
Rasa sesak di dada Indah terus bergelanyut tak menentu, dengan segala peluh penyatuan mereka berdua, kini dalam keadaan mabuk namun sadar, Indah tidak dapat lagi membendung keresahan terdalam dari hatinya, Indah berpikir Nio sangat mencintainya dengan memberikan belaian dan kenikmatan jahanan ini! Namun ternyata ketika mereka selesai bercinta lagi - lagi Nio bersikap acuh kepada Indah. Tidak ada sedikitpun kemesraan di berikan sehabis bercinta, dengan nafas tersengal sambil menatap nanar langit - langit kamar pertanyaan itu akhirnya terucap,
"Kamu... kenapa.. kamu sangat susah di mengerti Nio..?" ucapnya dengan suara yang bergetar diiringi setetes air mata yang lolos dari matanya.
Nio hanya memandang nanar kearah Indah tanpa sepatah katapun.
"Kenapa.. kamu susah sekali ku jangkau..., Aku tidak memahami mu, bahkan setiap kali kita habis bercinta kamu tidak pernah memelukku, kamu selalu mengabaikan ku seolah aku hanyalah wanita panggilan Nio" ucap Indah dengan lirih dan semakin berat saja suaranya menahan tangis yang sudah akan pecah saat itu.
"Aku tidak mungkin bisa bertahan jika kita begini terus Nio..." dengan rasa putus asa Indah mencurahkan isi hati yang selama di tahannya selama setahun ini,
Nio tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun Nio kembali naik ke tempat tidur dan memeluk Indah serta mencium kening Indah dengan lembut.
"Aku sangat mencintaimu apakah kamu tidak bisa merasakan itu?" tanya Nio dengan suara yang juga berat seperti menahan gejolak kuat di dadanya.
"Tapi mengapa semua tentang kita harus menjadi rahasia? kenapa kamu bertindak seakan kita tidak saling mengenal bahkan di kampus sekalipun, aku tidak paham dengan sikap itu Nio, aku ingin kita seperti orang yang normal pada umumnya, orang yang berpacaran pada umumnya..."
"Kenapa kamu selalu mempermasalahkan hal ini Indah??? selalu dan selalu Indah.. kamu selama ini masalah kita hanya masalah go public, itu yang membuat kita jauh, kini aku mendekati mu ingin memperbaiki jarak diantara kita dan kembali lagi harus mendengarkan keluhan mu tentang go public, apakah masuk ke lingkungan keluargaku dan para sahabat dekatku tidak cukup bagimu?" tanya Nio menatap heran kepada Indah.
Indah mengerutkan dahinya dan menjadi lebih heran bahkan tidak paham akan maksud dari pikirannya Nio,
"Iyah... itu tidak cukup Nio, ketika kamu berpacaran denganku, masih ada wanita lain yang ingin mendekati mu bahkan membelikan mu baju mahal yang di mana keponakanmu bahkan berbincang dengannya dan dengan bangganya perempuan itu mengaku - ngaku sebagai pacarmu, Oh .. satu lagi bahkan ketika aku menjadi pacarmu di depan publik perempuan - perempuan sanggar para mantanmu itu berani bergelanyut manja di lenganmu, tepat di depan biji mataku Nio, lalu aku harus bagaimana????" kini sudah tidak dapat di tahan lagi air mata sudah dengan derasnya membasahi kedua pipi Indah.
"Mengapa tidak bisa Kau abaikan saja semua apa yang mereka katakan dan mereka lakukan? bukankah yang terpenting adalah bagaimana aku dan bagaimana keluarga ku sangat menyayangi mu Indah?" Nio melepas pelukannya dan kini duduk bersandar di ujung tempat tidur.
"Lalu mengapa Kau melarang Aku untuk dekat dengan temanku, bahkan Kau juga merasa kesal dengan Reno, dan Ryan juga Kau panggil si pendek, lantas aku tidak boleh mengeluhkan apa yang membuatku cemburu dan sakit hati Nio? begitu kah maksudmu?"
"Karena Aku tau batasan ku, dan Aku tidak percaya dengan orang yang ada di sekelilingmu.., I..."
__ADS_1
"Nah... itulah yang aku rasakan!!! Aku sangat Frustasi dengan semua ini Nio" Indah langsung memotong omongab Nio,
"Aku tidak kuat jika harus begini terus... Aku tidak pernah benar - benar mengenal Kamu Nio, Aku bahkan tidak menjadi diriku sendiri saat bersama denganmu..." Indah meracau tidak jelas sambil menangis dan membaringkan kepalanya yang sudah di rasa pusing.
Terlelap...
Indah terlelap setelah melepaskan rasa sesak di dada, dalam mimpinya Indah merasa ada yang membelai lembut pipinya, dengan berat Indah melihat bahwa Nio memandangnya dan membelai pipinya.
Ketika Indah terbangun dari tidurnya, hari sudah terang dan betapa terkejutnya Indah saat Dia sudah berada di dalam kamar tidurnya, cepat - cepat Indah membuka ponselnya dan ada beberapa tumpuk pesan masuk dari teman - temannya, dari Dhino dan dari Nio.
Satu pesan singkat dari Nio terlebih dahulu di buka "Semalam aku mencoba membangunkan mu.. tapi kayaknya kamu ngantuk sekali, jadi Aku antar kamu pulang dan menggendong sampai ke kamar, dan... tenang saja mama papa mu tidak tau kalau kamu mabuk, ada Rose semalam yang membukakan pintu belakang rumah, jika sudah bangun tolong kabari Aku yah.. love you"
"Iyah aku sudah bangun.." balas Indah singkat, lalu Indah membuka pesan dari Dhino,
"Good Morning... May God bless your day!!! jangan lupa kuliah jam sebelas siang, mau di jemput atau pergi sendiri? kabari yah.. Ich le be dikh"
"Apa itu artinya Ich le be dikh?" balas Indah,
Cling cling...
Suara pesan baru berbunyi, "Dhino.." guman Indah,
" Jika ingin tau artinya nanti ketika kita bertemu di kampus, gimana?" tanya Dhino lewat pesan singkatnya.
"Okay sampai jumpa di kampus yah... Aku pergi di antar sama supirku, Miss you" balas Indah, lalu mengecek kembali apakah ada pesan baru dari Nio, tapi tidak ada pesan apapun selain pesan singkat dari teman - teman Indah yang belum terbaca.
Sesampai di kampus Indah sudah di tunggu oleh tiga sekawan, dan kali ini ada yang berbeda ketika Indah datang,
__ADS_1
"Woiii!! Pace...!!! apa kabar?!!!" sambut Ami melihat Indah dan Pace turun di satu mobil yang sama,
"Hoi kawan... saya terima kasih banyak kah..., kalau trah ada kalian, saya trah tau nasib saya bagaimana, Puji Tuhan sekarang saya su ada tempat tinggal dan bisa makan setiap hari.." ucap Pace dengan mata berkaca-kaca sambil memeluk Ami dan beralih memeluk Dhino.
"Indah... terima kasih banyak eee Indah... Tuhan saja yang balas Kamu punya kebaikan" ucap Pace dengan tulus,
"Iyah.. sudah - sudah... jangan begitu, semua tidak terlepas daru kerjasama teman - teman kita kok Pace..., sekarang pesan minum dulu yuk... ayok.. sama aku" ajak Indah seraya menggandeng sahabat barunya.
Setelah memesan minum mereka berdua kembali ke meja yang sudah ada Nita, Ami dan Dhino,
"Semalam gimana acara keluarganya?" tanya Dhino, sontak Pace terbatuk keselek air minumnya sendiri,
Tentu saja Pace tau bahwa semalam tidak ada acara keluarga, dan Indah lupa memberi tahu bagaimana rumitnya hubungan Indah dan Dhino juga Nio, dan Pace taunya Indah berpacaran dengan Nio, sedangkan Dhino adalah sebatas sahabat.
Tapi apa yang terjadi di depan mata Pace membuat Pace tersadar jika ada sesuatu diantara Indah dan Dhino, karena saat Dhino menanyakan acara keluarga, Dhino mengelus lembut pipi Indah, dan wajah Indah sontak memerah takut kalau Pace akan keceplosan segala sesuatu dengan polosnya.
*
*
*
*
*
BERSAMBUNG
__ADS_1