Aku Adalah Indah#Part 2

Aku Adalah Indah#Part 2
Episode 34


__ADS_3

Ada Adegan 18+


Bagi yang belum cukup Umur MOHON DI SKIP, Biar nggak DEWASA Sebelum waktunya.


*


*


*


Nio mendekat dengan wajah yang sangat romantis, ada sedikit kabut di matanya, lalu dia mulai mencium lembut bibir Indah, dan Indah terlena dibuatnya, seolah - olah tidak ingin semuanya segera berakhir, Indah mengalungkan kedua tangannya memeluk Nio.


Nio sudah akan semakin jauh, namun aku menahannya, ada air mata yang jatuh di pipiku "aku tidak bisa.." dengan nafas yang tersenggal - senggal aku memintanya mengerti akan apa yang aku rasakan, segala hal yang akan terjadi akan membuat rasa bersalah berkepanjangan, dan aku juga masih mengingat apa yang terjadi di masa laluku.


"Kenapa?" tanya Nio juga dengan tersengal - sengal dengan wajah yang terlihat frustasi harus menahan segala gelora yang ada di dalam dada nya.


"Aku Takut.." lirihku dengan sungguh - sungguh,


"Aku sayang sama kamu, aku sudah sangat sayang sama kamu, kenapa harus takut.., tidak ada yang perlu kamu takutkan Indah" jawabnya dengan menggebu, "Aku tidak akan.. tidak akan sama dengan dia.., percayalah kepadaku, semuanya akan baik - baik saja, sampai kapanpun aku tidak akan sama dengannya" bisik nya meyakinkanku, aku tidak mampu berkata - kata lagi aku tertunduk dan tidak berani menatap Nio,

__ADS_1


Kembali Nio mengangkat Daguku dengan lembut, dan kembali memberikan ciuman dengan penuh kelembutan, sampai tanpa kusadari Nio sudah semakin jauh, kembali Nio meyakinkanku bahwa semua akan baik - baik saja, sekalipun rasa ragu sangatlah besar di hatiku tapi semua keraguan tidak membuat Indah sadar,


"Hei, kamu percaya sama aku Ndah.., semua akan baik - baik saja.., aku tidak akan meninggalkan kamu.." bisik nya dengan matanya yang sudah berkabut,


Aku susah menolak apa yang dimintanya, berat rasanya aku menolak keinginan Nio, bibirku berkata tidak namun tubuhku berkata lain, debaran jantungku kembali menggila tak karuan, aku pun tak sanggup berkata - kata apa - apa lagi selain hanya pasrah terhadap apapun yang akan di lakukan oleh Nio, dan semua itu terjadilah..., ibarat Adam dan hawa yang sudah di peringati untuk tidak memakan buah terlarang namun peringatan tersebut seakan dilupakan oleh mereka karena tergoda oleh bisikan si ular.


Ada rasa bersalah pada kedua orang tuaku, pada Tuhan dan tentu saja pada diriku sendiri, melihat reaksi tubuhku yang tegang Nio melakukannya dengan lembut sambil mengelus - ngelus rambutku, dan mencium bibirku dengan lembut,


Ternyata aku pun menikmati kelembutan yang diberikan oleh Nio, hingga akhirnya semua selesai sengan ucapan Terima kasih sudah percaya dengan aku" bisiknya mesra, lalu dia mengecup keningku dan bibirku singkat sebelum beranjak ke kamar mandi, dan aku buru - buru mengenakan kembali seluruh pakaianku dengan lengkap, rasa lelah menguasai tubuhku, baru saja aku memejamkan mataku, Nio sudah datang dan memelukku dari belakang sambil terus mencium rambutku sesekali ceruk leherku, "Aku belum selesai, kenapa buru - buru pakai bajunya.." bisiknya


Aku tidak menanggapinya hanya berbalik sepintas dan membalas ciuman pada keningnya,


Lalu kami pun terlelap bersama siang itu hingga sore hari menjemput dan ketika sudah tiba waktunya kami pun berdua masing - masing membersikan diri dan bersiap menjemput papa di rumah Kepala Dinas, semuanya berjalan lebih cepat dari perkiraan kami, sehingga malam itu juga kami memutuskan untuk pulang, perjalanan jauh kami tempuh lagi bersama malam itu,


Berbaring di kamarku adalah sebuah ritual yang selalu kurindukan, dan jelas saja bayang - bayang kejadian dihotel masih terus berputar - putar di ingatanku, aku merasa berdosa, tapi aku pun merasa bahagia, dosa ini sungguh l*knat!!


"Aku sudah sampai rumah, besok ketemuan lagi yah.., ke rumahku saja" pesan singkat dari Nio masuk di ponselku,


"Okay" jawabku

__ADS_1


----****----


Hari berganti hari berlalu, kehidupan asmaraku dengan Nio semakin intens, dan ingat ketika Nio mengajakku bertemu di rumahnya? Semua keluarganya menyambut kami dengan bahagia seperti biasanya, dan saat itulah kali pertama Nio mengajakku melihat kamar bujangnya, aku cukup takjub, kamarnya terlihat rapi, ada semua fasilitas bujang laki- laki di kamarnya, dia memutar lagu - lagu romantis ketika kami bercerita dikamarnya, tentu saja bukan hanya bercerita, Nio menutup pintu kamarnya dan kejadian di hotel terulang lagi di kamar Nio sore itu, bahkan suara kami mampu ditutup dengan suara speaker dari MP3 yang ada di kamarnya,


Setiap pertemuan kami, hampir tidak pernah kami absen melakukan Dosa itu terus dan terus, dari rasa bersalah lama- lama aku merasa biasa saja, bahkan ketagihan dengan dekapan Nio, dan tentu saja sikapnya jika bertemu di kampus seperti sedia kala, tidak ada yang berubah untuk uang satu itu, namun aku tidak lagi protes pada diriku sendiri karena itu sudah menjadi kebiasaan bagi kami berdua, ketika ada mahasiswi kampus yang merayunya tepat di depan mataku pun, aku bersikap biasa saja, seperti tidak ada rasa cemburu sama sekali.


Persahabatan ku dengan ketiga teman - temanku pun semua berjalan baik dan lancar saja, juga dengan Reno, kami semakin akrab dengan segala kelakar Reno yang selalu mengerucut pada Teman tapi Mesra ala Reno, membuatku selalu tertawa dan berbagi hari - hariku dengan mereka semua, semua sikap Dhino yang dingin juga bukan lagi sebuah masalah bagiku, karena aku berpikir mungkin itu sudah tabiat dari Dhino.


Selama beberapa bulan aku merasa hari - hariku sangat sempurna, nilai yang bagus, teman - teman yang asik, dan tentu saja kekasih yang tampan dan Hot!, tapi aku lupa bahwa segalanya tidak ada yang abadi, dan aku lupa bahwa usiaku yang masih belia saat itu bukanlah usia yang cukup matang untuk mengerti apa itu cinta sejati, begitu pula dengan Nio, mungkin apa yang dirasakannya kepadaku apakah hanya kesenangan semu belaka? ataukah memang percintaan kami ini akan bertahan sampai pada jenjang yang diharapkan oleh semua pasangan didunia ini? Semuanya masih merupakan misteri kehidupan kami berdua.


Pengumuman penjajaran ospek akhirnya diumumkan, dan acara Ajang Pencarian Bakat se Universitas akan menjadi malam puncak perayaan kami, artinya rencana awal para senior berubah, Waktu rapat penjajaran dan petunjuk - petunjuk di sampaikan oleh panitia acara dengan jelas. Tentu saja seperti biasa mulutku tidak bisa kutahan ketika ada beberapa hal yang tidak bisa aku toleransi, aku melakukan protes tentang acara OSPEK yang akan dilakukan, dan rupanya aku kembali menjadi sasaran kebencian para senior perempuan saat itu, aku tidak memperdulikan kebencian mereka atau rasa iri mereka kepadaku, mengingat bagaimana sikapku saat awal pengenalan kampus sudah cukup membuat beberapa diantara mereka menaruh dendamnya kepadaku.


*


*


*


*

__ADS_1


*


BERSAMBUNG


__ADS_2