Aku Adalah Indah#Part 2

Aku Adalah Indah#Part 2
Episode 59


__ADS_3

Tak terasa kini usia Indah sudah bertambah satu tahun lagi, Harapan yang Indah doakan pada saat di kelas bersama teman - temanya adalah sebuah harapan yang sederhana,


"Aku ingin bahagia pada akhirnya nanti, aku ingin menemukan sandaran hidupku, dan dimiliki oleh sesosok pria yang akan menjadi rumah untukku" yah... Itulah Doa Indah pada saat meniupkan lilin pada kue ulang tahun yang di bawa oleh Pace.


Malam ini Pace tidak ikut dalam acara empat sekawan ini, karena Pace sedang membersihkan kamar untuknya tinggal, Yah... Pace kini tinggal di rumah orang tuanya Indah, ada sebuah kamar kosong yang sudah di sediakan untuk Pace, tentu saja Pace merasa urusan pindahan jauh lebih penting di bandingkan makan ikan bakar dan ayam goreng bersama.


Selain perbincangan tentang kuliah dan seputaran kampus, mereka juga membicarakan tentang bagaimana kelanjutan untuk menolong Pace yang saat ini sudah semakin dekat dengan mereka.


Sementara mereka sedang bercerita penuh semangat, sebuah mobil biru sedang parkir dan itu luput dari pandangan semua orang yang ada di meja tersebut, sangking asiknya dengan perbincangan mereka tidak mengalihkan pandangan terhadap orang yang berlalu lalang di dalam warung Nita.


Tak seberapa lama ketika suara pintu mobil terdengar tertutup, seorang lelaki muda yang tampan sontak menyedot perhatian semua kalayak kaum hawa yang ada di tempat tersebut terkecuali rombongan Indah dan kawan - kawan yang sibuk sendiri dengan dunia mereka berempat.


"Indah..., Aku datang menjemput mu" sebuah telapak tangan mendarat halus di bahu Indah sontak membuatnya menoleh kearah suara lelaki yang sangat di kenalnya.


Tergagap sejenak dan Indah menoleh kearah Dhino, tampak Dhino menatap tangan Nio yang sedang memegang bahu Indah, wajahnya terlihat berubah juga sedikit mengeraskan rahangnya tanda tidak suka dengan apa yang dilihatnya.


"Oh..., Nio.." ucap Indah datar dan berusaha menguasai diri, Ami melihat Nio juga dengan tatapan tidak suka, berbeda dengan Nita yang berusaha mencairkan suasana canggung tersebut.


"Eh Nio... mau minum apa? aku buatin yah.. yukkk gabung sini, duduk di sini aja" ajak Nita agar Nio ikut bergabung dengan mereka,


"Uda malam... terima kasih tawarannya Nit, Aku mau jemput Indah, yuk Ndah.." lagi Nio mengajak Indah beranjak dari sana dengan wajah yang tenang dan sangat tampan.


"Guys... kayaknya keluargaku uda menunggu Aku, Aku pamit yah... besok kita lanjut lagi yah..." pamit Indah berusaha untuk terus menguasai diri, dan mengatur wajah agar jangan ada yang curiga dengan apa yang Indah sembunyikan.


Tentu saja Nita yang sudah tau rahasia Indah membantunya agar semua tampak natural dan tidak di buat - buat, baik di hadapan Nio terlebih di hadapan Dhino dan kekasihnya Ami. Yah... Bahkan Nita menyembunyikan semua rahasia Indah dari sang kekasih.


"Yah uda pulang saja sana.. hati - hati di jalan, besok kita ketemu lagi di kampus, nanti kalau ketemu Pace dan dia sudah tidak sibuk suruh nyusul kesini Ndah" Ucap Nita lalu segera mendorongku untuk cepat - cepat keluar dari dalam warungnya.


"Eh... Iyah..., Bye Dhino.. Bye Ami" pamit Indah dan segera melangkahkan kaki keliar menuju ke parkiran diikuti oleh Nio dari belakang.


"Ada apa dengan teman - temanmu tadi?" tanya Nio sambil menyalakan mesin mobil.

__ADS_1


"Ada apa?? ada apa.. apanya? Aku tidak paham apa maksudmu" jawab Indah sambil memalingkan wajahnya.


"Mereka... terlihat tidak suka denganku" sahut Nio datar.


"Mereka biasa saja, tidak ada yang salah dengan mereka" kembali Indah menutupi dan memang benar apa yang di ucapkan oleh Nio, tidak ada yang suka dengannya, karena bagi para sahabat Indah, Nio adalah laki - laki yang tidak Gentleman dan tentu saja pengecut.


"Apalagi teman pirang mu itu, Aku rasa dia suka sama kamu"


"Sudahlah Nio.. jangan asal bicara, sekarang kita mau kemana?" tanya Indah mengalihkan pembicaraan.


"Kita kumpul di rumahnya Bob yah..." ajak Nio,


"Kak Bob? kita ke Kak Bob? ngapain?"


"Merayakan ulang tahunmu.."


Suasana ketika bersama Nio dan bersama Dhino bagaiman bumi dan langit. Jika bersama Dhino, Indah mampu menjadi dirinya sendiri, tertawa bersenda gurau tanpa ada rasa malu atau ada istilah 'jaim' berbeda pada saat berada di samping Nio.


Indah tidak pernah menjadi dirinya sendiri, Dia akan bersikap sangat teratur dan menjaga setiap gerak gerik bahasa tubuh juga perkataannya.


Aku melihat ada dua botol Coca-Cola dan sebotol Red Label, Indah juga melihat beberapa camilan dan ikan bakar serta beberapa makanan lainnya.


Bob menuangkan Red Label dan Coca-Cola pada gelas kecil untuk Indah, untuk Nio dan untuk Saga juga dirinya, mereka meminum - minuman tersebut sambil memakan camilan yang ada di depan mereka yang sudah di sajikan oleh Bob.


Tidak lupa Bob dan Saga mengucapkan selamat ulang tahun untuknya, setelah itu mereka bercerita dengan dunianya sendiri, sedangkan Indah hanya memakan camilan sambil sekali - kali memakan camilan dan juga meneguk alkohol yang selalu di isi ulang oleh Bob ketika sloki tersebut kosong.


Topik pembicaraan mereka sungguh jauh berbeda dengan duniaku, mereka membicarakan tentang Fashion, tentang Event Dugem, tentang Putri Indonesia, saling memuji wanita - wanita yang mereka bicarakan seolah tidak ada seorang wanita di hadapan mereka.


Kepala Indah sudah sedikit berat dan mulai pusing "Nio.. aku mau rebahan sebentar yah.." bisik Indah kepada Nio,


"Masuk aja ke kamar tamu Ndah.. itu uda aku bersihkan kok" jawab Bob sambil menunjukkan arah kamar yang di maksud.

__ADS_1


"Makasi yah Kak Bob" sambil berjalan agak sempoyongan akibat pengaruh minuman keras Indah berjalan masuk ke kamar tersebut.


"Mau aku bantu?" tawar Nio kepada Indah,


"Tidak usah terimakasih, kamu lanjut cerita - cerita saja sama Kak Bob dan Saga" jawab Indah dan terus berjalan, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang tersedia.


Nafasnya sedikit tersengal berat akibat minuman keras ini, sambil memejamkan mata berusaha untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya.


Rasanya Indah sudah hampir terlelap sampai akhirnya terbangun karena pelukan erat dari Lelaki yang sungguh berbau maskulin, dengan berat Indah berusaha untuk membuka matanya perlahan dan mendapati Nio sedang memandang wajahnya dengan mata berkabut.


Nio mengelus lembut pipi Indah sebelum menangkupnya dan ******* lembut bibir Indah, di bawah pengaruh minuman keras keduanya hanyut dalam setiap sesapan satu sama lain.


Indah merasa mabuk kepayang dengan ciuman Nio yang bergelora, sampai terhanyut dan mereka melakukannya lagi.


"Aku sangat merindukanmu Indah.." guman Nio saat itu, Indah tidak menjawab apa - apa dan hanya terbaring pasrah di bawa selimut yang membungkus tubuh polosnya


"Kamu... kenapa.. kamu sangat susah di mengerti Nio..?" sebuah pertanyaan terlontar di bibir Indah diiringi setetes air mata yang lolos dari matanya.


Nio hanya memandang nanar kearah Indah tanpa sepatah katapun.


"Kenapa.. kamu susah sekali ku jangkau..., Aku tidak memahami mu, bahkan setiap kali kita habis bercinta kamu tidak pernah memelukku, kamu selalu mengabaikan ku seolah aku hanyalah wanita panggilan Nio" ucap Indah dengan lirih.


"Aku tidak mungkin bisa bertahan jika kita begini terus Nio..."


*


*


*


*

__ADS_1


*


BERSAMBUNG


__ADS_2