Aku Adalah Indah#Part 2

Aku Adalah Indah#Part 2
Episode 64


__ADS_3

"Kalian yakin mau ikut? Aku nggak apa - apa kok pulang sama Pace saja" jawab Indah ketika kekasih dan sepasang sahabatnya juga mau ikut ke rumah Indah.


"Rencana kita dari awal kan, setelah makan siang kita sama - sama pergi ke rumahmu Ndah, lagian kalau kamu sama Pace mau pulang juga kalau naik mobil angkut mau jam berapa sampai disana, sudahlah kita semua bakal ngantar kamu, titik! no bantah - bantahan!" jawab Ami,


"Iyah Indah..., yukk kita selesaikan makannya sekarang terus kita berangkat." sambung Nita,


Dhino hanya melihat percakapan kami bertiga sambil terus mendayung sendoknya ke mulut, dan akhirnya kami selesai makan, lalu mengambil air di dispenser yang terletak di ruang tengah,


"Nit... yuk ambil air sama - sama aku" ajak Indah,


"Yuk..." lalu Nita berdiri menghampiri Indah lalu berjalan bersama ke ruang tengah,


"Nit.. Aku sebenarnya tadi bilang pulang sendiri karena ada sesuatu" bisik Indah kepada Nita,


"Ada apa Ndah?" tanya Nita lalu meneguk air dari gelas yang baru saja terisi,


"Mamaku manggil Nio datang ke rumah Nit, masa iyah Dhino harus ketemu lagi sama Nio, kan aku pusing kalau begini Nita..."


"Kamu sih.. sudah di bilangin milih salah satu malah masih di gandeng dua - dua nya.. gimana sih kamu ini Ndah?!" omel Nita sambil melotot ke arah Indah,


"Aku masih butuh waktu Nita..." jawab Indah lirih,


"Waktu apa lagi Ndah? Apa kurang bukti sayangnya Dhino ke kamu, sampai - sampai kamu masih saja dibutakan sama si Nio?!"


"Iyah... aku tau Nita... hari ini aku juga kaget lihat bagaimana Dhino membela aku,"


"Dan itu semua Dhino lakukan untuk menjaga harga dirimu Indah!" sekali lagi Nita berbicara dengan tegas kepada Indah,


"Terus Aku harus gimana kalau sudah terlanjur begini, kan gak ada waktu lagi kalau kamu terus memarahi aku saat ini Nit..., karena sebentar lagi semua uda sampai ke rumahku" ucap Indah,


"Yah sudah .. kita pokoknya tetap harus ke rumahmu sama - sama, tidak ada yang tertinggal satupun, nanti urusan Nio biar aku yang ngurus." jawab Nita akhirnya memberikan solusi kepada Indah,

__ADS_1


----***----


"Maaf kan saya Om... dan Tante.., maafkan saya pak polisi, juga Indah tolong maafkan saya, Kakak Nio maafkan saya juga" Pinta Abdul dengan bersedekap kepada semua yang ada di ruangan tersebut.


"Apa maksud kamu menyebarkan berita menjijikkan itu kepada anak - anak di kampus Hah?!!! JAWAB!!!" Teriak Papa di ruang tamu sontak membuat semua orang terkejut bukan main, termasuk Indah, Nio, Dhino, dan ketiga sahabatnya juga para saksi yang merupakan teman - teman gosip Abdul yang juga hadir saat itu di rumah Indah.


"Maaf Om..., saya Khilaf .." jawab Abdul dengan rasa takut,


"Kamu sangat Kurang Ajar!! kamu belum merasakan satu bogeman mentah dari tanganku Bajingan!!" kini Nio berdiri hendak memukul Abdul yang ada di seberang meja.


"Maaf kak... maafkan saya.. ampun kak.. jangan lagi di pukuli kak.. saya kapok kak sudah di pukul Dhino dan di keroyok sama kakak - kakak senior, ampun kak Nio.. ampun.." Abdul mengangkat kedua tangannya sambil menangis ketakutan,


"Sudah Nio, Dia sudah babak belur" ucapku datar,


Perkataan Abdul juga sontak membuat Nio melihat Dhino dengan seksama, dan mereka saling beradu pandangan beberapa detik, sebelum Nita mengambil alih untuk berbisik kepada Dhino saat itu, sehingga membuat Dhino memalingkan wajahnya ke arah Nita, dan Nio kini memandang Indah dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Kenapa Nio?" tanyaku berbisik kepadanya,


Nio tidak menjawab hanya memalingkan wajahnya ke depan, dan menarik nafas secara jengah,


"Kalau damai... lalu apa bentuk pertanggungjawaban Abdul untuk saya pak polisi?, jika hanya surat pernyataan seluruh fakultas ekonomi tidak akan tau adanya surat pernyataan ini, dan teman - teman saksi disini juga banyak yang sudah menyebarkan fitnah tersebut tanpa bertanya atau konfirmasi dulu kepada saya, saya sudah malu pak... saya sudah di anggap sebagai gadis murahan!!" suara Indah meninggi, sambil berbicara menyindir kepada ke lima teman - teman yang diajak ngerumpi sama Abdul saat itu.


"Maaf kan kami Indah.. kami juga akan turut bertanggung jawab, kami akan meralat semua Informasi yang sudah kami sebarkan" ucap Mega kepada Indah sambil memegang kedua tangan Indah.


"Aku tidak yakin kalian sanggup memulihkan nama baikku kepada ratusan mahasiswa yang sudah bergunjing di belakangku Mega." jawab Indah datar,


"Bagaimana kalau Abdul menyatakan permintaan maafnya pada Indah melalui radio kampus dan juga majalah dinding serta saat acara api unggun nanti, dengan begitu Dia dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya, dan sampai semuanya terlaksana biarlah laporan polisi tidak usah di cabut, sampai Indah merasa cukup." Dhino memberikan solusi kepada Indah sambil meremas mesra bahu Indah, seolah sedang menguatkan Indah dengan sungguh - sungguh.


"Hmmm... ada benarnya ucapan adik kita ini Pak..., Bu.. apakah bapak dan ibu selaku orang tua menerima usul dan saran dari Adik ini?" tanya salah satu polisi yang ada di sana,


Mama sudah kesal dan tak sanggup berkata - kata selain menunjukkan dengan jelas wajah marahnya, sedangkan papa mengangguk - anggukkan kepalanya sambil berpikir,

__ADS_1


"Baiklah semua harus di tulis juga dalam surat pernyataan di atas materai, dengan saksi - saksi, kalian juga perempuan - perempuan gosip juga harus tulis surat pernyataan, bukannya kuliah belajar baik - baik malah waktu di habiskan dengan bergosip hal yang tidak benar, mau jadi apa kalian ini" omel papa, seketika itu juga semua yang merasa bersalah menundukkan wajahnya dengan rasa yang sangat malu.


"Bagaimana Adik Indah?" tanya Pak Polisi sekali lagi mengkonfirmasi Indah,


"Baiklah Pak Polisi, saya setuju dengan usul dari teman saya dan papa saya, saya berharap kamu, dan kalian berlima bisa segera menyelesaikan masalah sampah ini!" jawab Indah dengan ketus menunjukkan Abdul dan Mega cs,


Setelah semua di rangkum dalam berita acara pertemuan yang di tulis oleh pak polisi sebagai pelengkap Surat Pernyataan dari Abdul, maka mereka berpamitan, begitu juga dengan Abdul dan keluarganya berpamitan dan berulang - ulang kali meminta maaf tiada henti, kini tinggallah keempat sekawan di depan Indah, juga Nio yang masih duduk di samping Indah serta Mama yang masih di ruang tamu, sedangkan Papa sudah lebih dulu pamit untuk pergi karena ada janji dengan rekan kerjanya.


"Dhino.. apakah benar kamu tadi baku hantam sama Abdul?" tanya mama heran dan penasaran,


"Iyah tante.." jawab Dhino sopan,


"Yah ampun Dhino... apakah ada yang terluka?" tanya Mama prihatin kepada Dhino sekaligus tidak menyangka betapa loyalnya sahabat Indah yang satu ini, walaupun awalnya mama menaruh kecurigaan jika Dhino ada hati sama Indah, namun dalam kasus ini mama seolah - olah merasa bersyukur ada Dhino yang menjadi sahabatnya Indah.


"Nggak apa-apa tante.. tidak ada.." Jawab Dhino sambil tersenyum,


"Pipinya memar kena ayunan helm balapnya si Abdul ma.." Ucap Indah datar dan dingin,


Sontak saja terlihat Nio mengangkat wajahnya dan menatap lekat Dhino dengan seksama.


*


*


*


*


*


BERSAMBUNG

__ADS_1


Jangan Lupa follow IG Author yah... Lizbet.Lee


makasi teman - teman...


__ADS_2