini ada empat puluh dua panggilan tak terjawab dari Vano.
Hampir satu tahun Indah berhenti merokok karena berpacaran dengan Vano, kini rasa setres membuatnya kembali membakar sebatang rokok, disesapnya asap rokok itu dengan penuh kenikmatan,
"Heemmm.... Aku kangen kamu..." bisik Indah sambil menatap batang rokok di jarinya.
Kini sebuah panggilan kembali masuk namun bukan lagi nama Vano, tetapi nomor telpon rumah yang memanggil, Indah curiga ini Vano tapi takut juga kalau yang menelpon mama atau papa.
Saat diangkat ternyata yang menelpon...
Bersambung
halo teman2 mohon saran dan kritik yah jangan lupa like like nya, coment dan vote nya dong teman2 semua..
sambil menunggu update terbaru Aku adalah Indah part 3, kalian bisa baca Novel terbaru aku yang berjudul “STRONG IN BETRAYAL” yang tayang setiap hari pukul 13.00 WIB
makasi sebelumnya,
jgn lupa Follow IG aku yah @Lizbet.lee
__ADS_1