Aku Adalah Indah#Part 2

Aku Adalah Indah#Part 2
Episode 36


__ADS_3

Apa yang akan kamu lakukan jika Cinta yang datang bertebaran bagaikan musim gugur,


Namun Indahnya Cinta yang bagai Musim semi terasa sangat kering seperti musim Kemarau di tengah gurun pasir,


Akankah terus dipertahankan? jika untuk melepas saja Engkau tak rela..


Padahal sudah tau bahwa tidak ada harapan untuk merasakan sejuknya Cinta yang seharusnya sesejuk Hujan di sore hari..


Itulah insan seperti kebanyakkannya..., 


Selalu mengejar sesuatu yang tak nyata sehingga mengabaikan sebuah kebaikkan di hadapannya...


* Lizbeth *


"Indah saja yang mewakili Fakultas kita untuk kelompok Band nya gimana?" usul salah satu teman yang bahkan tidak kukenal,


"Iyah benar Indah saja, pas masa Ospek dan Penjajaran dia selalu dihukum nyanyi dan suaranya bagus" lagi sahut teman lainnya,


"Bagaimana Indah? apa kamu bersedia?" tanya salah satu seniorku, "jika kamu setuju kakak akan tulis namamu, gimana?" lagi tanyanya


"Baiklah kak.., Indah setuju saja"


"Tapi harus maksimal yah.., harus berani di atas panggung, okay?"


"Okay siap kak..,"


Persiapanpun di lakukan hari ini aku berkenalan dengan beberapa kakak seniorku yang akan menjadi anggota Band, kami mulai memilih lagi apa saja yang akan di nyanyikan dan tentu saja dengan suara lantang Reno mengusulkan menyanyi lagunya Ratu yang judulnya "Teman Tapi Mesra" sambil menaik turunkan alisnya kearahku, aku tertawa terbahak - bahak dan menyetujui saja usul dan saran dari kakak - kakak seniorku, yang bahkan saat ini aku lupa siapa nama - nama mereka.


Selesailah sudah pembuatan rencana kegiatan yang akan diadakan satu bulan dari sekarang, sebelum pulang kami masih nongkrong di area kampus, lalu datanglah beberapa anak hukum datang minta berkenalan denganku, salah satunya bukan mahasiswa disini, dari penampilannya dia anak gedong (sebutan anak orang kaya pada jamanku),


"Hai.., kamu Indah kan?" Ucapnya sambil mengulurkan tangannya,


"Iyah, aku Indah.." kusambut tangannya dan kami berjabat tangan,


"Aku Ryan" Ucapnya ramah, "Rumah kamu dimana? mau barengan nggak?" tanya Ryan,


Aku menggeleng pelan " Maaf aku masih ada kegiatan sama teman - temanku, nanti lain kali aja yah.." jawabku ramah,


"Bisa minta nomor hp mu" tanya nya,


"Oh Boleh kok" jawabku dan memberikan nomor ponselku kepada Ryan, Lalu mereka berpamitan dan berlalu, sampai hampir di pintu gerbang Ryan kembali melambaikan tangannya kepadaku, aku pun membalas lambaian tangannya,


"Kamu kok kayak bunga yang kerubutin tawon - tawon yah Indah?" celetuk Ami,


"Ah ngawur, emangnya berteman dengan semua orang itu kayak dikerubutin tawon?" balasku sama Ami,

__ADS_1


"Mungkin yang lainnya berteman, tapi cowok yang namanya Ryan itu nggak bakal mau deh kalau hanya di ajak berteman aja" jawab Ami,


"Aduh.., stop stop.., jangan buat aku cemburu dong.." sahut Reno, kami kembali berkelakar satu sama lain, hingga tidak terasa langit sudah mulai Senja..


"Yah udah aku pamitan yah.., nunggu Angkot di depan" pamitku sama semua,


"Aku antar aja yukk" ajak Dhino


"Iyah boleh" jawabku lalu berpamitan dengan semuanya,


Sepanjang jalan kami berdua tidak membahas apapun, sampai tiba di rumah dan Dhino pergi meninggalkanku di halaman rumahku, aku sejenak menghela nafas panjang melihat kelakuan Dhino yang selalu saja dingin denganku,


Baru saja hendak tertidur di sofa rumahku yang saat ini kosong Nio menelpon dirumah dan mengecek apa aku sudah pulang atau belum, lalu Nio kembali memintaku untuk datang ke rumahnya, dan aku pun menyetujuinya,


segera saja aku bergegas ke rumahnya Nio, sesampai disana Nio sudah menunggu dengan Tampang gantengnya itu yang selalu sukses membuatku kelepek - kelepek dengan senyumannya,


"Wehh.., yang baru pulang dari penjajaran, gimana kabarnya?" tanya Nio, tentu saja aku baik - baik saja


"Baik dong.., gimana kabar kamu Nio?" tanyaku


"Buruk, kamu katanya dugem yah.., padahal katanya sakit pas disana kok malah joget - joget, sudah gitu berduaan sama siapa itu namanya anak ekonomi yang kurus ceking itu?" suara Nio terdengar tidak suka, apakah dia cemburu? batinku, tapi masa Nio bisa cemburu denganku.


"Kan di ajak Joget bareng, salah kah? dan anak yang ceking itu namanya Reno, kita nggak ngapain - ngapain kok, dia cuman ngajak ngobrol berdua aja waktu itu" jawabku


"Dia cuman tanya apa benar aku pacaran sama kamu, terus dia bilang kalo pacaran kok kayak orang asing di kampus, lagian Reno sama aku cuman teman kok, nggak lebih dari itu Nio" jawabku lembut,


"Urusannya apa dia sama hubungan kita, sudahlah malas ngomongin orang nggak jelas kayak gitu, kekamar yukk" ajak Nio, dan matanya kembali berbicara kalau Nio minta jatah,


"Nggak usa lah, disini aja.., aku juga lagi datang bulan" jawabku, seketika wajah Nio berubah lemas seperti anak kecil yang minta coklat tapi nggak kesampaian,


"Aduuh..., masa sih kamu datang bulan, nggak asik" jawabnya kesal,


Tanpa menanggapi keluhan Nio aku beralih sama majalah yang ada di meja ruang tengah Nio, dan membaca - baca hanya sekedar untuk menghilangkan rasa bosan.


"Oh iyah satu lagi, kamu barusan kenalan sama si Escudo silver yah?" tanya Nio


"Escudo silver? siapa? itukan nama mobil" jawabku bingung,


"Yah itu si R itu" jawab Nio


"Ryan?" tanyaku sambil melihatnya heran, dari mana orang ini bisa tau apa saja yang aku lakukan dikampus padahal dia tidak pernah ada dilingkaran pergaulanku, jangan- jangan Nio pakai mata - mata untuk melihat semua gerak gerikku, bukankah itu tidak adil? dia bisa tau apa saja yang kulakukan tapi aku tidak tau apa - apa tentang Nio, hanya bermodalkan percaya saja.


"Iyah itulah maksudku" lagi sahut Nio sinis,


"Kamu kok tau sih? kamu mata - matain aku yah?" tanyaku,

__ADS_1


"Iyah tau lah, kan aku banyak teman dimana - mana."


"Iyah tadi kenalan sama Ryan, nggak apa - apakan aku berteman sama Ryan?" tanyaku


"Hemm nggak apa - apa, tapi jangan terlalu dekat yah" sambungnya


"Okay, kalau jalan bareng boleh nggak?" tanyaku sambil menyelidik mata Nio, tanpa mau memandangku Nio menjawab dengan malas,


"Iya boleh, tapi harus rame - rame yah.." sambung Nio,


Tanpa aku sadari aku tersenyum mendengar perhatiannya, ini pertama kali Nio melarang aku untuk dekat seseorang dan ada bunga - bunga di pikiran dan hatiku saat ini sampai, deringan ponsel Nio mengganggu lamunanku seketika, dan sedikit mendengar suara perempuan dengan manja mengajak Nio untuk bertemu, untuk menguasai diri aku pura - pura membaca majalah yang sudah ku letakkan di meja ruang tengahnya sambil memasang kuping dengan seksama, setelah ponsel nya mati Nio menyentuh tanganku "Aku antar pulang yah.., ada janjian sama teman" ujarnya


"Okay, siapa ?" tanyaku,


"Ada teman sanggar, ayo pulang yukk" katanya,


"Boleh ikut nggak?" tanyaku,


"Nanti lain kali aja yah.." Lalu Nio bergegas mengambil Jaket biru yang biasa dia pakai dan segera keluar mengambil motor, ada rasa kecewa, dan curiga lalu sejenak kata - kata Dhino dan Reno kembali terngiang - ngiang di pikiranku, baru saja aku berbunga - bunga karena perhatiannya kini Nio kembali bersikap aneh dan perasaan ini sungguh menyebalkan.














BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2