
Berperang dengan diri sendiri adalah sebuah pertempuran yang sangat sulit untuk di menangkan oleh siapapun, tidak jarang orang salah mengambil keputusan karena berpikiran pendek, dan mengikuti nafsu sesaat. Kembali Indah mempertimbangkan Akankah kini saatnya Indah memilih, atau tetap memilih jalan yang sekarang sedang di lalui yaitu jalan yang penuh dengan ke egoisan serta kebohongan.
"Oh Tuhan... aku harus mengambil keputusan, Jika aku memilih Dhino maka aku harus berterus-terang dengannya, aku sudah mengawali segalanya dengan sebuah kebohongan dan itu tidaklah benar, aku harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana kehidupanku sebenarnya, urusan Dhino menerima atau tidak biarlah itu menjadi keputusan terbaik untuknya dan bukan untuk ke egoisan ku."
---***---
Semua aktifitas dan rutinitas berjalan kembali berjalan dengan normal, setelah beberapa bulan menjalani cinta diantara dua pilihan, ternyata Indah masih tidak berani mengambil langkah yang benar.
Sampai lah sebuah kejadian dimana Dhino membela Indah di kampus, sampai terjadi baku hantam antara Dhino dengan salah satu mahasiswa yang juga satu kelas dengan kami,
"Bajingan!!!" Teriak Dhino langsung memberikan tendangan telak di dada Abdul, Abdul terjatuh dan mengambil Helm nya di arahkan ke kepala Dhino berusaha untuk menghantam wajah Dhino, ayunan pukulan tersebut bisa di tangkis oleh Dhino namun sayang, Helm motor balap yang berat tersebut sempat mengenai tulang pipi kanan Dhino sehingga terlihat sedikit memar.
Dhino pun membabi buta memberikan pukulan upper cut pada Abdul, dan membuat Abdul sempoyongan, tidak sampai di situ kembali Dhino menendang rahang Abdul sampai membuat Abdul mengerang karena kesakitan dan terjatuh di trotoar.
"Ampun Dhin!!! Ampun.. sudah cukup.. cukup Dhin.. ampun.. maafkan aku... cukup Dhin" teriak Abdul dengan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, suasana sangat ramai dan ada beberapa kakak senior juga ikut membantu Dhino dan memukul Abdul sehingga membuat Abdul tidak lagi sanggup menerima berbagai pukulan dan tendangan dari segala arah.
Ketika Abdul tergeletak di trotoar kembali Dhino mendatangi Abdul dan menjambak rambutnya "Bisa - bisa nya Kau memfitnah Indah dengan perkataan yang sangat menjijikkan!!!! Kau ini bukan laki - laki Abdul!! Cuiiihh!!! kurang ajar!!!" kembali satu bogeman mentah membuat percikkan darah keluar dari wajah Abdul yang sudah tidak berdaya,
Indah lalu berlari memeluk Dhino dari belakang untuk menghentikan Dhino yang sudah gelap mata, "Sudah... sudah Dhin.. please... sudah cukup..., ayo kita pulang" Ucap Indah tanpa melepaskan pelukan di pinggang Dhino dengan suara bergetar menahan tangis,
Dhino segera melepaskan Abdul dan membalikkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan Indah, menatap wajah Indah dengan sebuah tatapan nanar, seolah sungguh menyakitkan melihat wanita yang di sayangi harus menjadi buah bibir berita hoax yang di sebarkan oleh Abdul, ketika kedua manik mata itu bertemu Dhino langsung memeluk erat Indah dan mencium kening Indah sambil terus memeluk erat seakan takut jika Indah akan pergi darinya,
"Kumohon... sudah.. jangan pukul dia lagi yah... aku.. aku tidak mau dia sampai mati dan kamu masuk penjara Dhino, ayo kita pulang... ayo Dhin.." kembali Indah memohon kepada Dhino untuk segera saja beranjak dari sana,
"Iyah.. sstttt sudah.. aku sudah sama kamu sekarang, ayo kita pulang" ajak Dhino sambil merangkul pindah Indah mereka pun berjalan ke arah parkiran mobil Ami, Abdul masih terkapar di trotoar dan beberapa senior menelpon kerabat Abdul untuk segera membawa Abdul pulang.
__ADS_1
Dalam perjalanan Ami dan Nita juga Pace hanya diam seribu bahasa sangking tegangnya dengan kejadian tadi, Sedangkan Indah masih berada bersandar di dada Dhino yang saat itu sedang memeluknya erat, tangisan Indah tak kunjung berhenti membuat Dhino semakin menguatkan pelukannya, juga tanpa kata.. Dhino hanya terus memeluk Indah sampai mobil terparkir di pekarangan rumah Dhino.
"Kita ke rumah ku dulu yah... habis ganti baju baru kita ke rumahmu,"
Indah hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju,
"Aku, Nita dan Pace kita ke mini market dulu sekalian mampir beli makan siang yah... setelah itu kita makan dulu baru sama - sama ke tempat Indah" ujar Ami lalu kembali mengendarai mobilnya.
Kini hanya tinggal Indah dan Dhino di ruang tamu, "Kamu... kamu terluka.." prihatin Indah melihat memar pada wajah Dhino sambil mencoba menyentuh memar itu,
"Ouch..." pekik Dhino,
"Apakah sakit sekali?" tanya Indah sembari menarik jarinya yang tadi sempat menyentuh wajah Dhino,
"Nggak kok.. sengaja aja biar kamu makin perhatian" Goda Dhino sambil tersenyum, yah Dhino rasanya ingin mencairkan suasana ketegangan saja,
"Karena aku tidak tahan melihat kamu menangis berhari - hari, hatiku... hatiku.. tidak kuat melihat kamu terluka" ucap Dhino sambil mengelus wajah lembut Indah dihadapannya,
"Bagaimana mungkin dia berkata seperti itu, sedangkan aku saja yang sudah menjadi kekasihmu berbulan-bulan tidak pernah menyentuh mu.. lalu siapa lah Dia yang mengaku sampai bisa tidur berdua denganmu, itu adalah suatu fitnah yang menjijikkan!" ucap Dhino dengan datar dan dingin,
"Maafkan aku... maafkan aku yang sudah membuatmu menjadi marah, harusnya aku menahan saja rasa sedihnya, tidak perlu menangis berhari - hari sampai membuat amarahmu memuncak, maafkan aku.." Indah tak kuasa menahan air matanya lagi, segera saja memeluk Dhino,
Dhino mencoba menenangkan Indah yang masih erat mendekap, dengan lembut Dhino mengelus - elus punggung Indah, terus berusaha menenangkan Indah, dan ketika dirasa Indah sudah cukup tenang Dhino mengangkat dagu Indah dan menatapnya syahdu penuh dengan tatapan kasih sayang,
"Aku sayang sama kamu Ndah..." lalu Dhino mendaratkan sebuah kecupan ke bibir Indah dengan lembut dan kasih sayang,
__ADS_1
"Aku sangat menyayangimu.." bisik Dhino,
Sengatan itu tidak bisa di pungkiri oleh Indah, ada sebuah getaran kuat di hatinya, perasaan sayang, kasihan, bersalah semua bercampur aduk menjadi satu, lelaki yang sangat mencintainya di hadapannya ini bahkan tidak tau jika Indah sudah menyembunyikan kebohongan besar,
"Maafkan aku..., maafkan aku Dhino.." bisik Indah, seakan sudah ke habisan kata - kata, mereka berdua hanya larut dengan saling memeluk satu sama lain, sampai Mobil Ami kembali datang dan terparkir rapi di pekarangan depan rumah Dhino,
"Dhin.. kamu mandi dulu dan ganti baju sana.. habis itu makan sama - sama kami" Ucap Nita yang sudah masuk ke ruang tamu, lalu memberikan sapu tangan untukku, juga baju ganti kepadaku,
"Kamu pakai ini, bajumu itu sudah kotor kena keringat, ingus dan air matamu Ndah... kok bisa yah Dhino nggak jijik? iiiuuuwwww" Nita bergidik ngeri dengan ekspresi jijik,
Sontak kami tertawa di buatnya, "Nah gitu dong... kalau ketawa kan bagus.." sahut Ami dari belakang Nita sudah membawa makanan dan minuman yang di tenteng juga oleh Pace.
"Mandi sana!" perintah Nita lagi kepada Dhino,
"Kamu juga sana ganti baju!" lanjut Nita memerintahkan Indah,
*
*
*
*
*
__ADS_1
Bersambung