Aku Adalah Indah#Part 2

Aku Adalah Indah#Part 2
AaI#3. BAB.26 – PERTENGKARAN


__ADS_3

Bukannya merasa bahagia karena mendapatkan kesempatan untuk membuktikan kapabilitas dirinya, Vano malah merasa terbebani, walaupun tidak secara gamblang mengatakannya kepada Indah tapi tetap saja semua itu diketahui oleh Indah lewat pembicaraan mereka dibawah pohon, Indah kembali berpikir keras apa yaang harus dilakukannya agar Vano tidak menyerah.


Satu kekurangan dari Vano selama satu tahun ini, Vano terlihat frustasi jika sudah berbicara soal keluarga Indah, Api perjuangan yang dulu dinyalahkan oleh Vano malah terasa semakin meredup, tapi inilah hidup, Tuhan menciptakan manusia berpasang – pasangan untuk saling mengisi kekurangan satu dengan yang lainnya serta menguatkan satu sama lain bukan?


Dan pada bagian ini, Indahlah yang harus berjuang lebih keras untuk mewujudkan mimpi bagi mereka berdua.


Sebuah ide untuk berwirausaha terpikirkan oleh Indah, dan Ide ini segera saja ingin dia sampaikan kepada Vano, bergegas Indah menuju ke rumah Vano dan di dapatinya Mami seperti biasa selalu sibuk di dapur, Indah juga menunggu datangnya Vano dari kampus, sekitar hampir satu jam akhirnya suara motor Vano terdengar memasuki pekarangan rumah sederhananya.


Indah yang sangat bersemangat menyambut kedatangan Vano segera saja keluar dari dapur menuju ke halaman depan untuk menyambut Vano, namun raut wajah Vano tidak ceria, wajahnya terlihat kusam dan muram, seketika di pendamnya semua apa yang ingin dikatakannya.


“Van..., kamu kenapa?” tentu saja ada kekhawatiran yang besar di hati Indah, waktu sudah berjalan lebih dari sebulan dari apa yang di berikan oleh Mamanya Indah. Dengan mengusap wajahnya dia terus saja melangkah menuju kearah kamarnya dan menutup rapat kamarnya tanpa menghiraukan Indah.


Indah bingung dengan sikap Vano yang tidak biasa, begitu juga mami yang melihat semuanya dari balik kaca ruangan tengah, namun mereka sama – sama tidak berani mengucapkan sepatah kata apapun, ingin rasanya angkat kaki dari rumah itu karena rasa jengkel kepada Vano yang marah tanpa alasan, karena Indah merasa tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh Vano sebelumnya, selama hampir dua tahun ini semua komunikasi seberat apapun pasti akan dibicarakan secara dewasa, tapi kali ini Vano bersikap aneh bahkan kekanak - kanakan, semua itu sempat membuat rasa ego meninggi di hatinya.


“Dia pasti ada masalah.., Mami mohon..., jangan Indah ambil hati yah...” ucap mami lembut sambil mengusap – ngusap punggungnya Indah seraya memberikan air dingin kepada Indah,


Indah meneguk air dingin tersebut dan mengambil nafas panjang “Terima kasih Mami..., Indah tunggu Vano disini aja..” jawab Indah sambil duduk di depan kamarnya Vano,


“Kamu tunggu Vano di kamar Mami saja sambil baring –baring yah..., nyalahin AC nya.., mami baru dibelikan AC bekas sama kakak Adi, jadi Indah nggak bakal kepanasan..” senyuman Mami sangat meneduhkan hati siapa saja, dengan kedua lesung pipinya siapa saja pasti akan langsung sayang sama Mami dan berharap memiliki Ibu mertua seperti dirinya.


“Baiklah Mi..” Indah langsung berjalan dan memasuki Kamar Mami, lalu memejamkan matanya, karena rasa khawatirnya kepada Vano, Indah bahkan mengirim pesan ijin kepada Dosennya dengan alasan sedang sakit. Rasa Kantuk membuat Indah akhirnya tertidur, entah berapa lama sampai suara Vano terdengar membangunkan Indah.


“Ndah... Indah..., bangun...” panggil Vano, perlahan Indah membuka matanya dan melihat Vano sedang bersandar dipintu masuk kamar Mami, sambil tersenyum, berbeda dengan raut wajah tadi saat dia pulang dari kampus.


“Kamu uda mandi yah?” tanya Indah,


“Iyah..., ayo makan dulu, terus aku antar pulang, kata mami kamu tadi datang naik ojek yah?”


“Iyah.., mobilku lagi di service, mobil papa lagi dipakai, dan kamu taukan aku nggak bisa bawa motor, jadi yah kemana – mana pakai ojek hari ini..” Indah masih duduk diam diatas ranjangnya mami.


“ayo.. mami ada masak ikan goreng sama sambal mentah, ada sayur selada air kesukaan kamu juga.., makan dulu baru pulang yah..”


“Tapi aku belum mau pulang Van..” sahut Indah, membuat Vano kembali berdiri diambang pintu sambil menatap wajah Indah.


“Makan dulu baru kita ngobrol yah...” seolah tau apa yang diinginkan oleh Indah, mereka makan dengan tenang walaupun saat makan itu hati Indah sudah tidak tahan ingin bertanya apa yang terjadi sebenarnya sampai membuat Vano bersikap acuh kepadanya.

__ADS_1


Suara air diteguk Vano terdengar jelas ditelinga Indah dan Mami,


“Pelan – pelan kalau minum air Van..” tegur mami,


“Hehehe.. iyah maaf Mi..., sambalnya pedes banget ucap Vano sambil tertawa malu, setelah Indah makan dan meminum airnya, terlihat Mami pergi kedepan entah untuk apa, namun rasanya Mami memberikan kesempatan bagi Vano dan Indah untuk berbicara berdua.


“Maafin aku tadi yang bersikap tidak baik kepada kamu yang Ndah...” sesal Vano terlihat jelas,


“Sebenarnya ada apa tadi di kampus Van..?” tanya Indah,


“Sebentar yah..” Vano masuk sejenak kedalam kamarnya untuk mengambil sesuatu, terlihat seperti berkas di map, dam ditunjukkannya kepada Indah.


“Sudah seminggu terakhir ini semua judul yang aku kasih kedosen pembimbingku di tolak mentah –mentah Ndah.., bahkan tadi tanpa membaca lembar kertas milikku dengan seenaknya dia langsung mencoret menggunakan tinta merah, aku.. aku sangat emosi dan kalut Ndah..., lihatlah rasanya baru kemarin kita ngobrol di bawah pohon hari ini sudah lewat aja lebih dari sebulan, aku setres Ndah.., aku benar – benar setres dengan segala ultimatum dan beban yang aku tanggung saat ini.” Dadanya terlihat kembang kempis, wajahnya terlihat begitu miris akan nasibnya sendiri.


Indah sendiri bingung harus menanggapi apa, karena pengalaman untuk membuat skripsi belum dia jalani sebelumnya, semenekankan itu kah proses pengajuan judul Skripsi? Batin Indah, masih terdiam memikirkan solusi terbaik untuk pria yang tengah tertunduk dihadapannya ini, karena memang benar waktu seolah berjalan begitu cepat, tenggat waktu yang diberikan oleh mamanya Indah kini tak lebih dari sebelas bulan lamanya, bahkan bisa dikatakan kurang dari sebelas bulan, lantas apa yang harus dilakukannya.


“Aku akan mengantarmu ke rumah dosen mu itu Van, besok cari tau dimana rumah dosen mu itu yah..., sama siapa nama Dosen pembimbing mu Van?”


“Heemmm..., Ibu Cori, rumahnya di dekat bandara, Aku juga sempat berpikir begitu tapi aku sangat enggan kesana Ndah..”


“Biarkan selama tiga minggu ini aku akan datang kekantornya untuk terus memberikan judul kepadaanya, semoga saja dengan adanya aku datang tiap hari itu dapat meluluhkan hati beliau.”


“Apakah sebelumnya kalian pernah ada masalah? Kalau sampai kertasmu saja dia tidak baca dan langsung mencoret tanpa melihat, itu namanyaa sentimen Van..., coba kamu ingat – ingat apa kamu pernah ada salah dengannya Van?” Indah berpikir keras dengan sikap Ibu Cori ini.


“Iyah..., dulu waktu masih semester awal..”


“Kenapa Dulu?” tanya Indah penasaran,


“Kamu tau kalau aku menunda kuliahku beberapa tahun kan?” terlihat Indah mengangguk tanpa menjawab.


“Jamanku itu masih jaman perpeloncoan Ndah, dan keponakan dia usianya jauh dibawah aku melakukan perpeloncoan, sialnya dia memilih aku untuk dilempari kotoran sapi, dari awal aku sudah bilang kalau aku tidak akan mau dikerjain oleh senior – senior yang usianya jauh dibawah aku, tapi peringatanku malah membuat keponakannya Ibu Cori itu menjadikan aku targetnya. Aku yang emosi dilempari kotoran sapi di wajah saat itu langsung memukul dia sampai babak belur, dan saat dipanggil sama dosen tentu saja Ibu Cori ada disana dan sempaat mengancam aku, aku tidak menyangka bahkan ketika sudah tiga tahun lebih dia benar – benar mempersulit diriku Ndah..” keluh Vano,


Indah kembali pusing memikirkan kesialan yang dihadapi oleh Vano, jika Vano kekeh untuk menunggu tiga minggu maka yang terjadi waktu akan semakin sempit ,


"Jangan.. jangan nunggu tiga minggu Van.. kelamaan nanti malam saja kita kerumahnya Van, ayo ini ada uang tabungan kita belikan dia kue sebagai buah tangan Van.., aku takut kalau tiga minggu gagal malah jadinya kamu membuang – buang waktumu”

__ADS_1


Karena paksaan dari Indah, akhirnya Vano menuruti kemauan Indah dan saat itu juga mereka pergi kesebuah toko Bakery untuk memilihkan buah tangan yang akan diberikan untuk Ibu Cori, Indah membelikan parcell terbaik untuk Dosen tersebut, lalu ketika hari mulai gelap Mereka menggunakan motor datang kesebuah rumah yang cukup besar, dengan perasaan was – was Indah terus merapalkan doanya agar Tuhan mau meluluhkan kekerasan hati sang Dosen.


“Kamu tunggu disini..” kata Vano,


“Aku nggak ikut Van?” tanya Indah bingung disuruh menunggu diatas motor,


“Iyah.. jangan ikut, kamu tunggu aku disini saja yah..”


“Baiklah..” terlihat Vano melangkahkan kakinya menuju kearah pintu masuk, sedikit perasaan lega saat melihat Vano masuk keruang tamu, tapi... kok cepat? Batin Indah. Vano keluar dengan ekspresi datar dan membawa kembali parcel yang mereka beli. Tanpa ada sepatah kata apapun Vano segera memberikan parcell tersebut kepada Indah dan menyalahkan motornya.


Indah yang kala itu menerima bingkisan parsel tersebut juga langsung menebak hasil pertemuan tadi, tanpa berucap apapun Indah segera naik keatas motor dan Vano melaju kencang kearah rumahnya. Sesampai dirumahnya baru saja parkir motor, Vano turun dengan kegusarannya, Indah masih berusaha untuk menenangkan Vano.


“Van...” belum juga selesai ngomong, Suara parcel dibanting terdengar begitu nyaring ditelinga Indah, dia melihat tangannya yang kini telah kosong tidak memegang apapun, yang terlihat adalah kue – kue yang berserakkan di bawah sudah hancur tak karuan, Indah mengangkat pelan wajahnya untuk melihat Vano, matanya berkaca – kaca seolah sedang melihat orang yang berbeda, Indah merasa tidak mengenal Vano malam itu.


“Bukankah sudah kukatakan beri aku waktu selama tiga minggu?! Tapi kau terus mendesak aku, dan lihatlah apa yang terjadi saat aku menuruti kemauanmu?? Aku diusir dari rumahnya! Dia bahkan menuduh aku menyuapnya dengan kue – kue yang bahkan bisa di belinya lebih banyak! Apakah kau tau apa yang akan aku hadapi besok dikampus?!” desis Vano penuh emosi menatap kepada Indah.


Hati Indah remuk redam melihat kekalutan Vano, sakitnya seperti belati tajam yang tertusuk di dadanya, rasanya ngilu...


Indah mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Vano, seribu kesakitan terpancar jelas paada sorot mata Vano, tapi sejuta kesakitan tertahan di dada Indah, nafasnya yang semula memburu diaturnya untuk menjadi lebih tenang namun ternyata tidak semudah itu, hatinya tidak dapat menerima perlakuan Vano kepadanya, terus mereka saling bertemu dalam tatap, sampai kahirnya Vano menyerah dan membuang nafasnya dengan kasar seraya menunduk.


Sebuah Tangis juga ditahannya saat melihat sorot mata Indah, lalu Vano mengulurkan tangannya hendak menggapai pergelangan Indaah, namun Indah langsung saja menghempaskan tangan Vano dengan kasar, tanpa berucap Indah berlari keluar dari pekarangan rumah Vaano, dan berlari, terus berlari menuju ke luar gang rumah Vano,


Suara Vano terdengar berteriak memanggil namanya “INDAH...!!! INDAH!!! MAAFKAN AKU..INDAH!!!” terus Vano berteriak dan menyusul Indah dari belakang, beruntung sebuah angkutan umum sedang berhenti menurunkan penumpang, Indah langsung saja masuk kedalam angkutan itu dengan cepat,


“Pak tolong jalan cepat pak...” Pinta Indah tanpa tau tujuan mobil ini kemana, supir yang bingung melihat tangis Indah sontaak saja menekan gass dan berjalan meninggalkan area kompleks rumah Vano.


Bersambung


halo teman2 mohon saran dan kritik yah jangan lupa like like nya, coment dan vote nya dong teman2 semua..


sambil menunggu update terbaru Aku adalah Indah part 3, kalian bisa baca Novel terbaru aku yang berjudul “STRONG IN BETRAYAL” yang tayang setiap hari pukul 13.00 WIB


makasi sebelumnya,


jgn lupa Follow IG aku yah @Lizbet.lee

__ADS_1


__ADS_2